
Ralvin berangkat ke Semarang. Hari ini ia meninggalkan Sherin di rumahnya dengan penjagaan security kepercayaannya. Kini ia telah sampai di depan rumah yang besar berlantai dua. Itu adalah rumah Viola.
Ralvin memarkirkan mobilnya di garasi rumah Viola. Setelah mematikan mesin, Ralvin keluar dari dalam mobil lalu berjalan menuju pintu utama.
Ralvin mengetuk pintu. Tak lama kemudian, seorang pembantu rumah tangga membukakan pintu dan menyambut dirinya dengan sangat ramah.
"Silahkan masuk, Le."
Ralvin memberikan senyum lalu masuk ke dalam. Ia melangkah dengan sangat tenang dan wajah ceria. Akhirnya ia bisa berkumpul dengan keluarganya. Sudah lama sekali ia tidak berkumpul dengan saudara dan kedua orangtuanya.
Saat tiba di ruang keluarga, Ralvin tersenyum lebar sebelum akhirnya senyum itu hilang. Di antara Viola dan kedua orangtuanya, ada Jessika yang tersenyum padanya.
"Ralvin, mamah kangen kamu loh, ayo sini."
Winda tersenyum ketika melihat putra bungsunya berdiri di ambang pintu ruang keluarga.
Melihat ibunya yang bergitu ceria, terpaksa Ralvin mengeluarkan senyum lebar agar terlihat gembira juga. Ia memeluk ibunya dengan erat kemudian duduk di antara Braham dan Winda. Ketika melihat Jessika, ia menarik nafas untuk menenangkan hatinya.
"Kak, hal apa yang mau Kakak omongin?" tanya Ralvin.
Viola tersenyum kemudian melirik ibunya. "Mamah yang mau bicara," jawab Viola.
"Kok kamu pengen langsung to the point sih? Kan kita udah lama gak kumpul kayak gini. Gimana kalau kita makan dulu. Besok baru kita omongin," kata Winda sambil mengusap kepala Ralvin.
Ralvin terdiam. Bukan tidak ingin berlama-lama dengan keluarganya, tapi Ralvin sangat mengkhawatirkan Sherin jika ia lama-lama meninggalkan gadis itu. Ralvin tidak boleh lengah, di sana musuh Sherin terus mengintai gadis itu.
"Maaf Mah, Ralvin gak bisa lama-lama. Tadi di perjalanan Daniel ngabarin kalau ada urusan perusahaan yang gak bisa dia tanganin. Jadi Ralvin harus pulang cepet." Terpaksa Ralvin berbohong.
"Owh, ok. Tapi kita makan siang dulu ya. Habis itu kita obrolin masalah yang mau kita bahas."
Di sana, Jessika tidak berbicara apapun, tapi ia terus tersenyum. Sepertinya ada sesuatu yang membuatnya sangat bahagia. Melihat itu, Ralvin sudah mulai curiga. Tapi, ia belum bisa menyimpulkan sebelum ibunya berbicara.
Winda pun langsung mengajak semuanya untuk makan bersama. Tadi ia dan Viola sudah memasak, sedangkan Jessika? Tentu saja ia tidak bisa memasak.
Selama makan tidak ada pembicaraan apapun kecuali ocehan Winda dan Viola. Mereka berdua memang cocok, sama-sama cerewet dan gemar bercerita. Beberapa menit kemudian, mereka sudah selesai makan.
__ADS_1
Mereka kembali ke ruang tengah untuk membicarakan hal yang sejak tadi ingin Ralvin ketahui.
"Nah, sekarang mamah mau ngobrol serius sama kamu," kata Winda.
Ralvin yang duduk di samping ibunya hanya patuh menantikan obrolan apa yang akan mereka bicarakan.
"Kemarin malam, orang tua Jessika menelepon mamah. Mereka bilang, Jessika mengadu bahwa di rumah kamu ada perempuan lain. Apa itu benar, Ralvin?" tanya Winda.
"Bener, Mah. Dia Sherin, anak angkat Ghani. Papah sendiri udah tau dia. Gimana sifat dan sikapnya," jawab Ralvin.
"Iya, Mah. Sherin perempuan baik-baik. Ralvin ngajak Sherin tinggal di rumahnya atas dasar persetujuan papah juga. Kasihan dia, banyak masalah dalam hidupnya," kata Braham menimpali.
Winda menarik nafas. Ia tidak marah, hanya saja ia memikirkan perasaan Jessika. Sejak awal ia tidak tahu masalah antara Jessika dan Ralvin, maka dari itu ia masih sangat setuju dengan hubungan Ralvin dan Jessika. Berbeda dengan Braham, Viola, dan Calvin, mereka tahu bahwa Ralvin sudah tidak menyukai Jessika, maka dari itu mereka tetap mendukung Ralvi mendekati Sherin.
"Kalian sudah lama bertunangan, kemarin orang tua Jessika meminta kamu menepati janji. Segeralah menikah dengan Jessika."
Ralvin tersentak seketika. Ia tidak menyangka ibunya akan membahas soal itu.
"Mah, tapi Ralvin ...."
Ralvin merasa dunia menjadi hampa. Yang ia pikirkan hanya satu, bagaimana dengan Sherin? Bagaimana cara ia mengatakan pada Sherin? Apakah ia sanggup mengatakan ini? Tidak, ia tidak akan sanggup. Setelah beberapa hari yang lalu ia mengatakan cinta, tidak mungkin ia mengatakan akan menikah dengan wanita lain.
"Ralvin akan pikirkan ini lagi, Mah. Sekarang Ralvin mau balik lagi ke Jakarta."
Ralvin berdiri dan berpamitan pada kedua orangtuanya. Saat akan melangkahkan kaki ke luar rumah, tangan Jessika menahannya.
"Kamu harus tepatin janji kamu. Aku sangat mencintaimu."
Ralvin tidak mempedulikan Jessika. Ia melepaskan genggaman tangan Jessika, kemudian meneruskan langkahnya pergi.
* * * *
"Neng, makan dulu yuk," ajak Imas sambil duduk di meja makan.
"Iya, Bi," jawab Sherin ketika sudah selesai mencuci tangan.
__ADS_1
Mereka baru saja selesai membersihkan taman di belakang rumah. Tadi Sherin bersikeras untuk membantu Imas. Karena terus meminta, akhirnya Imas mempersilahkan Sherin untuk membantunya.
"Den Ralvin ada urusan apa ya?" tanya Imas sambil menyendokkan nasi ke atas piring.
"Gak tau, Bi. Katanya sih mamah-papahnya juga ada di sana. Mungkin urusan keluarga," jawab Sherin.
Keduanya kembali meneruskan makan sorenya. Setelah selesai makan, Sherin izin untuk naik ke kamarnya. Begitu Imas mengangguk, ia langsung berjalan menaiki anak tangga.
Sesampainya di kamar, Sherin membuka pintu ke arah balkon lalu berdiri di sana. Langit sore memang sangat indah. Sherin tidak pernah jemu saat memandang langit.
"Apa bener yang dikatakan Ralvin malam itu? Rasanya aku susah untuk percaya."
Sherin tersenyum sendiri ketika mengingat malam itu. Di mana Ralvin mengatakan cintanya dalam kondisi emosi.
Saat memikirkan itu, tiba-tiba ada sebuah anak panah yang melesat hampir mengenaik dirinya. Panah itu menancap pada kayu yang berfungsi sebagai tiang hias. Di ujung anak panah itu juga ada sebuah surat. Dengan hati yang berdebar, Sherin mengambil dan membuka surat itu.
'Jika kau ingin ingatanmu kembali, datanglah ke taman mini di dekat mall besar malam nanti. Aku akan menunggumu di sana dengan mengenakan pakaian serba hitam. Aku juga akan memberitahu siapa orangtua kandungmu. Setelah itu, kau harus memberikan imbalan padaku. Ingat, datanglah sendirian'
Begitulah isi surat itu.
Tangan Sherin gemetar. Apakah orang ini adalah orang yang selalu menerornya? Jika benar, aoa yang harus ia lakukan? Orang itu mengimingi dirinya dengan ingatan dan kedua orangtuanya. Ingin sekali Sherin mengetahui siapa kedua orangtuanya.
Setelah berpikir cukup lama, akhirnya Sherin memutuskan untuk menemui orang tersebut.
Malam haripun tiba. Sherin bersiap untuk berangkat ke tempat yang telah ditetapkan oleh si pengirim surat. Ia pergi secara diam-diam agar tidak diketahui oleh Imas maupun security.
Sebenarnya ada keraguan dan rasa takut di hatinya, namun, keinginannya untuk mengetahui siapa orang tua kandungnya, Sherin melupakan semua rasa itu. Satu harapan yang ia pegang, semoga orang itu tidak menipunya.
Sherin mencegat taksi yang akan lewat. Kemudian ia masuk ke dalam taksi dan melesat meninggalkan pekarangan rumah Ralvin. Security kepercayaan Ralvin pun tidak mengetahui bahwa orang yang sedang mereka jaga pergi secara diam-diam.
Beberapa menit kemudian, Sherin sudah tiba di tempat yang dimaksud. Setelah membayar ongkos taksi. Sherin melangkah dan mencari orang yang mengirim surat itu melalui anak panah. Matanya menyapu keseluruh area itu, tapi ia tidak menemukan orang yang memakai pakaian serba hitam.
Saat akan melangkah lagi, sebuah tangan membekap mulutnya dan menyeretnya pergi dari tempat itu.
"Hmm!!" teriakan Sherin tertahan.
__ADS_1