(Revisi)Sopir Bajaj Elite Yang Aku Sayang

(Revisi)Sopir Bajaj Elite Yang Aku Sayang
Dia bukan perebut


__ADS_3

Sherin berkata pada Ralvin lewat matanya untuk segera mengejar Jessika, tapi Ralvin malah menggeleng.


"Kejar dia," kata Sherin.


"Biarin aja, dia harus belajar dewasa dan harus belajar menghargai perasaan orang lain," jawab Ralvin lalu meneruskan makannya.


Di teras rumah, Jessika terus menghentakkan kakinya ke lantai. Ia tidak dapat menahan kekesalannya. Ia merasa Ralvin sudah mulai menyukai Sherin. Semuanya tidak akan mudah jika Sherin masih ada di sisi Ralvin.


"Memangnya apa sih istimewanya Sherin? Sampe Ralvin taruh perhatian sama dia." Jessika terus menggerutu.


Tak disadarinya, Sherin sedang berjalan ke arahnya. Dengan hati-hati Sherin menyapa Jessika.


"Kamu marah?" tanya Sherin.


Jessika menoleh pada Sherin. Ia mandang Sherin dari ujung kepala sampai ujung kaki. Ia menyengir jijik. Ia tidak mengerti apa yang disukai Ralvin dari Sherin. Sherin sama sekali tidak seksi seperti dirinya.


"Jelas aku marah. Karena kamu, Ralvin berubah. Dia gak lagi lembut dan perhatian sama aku," jawab Jessika ketus.


Sherin menarik nafas. Sebenarnya ia tidak suka dengan gaya bicara Jessika, tapi bagaimana lagi, kali ini ia merasa bersalah pada wanita itu.


Sherin menarik nafas panjang sebelum menghembuskan perlahan.


"Maaf kalau kehadiran aku udah buat hubungan kamu sama Ralvin renggang," kata Sherin.


Jessika tertawa. "Owh ya jelas kamu harus minta maaf. Kehadiran kamu itu gak bagus buat Ralvin."


"Aku heran kenapa kamu gak tau malu, kok bisa numpang hidup sama orang?"


Kali ini, sindiran Jessika benar-benar menyakitkan untuk Sherin.


"Aku tau itu. Kamu tenang aja, setelah kakakku pulang, aku akan pergi dari sini," kata Sherin.


"Dan hidup Ralvin," tambah Jessika ingin puas.


"Ya, tentu."


Sherin berbalik dan berjalan meninggalkan Jessika di teras rumah. Hatinya sakit dan perih. Ia sendiri tidak mengerti mengapa hatinya begitu sakit. Terutama ketika Jessika dekat dengan Ralvin. Sejak kedatangan Jessika, ia merasa jadi orang asing untuk Ralvin. Padahal, jika diingat, mereka berdua telah melewati banyak hal, susah maupun senang.


"Kenapa aku baru nyadar sekarang."


Sherin hampir menjatuhkan air matanya. Ia memaki dirinya sendiri. Mengapa ia baru sadar sekarang bahwa ia memang bukan siapa-siapa Ralvin? Mengapa ia membiarkan sebuah rasa yang berbeda itu tumbuh?


"Aku bodoh!" teriak Sherin ketika sudah berada di dalam kamarnya.

__ADS_1


Sherin membantingkan diri ke atas sofa. Ia sudah sangat lelah menahan semua rasa yang ada di dalam hatinya. Kini ia membutuhkan satu orang, yaitu Jura. Hanya Jura lah yang bisa menenangkan hatinya.


"Sherin," panggil Ralvin dari ambang pintu.


Sherin duduk tegak. "Ngapain kamu ke sini? Bukannya udah dilarang sama bi Imas?"


Ralvin tersenyum, ia melangkah masuk lalu duduk di samping Sherin.


"Aku udah izin," jawab Ralvin santai.


Sherin tidak memberikan senyum sedikitpun. Rasanya bibir itu terlalu berat untuk mengangkat sudutnya.


"Mending kamu keluar. Kalau Jessika tau, aku yakin kamu bakal kalang kabut untuk minta maaf ke dia." Kali ini nada bicara Sherin terlihat cuek.


Ralvin mengusap wajahnya dengan kasar. Ia tahu saat ini Sherin sedang marah. Ini adalah hal yang paling Ralvin tidak sukai. Lebih baik gadis itu mengomel dari pada harus bersikap dingin seperti ini.


"Maafin aku, harusnya aku gak biarin Jessika tinggal di sini. Belum sehari penuh dia di sini, tapi kamu lihat sendiri, kan? Dia udah menghancurkan mood makan malam kita," kata Ralvin.


"Dia tunangan kamu, wajar kalau dia itu tinggal di rumah ini. Yang seharusnya gak kamu biarin tinggal di sini itu aku. Aku bukan siapa-siapa kamu."


Tiba-tiba saja Ralvin menarik Sherin ke dalam pelukannya. Ia ingin menghentikan kata-kata yang tidak ingin ia dengar. Baginya, Sherin adalah penyemangat, sesuatu yang berharga, dan...pengisi hati.


"Stop, aku gak mau kamu bilang gitu lagi."


Beberapa saat kemudian, Ralvin melepaskan pelukannya. Ia menatap wajah Sherin. Ia tahu Sherin ingin menangis saat itu, tapi gadis itu sedang berusaha menahannya.


"Sekarang gak usah bahas itu lagi," kata Ralvin.


"Aku dapat kabar dari mata-mata Kak Calvin. Pak Bima itu adalah orang yang nyuruh mata-mata itu untuk buntutin kamu. Orang yang neror Daniel adalah mata-mata pak Bima. Orang yang malam itu ada di apartemen kamu, itu juga suruhan pak Bima. Jadi, mulai sekarang, kamu harus jaga jarak dari pak Bima dan Hendry."


Sherin mengerutkan keningnya. "Kapan Kak Calvin menghubungi kamu?" tanya Sherin.


"Walaupun aku gak bahas ini di depan kamu, tapi diam-diam aku selalu fokus sama masalah kamu setiap waktu. Aku, kamu, dan Jura, kita semua gak boleh lengah. Orang-orang itu sangat licik dan penuh taktik. Maka dari itu, kamu jangan pernah berpikir keluar dari rumah ini. Karena itulah hal yang mereka mau."


Sherin menganggukkan kepala. Ia sadar bahwa ia adalah Claudya yang ada dalam bayangan itu. Sampai sekarang ia masih jadi incaran orang itu walaupun ia tidak tahu pasti apa yang dicari mereka dari dirinya.


Kali ini Sherin tidak boleh terbawa perasaan. Ia harus mengabaikan ucapan Jessika, ia harus kuat.


"Makasih, kamu selalu bantu aku. Aku gak tau harus balas dengan cara apa." Sherin tersenyum lebar.


"Kamu gak perlu balas apapun, cukup kamu aman dan bahagia aja itu udah lebih dari cukup," jawab Ralvin.


Setelah berbicara dengan Ralvin, entah mengapa hati Sherin menjadi lebih tenang. Rasa yang menyayat hati tadi kini sedikit lebih baik. Mungkin ada suatu mantra dalam ucapan Ralvin yang bisa membuat Sherin nyaman.

__ADS_1


"Boleh aku peluk kamu?" tanya Ralvin.


Sherin menunduk, ia malu untuk menjawab 'Ya', tapi sesungguhnya ia juga ingin memeluk Ralvin.


Karena tahu Sherin malu-malu, Ralvinpun langsung membawa Sherin ke dalam pelukannya lagi. Ia memeluk Sherin dengan penuh perasaan. Ia tidak peduli jika ada Imas atau Jessika yang tiba-tiba masuk ke kamar itu.


Ya, benar saja, Jessika mencari Ralvin hingga ke kamar Sherin. Ia membulatkan mata ketika lagi-lagi ia melihat Ralvin memeluk Sherin.


"Ralvin!" Jessika berteriak kesal.


Ralvin dan Sherin menoleh pada Jessika secara bersamaan.


Jessika berjalan menghampiri Sherin. Tanpa diduga ia langsung melayangkan sebuah tamparan keras pada Sherin.


"Jessika!" bentak Ralvin.


Ralvin berdiri tegak menghadap Jessika. Kini mereka sedang berhadap-hadapan dengan mata yang sama-sama memancarkan kemarahan.


"Jangan berani kamu main tangan lagi ke Sherin!"


Jessika berkacak pinggang. "Jadi kamu bela dia? Kamu bela selingkuhan kamu ini?"


"Dia bukan selingkuhanku, dan kamu gak berhak untuk kasar sama dia," tegas Ralvin.


"Aku tunangan kamu, dan dia? Dia bukan siapa-siapa kamu. Wajar aja dong kalau aku marah di saat tunangan aku meluk perempuan lain." Jessika tidak ingin kalah dari Ralvin.


"Aku tegaskan sama kamu. Ini rumahku, aku yang bawa dia ke sini. Dia dalam perlindunganku, dan gak ada seorangpun yang bisa bersikap kasar sama dia, termasuk kamu." Ralvin menunjuk wajah Jessika tepat diwajah gadis itu.


Air mata Jessika mengalir membasahi pipinya. Biasanya Ralvin akan luluh ketika melihat air mata tunangannya itu, tapi tidak untuk kali ini.


"Sherin, kamu hebat. Dalam beberapa waktu aja, kamu udah bisa rebut hati Ralvin," ejek Jessika pada Sherin yang masih duduk di sofa sambil memegangi pipinya.


"Aku gak bermaksud untuk rebut hati Ralvin." Sherin membela diri.


"Kamu perebut! Kamu rebut Ralvin dari aku!"


Jessika sudah tidak bisa mengendalikan emosinya. Ia hampir melayangkan tamparan lagi. Untung saja Ralvin dengan cepat menahan tangan Jessika.


"Dia bukan perebut! Seharusnya kamu lihat diri kamu sendiri. Apa kamu udah bisa jadi wanita baik untuk aku cintai? Ini yang buat aku gak bisa memihak kamu. Kamu bersikap kasar dan gak bisa berpikir dewasa."


Jessika menatap mata Ralvin. Ia tidak menyangka Ralvin akan berkata demikian. Jessika juga tidak menemukan tatapan cinta di mata pria itu.


"Ok, aku akan pergi dari sini, malam ini juga."

__ADS_1


Setelah itu, Jessika keluar dari kamar Sherin.


__ADS_2