
Ralvin melamun di ruang tamu. Kejadian di kamar Sherin membuat jantungnya berdegup kencang. Yang membuatnya semakin kencang adalah saat Imas mempergoki mereka. Walaupun mereka tidak melakukan apapun, tapi Ralvin tahu bahwa sekarang namanya sudah tercoreng di mata Imas.
Ralvin menyenderkan punggungnya pada sandaran sofa. Saat mulai menutup mata, tiba-tiba ia mengingat Bima.
"Aku gak boleh lengah. Bima lebih licin dari ular, kapan pun dia bisa berbuat nekad." Ralvin menatap langit-langit ruang tamunya.
"Aden, ini kopinya." Imas berjalan membawakan secangkir kopi.
Ralvin tersenyum lalu mengangguk. Ia masih malu untuk berbicara pada Imas.
"Bibi tinggal dulu ya, Den." Imas kembali ke dapur.
Ralvin menatap kopi di atas meja. Ia tahu rasa kopi itu pasti sangat enak karena Imas yang membuatnya, namun untuk saat ini ia tidak berselera.
Sherin datang ke ruang tamu. Ia duduk di sofa yang bersebrangan dengan Ralvin. Ia melihat ada kopi yang masih mengepul, tentu saja itu menggiurkan.
"Kamu gak mau kopinya?" tanya Sherin.
"Kalau mau minum aja, aku lagi gak pengen," jawab Ralvin.
Secepat kilat Sherin menyambar cangkir itu. Sebelum ia minum, Sherin menyempatkan untuk menghirup aroma kopi itu. Beberapa menit kemudian, ruang tamu itu hening. Mereka berdua berada dalam pikiran masing-masing.
Karena merasa canggung dengan keheningan itu, akhirnya Ralvin memutuskan untuk memulai pembicaraan.
"Kamu suka aku jadi sopir bajaj, atau CEO Citra Jaya?"
Pertanyaan Ralvin sukses membuat Sherin tertawa. Gadis itu merasa pertanyaan Ralvin tidaklah berbobot. Apa hubungannya dengan suka atau tidak suka?
"Untuk apa kamu minta pendapat aku?" tanya Sherin masih menahan tawanya.
"Ya aku pengen tau aja," jawab Ralvin.
Sherin berhenti tertawa. Sepertinya ia sedang menimbang-nimbang jawabannya nanti. Beberapa saat kemudian, Sherin menjawab, "Sopir bajaj."
Ralvin mengangkat alisnya. "Kenapa suka aku jadi sopir bajaj?" tanya Ralvin bingung. Bukankah biasanya seseorang suka kalau berteman dengan orang yang berstatus tinggi?
__ADS_1
"Gak tau, tapi yang jelas aku suka kamu jadi sopir bajaj. Lebih berbaur sama masyarakat," jawab Sherin.
"Oh ya, kenapa kamu nyamar jadi sopir bajaj? Kamu pernah bilang ada alasan tertentu. Alasannya apa?"
Pertanyaan Sherin membuat Ralvin bingung harus menjawab bagaimana. Tapi setelah berpikir beberapa saat, ia memutuskan untuk menjawabnya.
"Untuk nyari Ghani. Dulu Ghani tinggal di Amerika. Setelah bunuh pengusaha itu, dia kabur ke Indonesia. Setelah aku lulus kuliah di Australia, papahku ngasih tugas. Aku disuruh nyamar jadi sopir bajaj karena papahku dengan kabar kalau Ghani jatuh miskin. Maka dari itu aku disuruh untuk nyamar demi cari dia," jawab Ralvin.
Sherin mengangguk mengerti. Tiba-tiba ia mengingat almarhum ayah angkatnya itu. Rasa sedih menyelimuti hatinya. Ketika ayahnya menghembuskan nafas terakhir di Amerika, ia tidak dapat memeluknya. Bagaimana pun juga, Wisnu alias Ghani itu adalah ayah yang sudah mengurusnya, Sherin sangat menyayangi Wisnu.
Tapi dilain sisi, Wisnu memang pantas mendapatkan hukumannya atas apa yang kejahatannya. Sherin hanya bisa berdoa semoga segala dosa dan kesalahan Wisnu dapat diampuni tuhan, mengingat sebelum dihukum mati Wisnu sangat menyesali perbuatannya.
"Melamun apa?" tanya Ralvin.
Sherin mengerjapkan mata, ia tersadar dari lamunannya.
"Hmm? Owh, enggak. Aku cuma inget papah aja," jawabannya ringan.
Walaupun Sherin menunjukkan ekspresi yang santai, tapi Ralvin tahu bahwa gadis itu sedang dalam hati yang sedih. Mata bening gadis itu tidak bisa membohongi nya.
Pernyataan Ralvin membuat Sherin terkejut dan bingung. Ia tidak mengerti maksud Ralvin mengatakan itu. Ia pemilik Citra Jaya sekaligus CEOnya, mana mungkin ia bisa jadi sopir bajaj.
"Maksudnya?" Sherin tidak mengerti.
"Maksudnya, mulai sekarang aku akan narik bajaj tiap hari. Kurang jelas?" kata Ralvin sambil tersenyum.
"Terus Citra Jaya sama kerjaan kamu gimana?" tanya Sherin.
"Aku bisa kerjain di rumah, sedangkan urusan penting di kantor bisa diurus sama Daniel," jawab Ralvin santai.
Sherin menggeleng, pria ini memang aneh. Untuk apa ia menjadi sopir bajaj lagi? Sudah jelas misinya sudah selesai karena Ghani sudah ditangkap dan dihukum mati. Sherin merasa Ralvin itu spesial. Tidak ada pria yang bekerja sebagai CEO malah memilih menjadi sopir bajaj.
Ralvin tertawa. "Udah gak usah dipikirin, santai aja. Aku mau jadi sopir bajaj atau sopir kopaja juga terserah aku dong. Kamu tinggal terima uangnya untuk belanja sehari-hari," kata Ralvin menyender pada sandaran sofa.
"Idih, memangnya aku istri kamu?" Sherin bergidik.
__ADS_1
"Sekali ini aja, tolong aku. Aku pengen ngerasain rasanya jadi pekerja keras. Sepulang kerja, keringatan, sampe rumah disambut istri, terus makan sama sambal ikan asin. Aku rasa itu hal yang paling indah di dunia."
Sherin mengerutkan kening. Apakah begini cara pikir orang kaya? Sudah bosan bergelimang harta, malah ingin merasakan hidup sederhana seperti itu.
"Aku harus kerja ke kantor," jawab Sherin sambil melipat tangan di depan dada.
"Kamu kerja sebagai apa?" tanya Ralvin.
"Asisten pribadi kamu," jawab Sherin.
"Tugasnya?" tanya Ralvin lagi.
"Ngebantu dan mendampingi kamu kemana pun kamu kerja."
"Nah itu, aku kerja di rumah, berarti kamu harus di rumah." Ralvin tersenyum lebar karena menang dalam berdebat.
Sherin menarik nafas panjang. Jika berdebat dengan Ralvin memang tidak pernah menang. Sepertinya Ralvin memiliki satu juta jawaban untuk melawan ucapannya. Sherin ingin pergi saja dari sana, dari pada meneruskan perdebatan itu.
Saat ia akan melewati Ralvin, tangan pria itu menahan pergelangan tangannya. Ia melirik pada Ralvin. "Aku mau istirahat."
Ralvin menarik tangannya agar ia duduk di samping pria itu. Tentu saja Sherin tidak dapat melawan, ia pun duduk di samping Ralvin.
"Ada apa?" tanya Sherin malas.
Ralvin tertawa. Pria itu memang hobi sekali tertawa tiba-tiba ketika ia sedang kesal. Itu membuat dirinya bertambah sebal dan kesal.
"Jangan marah-marah gitu dong. Tambah gemes tau," kata Ralvin menggoda.
"Cepetan bilang, mau apa?" tanya Sherin berusaha bersabar.
"Ambilin laptop aku di kamar. Berkas yang ada di sana juga bawa semua. Bantuin aku kerja," jawab Ralvin.
Tidak ada pilihan lain, mungkin ini adalah salah satu tugasnya juga. Membantu Ralvin adalah tugas asisten pribadi, maka dari itu Sherin tidak bisa melawan atau mengatakan bahwa ia sedang malas. Sherin melepaskan genggaman tangan Ralvin lalu berdiri. Ia melangkah ke ruang tengah dengan malas.
"Sherin, kamu itu udah mencuri perhatian aku. Aku gak bisa lihat kamu sedih gitu. Maka dari itu aku akan jadi sopir bajaj demi ngisi hari-hari kamu. Semoga keputusanku ini bisa buat kamu tersenyum setiap hari." Ralvin menarik nafas panjang.
__ADS_1
Sebenarnya ia sendiri tidak begitu yakin dengan keputusannya. Citra Jaya sangat membutuhkan dirinya.