
Sherin melongo ketika Jessika pergi dengan air mata. Sebagai wanita, setidaknya ia bisa merasakan perasaan Jessika saat itu. Pasti Jessika sangat sakit hati.
"Kenapa kamu ngomong gitu? Kenapa kamu biarin dia pergi?" tanya Sherin mengkhawatirkan Jessika.
"Biarin aja dia pergi. Kalau dia pergi, dia punya rumah mewah sendiri. Dia gak mungkin terlantar," jawab Ralvin.
Sherin tidak habis pikir, mengapa Ralvin terlihat tidak peduli pada tunangannya. Bukankah status tunangan lebih serius dari pada pacaran? Lalu mengapa pria itu seperti tidak menghiraukan status mereka.
"Kenapa kamu gak peduli sama dia? Dia itu tunangan kamu." Sherin mencoba mencari titik terang atas pertanyaan yang berkecamuk di dalam hatinya.
"Aku udah gak cinta sama dia," jawab Ralvin.
"Apa?" Sherin tidak percaya.
"Dulu aku cinta dia, mungkin bisa dibilang cinta mati. Saat aku cinta mati, dia malah pergi dan milih model dari Amerika. Terus dia datang lagi padaku, dia bilang cinta dan minta aku jadi pacarnya. Aku setuju karena waktu itu aku masih cinta dia."
"Pada suatu saat, Jessika terkena kanker. Saat itu aku mencintai dia lebih dari apapun, makanya aku janji sama Jessika dan orang tuanya, aku bakal nikahin Jessika apapun yang terjadi."
"Setelah kami tunangan, dua tahun kemudian dia berangkat ke Amerika untuk jadi model. Aku udah bilang ke dia, aku gak suka dia jadi model, tapi dia tetep bersikeras. Seiring waktu, rasa cinta itu luntur karena pekerjaan dia yang aku gak suka, dan kami juga jarang komunikasi."
"Setelah aku ngelupain dia, tiba-tiba dia datang ke Indonesia. Saat itu aku gak sengaja nabrak dia pake bajajku. Sejak itu dia gak ada ngehubungin aku lagi. Tapi sekarang, dia muncul tiba-tiba dan ngerusak kedamaian di hatiku."
Ralvin menceritakan semuanya. Ia ingin Sherin memahami jika pertunangannya dengan Jessika terus berjalan hanya karena sebuah janji. Jika tidak, mungkin mereka sudah lama mengakhiri hubungan itu.
"Tapi bagaimanapun juga, Jessika tunangan kamu. Kamu harus minta maaf sama dia," kata Sherin.
"Udahlah, Rin. Aku malas bahas tentang dia lagi."
Tanpa berbicara lagi, Ralvin pergi meninggalkan kamar Sherin. Setelah ditinggal oleh Ralvin, Sherin menunduk. Ia tidak ingin menjadi orang ketiga di hubungan Ralvin dan Jessika. Setelah berpikir beberapa saat, Sherin memutuskan untuk menemui Jessika lagi.
* * * *
Jessika sedang berdiri sendirian di balkon kamar Ralvin. Ia tidak langsung pergi dari rumah itu karena berharap Ralvin akan mengejarnya dan meminta maaf. Namun sayang, Ralvin tidak juga datang ke kamar itu.
Semakin lama Jessika semakin kesal. Ia merutuki dirinya sendiri karena sudah asal bicara. Jika sekarang ia tidak pergi juga, akan ditaruh di mana mukanya. Ia gengsi untuk menyapa Ralvin dan mengatakan dirinya ingin tinggal lebih lama.
"Jessika," Sherin menyapa Jessika.
__ADS_1
Jessika berbalik dan melihat bukan Ralvin di sana, melainkan Sherin. Ia memutar bola matanya.
"Apa lagi? Kurang puas kamu udah ngancurin hubungan aku sama Ralvin?" tanya Jessika ketus.
Sherin menunduk. "Aku mau minta maaf. Sama sekali aku gak ada maksud untuk rebut Ralvin. Kamu jangan pergi ya."
Hati Jessika sedikit gembira. Inilah ucapan yang ingin didengar oleh Jessika. Walaupun bukan dari Ralvin, tapi Jessika bisa memanfaatkan situasi ini.
"Untuk apa aku di sini lagi? Ralvin aja ngebiarin aku pergi." Jessika mulai berakting. Ia mengeluarkan air mata buayanya.
"Aku yang akan ngomong sama Ralvin. Kamu tunangannya, gak mungkin dia biarin kamu pergi gitu aja. Mungkin saat ini Ralvin lagi marah. Kalau udah gak marah, pasti dia peduli sama kamu," kata Sherin menenangkan.
Sherin berjalan mendekati Jessika yang terus menangis. Sherin memeluk Jessika, ia ingin menghentikan tangisan Jessika.
"Kapan kamu mau ngomong sama Ralvin?" tanya Jessika melembut.
"Sekarang, aku bakal ngomong sama dia sekarang," jawab Sherin.
Dalam hati, Jessika melompat kegirangan. Ternyata untuk memanfaatkan Sherin itu sangat mudah. Ia hanya perlu bersikap lembut dan rapuh, maka gadis itu akan melemah dengan sendirinya.
"Aku mau ketemu Ralvin dulu ya. Kamu tunggu aja di sini."
Sherin berjalan ke taman belakang rumah Ralvin. Tadi Imas memberitahu nya bahwa Ralvin berjalan ke sana dengan wajah tidak senang. Sherin cukup ragu untuk membahas Jessika, mengingat ucapan Ralvin sebelum pergi adalah malas membahas tentang Jessika. Namun, demi menebus kesalahannya, ia harus memberanikan diri.
Ralvin yang sedang duduk di bangku taman menoleh ke samping. Ia melihat Sherin berjalan kearahnya. Ada sebuah senyum yang mengembang di pipinya.
"Lagi apa?" tanya Sherin basa-basi.
"Cuma duduk aja. Ayo gabung," ajak Ralvin.
Sherin tidak ingin to the point, ia ingin melihat suasana hati Ralvin terlebih dahulu. Karena akan sia-sia saja berbicara tentang Jessika jika Ralvin sedang marah.
"Kalau malam, suasananya jadi lebih indah ya?" kata Sherin sambil melihat langit malam.
Ralvin menoleh ke samping. "Ya, lebih romantis kalau ada kamu di sini."
Sherin menunduk malu. Ia yakin pipinya sudah kembali memerah lagi. Sherin berpikir sejenak, sepertinya Ralvin dalam kondisi hati yang cukup baik.
__ADS_1
"Ralvin, aku boleh ngomongin sesuatu?" tanya Sherin hati-hati.
"Ya, ngomong aja," jawab Ralvin ringan.
Sherin menarik nafas, ia sudah siap jika Ralvin akan marah di hadapannya.
"Kamu bisa bujuk Jessika untuk tetap tinggal di sini? Kasihan dia, dia merasa kamu udah gak peduli lagi sama dia."
Ralvin menarik nafas. Sebisa mungkin ia menahan emosinya. Ia tidak ingin meluapkan emosi pada gadis di sampingnya itu.
"Gak bisa," jawab Ralvin singkat.
"Kenapa gak bisa? Dia tunangan kamu. Hubungan kalian lebih serius dari hubungan pacaran," kata Sherin coba memberikan kejelasan.
"Terus?" tanya Ralvin seolah tak peduli.
"Kenapa kamu kayak gak peduli sama Jessika. Kasihan dia, dia merasa sakit hati. Mending kamu bujuk dia untuk tetep tinggal di sini. Bila perlu, aku aja yang pergi supaya gak ganggu hubungan kalian. Aku bis--"
"Cukup!"
"Cukup Sherin, aku gak mau luapin amarah aku sama kamu. Jadi tolong jangan ngomong hal itu lagi." Kini Ralvin berbicara setegas-tegasnya.
"Ini rumah aku, aku bisa mempertahankan siapapun sesuai keinginanku," lanjut Ralvin.
"Aku bukan siapa-siapa kamu, jadi untuk apa kamu mempertahankan aku dan biarin Jessika pergi?" tanya Sherin.
"Karena aku cinta sama kamu!" teriak Ralvin. "Karena aku cinta sama kamu, Sherin," ucap Ralvin mengulangi perkataannya, kali ini dengan lembut.
Sherin membulatkan matanya. Apa yang didengarnya seperti sebuah mimpi yang hanya terjadi dalam satu detik.
"Aku cinta sama kamu, makanya aku gak bisa biarin kamu pergi dari sini. Aku pengen ngelindungin kamu dari apapun. Termasuk Jessika."
"Ingat Sherin, kamu belum kenal sama Jessika. Sekarang kamu lagi diperalat sama dia demi keuntungannya."
Sherin menggelengkan kepala. Bukan menolak dia diperalat, tetapi pengakuan cinta Ralvin masih terus terngiang-ngiang di telinganya.
Air mata Sherin jatuh melewati pipinya. Ia sendiri tidak tahu apakah itu air mata kesedihan atau bahagia. Yang ia tahu, sekarang ia ingin menangis. Melihat air mata Sherin, Ralvin langsung menarik Sherin ke dalam pelukannya.
__ADS_1
"Maafin aku. Aku gak bisa mendam rasa cintaku lebih lama. Maafin aku yang gak jujur sedari dulu. Aku gak pernah cerita soal Jessika ke kamu karena aku gak mau kehilangan kamu." Ralvin memeluk erat tubuh Sherin dalam pelukan hangatnya.
"Andai kamu tahu Jessika itu seperti apa, aku yakin kamu gak akan mau bantu dia. Dia udah kerjasama sama seseorang. Dia bukan wanita baik-baik, Sherin."