
Sherin membuka matanya perlahan. Kepalanya masih terasa sakit dan pusing. Setelah matanya terbuka sempurna, Sherin terkejut melihat tempat yang sama sekali tidak ia kenal.
Sekarang ia terbaring di sebuah tempat tidur yang besar. Kamar itu luas dan semua perabotan di sana berwarna putih dan coklat. Tataan yang elegan, begitu pikir Sherin.
Sherin duduk di atas tempat tidur sambil memperhatikan tempatnya sekarang. Ia berusaha mengingat kejadian yang sudah menimpanya. Tapi ia hanya ingat sampai pada bayangan anak kecil itu.
"Sebenernya itu mimpi atau apa sih? Setiap bayangan itu muncul, kepalaku pasti pusing dan sakit." gumam Sherin pelan.
Pintu kamar itu dibuka dari luar. Sherin menahan nafas karena takut orang itu adalah orang jahat. Tapi setelah melihat siapa orang itu, Sherin menarik nafas lega.
"Kamu udah bangun?" tanya Hendry. Ia datang dengan sebuah nampan yang berisi segelas susu dan roti.
"Kamu kok bisa bawa aku ke sini?" tanya Sherin sambil memperbaiki posisi duduknya.
Hendry meletakkan nampan itu di atas nakas. Setelah itu ia duduk di samping Sherin.
"Kemaren, aku mau pulang dari kunjungan proyek kecil di ujung kota Jakarta. Aku mampir ke toko roti untuk beli makanan ringan. Terus papah aku nelepon, entah kenapa aku malah jalan ke belakang toko. Eh gak taunya aku lihat seseorang tiba-tiba jatuh ke tanah. Dan pas aku lari untuk nolong, aku lihat ternyata orang itu kamu." Hendry menceritakan semua yang terjadi kemarin.
"Makasih ya kamu udah nolong aku." kata Sherin sambil tersenyum.
Hendry membalas senyuman itu, "Iya sama-sama. Kamu gak usah bilang makasih." kata Hendy.
"Oh ya. Cepet makan rotinya. Abis itu kita turun ke bawah. Aku mau ngenalin kamu sama papah aku. Papah aku baru aja datang ke apartemen aku." kata Hendry sambil tersenyum lebar.
"Owh, jadi ini apartemen kamu? Mewah banget." puji Sherin.
"Hahah iya. Di sini setiap ruang apartemen punya dua lantai. Di sini juga ada dua kamar, satu di atas dan satu di bawah. Sebenarnya ini kamar aku. Tapi berhubung kamu ada di sini, jadi tadi malem aku tidur di kamar bawah." kata Hendry.
"Sekali lagi makasih ya." kata Sherin.
"Iya iya, sama-sama." kata Hendry setengah tertawa karena Sherin selalu berterima kasih.
Beberapa menit kemudian Sherin sudah selesai makan sarapan roti. Mungkin Hendry memberinya sarapan roti kerena kebiasaan pria itu sama seperti orang barat kebanyakan. Mereka makan roti dan susu pada pagi hari.
Setelah Sherin selesai makan, Hendry mengajak Sherin untuk langsung turun ke bawah. Sherin pun setuju dan mengikuti Hendry dari belakang.
"Selamat pagi Pah." sapa Hendry pada pria yang sedang duduk membelakangi mereka. Pria itu sedang menonton televisi di ruang tengah.
"Selamat pagi jug..." pria itu menghentikan ucapannya ketika melihat Sherin.
Sherin juga terkejut melihat pria yang dipanggil papah oleh Hendry.
__ADS_1
"Sherin?".
"Pak Bima?." kata Sherin.
Hendry memandang ayahnya dan Sherin secara bergantian, "Kalian udah saling kenal?".
"Ehkm, iya. Kebetulan pas papah ke Surabaya, papah ketemu sama Sherin. Dia kan asisten pribadi Ralvin." jawab Bima.
"Jadi yang Papah bilang kerja sama proyek di Surabaya itu proyek yang sama, sama Ralvin?" tanya Hendry.
"Iya. Dia kan rekan bisnis papah. Braham dan istrinya dulu sering kerjasama sama perusahaan kita." jawab Bima.
"Eh iya, kok kalian malah berdiri di situ. Ayo duduk." kata Bima sambil menunjuk sofa.
Sherin dan Hendry duduk berhadapan dengan Bima. Dalam hati Sherin bertanya-tanya, kenapa Hendry mau jadi karyawan biasa. Padahal ayahnya punya perusahaan besar, bahkan hampir sama besarnya dengan perusahaan Ralvin.
"Kamu kok bisa gak tau kalau papah kamu kerja sama sama Ralvin. Bukannya pas Pak David datang ke perusahaan, kamu nyebut nama papah kamu juga dalam daftar rekan bisnis yang paling Ralvin segani?" tanya Sherin.
Bima yang sedang duduk santai langsung berdiri kaku. Entah apa yang pria tua itu pikiran. Tapi ia terlihat sedikit gelisah.
"Aku gak tau kalau Bima itu adalah Bima papahku. Dari dulu aku cuma pernah denger nama Bima tanpa tau ternyata itu papahku." jawab Hendry.
"Ehkmm, ngomong-ngomong kapan David datang ke Citra Jaya?" tanya Bima yang malah bertanya soal David.
Bima mengangguk, ia memikirkan sesuatu yang tidak bisa ditebak oleh Sherin dan Hendry. Bima berdiri lalu melangkah ke kamar.
"Kalian ngobrol aja dulu. Papah mau lurusin pinggang." kata Bima.
* * * *
Jura yang mulai membaik dan Ralvin kembali berkeliling Jakarta untuk mencari keberadaan Sherin. Sepanjang jalan Jura terus menyalahkan dirinya sendiri. Ralvin sampai bosan meminta Jura berhenti menyalahkan diri.
"Ra, udahlah. Sekarang kita harus fokus cari Sherin." kata Ralvin.
"Orang Kak Calvin udah datang ke Jakarta dan mereka mulai cari Sherin. Jadi kamu harus tenang ok.".
Jura menarik napas panjang. Yang dikatakan oleh Ralvin memang benar. Mereka harus berpikir jernih dan tenang. Mobil Ralvin melewati sebuah gedung apartemen. Di depan gedung apartemen itu ada seorang pria yang sering dilihat oleh Ralvin. Ia pun mengerem mobilnya secara mendadak.
"Ada apa Ral?" tanya Jura.
"Laki-laki itu? Kamu lihat orang itu? Dia adalah orang yang waktu itu aku lihat pas lagi makan malam sama Pak Bima." kata Ralvin.
__ADS_1
Mata Jura mengikuti arah jari telunjuk Ralvin. Di sebelah kanan mereka ada gedung apartemen dan di depannya ada seseorang yang berdiri. Mereka tidak dapat melihat wajahnya dengan jelas karena pria itu memakai kacamata dan masker.
"Kamu yakin?" tanya Jura.
"Aku yakin banget Ra. Gak mungkin aku salah orang. Aku kenal postur tubuhnya." jawab Ralvin.
"Lalu apa yang mau kamu lakuin?" tanya Jura.
"Ikut aku.".
Ralvin membuka laci mobilnya. Di sana ada dua kacamata hitam. Ralvin memberikan satu pada Jura sedangkan yang satunya lagi untuk nya sendiri.
Sesuai instruksi dari Ralvin, Jura keluar mengikuti langkah kaki Ralvin. Mereka berjalan melewati pria yang mereka curigai dengan sangat santai. Kemudian mereka masuk ke dalam lobby apartemen.
"Kita mau ngapain ke sini?" tanya Jura.
"Dari gerak-gerik orang itu, aku tau dia lagi nunggu seseorang. Kita tunggu di sini. Bersikap lah normal, jangan sampe mereka curiga." kata Ralvin sambil berpura-pura sibuk dengan ponselnya.
Benar saja apa yang di katakan oleh Ralvin. Tak lama kemudian seseorang keluar dari lift dan berjalan tanpa mencurigai Ralvin dan Jura.
"Bukankah itu Pak Bima." kata Jura kaget. Dari balik kacamata hitam, Jura membulatkan matanya.
"Beber kan, apa yang aku curigain dari waktu itu. Orang itu suruhan Pak Bima." kata Ralvin.
Mereka berdua menghentikan obrolan mereka untuk menguping pembicaraan Bima dengan mata-mata itu.
"Dia ada di apartemen anakku. Besok kita bawa dia pergi dari sini. Jangan sampe dua musuh besarku itu tahu pergerakan kita." kata Bima.
"Jadi apa kita bakal persiapin penerbangan sekarang juga? Biar besok kita tinggal berangkat." kata pria itu.
"Ya, lebih cepat persiapan kita, itu lebih bagus. Mumpung Sherin ada di sini, kita gak perlukan nyulik dia. Percuma kita ancam Daneil, dia sama sekali gak bisa jadi jembatan kita." kata Bima.
Jura dan Ralvin membulatkan mata bersamaan.
"Ada di apartemen nomor berapa? Biar saya bisa mantau Sherin." kata pria itu.
"Apartemen nomor 021." jawab Bima.
"Ayo kita berangkat dulu ke kantor cabangku. Aku banyak urusan dan kamu harus jagain aku." lanjut Bima lagi.
Setelah Bima dan anak buahnya pergi. Jura dan Ralvin membuka kacamata mereka.
__ADS_1
"Kita harus ke apartemen nomor 021 sekarang." kata Ralvin.