
Hari Selasa pagi, seperti biasanya, Jura akan pergi lebih pagi dibandingkan dengan Sherin. Sherin setiap hari harus berangkat sendiri menggunakan taksi atau angkot. Akhir-akhir ini ia jarang melihat bajaj Calvin. Entah mengapa tiba-tiba saja ia mengingat sang sopir bajaj yang satu itu. Padahal Calvin itu sangat menyebalkan. Terakhir kali mereka bertemu saja Calvin sudah berani menggombalinya.
Sherin berdiri di pinggir jalan di depan rumahnya. Pagi ini ia berangkat lebih pagi dari pada biasanya karena pekerjaan di kantor sedikit lebih padat dari hari-hari sebelumnya. Matanya menyapu seluruh jalan mencari taksi. Tapi bukannya taksi, ia malah melihat bajaj yang sangat familiar datang mendekatinya. Bajaj itu berhenti tepat di hadapannya.
"Hai Neng, selamat pagi. Udah beberapa hari ini kita gak ketemu. Kangen dong pastinya kan?" Calvin berkata dengan sangat percaya diri.
"Idih, Pede banget sih Bang. Dari pada kangenin Abang, lebih baik saya kangenin ni knalpot bajaj" kata Sherin dengan ketus sambil menunjuk knalpot bajaj.
Calvin hanya tertawa melihat pagi-pagi gadis itu sudah marah-marah karena ulahnya. Calvin mengulurkan tangan ke belakang. Jari-jari tangannya membuka tuas menutup pintu bajaj lalu membukanya.
"Ayo naik Neng, nanti terlambat. Hari ini para sopir taksi pada kena razia istrinya".
"Kenapa?" tanya Sherin bingung.
"Karena dari kemaren terus bawa penumpang yang secantik bidadari, yaitu Eneng".
"Gombal terusss".
Sherin langsung masuk ke dalam bajaj Calvin. Mungkin karena sudah merasa kenal, Sherin tidak lagi ragu-ragu untuk menumpangi bajaj Calvin. Ia juga merasa lebih aman saat naik bajaj Calvin karena ia tahu sifat Calvin. Pria itu tidak mungkin memiliki niat macam-macam padanya.
"Siap Neng?" tanya Calvin yang melihat wajah Sherin dari kaca depan.
"Udah Bang jalan, gak usah pake nanya segala" kata Sherin membuang muka ke lain arah ketika tahu Calvin menatap wajahnya dari kaca depan.
"Neng lucu deh kalau lagi marah. Jadi makin gemes" kata Calvin dan tangannya memperagakan seperti harimau yang menerkam mangsa.
"Saya turun nih" ancam Sherin.
"Turun aja Neng, gak apa-apa kok. Paling nanti Neng terlambat ke kantor" kata Calvin berkata dengan ringan.
"Aaaaa!! Ngeselin" kata Sherin menghentak kaki.
"Hahaha ok ok, jangan ngamuk dong Neng".
Calvin tidak pernah berhenti dan bosan membuat Sherin marah dan kesal. Menurutnya itu adalah hal yang paling menyenangkan. Calvin menancap gas menuju kantor Citra Jaya dengan penuh senyum dan tawa.
__ADS_1
* * * *
Daniel mengerutkan keningnya ketika sedang fokus bekerja, tiba-tiba ada seseorang yang menelpon nomor ponsel pribadinya dan nomor itu tidak dikenali. Biasanya semua rekan bisnis akan menghubunginya ke nomor kantor.
Daniel memutuskan untuk mengabaikannya. Namun beberapa menit kemudian, nomor itu kembali meneleponnya. Mungkinkah ini nomor penting? Akhirnya Daniel menjawab panggilan telepon itu.
"Halo selamat pagi, ini dengan siapa ya?" tanya Daniel dengan ramah tapi raut wajahnya masam.
"Halo, jangan banyak basa-basi. Kau serahkan saja gadis yang bersama mu di danau waktu itu pada ku" suara besar menggelegar dan menakutkan terdengar dari seberang telepon.
Daniel menjauhkan ponsel dari telinganya. Ia terkejut sekaligus heran. Siapa pria itu? Mengapa tiba-tiba membahas Sherin.
"Ini siapa?" tanya Daniel serius.
"Kau tidak perlu tahu aku siapa. Serahkan saja gadis itu padaku, maka kau bisa hidup tenang" suara pria itu penuh ancaman.
Tanpa menjawab, Daniel langsung menutup telepon. Dengan cepat ia mengeluarkan kartu sim dari ponselnya dan membuangnya ke tong sampah. Daniel sama sekali tidak tahu apa maksud pria tadi. Tapi yang jelas pria itu sedang menteror dirinya.
"Aku harus gimana? Apa aku ceritain ke Jura? Jura kan kakaknya Sherin. Ya, aku rasa aku harus ceritain ini ke Jura" kata Daniel pada dirinya sendiri.
* * * *
Sherin membuka tasnya dan mencari sesuatu. Beberapa detik mengaduk isi tasnya, Sherin terlihat semakin kesal karena tidak menemukan apa yang ia cari. Calvin melihat Sherin sedari tadi mengaduk isi tasnya hanya tersenyum.
"Jangan bilang Neng gak bawa uang" kata Calvin yang mulai menggarai Sherin.
Sherin hanya menatap Calvin dari ujung matanya. Ia masih terus mencari.
"Neng cepatan, saya mau narik penumpang lagi" kata Calvin mendesak Sherin agar cepat-cepat membayar ongkos bajaj.
"Bang, besok aja ya saya bayarnya. Soalnya sekarang dompet saya ketinggalan" kata Sherin sambil memasang wajah memelas.
"Cantik-cantik kok pelupa. Alasan aja, untung gak lupa bawa kepala Neng" kata Calvin mengulangi perkataan Sherin beberapa hari yang lalu.
"Bang, tolong ya, saya bener-bener gak tau harus gimana selain ngutang sama Abang" kata Sherin.
__ADS_1
Kali ini ia tidak marah-marah ataupun ketus. Ia berusaha mengambil rasa simpati Calvin.
"Neng udah sering gak bayar ongkos bajaj loh. Gak inget?" Calvin mengingatkan bahwa Sherin sering tidak membayar ongkos bajaj ketika sedang marah.
"Aduh Bang, jangan gini dong. Saya mohon...please.." kata Sherin sambil membuat tanda memohon dengan tangannya.
"Boleh gratis, dengan satu syarat" kata Calvin sambil tersenyum licik.
"Apa itu Bang?" tanya Sherin dengan semangat.
"Satu kecupan di sini" jawab Calvin sambil menunjuk bibirnya.
Sherin yang tadinya memasang wajah ceria langsung merubah ekspresi tajam.
"Mimpi!" bentaknya dan berlalu pergi begitu saja, lagi-lagi tanpa membayar ongkos bajaj.
Cakvin tertawa terbahak-bahak. Ia sangat puas mengerjai Sherin. Ia sama sekali tidak ada maksud serius tadi, tapi Sherin sudah sangat marah.
* * * *
Di ruangan Daniel, Jura sedang duduk dengan gelisah. Ia sudah mendengarkan cerita Daniel tentang pria yang meneleponnya tadi. Ia sendiri juga tidak tahu apa maksud dari pria itu menteror Daniel.
"Apa Sherin punya musuh?" tanya Daniel yang mencoba mencari jawaban dari setiap kemungkinan.
"Enggak, Sherin gak punya musuh dan juga temen" jawab Jura.
"Gak punya temen? Gimana mungkin?" tanya Daniel.
"Sherin cuma punya temen sekolah yang gak terlalu deket sama dia. Sherin ditekan orang tua kami. Dia ngerjain semua kerjaan rumah sejak dia umur 6 tahun. Dia kehilangan masa kecilnya dan setelah udah besar dia juga gak punya temen" jawab Jura menceritakan sekilas penderitaan Sherin di keluarganya.
Hati Daniel mencelos ketika mendengar ucapan Jura. Sherin yang mudah marah dan sering bertengkar dengan Ralvin itu ternyata memiliki masa lalu yang kurang menyenangkan.
"Terus, kenapa laki-laki itu neror aku? Dari mana dia tau nomor pribadiku?" pertanyaan dari benaknya semua dikeluarkan oleh Daniel.
"Aku akan nyelidikin masalah ini" kata Jura sambil menatap pada sebuah dinding di depannya.
__ADS_1