(Revisi)Sopir Bajaj Elite Yang Aku Sayang

(Revisi)Sopir Bajaj Elite Yang Aku Sayang
Dikerjain si bos


__ADS_3

Waktu sudah memasuki jam kerja. Semua karyawan sudah memulai pekerjaannya kembali. Semua karyawan yang sedang bekerja di lantai empat mengerjakan pekerjaannya dengan santai, lain halnya dengan Sherin. Setiap 15 menit sekali, Ralvin selalu menelepon dan menanyakan sejauh mana Sherin sudah menyelesaikan tugasnya. Sherin sangat kesal, bahkan ia sampai membenturkan kepalanya ke meja beberapa kali.


Telepon berdering kembali, Sherin dengan kesal menjawab telepon.


"Ada apa lagi sih Pak? Saya gak selesai-selesai nih."


"Cepet kamu keruangan saya, saya butuh bantuan kamu sekarang" kata Ralvin langsung memutuskan sambungan telepon.


"Aaaa!! Setresss aku!" Sherin berteriak lantang di dalam ruangan. Semua karyawan menoleh ke arahnya.


"Maaf.." kata Sherin lagi karena merasa malu.


* * * *


Sherin sudah berada di ruangan Ralvin. Ia berdiri di hadapan Ralvin karena enggan jika harus duduk berhadapan dengan bos yang menyebalkan itu.


Sherin memasang wajah masam karena sudah merasa sangat kesal. Bos yang satu ini memang sangat menyebalkan. Mungkinkah ini sebuah balas dendam atas perlakuannya terhadap Calvin?. Sherin berniat untuk mencari Calvin setelah pulang kerja. Ia ingin meminta penjelasan atas semua yang terjadi hari ini.


Ralvin sudah duduk di kursinya sambil berpangku tangan. Matanya menatap wajah Sherin yang sepertinya sedang sangat kesal. Ia tersenyum lalu mengambil sebuah kertas dari dalam laci mejanya.


"Sini, tolong saya photo copy dokumen ini." kata Ralvin sambil menunjukkan dokumen yang harus di photo copy.


"Pak, kenapa harus saya sih? Kan masih banyak karyawan yang gak sibuk, atau suruh OB gitu." kata Sherin dengan wajah cemberut.


"Terserah saya dong. Kamu karyawan saya, dan saya bos kamu. Cepet kerjain." kata Ralvin tanpa bisa didebat.


Dengan terpaksa Sherin menuruti perintah bosnya itu. Sherin keluar dari ruangan Ralvin menuju mesin photo copy yang berada di ruang asistennya Ralvin. Sepanjang ia berjalan, ia terus menggerutu sambil sesekali menghentikan kakinya ke lantai.


Sesampainya di ruang asisten, Sherin langsung mengetuk pintu. Setelah dipersilahkan masuk, Sherin berjalan menghampiri meja seorang pria yang sedang tersenyum ke arahnya. Pria itu sangat tampan walaupun tidak setampan Ralvin.

__ADS_1


"Selamat pagi menjelang siang Pak, saya karyawan baru. Pak Ralvin minta saya memphoto copy berkas ini di ruangan Bapak. Boleh gak Pak?" tanya Sherin.


"Oh..Pak Ralvin yang nyuruh. Jelas boleh lah, masa gak boleh. Oh ya, kamu Sherin kan?" tanya Daniel di akhir perkataannya.


"Iya Pak, nama saya Sherin Fajriana." kata Sherin melemparkan sebuah senyuman manis kepada Daniel.


"Hahaha jangan panggil aku pak, panggil aja bang, mas, kak, atau apalah terserah kamu. Aku merasa tua kalau dipanggil bapak." kata Daniel tertawa.


Dalam hati Sherin memuji keramahan Daniel. Asisten ini sangat jauh berbeda dari bosnya.


"Tapi ini di kantor Pak, saya gak enak kalau panggil selain sebutan pak" kata Sherin tertunduk malu. Ia paham bahwa pria yang sedang duduk di kursi kerja itu sedang berusaha lebih akrab dengan nya.


"Kan gak ada orang lain, kecuali kalau ada orang lain pas kita ngomong, baru panggil aku pak" kata Daniel.


"Ok kalau gitu saya panggil mas aja ya" kata Sherin tersenyum malu.


"Kalau udah panggil mas jangan bilang saya lagi dong, jadi kurang akrab" kata Daniel sambil tersenyum lebar.


"Iih..Bapak ini bikin saya malu" kata Sherin terus terang.


"Hahahaha ok ok, maaf. Oh ya, tadi kok panggil bapak lagi. Coba bilang mas Daniel" pinta Daniel berusaha menggoda .


"Iya Mas Daniel" kata Sherin, wajahnya langsung memerah lagi.


Ketika mereka sedang asik berbicara, tiba-tiba dering telepon membuat Danie menghentikan gurauannya bersama Sherin. Ia mengangkat gagang telepon ke arah telinga. Belum sempat ia menempelkan telepon pada telinga, ia sudah menjauhkannya kembali sambil meringis.


"Ralvin, bisa gak kalau gak teriak gitu. Gendang telingaku ini hampir pecah" kata Daniel sambil kembali mendekatkan teleponnya.


"Iya, dia ada di sini. Ok jangan marah-marah gitu dong, nanti cepat tua." kata Daniel menyahuti Ralvin yang meneleponnya.

__ADS_1


Setelah beberapa saat kemudian, telepon ditutup lalu Daniel menarik nafas panjang dan menghembuskannya perlahan


"Kata Ralvin, cepat selesaikan tugasmu. Dia bilang kenapa lama" kata Daniel lagi menyampaikan apa yang dikatakan oleh Ralvin.


Wajah Sherin yang tadinya ceria kini berubah menjadi mimik wajah penuh kekesalan.


"Aku gak ngerti kenapa pak Ralvin nyuruh aku memphoto copy dokumennya? Padahal kan dia bisa nyuruh OB atau apalah itu" kata Sherin yang tanpa sadar sedang mencurahkan kekesalannya di hadapan Daniel.


Daniel tertawa ketika mendengar Sherin menggerutu kesal. Ia tahu Ralvin memang sedikit menyebalkan jika sedang berada di kantor. Tapi ketika mereka keluar kantor, maka Ralvin akan berubah menjadi pria yang penyabar dan tidak terlalu banyak bicara.


"Kamu harus banyak sabar ya." kata Daniel sambil mengeluarkan senyum mautnya.


Karena Sherin sedang kesal, ia tidak dapat terpesona oleh senyuman Daniel. Sherin permisi untuk melakukan tugas yang diberikan oleh Ralvin.


Setelah selesai ia kembali ke ruangan Ralvin. Sesampainya di ruangan Ralvin, Sherin kembali dibuat kesal karena Ralvin mengatakan ternyata ia salah memberikan dokumen. Terpaksa Sherin kembali memphoto copy dokumen yang diberikan oleh Ralvin.


"Loh...ini kenapa lagi? Kok balik lagi?" tanya Daniel ketika Sherin masuk ke ruangannya.


"Pak Ralvin bilang kalau dokumennya salah, jadi harus photo copy lagi" kata Sherin dengan wajah datar karena sudah terlampau kesal.


Daniel terkekeh melihat ekspresi Sherin. Ia yakin bahwa Ralvin sedang mengerjai Sherin. Sungguh malang nasib Sherin yang menjadi bahan kejahilan Ralvin.


Setelah selesai memphoto copy, Sherin kembali ke ruangan Ralvin. Tapi ternyata Ralvin kembali mengatakan bahwa dokumen yang Sherin photo copy belum lengkap. Ia kembali meminta Sherin untuk memphoto copy dokumen yang baru ia berikan. Sherin ingin protes dan marah, tapi apa boleh buat, Ralvin malah mengancamnya bahwa gajinya akan dipotong jika Sherin membantah. Jika bukan karena Ralvin bos dan pemilik perusahaan tempat ia bekerja, maka Sherin sudah menghabisinya sedari tadi.


Kejadian itu terus berulang-ulang sampai Sherin merasa sangat lelah. Ia berdiri di lorong antara rungan Ralvin dan Daniel. Ia berkacak pinggang karena begitu lelah sekaligus kesal.


"Kurang aj*r tuh si bos. Pasti dia lagi ngerjain aku" kata Sherin sambil mengatur nafas yang terengah-engah karena berjalan terus-menerus.


"Jangan panggil aku Sherin Fajriana kalau gak bisa membalas semua kelakuan bos gila ini." kata Sherin pada dirinya sendiri. Kemudian ia tersenyum, senyum yang memiliki arti tertentu.

__ADS_1


__ADS_2