(Revisi)Sopir Bajaj Elite Yang Aku Sayang

(Revisi)Sopir Bajaj Elite Yang Aku Sayang
Perbedaan arti rasa malu dengan urat malu


__ADS_3

Para karyawan Citra Jaya sudah mulai mengerjakan pekerjaannya. Di hari Senin biasanya mereka memiliki pekerjaan yang lebih banyak di bandingkan hari-hari yang lain. Di ruangan CEO, Ralvin dan Daniel sedang berbincang santai membahas keberhasilan rapat hari sabtu yang lalu dengan perusahaan China. Sepertinya suasana hati Ralvin sedang sangat baik. Ia tidak berhenti tersenyum dan tertawa.


Daniel menceritakan bahwa kemarin ia pergi ke taman danau buatan untuk merilekskan pikirannya. Ia juga bercerita bahwa di sana ia bertemu dengan Jura dan Sherin.


"Jadi memang bener Sherin itu adiknya Jura?" tanya Ralvin.


"Iya, aku juga baru tahu kemaren. Kayaknya Jura sayang banget sama Sherin" jawab Daniel.


"Aku ngabisin waktu seharian sama mereka, dan ternyata Sherin itu gemesin banget. Dia punya sifat manja kalau lagi sama kakaknya itu. Dan dia juga punya ketawa yang cantik" kata Daniel sambil membayangkan wajah Sherin.


"Jadi dia bisa ketawa kalau sama kamu?" tanya Ralvin.


"Iya" jawab Daniel singkat.


Entah apa yang dipikirkan oleh Ralvin, ekspresi wajahnya berubah seperti orang yang sedang cemburu.


"Kenapa Ral?" tanya Daniel yang melihat perubahan ekspresi wajah Ralvin.


"Enggak, aku cuma bingung aja ternyata Sherin bisa ketawa dan itu pas lagi sama kamu" jawab Ralvin.


Daniel tersenyum tipis, sekarang ia bisa menebak sepertinya Ralvin sedang cemburu padanya karena Sherin bisa tertawa saat bersamanya sedangkan ketika bersama Ralvin, Sherin selalu marah-marah dan bersikap ketus.


"Kamu cemburu?" tanya Daniel berusaha menyudutkan Ralvin.


"Apaan sih? Ya enggak lah" jawab Ralvin sambil tertawa.


"Inget tuh yang jauh di sana" kata Daniel sambil menepuk bahu Ralvin.


Mendengar ucapan Daneil yang terakhir, Ralvin langsung terdiam. Sekarang moodnya sudah berubah menjadi buruk.


"Udahlah Dan, gak usah diterusin bahasnya. Kerja lagi sana, kok malah ngerumpi" kata Ralvin dengan wajah cemberut.


"Yang tadi ngajak ngerumpi kan kamu Ral" kata Daniel sambil berdiri dari sofa yang ada di ruangan Ralvin.


"Aku balik ke ruanganku dulu ya" kata Daniel lalu bergegas keluar dari ruangan Ralvin.


Setelah kepergian Daniel dari ruangannya, Ralvin langsung berbaring di sofa. Sepertinya sekarang pikirannya sedang semrawut. Ia mengusap wajahnya dengan kasar.


"Ah!! Kenapa kalau sama aku kamu selalu marah-marah? Dan dia, kenapa harus muncul lagi di hidupku?"


* * * *

__ADS_1


Jam makan siang sudah tiba, Sherin yang sedang mengetik sesuatu di komputer menghentikan kegiatannya itu ketika Dita dan Filly mengajak makan siang bersama.


"Iya sabar, aku save kerjaanku" kata Sherin sambil masih berkutat di depan komputer.


"Cepet dong Rin, cacing di perutku udah pada perang" kata Dita.


"Mana lawan mana tuh?" tanya Filly pada Dita.


"Cacing kremi baik sama cacing kremi jahat" jawab Dita santai.


"Cacingan dong" kata Sherin sambil tertawa.


"Hahaha iya, si Dita cacingan ih.." kata Filly sambil pura-pura bergidik ngeri.


"Kalau cacing yang jomblo apa Dit?" tanya Sherin pada Dita untuk mengejek Filly.


"Cacingan.....deh lo..hahah" jawab Dita tertawa terbahak-bahak.


"Kasihan bukan cacingan" kata Filly sambil cemberut.


"Eh tapi kan kamu juga jomblo" kata Filly lagi pada Sherin.


"Hahahha jomblo teriak jomblo" kata Dita sambil terus tertawa.


"Eh, si Hendry kemana?" tanya Filly.


"Tadi dia di panggil Bu Sifa ke ruangannya. Jadi tadi Hendry bilang kita boleh ke kantin duluan" jawab Dita.


Sherin, Filly dan Dita pergi ke kantin kantor bertiga. Kantin itu berada di lantai dasar bersebelahan dengan lobby kantor. Mereka bertiga turun menggunakan lift. Sesampainya di lantai dasar, mereka langsung menuju ke kantin kantor. Kantin kantor itu sangat besar, mungkin bisa dikatakan restoran. Sherin dan temannya memilih duduk paling pojok karena di sana lebih nyaman untuk mengobrol santai.


Pesanan Sherin, Filly dan Dita sudah tiba. Dengan semangat mereka makan dengan lahap. Ketika mereka sedang asik makan, mata Filly langsung membulat.


"Itu kan Pak Ralvin" kata Filly yang saat itu matanya menangkap sosok Ralvin sedang berjalan memasuki kantin kantor.


"Eh iya Ly, kok tumben pak Ralvin makan di sini?" kata Dita menimpali.


"Hmmm ilang selera makanku" kata Sherin sambil meletakkan sendok di piringnya.


Dita dan Filly saling berpandangan, mereka heran kenapa Sherin tidak menyukai kehadiran Ralvin.


"Aku duluan ya, udah kenyang" kata Sherin langsung berdiri dari duduknya.

__ADS_1


Dita dan Filly tidak berkomentar apa pun. Mereka hanya mengangguk dan melambaikan tangan ketika Sherin pergi lebih dulu.


Sherin berjalan keluar dari kantin kantor, tiba-tiba tangan seseorang menghentikan langkahnya. Sherin menoleh ke belakang dan melihat Ralvin sedang memegang tangannya.


"Ayo ikut saya" kata Ralvin langsung menarik tangan Sherin kembali ke dalam kantin.


Semua mata tertuju pada sang CEO yang sedang berjalan menarik tangan seorang karyawan. Mereka semua bertanya-tanya kenapa bos besar mereka menarik tangan gadis itu. Mungkin kah gadis itu membuat suatu kesalahan besar.


"Pak lepasin, banyak yang liatin, malu" kata Sherin berbisik pelan.


"Biarin aja, saya yang punya tangan dan saya gak malu kok" kata Ralvin mengacuhkan protes dari Sherin.


"Bapak ini udah putus ya urat kem*luannya?".


Seketika Ralvin menghentikan langkahnya. Ia berbalik menghadap Sherin yang tingginya hanya sedadanya. Wajah Ralvin berubah merah padam.


"Kamu" kata Ralvin sambil mengeratkan genggaman tangannya pada tangan Sherin.


"Memangnya kenapa? Apa saya salah?" tanya Sherin polos.


Ralvin menggelengkan kepalanya, ia hanya menarik nafas lalu menghembuskan secera perlahan.


"Sepertinya kamu memang gak paham arti dari kata-katamu barusan" kata Ralvin sambil kembali menarik tangan Sherin dan kembali berjalan.


"Gak paham apa?" tanya Sherin yang malah jadi bingung.


"Perkataan kamu udah menjatuhkan harga diri saya sebagai laki-laki" jawab Ralvin tanpa menoleh pada Sherin.


Sherin berusaha mencerna perkataan Ralvin dengan perkataannya. Tiba-tiba Sherin menghentikan langkahnya hingga membuat Ralvin berbalik badan ke arahnya. Wajah Sherin berubah merah. Rasa malu yang besar menyelimuti dirinya. Bagaimana tidak, tadi ia telah mengatakan bahwa urat kem*luan Ralvin sudah putus. Sungguh ia tidak bermaksud berkata ke arah negatif.


"Pak, saya gak maksud ngomong gitu. Maaf" kata Sherin sambil menunduk karena malu.


Ralvin mengangkat sebelah alisnya, "Maksudnya?".


"Saya baru sadar omongan saya tadi" jawab Sherin.


Karena tidak tahan menahan rasa malu, Sherin langsung melepaskan genggaman tangan Ralvin dan berjalan dengan cepat meninggalkan Ralvin.


"Hei! Saya belum selesai ngomong!" teriak Ralvin memanggil Sherin yang sudah menjauh dari tempat ia berdiri.


Semua orang yang sedang memandangnya langsung mengalihkan mata mereka ke lain arah ketika Ralvin balik memandangi mereka.

__ADS_1


"Gadis itu benar-benar…" Ralvin tidak meneruskan perkataannya.


__ADS_2