
Cahaya matahari menembus masuk lewat celah gorden jendela kamar, menyinari mata siapapun yang ada di dalamnya. Pria yang sedang berselimut mengerutkan kedua alis karena merasa silau. Ralvin menggeliat merentangkan seluruh persendian dan otot. Tadi malam, setelah selesai rapat terakhir di perusahaan ayahnya, Ralvin langsung terbang ke Jakarta. Kerinduannya kepada Indonesia tidak dapat ia bendung lagi.
Hari ini Ralvin malas untuk berangkat ke kantor karena ia merasa seluruh tubuhnya sedang tertimpa gajah. Ralvin membuka selimut lalu bergerak turun dari ranjangnya. Dengan malas ia berjalan menuju kamar mandi yang ada di dalam kamar untuk mencuci muka.
Beberapa menit kemudian, Ralvin sudah selesai mencuci muka dan gosok gigi. Sekarang ia sudah merasa lebih segar dari sebelumnya. Setelah kembali dari kamar mandi, Ralvin kembali duduk di tepi ranjang. Ia mengambil ponsel yang ada di atas meja lalu mengetik sesuatu.
"Aku harap si Daniel bisa menggantikan posisiku di rapat hari ini" kata Ralvin pada dirinya sendiri.
Ralvin berdiri dan berjalan keluar kamar. Perutnya sudah minta diisi karena tadi malam ia tidak sempat makan.
"Bi, hari ini masak apa?" Ralvin menyapa asisten rumah tangga yang sedang masak di dapur ketika ia sedang menuruni anak tangga.
Rumah Ralvin sangat besar dengan tiga lantai dan halaman yang luas. Kamar Ralvin sendiri berada di lantai dua. Dapur rumahnya berada di antara tangga lantai dua dan ruang makan yang digabungkan bersama ruang keluarga.
"Ini sambal goreng sama ikan asin kesukaan Aden" kata Imas wanita berusia 45 tahun.
"Bibi selalu tau apa kesukaan Ralvin, makasih Bi. Ayo ikut makan" ajak Ralvin.
Ralvin memang sudah sangat akrab dengan asisten rumah tangga yang satu itu. Ia sudah menganggapnya sebagai pengganti ibunya selama ibunya sedang berada di Australia. Setiap satu bulan sekali Ralvin akan membelikan hadiah untuk Imas dan keluarganya di rumah.
"Makasih Den, tapi bibi harus nyuci baju dulu. Bibi ambil baju Aden di kamar ya" kata Imas dengan sopan.
"Iya Bi. Oh ya, oleh-olehnya ada di dalam koper Ralvin. Nanti Bibi ambil aja ya" kata Ralvin sambil duduk di meja makan.
"Baik Den".
* * * *
Di kantor Citra Jaya, Sherin baru memasuki ruang kerjanya. Alangkah terkejutnya ia melihat kondisi ruang kerja yang tidak seperti biasanya. Balon bertebaran di mana-mana, terompet ulang tahun berbunyi dan delapan karyawan memakai topi kerucut.
"Happy birthday to you, happy birthday to you, happy birthday-happy birthday, happy birthday Sherin!".
Semua orang menyanyikan lagu selamat ulang tahun sambil bertepuk tangan meramaikan ruang kerja di lantai empat.
Sherin langsung menangis haru ketika melihat Dita dan Filly membawa kue ulang tahun berlilin angka 24. Ia juga sangat terharu mengetahui teman-teman barunya mengingat hari ulang tahunnya bahkan memberikan kejutan seperti ini.
"Selamat ulang tahun yang ke-24 tahun Sherin" kata Hendry yang berdiri di samping Dita.
"Makasih temen-temen, aku bahagia dan terharu banget" Sherin menangis sambil tersenyum.
"Hahah baru kali ini aku lihat Sherin nangis" kata Filly sambil berhambur memeluk Sherin.
"Sekarang tanggal 14 Februari ya? Kok aku gak inget sih?" kata Sherin memeluk Filly erat.
__ADS_1
"Udahan nangisnya, aku gak sabar pengen makan kue" kata Dita yang langsung mendapat jitakan dari Hendry.
"Makan aja yang dipikirin".
"Gak makan mati lah" jawab Dita ketus.
Para karyawan yang tidak terlalu berteman dekat dengan Sherin bergiliran memberikan ucapan selamat dan kado ulang tahun pada Sherin. Sherin menerima semua itu dengan senyum bahagia dan mata berkaca-kaca. Baru kali ini ulang tahunnya di rayakan walau hanya sebatas kejutan, nyanyian dan ucapan selamat.
Giliran Hendry yang memberikan kadonya. Hendry mengambil sesuatu dari saku celana. Setelah itu ia memberikan sebuah kalung yang sangat imut dan indah.
"Boleh aku pasangkan ini di lehermu?" tanya Hendry dengan senyum manis.
"Boleh".
Hendry memasangkan kalung dari depan tubuh Sherin. Dengan posisi seperti itu, Hendry yang melihat ke belakang pundak Sherin, membuat mereka berdua hampir saja berciuman. Sherin buru-buru menundukkan kepala agar itu tidak terjadi. Beberapa detik kemudian, kalung indah sudah melingkar di leher Sherin.
"Kalung itu tidak indah, karena yang makainya orang yang cantik, kalung itu jadi kelihatan indah" puji Hendry.
Sherin tersenyum malu. Setelah mengucapkan terima kasih, Sherin meminta izin untuk meletakkan tas ke meja kerjanya.
"Rin, nanti kami bakal traktir kamu. Kamu pesen aja makanan sebanyak-banyaknya, nanti biar si Filly yang bayar" kata Dita.
"Enak aja, kan tadi kita udah janjian mau bayar bareng-bareng" kata Filly sambil memukul lengan Dita.
* * * *
"Loh katanya tadi males dateng ke kantor" kata Daniel yang sekarang berada di ruangan Ralvin.
"Tadinya sih males, tapi kalau di rumah aja suntuk" kata Ralvin.
Mereka duduk di sofa. Ralvin baru saja tiba di kantor dan langsung menelepon Daniel agar datang ke ruangannya.
Ponsel Ralvin bergetar, dengan cepat Ralvin merogoh saku jasnya. Setelah melihat layar ponsel, senyum di bibir Ralvin langsung mengembang. Ia kembali memasukan ponsel ke dalam sakunya lagi.
"Nanti anter aku ke toko boneka ya" kata Ralvin masih tersenyum.
"Sejak kapan kamu suka boneka?" Daneil tertawa terkekeh.
"Pokoknya anter aja, jangan banyak tanya" kata Ralvin.
"Ok, ok. Nanti aku anter".
Mereka berbincang-bincang sampai hampir dua jam, setelah itu sesuai dengan permintaan Ralvin, Daniel mengantar Ralvin ke toko boneka.
__ADS_1
* * * *
Pada jam istirahat, di kantin kantor, tiga orang perempuan dan satu orang pria sedang duduk di tempat paling pojok. Mereka sedang tertawa ria membicarakan suatu hal. Di hadapan mereka ada banyak makanan dan minuman.
"Rin, pantes aja badan kamu mungil gitu, makan kamu gak mau banyak" ejek Filly.
Sebenarnya bukan mengejek, tapi lebih ke arah iri. Ia sebenarnya iri pada tubuh mungil Sherin dan wajah cantik Sherin, tapi ia sangat senang memiliki teman yang cantik seperti Sherin.
"Eh, bukannya itu Pak Ralvin sama Pak Daniel. Apa Pak Ralvin udah pulang dari Australia?" kata Dita yang tiba-tiba melihat dua sosok pria tampan memasuki kantin kantor.
"Iya Dit. Eh, tapi Pak Ralvin kayak nyembunyiin sesuatu di balik badannya. Lihat tuh, tangannya di belakang bokong" kata Filly menimpali.
"Alah paling juga nahan kentut" kata Sherin asal ceplos.
Ketiga temannya menagan tawa mendengar ucapan Sherin.
"Ngaco kamu, masa ada orang ganteng nahan kentut di depan umum sampe segitunya" kata Dita.
"Orang ganteng manusia juga kali, kalau kentu ya kentut, dan bau juga" kata Sherin semakin ceplas-ceplos.
Tanpa mereka sadari, Ralvin dan Daniel sudah berdiri di depan meja mereka.
"Siapa yang ganteng dan siapa yang kentut?".
"Pak Ralvin" jawab mereka berempat yang tidak menoleh pada Ralvin.
Karena asik bercerita dan tertawa, mereka tidak menyadari bahwa yang bertanya adalah bos mereka yang sedang mereka gosipkan.
"Eh, kalian denger suara itu gak? Kok ada yang nanya?" kata Dita menyadarkan teman-temannya.
Empat orang yang sedang duduk di bangku menoleh perlahan secara bersamaan. Mata mereka membulat bersama-sama ketika melihat sosok Ralvin sudah menatap dengan tajam.
"Oh my God, kabur!".
Sherin, Dita, Filly dan Hendry langsung kabur dari tempatnya. Sayangnya tangan Sherin berhasil di tahan oleh Ralvin.
"Mau ke mana kamu?" tanya Ralvin.
"Ma-mau ikutan kabur Pak" jawab Sherin dengan terbata-bata.
"Kamu harus dihukum. Ikut saya" kata Ralvin.
Daniel hanya tertawa melihat Sherin yang ketakutan. Sherin ditarik oleh Ralvin agar mengikuti langkah kakinya keluar dari kantin.
__ADS_1