(Revisi)Sopir Bajaj Elite Yang Aku Sayang

(Revisi)Sopir Bajaj Elite Yang Aku Sayang
Pengakuan dan perpisahan


__ADS_3

"A-a-aku, entahlah, aku gak tau," jawab Sherin gugup.


Ralvin tertawa kecil. Tangannya memegang tangan Sherin. "Kalau kamu bilang gak tau, berarti rasa itu udah ada di dalam hati kamu."


Sherin menunduk. Yang di katakan oleh Ralvin memang benar. Ia pun tidak tahu, sejak kapan dirinya jatuh cinta pada CEO yang sempat menyamar jadi sopir bajaj itu.


Sherin mengerutkan keningnya ketika melihat raut wajah Ralvin berubah. Sepertinya pria itu sedang memikul beban yang berat di pundaknya.


"Tapi.. sebelum rasa itu benar-benar tumbuh, aku mohon, lupakan aku."


Seketika jantung Sherin berdebar kencang. Ia tidak ingin mendengar kata-kata menyakitkan dari mulut pria itu. Ia bahkan belum berkata jujur bahwa ia mencintai pria di hadapannya ini.


"Ma-maksud kamu apa?" tanya Sherin terbata-bata.


"Aku akan nikahin Jessika."


Hati Sherin langsung remuk, bagaimana mungkin semuanya akan terjadi dengan cepat. Bukankah waktu itu Ralvin mengabaikan Jessika? Lalu mengapa tiba-tiba ia akan menikahi gadis itu.


Sherin tersenyum pahit. Memang sudah seharusnya ia tidak berharap lebih pada pria tampan yang bernama Ralvin itu. Tidak seharusnya ia menaruh hati. Ralvin memiliki keluarga yang jelas, begitupun juga dengan Jessika. Sedangkan dirinya, ia hanya anak angkat dari seorang pembunuh, dan kedua orangtua kandungannya, entah siapa dan di mana.


"Selamat." Hanya kata itu yang mampu terucap dari mulut Sherin.


Ralvin menarik Sherin ke dalam pelukan hangatnya. Air mata mengalir begitu saja. Ia tidak bisa meninggalkan cintanya, tapi apa daya, ia harus menepati janji.


"Maafin aku, Rin. Aku bener-bener minta maaf. Aku cinta kamu."


Dalam pelukan Ralvin, Sherin meneteskan air mata. Baru pertama kali mengenal cinta, ia harus menerima kenyataan pahit.


"Kamu gak perlu minta maaf, dan gak ada yang perlu dimaafin. Kamu gak salah."


Sherin tidak menolak pelukan itu. Ia tahu, setelah ini, ia tidak akan pernah bisa merasakan pelukan hangat itu. Pelukan hangat dari Ralvin, sebentar lagi akan menjadi milik Jessika.


Setelah lama berpelukan, akhirnya Sherin melepaskan diri. Sudah cukup baginya merasakan hangatnya pelukan itu.


"Kapan pernikahannya?" tanya Sherin.


Ralvin tidak menjawab. Ia tidak ingin melukai hati Sherin lagi. "Aku akan hubungin Jura. Supaya dia bisa pulang ke Jakarta lebih cepet." Ralvin mengalihkan topik pembicaraan.

__ADS_1


"Kapan kamu nikah?" tanya Sherin lagi.


Ralvin berdecak pelan. "Gak usah dibahas."


"Aku butuh jawaban. Kapan pernikahan kamu sama Jessika?"


"Sherin, please! Aku gak mau jawab. Aku gak mau kamu tambah sakit!" Ralvin berbicara dengan nada tinggi. "Karena aku cinta sama kamu, aku gak perduli tentang pernikahan aku dan Jessika." Kali ini Ralvin merendahkan nada bicaranya.


"Aku gak sakit hati. Aku cuma butuh waktu untuk merelakan."


Setelah mengatakan itu, Sherin berjalan meninggalkan ruang tengah. Ia berlari menaiki anak tangga. Mungkin tetesan air mata telah menetes di setiap anak tangga itu.


"Maaf." Ralvin tertunduk lemas. Sungguh ia tidak bisa berbuat apa-apa.


* * * *


Ralvin membanting diri ke atas ranjang. Tangan kanannya memegang ponsel di telinga. Dari seberang sana, ibunya sedang berbicara soal pernikahan. Ralvin terlihat sangat frustasi. Ia hanya mendengarkan tanpa berbicara sedikitpun. Ia hanya berbicara jika ibunya bertanya.


"Terserah Mamah aja ... iya ... Ok, jaga kesehatan, Mah." Setelah itu Ralvin menutup telepon.


Jika saja dulu ia tidak tergila-gila pada Jessika, dan jika saja dulu ia tidak asal mengucapkan janji, mungkin semua tidak akan begini. Mungkin sekarang ia bisa menyampaikan cinta untuk Sherin.


Mengingat Sherin, Ralvin langsung bangkit dari tempat tidur. Ia memikirkan perasaan gadis itu sekarang.


"Apa Sherin lagi melamun? Atau nangis?" Ralvin langsung berdiri dan berjalan keluar kamar.


Ralvin berjalan menuju kamar Sherin. Begitu sampai di sana, ia segera mengetuk pintu.


"Rin, kamu di dalem, kan?" Ralvin mengetuk pintu lagi.


Karena tidak ada jawaban, Ralvin mencoba untuk membuka pintu. Ternyata pintu itu tidak terkunci.


Begitu masuk, ia melihat kamar Sherin kosong. Matanya menyapu keseluruh ruangan kamar, tapi gadis yang dicarinya tidak terlihat. Ia berniat untuk mencari Sherin di luar, namun matanya melihat sosok gadis yang berdiri di balkon kamar. Ralvin yakin orang itu adalah Sherin.


Ralvin berjalan ke balkon itu. Matanya terus fokus pada gadis yang masih melamun menatap bintang-bintang yang bertebaran di atas langit malam. Kini Ralvin telah berdiri di samping Sherin.


"Apa yang kamu pikirin?" tanya Ralvin memecahkan keheningan.

__ADS_1


Sherin menoleh sekilas, kemudain kembali menatap ke langit. "Gak ada," jawabnya singkat.


Ralvin menarik nafas. Ia sangat mengerti bagaimana perasaan Sherin. Pasti gadis itu merasa diberikan harapan palsu. Bagaimana tidak, Ralvin selalu memberikan perhatian dan juga sikap yang lembut. Tapi, pada akhirnya, ia harus menerima kenyataan pahit bahwa pria itu harus menikahi wanita lain.


"Maaf." Ralvin menatap Sherin.


Sherin tersenyum kecil. "Aku bilang, kamu gak perlu minta maaf."


"Itu harus. Aku udah ngasih kamu harapan dan--"


"Dan seharusnya aku gak berharap," potong Sherin. Sampai detik ini, ia masih tidak melihat ke arah Ralvin.


"Seharusnya aku gak berharap lebih sama kamu. Seharusnya aku tau diri, dengan kamu bantu masalah aku, itu aja udah cukup, aku harus berterima kasih. Aku gak seharusnya mengharapkan yang lebih dari itu," lanjutnya.


Ralvin menunduk. "Aku yang seharusnya gak deketin kamu dari awal."


Sherin tersenyum kecut. "Kalau itu gak kamu lakuin, aku gak akan ngenal yang namanya laki-laki baik, aku gak akan kenal yang namanya cinta. Aku udah bersyukur karena aku jatuh cinta sama kamu, dan kamu jatuh cinta sama aku. Itu udah lebih dari cukup, walupun akhir dari semua ini terasa pahit."


Ralvin meraih bahu Sherin, lalu menarik gadis itu ke dalam pelukannya. "Maaf, maafin aku." Air mata Ralvin kembali menetes.


Malam ini mungkin akan menjadi malam penyampaian rasa cinta, sekaligus sebagai salam perpisahan mereka.


Sherin menyadarkan kesedihannya pada pelukan Ralvin. Satu-satunya pria yang pernah ia cintai. Pria yang membawanya keluar dari keterpurukan saat masih di rumah kedua orangtua angkatnya, pria yang membuat kesal sekaligus bahagia di saat yang bersamaan.


"Makasih atas segalanya. Aku harap kamu bahagia sama Jessika." Sherin menarik diri dari Ralvin.


Ralvin tidak sanggup berbicara. Ia hanya bisa menatap mata sedih milik Sherin. Mata yang pastinya akan sangat ia rindukan di kemudian hari. Sherin mengusap air mata, kemudain memaksakan sebuah senyuman kecil.


"Tadi kak Jura nelepon aku. Terus dia bilang besok bakal langsung pulang ke Jakarta. Jadi, besok aku bakal ngemasin barang-barang aku "


"Kenapa buru-buru?" tanya Ralvin.


Sherin menarik nafas dalam, kemudain membuangnya dengan perlahan. "Ini yang terbaik. Aku gak mau kamu dapet masalah karena aku," jawab Sherin.


Ralvin mengangguk. Ia tidak ingin menahan Sherin di sisinya. Ia tahu itu hanya akan menambah luka di hati gadis itu.


"Ok, besok aku bantu." Ralvin memaksakan senyum kecil.

__ADS_1


__ADS_2