(Revisi)Sopir Bajaj Elite Yang Aku Sayang

(Revisi)Sopir Bajaj Elite Yang Aku Sayang
Berbaikan


__ADS_3

Sherin turun dari taksi di depan sebuah hotel. Ia tidak menghubungi Jura karena tidak ingin merepotkan kakaknya itu. Ia yakin Jura sedang sangat sibuk di kantor. Sherin melangkah masuk ke dalam hotel. Setelah check-in, Sherin berjalan menuju kamar yang sudah ia pesan.


Tanpa Sherin sadari seorang pria memakai masker, kacamata hitam dan topi hitam sedang mengamati nya dari kejauhan. Pria itu tersenyum sinis.


"Bagus gadis bodoh. Kamu malah memisahkan diri dari pelindungmu. Sekarang mudah untuk ku membunuh mu." kata pria itu lalu pergi dari tempat nya berdiri.


Orang yang sedang duduk di kursi lobby mengambil ponselnya lalu menghubungi seseorang.


"Hallo Bos. Saya rasa orang yang pengen melenyapkan Sherin makin dekat sama sasaran mereka. Apa yang harus kita lakuin Bos?" kata pria itu pada orang yang sedang berada di seberang telepon.


"Sial, ini semua gara-gara istrinya si Ghani yang malah ngusir gadis itu. Sekarang gimana aku harus nyembunyiin Sherin? Ya udah, sekarang kamu terus kasih info. Aku yang bakal mikirin kedepannya." kata pria itu marah-marah.


"Baik Bos. Saya akan terus kasih infonya." jawab pria itu lalu menutup telepon.


Pria itu berdiri dan berjalan keluar dari hotel itu menuju mobilnya yang berada di seberang jalan.


* * * *


"Apa Sherin pergi dari kontrakan kamu? Kenapa kamu gak cegah?" kata Jura kaget.


Kini Jura, Ralvin dan Calvin sedang berada di ruangan Jura. Ralvin sudah mengganti pakaian dan sekarang sedang duduk bersebelahan dengan Calvin.


Ralvin sudah menceritakan semuanya secara detail. Kini Jura pikiran Jura sedang semraut tak karuan. Ia takut mata-mata para penjahat itu sedang membuntuti Sherin dan mencelakai nya.


"Maafin aku Ra. Sherin bener-bener gak bisa dicegah. Aku takut makin aku maksa dia tetap bertahan nanti dia makin benci aku." kata Ralvin.


Saat Ralvin dan Jura sedang sibuk membahas Sherin, Calvin malah duduk santai sambil memainkan ponsel. Ralvin melihat kakaknya santai saja langsung menyambar ponsel Calvin hingga membuat Calvin terkejut.


"Kamu kenapa sih? Kembaliin gak?" kata Calvin sambil berkacak pinggang di depan Ralvin.


"Aku sama Jura lagi bingung dan khawatir, kakak malah sibuk sama hp. Katanya mau bantuin nyari." gerutu Ralvin.


Calvin berdecak kesal. Ia tidak mengerti mengapa adiknya itu menjadi emosian padanya. Ralvin juga jadi kurang pintar dalam mengatasi masalah. Entah itu karena perasaan paniknya atau memang ia malah menjadi bodoh setelah menjadi sopir bajaj.


"Nyari Sherin itu gampang. Kembaliin dulu itu." kata Calvin sambil menyodorkan tangannya.


"Gampang dari mananya? Aku sama Jura lagi pusing tujuh keliling." gerutu Ralvin.

__ADS_1


Calvin menghela nafas, "Kamu ini gimana sih. Sherin kan punya hp, ya udah lacak aja posisinya, pasti ketemu kok. Kalau kamu gak bisa ngelacak dia, nanti kakak minta bantuan orang kakak." kata Calvin santai.


Jura dan Ralvin menepuk kening dengan kompak. Mereka mengutuk kebodohan mereka sendiri. Entah mengapa sedari tadi mereka tidak berpikir ke arah sana.


Jura langsung merogoh saku jasnya dan mengeluarkan ponsel. Ia melakukan sesuatu pada layar ponselnya. Tak lama kemudian Jura terlihat menggebu-gebu.


"Apa hasilnya Ra?" tanya Ralvin dan Calvin bersamaan.


"Sherin lagi ada di hotel Mutiara." jawab Jura.


Ralvin mengembalikan ponsel Calvin lalu mengambil jas yang sudah dipesankan oleh Calvin tadi.


"Kalau gitu tunggu apa lagi? Kita harus cepet. Aku takut mata-mata itu tahu keberadaan Sherin tanpa kita." kata Ralvin sambil berdiri.


Sebelum Ralvin melangkah, Calvin menahannya dan menarik Ralvin agar kembali duduk di sampingnya. Ia tidak ingin adiknya melupakan satu hal penting.


"Dia pergi karena kamu. Jadi kamu harus ingat gak boleh maksa dia. Kalau dia marah sama kamu, kasih dia waktu baru kamu minta maaf." kata Calvin mengingatkan.


"Iya Kak, aku bakal selalu inget itu." kata Ralvin.


* * * *


Ralvin, Calvin dan Jura jalan ke meja resepsionis hotel. Mereka menanyakan pesanan kamar atas nama Sherin. Pada awalnya sang resepsionis tidak mau memberikan informasi apapun, tapi setelah Jura menunjukkan kartu keluarga, akhirnya resepsionis itu memberitahu kamar Sherin.


"Ayo cepat." kata Ralvin tidak sabar.


Mereka bertiga masuk ke dalam lift menuju lantai empat.Sesampainya di lantai empat mereka mencari kamar nomor 46. Setelah menemukan pintu nomor 46, Jura mengetuk pintu.


"Sherin, ini kakak. Buka pintunya." kata Jura dengan lembut.


Tidak ada sahutan dari dalam. Sekali lagi Jura mengetuk pintu itu. Kali ini sedikit lebih kuat dan ia memanggil lebih keras.


"Sherin, ini kakak." kata Jura.


Tak lama kemudian pintu itu dibuka dan keluar Sherin dengan mata sembab. Awalnya ia tersenyum ketika melihat Jura. Tapi senyum itu tiba-tiba hilang ketika melihat sosok Ralvin yang berdiri di belakang kakaknya.


"Mau apa dia datang ke sini? Mending suruh dia pergi." kata Sherin dengan tajam.

__ADS_1


Jura mengusap kepala Sherin dengan lembut, "Syutt, gak boleh kasar gitu Rin. Biarin Ralvin jelasin semua nya sama kamu." kata Jura.


Jura mundur ke belakang dan di gantikan oleh Ralvin. Jura dan Calvin memberi ruang untuk Ralvin berbicara. Mereka berdua turun ke lantai dasar sedangkan Ralvin dan Sherin masih berdiri di tempat yang sama.


Sherin tidak berbicara, ia melihat ke lain arah seolah tidak ingin melihat wajah Ralvin.


"Sherin, aku mau minta maaf. Aku pengen jelasin semua alasan aku pura-pura jadi Calvin di depan kamu. Aku mohon kasih aku kesempatan untuk jelasin." kata Ralvin.


Sherin bergeser ke kanan memberikan jalan untuk Ralvin masuk ke dalam kamar. Ralvin pun melangkah masuk ke dalam kamar Sherin. Setelah mereka berdua duduk, Ralvin pun mulai berbicara lagi.


"Lima tahun aku nyamar jadi sopir bajaj untuk nemuin orang yang bernama Ghani. Papahku yang ngasih tugas itu. Selama ini aku gak pernah ngaku jadi Calvin. Tapi suatu hari aku lihat kamu lagi nyari tumpangan. Dari wajah kamu aku tau kamu beda dari gadis lain, makanya aku pengen deket dan kenal sama kamu."


"Setelah aku tau kamu mau kerja di Citra Jaya, aku pikir kalau aku gak ngaku punya kembaran, bisa-bisa penyamaranku selama lima tahun ini akan terbongkar. Makanya aku ngaku jadi Calvin kembaran Ralvin." Ralvin menjelaskan panjang lebar.


"Kenapa kamu gak jujur aja sama aku? Kamu kan bisa minta tolong untuk rahasiain itu semua. Aku pasti jaga rahasia itu rapat-rapat." kata Sherin sambil memonyongkan bibirnya.


"Tadinya aku juga mau jujur sama kamu. Tapi aku lihat kamu nyaman banget sama sosok aku yang jadi sopir bajaj. Maka dari itu aku gak berani ngatain yang sebenarnya.".


"Sherin, aku mohon maafin aku ya. Aku benar-benar nyesel dan gak tau lagi harus lakuin apa selain minta maaf." kata Ralvin lalu menggenggam pergelangan tangan Sherin.


Sherin menatap mata Ralvin dalam. Ia bisa melihat bahwa Ralvin memang benar-benar menyesal. Sebenarnya Sherin sangat kecewa pada Ralvin, tapi tidak bisa dipungkiri bahwa ia juga tidak bisa membenci pria yang sudah banyak membantunya.


Pria itu sampai rela bolak-balik menjadi Ralvin dan Calvin hanya untuk membuat dirinya nyaman. Terutama saat Sherin tinggal di kontrakan. Pria itu selalu jadi Calvin yang baik untuk nya.


"Ok, aku maafin." kata Sherin sambil mengangguk satu kali.


Senyum Ralvin mengembang di wajahnya. Ia sangat senang Sherin mau memaafkan dirinya.


"Makasih Sherin, makasih." kata Ralvin sambil memeluk Sherin.


Sherin tidak marah saat dipeluk oleh Ralvin. Entah karena sudah terbiasa atau karena senang melihat senyum bahagia di wajah pria itu.


"Ehkm.." Jura dan Calvin sudah berdiri di ambang pintu.


"Maaf." kata Ralvin langsung melepas pelukannya.


"Ayo kita pergi." kata Jura.

__ADS_1


"Ok, Kak.".


__ADS_2