
Sherin terbatuk-batuk karena nafasnya masih sesak. Jura mengusap kepala Sherin sedangkan Calvin mengusap tangan Sherin.
Perlahan mata Sherin terbuka. Yang pertama ia lihat adalah wajah Jura, Calvin, daun dan ranting pohon dan terakhir langit gelap. Sherin mengingat-ingat apa yang terjadi sebelumnya. Setelah berhasil mengingat, Sherin membelalakkan matanya.
"Kak, Kakak gak apa-apa kan?" tanya Sherin dengan khawatir.
"Kakak gak apa-apa. Malah kakak yang khawatir sama kamu" kata Jura.
Sherin menatap Calvin, pria itu sedang memandang wajah Sherin.
"Kamu gak apa-apa?" tanya Sherin.
Calvin tersenyum, "Aku gak apa-apa kok".
"Calvin yang udah nyelamatin kita." kata Jura.
Sherin melihat ke arah kakinya. Di sana kakinya terbungkus oleh sebuah kaos lengan panjang. Mata Sherin beralih pada Calvin. Ia membulatkan matanya ketika melihat tubuh Calvin tanpa baju.
"Aaaa!! Kenapa kamu lepas baju" Sherin berteriak sambil menutup matanya dengan dua telapak tangan.
Calvin yang baru tersadar kalau dia tidak memakai baju pun langsung berbalik badan. Wajahnya memerah karena malu.
"A-a-aku mau ambil baju dulu".
Calvin berdiri dan berlari menuju rumahnya. Ia masuk ke dalam kamar untuk mengambil baju dari lemari. Ia menggerutu sendiri karena telah membuat malu dirinya sendiri.
"Sherin, kenapa kamu selalu buat aku gak sadar sama kondisi aku sendiri" kata Calvin pelan.
Calvin mengambil kaos hitam berlengan pendek dan langsung mengenakannya. Saat akan berjalan keluar kamar, dering ponsel berbunyi. Dengan cepat Calvin meraih ponsel yang ada di nakas. Dalam sekali sapuan pada layar, panggilan telepon pun terjawab.
"Hallo," sapa Calvin.
"Ya, oh baguslah kalau gak jadi. Inget ya, jangan muncul tiba-tiba. Kalau mau dateng kabarin dulu" kata Calvin lagi.
Calvin tersenyum lebar, setelah menutup telepon ia kembali ke tempat di mana Sherin dan Jura berada.
* * * *
Satu jam kemudian, kebakaran sudah padam. Tim pemadam kebakaran melaksanakan tugasnya dengan cepat dan tanggap. Setelah semua warga bubar. Calvin dan Jura membawa Sherin ke kontrakan Calvin.
Sherin duduk di ruang tamu. Wajahnya terlihat pucat dan masih shock. Bagaimana tidak shock, begitu kebakaran terjadi, pintu kamarnya terkunci dan sulit didobrak. Sherin sempat berpikir mungkin hari ini ia akan mati jika Calvin tidak membantu Jura.
"Rin, udah gak usah dipikirin. Kamu istirahat aja gih, udah jam 4.00 pagi" kata Jura.
Sherin tidak menjawab, ia tetap diam.
"Apa yang kamu pikirin?" tanya Calvin lembut.
__ADS_1
"Habis ini aku tinggal di mana? Terus semua perabotan yang udah dibeliin sama Pak Ralvin, gimana aku bisa ganti semua itu?".
Calvin tertawa. Entah apa yang menurutnya lucu, hanya ia lah yang tahu.
"Soal perabotan itu, tenang aja. Ralvin orang kaya, sultan mah bebas" kata Calvin.
"Yang punya duitnya kan Pak Ralvin, kok malah kamu yang sok santai?" kata Sherin kesal.
Ia kesal pada Calvin karena tidak mengerti bagaimana perasaannya. Ia takut Ralvin akan marah atau memecat dirinya karena kerugian atas perabotan rumah itu.
"Udah udah, jangan mulai lagi deh. Sherin, kakak mau belanja baju untuk kamu dulu ya. Sekarang kan kamu udah gak punya baju" kata Jura sambil berdiri dari sofa.
"Ikut" kata Sherin ikut berdiri juga.
"Kamu mau ikut? Pakai baju tidur pendek itu?" tanya Calvin menatap wajah Sherin.
Sherin menunduk, ia melihat pakaian yang sekarang ia kenakan. Ia baru sadar bahwa pakaiannya tidak layak untuk ikut Jura. Akhirnya Sherin duduk lagi di sofa.
"Ya udah deh, Sherin gak jadi ikut" kata Sherin.
Jura tersenyum kemudian melangkah keluar dari kontrakan Calvin. Seharusnya Jura waspada meninggalkan adik perempuannya berduaan dengan seorang pria, tapi itu tidak berlaku pada Calvin. Jura sangat percaya Calvin tidak akan berbuat macam-macam pada adiknya.
Sherin menyadarkan diri ke sofa. Tak sengaja matanya melihat luka di tangan Calvin.
"Eh tangan kamu luka" kata Sherin kaget.
Calvin melirik pada lukanya, "Gak apa-apa, gak sakit kok" jawabannya santai.
Calvin buru-buru menarik tangannya menghindari Sherin.
"No, gak usah ya. Mending kamu istirahat aja" kata Calvin.
Sherin cemberut lalu melipat tangan di depan dada.
"Ya udah kalau gak mau diobatin" katanya pura-pura merajuk.
* * * *
Jura berjalan di tengah remang-remang cahaya subuh. Jura berjalan menuju jalan besar untuk mencari kendaraan umum. Sepanjang ia melangkahkan kakinya, Jura terus berpikir tentang kebakaran yang terjadi.
Sebelum Jura keluar dari kamar Sherin tadi malam, ia sangat yakin tidak mengunci pintu kamar Sherin. Jura juga merasa aneh karena api kebakaran itu mengelilingi seluruh sisi rumah.
Tidak jauh dari kontrakan Sherin, langkah kaki Jura tiba-tiba berhenti. Sekilas Jura melihat bayangan seseorang yang berlari ke belakang rumah Sherin.
Jura melihat ke arah bayangan itu tapi tidak ada siapapun. Sebelum Jura mengabaikan bayangan itu, ia melihat tapak sepatu boot mengarah ke belakang kontrakan Sherin.
Sekarang ia yakin yang ia lihat bukan hanya sekedar bayangan. Dengan hati-hati Jura mengikuti tapak sepatu itu. Jura terus mengikuti sampai tidak sadar ia hampir memasuki tempat yang penuh pohon rindang dan semak belukar.
__ADS_1
"Apa ada jalan ke sana? Ini mencurigakan banget. Apa jangan-jangan kebakaran rumah Sherin disengaja? Kalau iya, siapa yang ngelakuin itu dan dari mana dia tau Sherin tinggal di sini?".
Jura terdiam memikirkan itu, kemudian ia mengacak rambutnya sendiri, "Ah..pusing aku".
Jura berbalik arah dan kembali ke niatan semula untuk membeli pakaian Sherin.
Dari balik semak-semak, seseorang mengintip ke arah Jura yang sudah berjalan menjauh. Pria itu menarik nafas panjang.
"Hampir aja" kata pria itu.
Pria itu mengeluarkan ponsel lalu menghubungi seseorang.
"Hallo, bagaimana, apa tugasmu sudah selesai?" tanya seorang pria dengan bahasa formal.
"Maaf Tuan, seharusnya saya berhasil, tapi ada pria yang menyelamatkan mereka" kata pria itu.
"Bodoh! Aku tidak mau tahu, gadis itu harus lenyap secepatnya sebelum dua musuh besarku memilikinya" ancam pria itu.
"Baik Tuan".
Setelah menutup telepon, pria yang tadi bersembunyi di balik semak-semak itupun berdiri.
"Udah bertahun-tahun nyari Claudya, begitu ketemu suruh dibunuh. Gimana sih si tuan itu" kata pria itu menggerutu sendiri.
Dengan kecepatan lari layaknya ninja di film-film, pria itu lari ke arah pagar tembok. Dengan ringannya ia melompati dinding tembok itu dan keluar di jalan besar.
* * * *
Sherin duduk sambil berpangku tangan. Bukan sedang sombong atau merajuk, tapi ia sedang menahan kantuk. Sesekali tubuhnya hampir tumbang ke lantai karena kesadarannya hampir sampai ke alam mimpi.
Calvin tertawa kecil melihat Sherin menahan kantuk seperti anak kecil.
"Kalau ngantuk tidur di kamar" kata Calvin.
Mata Sherin kembali terbuka setelah mendengar seseorang berbicara. Ia melihat ke arah Calvin yang sedang tersenyum lebar padanya.
"Gak mau, itu bukan kamarku" kata Sherin sambil menggelengkan kepala.
Calvin menarik nafas panjang, "Kamu kok susah dibilangin sih? Dari pada nanti kamu jatuh ke lantai terus jidat kamu jendol kayak bola, mau?".
"Biarain, lagian itu kan kamar kamu. Gak baik perempuan tidur di kamar laki-laki" jawab Sherin tidak peduli.
"Mulai sekarang, kamarku jadi kamarmu, paham? Dah sana masuk kamar".
Sherin menelan ludahnya. Entah Calvin sadari atau tidak, ucapannya barusan seperti seorang pengantin baru yang akan tidur di kamar yang sama.
Karena tidak mau berdebat akhirnya Sherin memilih untuk masuk ke kamar Calvin. Ia mengunci pintu dengan rapat agar tidak ada orang yang bisa masuk.
__ADS_1
Sherin menghempaskan tubuhnya ke atas kasur yang empuk. Ia memandang langit-langit kamar. Hari ini sungguh seperti sebuah mimpi. Baru tadi malam ia mengetahui bahwa ibu dan ayahnya bukanlah orang tua kandungnya, setelah itu baru beberapa jam yang lalu kontrakannya kebakaran.
Karena begitu lelah fisik dan pikiran, tak sadar Sherin memejamkan matanya dan larut dalam tidur yang nyenyak.