
Pada hari Rabu pagi, Sherin menunggu kendaraan umum yang lewat. Tapi yang paling utama ia cari adalah bajaj Calvin. Ia ingin membayar seluruh hutangnya. Walaupun ia sangat kesal pada Calvin karena permintaan Calvin kemarin, tapi Sherin tetap ingin membayar ongkosnya. Hutang tetaplah hutang yang harus dibayar, begitulah pikirnya.
Sudah hampir setengah jam Sherin menunggu, tapi ia tidak melihat bajaj Calvin yang lewat. Akhirnya Sherin memutuskan untuk naik taksi ke kantor. Jika ia bertemu dengan Calvin, ia akan memarahi pria itu habis-habisan karena sudah membuatnya berdiri setengah jam menunggu bajajnya.
Sesampainya Sherin di kantor, ia langsung men-scan ID Card lalu bergegas naik ke lantai empat menggunakan lift. Begitu keluar dari lift ia langsung masuk ke dalam ruang kerja. Di sana ia melihat teman-temannya sedang duduk di atas meja dengan santai.
"Hei, gak takut dimarahin Pak Ralvin kalian?" tanya Sherin langsung menyapa temannya.
"Hari ini kita bebas Rin, Pak Ralvin lagi ke Australia" jawab Hendry.
"Owh.." kata Sherin singkat.
Sepertinya hari ini adalah hari yang paling menyenangkan untuk Sherin. Seperti lepas dari penjara, Sherin bisa bernafas dengan lega karena tidak ada bos yang membuatnya naik darah setiap kali mereka bertemu.
"Kita semua gak ada kerjaan kan? Yok kita main game bareng" ajak Dita.
"Males ah, aku mau duduk santai aja menikmati hari tanpa si bos gila itu" kata Sherin sambil merenggangkan seluruh persendiannya.
Karena Sherin tidak mau bergabung dengan mereka, akhirnya ke tiga temannya main game barsama tanpa Sherin.
* * * *
Di ruang HDR, Jura sedang mengecek dokumen, tapi pikirannya tidak dapat fokus. Ia masih ingat tentang masalah yang ia bahas bersama Daniel. Siapa yang meneror dan mengancam Daniel? Kenapa orang itu mengancam Daneil bukannya Jura yang seorang kakaknya Sherin? Apa yang membuat orang itu menginginkan Sherin? Pertanyaan itu yang selalu berlalu-lalang di dalam pikiran Jura.
"Jura, kok melamun" tanya Rini yang memperlihatkan Jura tiba-tiba melamun.
"Oh iya, maaf" kata Jura tersadar dari lamunannya.
"Pak Daniel hari ini ada meeting gak ya?" tanya Jura pada Rini.
"Enggak tau, coba tanya aja sama Bu Sifa, kan dia sekretaris Pak Ralvin" jawab Rini.
Jura berniat untuk menemui Daniel saat jam istirahat. Ia ingin membahas hal itu lagi. Sungguh dari kemarin hati Jura tidak tenang.
* * * *
"Lepaskan aku! Momy! Dady!".
Anak kecil berteriak pada kedua orang tuanya ketika ia berhasil di tangkap oleh dua orang jahat.
"Diam anak kecil!" bentak pria itu.
"Lepaskan anakku!" teriak seorang wanita yang terduduk di tanah.
__ADS_1
Anak kecil itu menangis ketakutan. Ia juga sangat sedih melihat kondisi kedua orang tuanya yang sudah terluka, terutama ayahnya yang sudah bersimbah darah.
"Cepat beritahu kami di mana tempat itu!" bentak pria yang memiliki kulit hitam.
"Aku tidak mau memberitahu mu! Kau sudah memarahi ku" kata anak itu sambil terus menangis.
Penjahat yang berkulit putih berjongkok di depan anak kecil itu. Ia memasang wajah yang ramah dan senyum yang lebar.
"Baiklah, aku meminta maaf. Nanti kami akan membelikan es krim dan permen yang banyak asalkan kau memberitahu kami di mana tempat itu" kata pria itu dengan lembut.
"Lepaskan tanganku dulu, ini sangat sakit" pinta anak itu yang sudah mulai tidak menangis lagi.
Kedua pria itu melepaskan tangan anak kecil yang sedang mereka tahan. Mereka tersenyum karena berpikir bisa mendapatkan apa yang mereka inginkan dari anak kecil itu. Namun senyuman itu hilang ketika anak kecil tadi menendang mereka dengan sangat kuat dan melarikan diri.
"Claudya lari Nak!" teriak kedua orang tuanya.
"Sial! Cepat kejar" kata pria berkulit putih sambil mengambil sebuah potongan kayu yang cukup besar.
"Claudya awas!!"
'Bukk'...
"Tidak!!!" Sherin berteriak.
"Kamu kenapa Rin?" tanya Hendry sambil mengusap pundah Sherin.
"Enggak, maaf. Aku cuma mimpi buruk" kata Sherin sambil mengatur nafasnya.
Ketiga temannya saling tatap satu sama lain. Mereka tidak melihat Sherin tertidur, mereka hanya melihat Sherin memejamkan matanya sebentar dalam posisi duduk sebelum Sherin berteriak dengan keras.
Sherin berkeringat dingin. Kenapa mimpi malam itu seolah-olah berlanjut. Dan kali ini juga seperti nyata hingga ia tidak sadar berteriak keras membuat teman-temannya terkejut.
"Kamu yakin cuma mimpi, tapi kami gak lihat kamu tidur loh" kata Dita yang masih saja khawatir.
"Apa iya aku gak tidur?" tanya Sherin yang menyadari posisinya masih duduk.
"Ya iyalah Rin, mana ada mimpi di pagi hari. Kalau mimpi di siang bolong sih masih mungkin kalau orang itu tidurnya berjam-jam." kata Filly menjawab.
"Udahlah, lupain aja. Aku gak apa-apa kok" kata Sherin pada teman-temannya.
"Ya udah kalau gitu kami lanjut main lagi nih. Tapi kalau kamu teriak lagi, aku bakal bawa kamu ke dukun paranormal" kata Dita yang membuat semua orang tertawa.
"Memangnya aku kena guna-guna" kata Sherin yang sekarang sudah bisa tertawa.
__ADS_1
* * * *
"Dan, aku udah coba nanya-nanya sama ibuku, tapi ibuku cuma bilang 'udahlah Ra, kamu ini ngomong apa. Masa kecil Sherin sampai sekarang ya sama aja kayak anak lainnya. Cuma, ingatan Sherin pas 6 tahun ke bawah dia gak inget. Kata dokter ada suatu gangguan, makanya sampe sekarang tu anak masih aja ngerepotin' gitu katanya" kata Jura sambil mempraktekkan gaya bicara ibunya.
"Wih, kamu meraktekinnya kok gitu banget sih, seolah-olah ibu kamu itu super galak" Daniel malah mengomentari peragaan Jura.
Jura hanya tertawa, sebenarnya ia ingin sekali membenarkan ucapan Daniel. Ibunya memang sangat galak pada Sherin. Setiap kali Jura membicarakannya soal Sherin, maka ibunya akan berbicara dengan sinis dan seolah-olah tidak ingin membahas anak gadisnya itu.
"Ya kalau gitu kita harus nelepon nomor itu lagi" kata Daniel.
"Ya, gak ada cara lain selain nanya sama orang itu" kata Jura menanggapi.
"Nanti malam kita ketemuan di kafe yang deket danau itu ya. Biar kita punya banyak waktu, kalau di kantor kan terbatas. Apalagi hari ini aku sibuk, Ralvin ke Australia jadi aku yang nge-handle semua kerjaan dia" kata Danel.
"Ok" jawab Jura sambil membulatkan jari telunjuk dan jempolnya.
Jura meninggalkan ruangan Daniel ketika pembicaraan mereka sudah selesai. Mereka sepakat untuk membahas tentang ini lagi nanti malam. Daniel menghembuskan nafas. Ia sama sekali tidak mengerti kenapa pria itu meneror nya.
* * * *
Hari sudah sore, para karyawan sudah pulang kantor. Tidak seperti biasanya, kali ini Jura menjemput Sherin ke ruang kerjanya untuk pulang bersama. Sherin tidak mencurigai apapun, ia hanya merasa sangat senang ketika kakaknya mengajak pulang bersama.
Di tengah perjalanan pulang, Sherin mendekatkan wajahnya ke telinga Jura agar Jura bisa mendengar ucapan Sherin dengan jelas, begitu juga sebaliknya.
"Kak, tadinya Sherin mau nunggu bajaj. Sherin mau bayar utang" kata Sherin mengencangkan suaranya yang bersatu dengan suara angin.
"Kamu kok ngutang ke bajaj?" tanya Jura sambil tertawa.
"Abisnya setiap Sherin mau bayar dia gak punya kembalian terus" jawab Sherin sambil cemberut.
Ia menutupi kebenaran jika sebenarnya bukan hanya karena itu ia berhutang, tapi setiap kali ia merasa sangat kesal pada Calvin, ia akan pergi tanpa membayar ongkos.
"Terus kenapa gak bilang sama kakak kalau kamu mau naik bajaj?" tanya Jura lagi.
"Bajajnya aja gak ada. Pak Ralvin pergi, kakaknya pun gak kelihatan" Sherin menggerutu kesal.
"Loh, kamu udah ketemu sama Pak Calvin?" Jura terkejut.
"Iya Kak, dua-duanya sama-sama nyebelin" kata Sherin lagi.
"Jangan gitu, nanti kamu suka loh" ejek Jura.
"Ah Kakak apaan sih? Udah deh ayo cepetan" kata Sherin sambil mencubit punggung kakaknya.
__ADS_1
Motor mereka melaju dengan kecepatan rendah karena jalanan di Jakarta macet.