
Bima sedang merebahkan diri di tempat tidur. Ia sangat pusing. Sudah beberapa hari ini mata-matanya jarang memberi kabar. Dan baru-baru ini mengabarkan bahwa ada gerombolan pria yang membawa Sherin dari taman. Bima yakin itu adalah orang suruhan Ralvin.
Untuk Bima, menerobos dan melawan Ralvin bukanlah hal yang mudah. Sebab itulah ia tidak berani mengusik Sherin ketika Sherin berada di tengah Ralvin. Tidak banyak yang tahu mengapa Bima takut pada Ralvin. Hanya Braham dan pengusaha jahatlah yang tahu.
"Papah, sampe kapan sih papah terus berusaha dapatin Sherin?" Hendy tiba-tiba masuk ke dalam kamar Bima.
Bima menoleh pada anaknya lalu kembali menatap langit-langit kamar.
"Apa sih yang buat papah ngincar Sherin? Apa Sherin anak ajaib? Paranormal? Atau pembawa keberuntungan?" tanya Hendry yang kini telah duduk di samping Bima.
Bima menarik nafas, ia duduk lalu menatap Hendry.
"Kamu mau bantu papah?"
Hendry mengerutkan keningnya. Ia bertanya, tapi ayahnya malah balik bertanya. Ia juga tidak tahu apa yang dimaksud ayahnya dengan membantu.
"Papah mau jelasin kalau kamu mau bantu papah," kata Bima lagi.
"Ok," jawab Hendry.
Meja kerja David berantakan, Bima telah mengacak-acak semuanya. David berkacak pinggang dengan penuh amarah. Pagi-pagi isi ruangannya sudah hancur berantakan. Di sudut ruangan itu ada Bima yang berdiri sambil tersenyum sinis.
"Apa yang kau inginkan?" tanya David dengan suara bernada rendah yang mengerikan. Ia memakai bahasa Inggris.
"Apa yang ku mau? Kau masih bertanya?" Bima malah tertawa mengejek. "Serahkan dokumen itu," pinta Bima dengan nada penuh penekanan.
David tersenyum sinis. "Kau dan pengusaha gelap lainya, sampai kapanpun tidak akan pernah mendapatkan dokumen itu. Jikapun kau mengobrak-abrik dan menghancurkan kantor dan juga rumahku, kau tidak akan mendapatkan nya."
Bima mengepalkan tangannya. "Sial! Katakkan di mana dokumen itu! Jika tidak, kau dan keluargamu akan mendapatkan akibatnya."
Bima bersikeras untuk mendapatkan dokumen itu. Yang dimaksud adalah dokumen yang berisi jalur-jalur perdagangan para pengusaha mafia. Dengan dokumen itu, para pengusaha gelap dapat membangun perusahaannya dengan sangat cepat. Tanpa dokumen itu, para pengusaha gelap yang kini sedang bangkrut, akan sulit untuk bangkit lagi.
Dokumen itu berada di tangan David karena David lah yang meruntuhkan pengusaha mafia terbesar di Amerika. Setelah itu, David mengasingkan dokumen itu di sebuah tempat yang tidak di ketahui siapapun.
"Silahkan saja, aku dan keluargaku, sampai kapanpun tidak akan pernah memberitahu di mana dokumen itu berada," jawab David tanpa takut.
"Baiklah, lihat saja, apa yang bisa aku lakukan."
Setelah memberikan ancaman, Bima pergi dari ruangan David.
"Aku harus membawa Claudya pergi dari Amerika. Amerika sudah tidak aman lagi baginya. Ditambah lagi, jika mereka tahu Claudya mengetahui tempat dokumen itu berada, maka keselamatannya akan semakin dalam bahaya," kata David pada dirinya sendiri.
Tanpa ia ketahui, Bima masih menguping dari balik pintu. Seringai licik terlukis di wajahnya. Kemudian ia benar-benar meninggalkan kantor David.
__ADS_1
* * * *
"Daddy!!" Seorang anak kecil berusia 5 tahun berlari dengan ceria.
David menangkap anaknya ke dalam pelukan hangatnya, lalu mencium pipi dan kening anak itu.
"Daddy pulang, Sayang. Kau tahu daddy bawa apa?" David berjongkok di depan anak itu.
"Aku tidak tahu. Memangnya Daddy bawa apa?" tanya anak itu.
"Taddaaa!" David menunjukkan sebuah bonek beruang kesukaan anaknya.
"Kau suka, Claudya?" tanya David sambil mencium pipi putrinya.
Claudya langsung mengambil dan memeluk boneka itu ke dalam pelukannya, kemudian ia juga memeluk David dengan erat.
"Thank you, Daddy."
Claudya tersenyum ceria. Melihat senyum gembira di wajah putrinya, kekhawatiran David bertambah. Ia khawatir senyum itu akan hilang.
Dari dalam kamar Claudya, seorang wanita cantik keluar dengan rambut yang acak-acakan.
"Claudya, kau membuat mommy jadi berantakan begini." Farah merapikan rambutnya menggunakan jari tangan. Ia tersenyum ketika melihat suaminya sudah pulang.
David tersenyum. Ini adalah keluarga kecilnya yang sangat bahagia. David mempersunting wanita Indonesia yang sangat cantik dan membuahkan keturunan cantik seperti istrinya pula.
"Sayang, besok kita berangkat ke Indonesia ya."
Farah mengerutkan kening. "Kenapa tiba-tiba?" tanya Farah.
"Bima datang padaku, dia menanyakan dokumen itu lagi. Aku takut mereka mencium keberadaan putri kita yang mengetahui tentang dokumen itu," jawab David.
"Dokumen, aset penting para mafia yang Daddy sembunyikan di reruntuhan itu?" tanya Claudya.
Ya, Claudya adalah anak kecil yang cerdas. Ia juga punya watak yang sama dengan David. Jika harus melindungi sesuatu, lebih baik mati dari pada melepaskannya.
"Syutt, jangan keras-keras. Mommy takut musuh Daddymu tahu," kata Farah.
Setelah membicarakan masalah itu cukup lama, akhirnya mereka sepakat untuk membawa Claudya ke Indonesia.
Rencana keberangkatan David dan keluarga kecilnya tercium oleh Bima. Dengan cepat dan penuh rencana matang, ia memerintahkan dua anak buah kepercayaannya untuk mencegat David di tengah jalan.
Keesokan harinya, pagi-pagi sekali David dan istri dan anaknya telah berangkat menuju bandara. Karena masih pagi, jalanan masih sepi. David tidak dikawal oleh bodyguard karena tidak ingin membuat musuh-musuhnya curiga.
__ADS_1
Di dalam mobil, Claudya sibuk bermain dengan boneka ke sayangannya yang baru diberikan oleh ayahnya kemarin.
Tiba-tiba mobil yang mereka tumpangi bannya meletus. Mobil itu sudah tidak bisa dikendalikan dan akhirnya menabrak sebuah pohon besar. Beruntung David, Farah dan Claudya baik-baik saja. David memutuskan untuk keluar duluan.
Begitu turun dari mobil, pundak David di pukul oleh seseorang.
"Aaa!!" teriak Farah dan Claudya bersamaan.
"Claudya, lari lewat pintu sana, Nak. Apapun yang terjadi, kau harus lari. Jangan beritahu dokumen itu. Ini bukan hanya menyangkut satu atau dua orang, tapi banyak orang yang tidak bersalah akan kehilangan banyak pekerjaan."
Mendengar perintah dan pesan ibunya, Claudya langsung keluar melewati pintu yang berlainan. Kini ia telah berdiri di seberang jalan.
David sudah babak belur, kini dua pria suruhan Bima mencari satu sosok. Sayangnya mereka hanya menemukan Farah saja.
"Mana anakmu!" bentak pria itu sambil memegangi kedua tangan Farah.
"Lihat di sana, dia ada di seberang jalan," kata temannya sambil menunjuk keberadaan Claudya.
"Claudya!! Cepat pergi Nak!" teriak Farah.
"Momy!" teriak Claudya. Ia tidak sanggup melihat ibunya diringkus seperti itu.
David yang masih sadar menoleh pada anaknya. Ia takut sesuatu akan menimpa putrinya.
"Claudya, cepat pergi! Biarkan kami yang mati asalkan kau tetap hidup," kata David yang tergeletak di samping mobil yang sudah hancur.
"No! Dady! Dady pahlawanku! Dady selalu berkata bahwa Dady akan melindungi aku dan momy dari serangan monster jahat!" teriak anak kecil itu.
"Tidak sayang, kali ini dady tidak bisa menepati perkataan dady. Pergilah!" kata David sambil meneteskan air mata.
Dua orang pria yang sedang memegangi Farah tiba-tiba memukul Farah dengan sangat keras hingga Farah jatuh tersungkur ke tanah. Dua pria itu langsung berlari menuju Claudya yang sedang berdiri menangis.
"Claudya lari!" jerit Farah dan David bersamaan.
Claudya langsung berlari menghindari kedua penjahat yang sedang mengejarnya. Namun sayangnya langkah kaki kedua pria itu bukanlah tandingan langkah seorang anak kecil. Dan ...
'Bukk!'
"Claudya!!" teriak Farah dan David secara bersamaan.
"Kau urus mereka, aku akan membawa anak ini ke gudang dan mengabari bos," kata salah satu dari pria itu.
Begitu Claudya dibawa pergi, pria satu lagi menghampiri Farah dan David. Ia memukul pundak keduanya dengan sangat keras, lalu keduanya pingsan. Setelah itu, pria tadi meninggalkan Farah dan David di pinggir jalan.
__ADS_1
"Begitulah asal mulanya," kata Bima sambil menyenderkan punggungnya pada kepala ranjang.