
Setelah melewati saat yang menyenangkan berada di danau tadi, kini tiba saatnya Sherin menghadapi sebuah suasana yang sudah bertahun-tahun ia hadapi. Sherin dan Jura sudah sampai di rumah dengan selamat. Jura turun dari sepeda motornya lalu mengajak Sherin segera masuk. Dengan santai kedua kakak beradik itu jalan memasuki rumah mereka.
Sesampainya di ruang tengah, Sherin melihat kedua orangtuanya sedang asik menonton televisi. Melihat kedua anaknya sudah kembali, Yani langsung berdiri. Sepertinya Yani sangat marah tapi ia mencoba menyembunyikan amarahnya itu.
"Jura kok kamu pulangnya lama sih?" tanya Yani dengan lembut.
"Jangan bilang kalau kamu yang minta pulang lama-lama" kata Yani dengan ketus pada Sherin.
"Mamah jangan gitu dong ke Sherin. Tadi tuh Jura ketemu sama bos, jadinya gak enak kalau pulang terlalu cepet dan ninggalin dia sendirian di danau" jawab Jura yang sebenarnya tidak suka dengan perlakuan ibunya terhadap Sherin.
"Oh..jadi kamu ke taman danau buatan. Mahal dong ya?" kata Yani kembali duduk.
"Sherin lihat tuh kakak kamu, dia aja bisa ngehasilin uang dan ngajak kamu jalan-jalan. Lah kamu cuma bisa ngabisin duit aja" kata Yani berusaha menyindir.
Pada kenyataannya Sherin tidak merasa tersindir, malah ia merasa tertuduh. Ia tidak pernah menghabiskan uang orang tuanya. Ketika ia kuliah di Universitas Indonesia ia mendapatkan beasiswa dan uang jajannya hasil dari berjualan online. Entah mengapa ibunya itu selalu berusaha menjelek-jelekkan dirinya.
"Kamu dengar gak yang mamah bilang?" tanya Yani dengan nada tinggi.
"Iya Mah, Sherin denger" kata Sherin sambil tertunduk.
Jura yang tidak tega melihat adiknya tersudutkan, ia pun memerintahkan Sherin untuk segera mandi. Begitu mendengar kakaknya memerintah mandi, Sherin langsung pergi dari ruang tamu.
* * * *
Hari sudah gelap sempurna, Sherin diajak oleh Jura untuk makan malam bersama di meja makan. Awalnya Sherin menolak, tapi karena Jura mengatakan bahwa ibu mereka sudah mengizinkan Sherin makan bersama, akhirnya Sherin pun mau diajak makan bersama.
Sherin mengambil makanan setelah yang lain sudah mengambil porsi mereka. Melihat Sherin menyuapkan makanan di depan mata Yani, entah mengapa Yani ingin sekali marah pada Sherin. Ia tidak suka Sherin makan bersama mereka di meja makan itu. Tapi mengingat itu permintaan dari Jura, Yani pun memilih untuk menahan emosinya.
"Mah, kayaknya Daniel bosnya Jura di kantor suka deh sama Sherin".
__ADS_1
Sherin langsung tersedak makanan begitu mendengar ucapan Jura. "Kakak, gak lah. Enggak kok Mah, itu cuma perkiraan kak Jura aja" kata Sherin mengelak.
"Mana mungkin bos kamu itu suka sama Sherin, lihat aja modelnya Sherin kayak apa. Kita ini dari keluarga miskin, kita gak punya apa-apa. Jadi gak mungkin ada orang kaya yang suka sama Sherin" kata Wisnu yang sedari tadi menyimak pembicaraan kedua anaknya.
Sherin sangat beruntung pembahasan soal Daneil berhenti sampai di situ saja. Jika dilanjutkan lagi, maka Sherin sudah memastikan ia akan malu setengah mati.
Kemudian mereka melanjutkan makan malam mereka tanpa ada yang berbicara lagi.
* * * *
Waktu sudah menunjukkan pukul 10.00 malam. Sherin harus segera tidur karena besok ia harus kembali bekerja. Sebelum Sherin tidur ia pergi ke dapur untuk mengambil minum. Ketika ia melewati ruang tengah, ia mendengar ada suara ayahnya sedang berbicara dengan seseorang di teras rumah. Tidak biasanya ada tamu malam-malam yang datang ke rumah.
Tanpa peduli Sherin kembali meneruskan langkahnya menuju dapur. Setelah selesai minum ia kembali ke kamarnya yang berasa di antara ruang tengah dan ruang tamu.
* * * *
"Momy!" teriak anak kecil yang masih berusia lima tahun.
Anak kecil itu bersebrangan dengan ibunya. Sedangkan ayahnya sudah babak belur hampir tidak sadarkan diri dengan darah yang mengalir dari kepalanya. Anak kecil itu terus menangis melihat ayahnya sudah tak berdaya dan ibunya yang masih dicengkeraman dua pria menakutkan itu.
"Claudya, cepat pergi! Biarkan kami yang mati asalkan kau tetap hidup" kata ayahnya yang tergeletak di samping mobil yang sudah hancur.
"No! Dady! Dady pahlawanku! Dady selalu berkata bahwa Dady akan melindungi aku dan ibu dari serangan monster jahat" teriak anak kecil itu.
"Tidak sayang, kali ini dady tidak bisa menepati perkataan Dady. Pergilah!" kata ayahnya sambil meneteskan air mata.
Dua orang pria yang sedang memegangi wanita itu tiba-tiba memukul wanita itu dengan sangat keras hingga wanita itu jatuh tersungkur ke tanah. Dua pria itu langsung berlari menuju anak kecil yang sedang berdiri menangis.
"Claudya lari!" Jerit ibu dan ayahnya bersamaan.
__ADS_1
Anak kecil itu langsung berlari menghindari kedua penjahat yang sedang mengejarnya. Namun sayangnya langkah kaki kedua pria itu bukanlah tandingan langkah seorang anak kecil.
"Tidak!!!!"
Sherin berteriak dengan sangat kencang. Setelah ia terbangun, ia menyadari bahwa itu hanyalah sebuah mimpi. Seluruh tubuhnya sudah berkeringat dan jantung berdetak dengan sangat cepat. Sherin menarik nafas berusaha menenangkan dirinya.
"Mimpi apa itu? Padahal di dalam mimpi itu gak ada aku, tapi kenapa aku sampe setakut ini? Dan kenapa mimpi itu terlihat lebih nyata di bandingkan dengan mimpi-mimpi lainnya?" Sherin bertanya-tanya sendiri.
Sherin sedang menenangkan diri dan tiba-tiba saja Jura masuk ke dalam kamarnya hingga membuat Sherin sangat terkejut.
"Kakak! Kakak bikin aku kaget aja" kata Sherin sambil memegang dadanya.
"Kamu kenapa teriak malam-malam begini?" tanya Jura khawatir.
"Memangnya kedengaran ya Kak?" tanya Sherin.
"Ya iyalah Rin, makanya kakak datang ke kamar kamu karena kakak denger kamu teriak. Ada apa?" tanya Jura lagi.
"Enggak kok Kak, cuma mimpi buruk aja" jawab Sherin.
Jura mengerutkan alisnya, selama ini ia belum pernah tahu bahwa ada orang yang bermimpi buruk sampai berteriak keras seperti yang di lakukan Sherin tadi. Ia sendiri pun pernah bermimpi buruk tapi tidak sampai berteriak. Ia kira berteriak karena mimpi buruk hanya ada di dalam film saja.
"Ya udah kalau memang cuma karena mimpi buruk. Kamu tidur lagi aja ya. Untung aja mamah sama papah gak kebangun, kalau bangun pasti mamah bakalan marah" kata Jura.
"Iya Kak, maaf. Sekarang Sherin mau tidur lagi" kata Sherin sambil kembali berbaring dan menarik selimutnya.
Setelah Jura meninggalkan kamar Sherin. Sherin kembali memikirkan mimpinya tadi. Setelah dipikir-pikir, apakah mungkin ia akan bermimpi secepat itu. Ia rasa tidurnya tadi bahkan belum sampai nyenyak dan baru saja memejamkan mata.
Satu jam Sherin memikirkan tentang mimpinya tadi. Karena jam sudah menunjukkan pukul 11.00 malam, Sherin pun memutuskan untuk kembali tidur karena tidak ingin bangun kesiangan.
__ADS_1