(Revisi)Sopir Bajaj Elite Yang Aku Sayang

(Revisi)Sopir Bajaj Elite Yang Aku Sayang
Hukuman yang mengejutkan


__ADS_3

Di ruang CEO, Ralvin dan Daniel duduk di sofa. Ralvin duduk santai dengan bersilang kaki. Di hadapan mereka, Sherin sedang berdiri dengan satu kaki dan tangan yang disilangkan memegang telinga. Sudah seperempat jam Sherin berdiri seperti itu. Tangan dan kakinya mulai terasa panas dan pegal. Ralvin tersenyum puas karena dapat menghukum karyawan yang selalu melawannya.


"Pak, saya minta maaf. Saya cuma bercanda kok".


Sejak datang ke ruangan Ralvin, hanya itu yang dapat terucap dari mulut Sherin.


Ralvin tersenyum melihat ekspresi gadis di hadapannya itu.


"Apa yang kamu bilang sama temen-temen kamu?" tanya Ralvin.


"Kami cuma ngomentarin apa yang Bapak sembunyikan di balik badan" jawab Sherin.


"Terus?" Ralvin meminta jawaban detail.


"Saya bilang mungkin Bapak nahan kentut".


Sontak Daniel tertawa terbahak-bahak. Ia tidak percaya ada karyawan yang menjawab dengan begitu jujur, apalagi itu tentang mengejek bosnya. Ralvin menatap mata Daniel tajam. Dalam tatapan itu ia memerintahkan agar Daniel berhenti tertawa.


Ralvin kembali menatap manik-manik mata Sherin.


"Udah pegel?".


Sherin mengangguk cepat.


"Udah kapok?".


Sherin mengangguk lagi.


"Ok, turunkan kaki kamu" kata Ralvin tersenyum penuh kemenangan.


Ternyata benar apa yang dikatakan oleh Daniel, Sherin memiliki sifat manja yang tersembunyi. Ketika melihat Sherin mengangguk setiap kali ditanya, ia dapat melihat sikap manja dari mata Sherin. Hal itu membuat Ralvin jadi tidak sampai hati untuk menghukum Sherin lebih jauh.


"Saya boleh pergi Pak?" tanya Sherin.


"Belum" jawab Ralvin singkat dengan nada sok tegas.


Sherin menghela nafas panjang. Semua ini karena teman-temannya. Jika saja mereka tidak memancing Sherin untuk terus bicara, mungkin ini tidak akan terjadi. Dan sekarang teman-temannya tidak mendapat hukuman apapun. Tadi Ralvin berkata bahwa cukup Sherin yang jadi perwakilan dari teman-temannya.


* * * *


"Kak Jura!".


Pintu ruang HDR di lantai dua dibuka secara paksa. Tiga orang masuk tanpa permisi dengan nafas yang tersengal-sengal.


"Ada apa ini? Kalian masuk gak sopan" kata Rini heran.


"Kak Jura mana?" tanya Filly.

__ADS_1


"Lagi pergi ke toko boneka untuk beli kado ulang tahun Sherin. Mungkin sebentar lagi datang" jawan Rini.


Benar saja yang diucapkan oleh Rini. Jura datang dari belakang ketiga teman Sherin.


"Ada apa ini?" tanya Jura santai yang tidak tahu apa-apa.


"Kak, Sherin" kata Dita yang masih mengatur nafas.


Wajah Jura langsung panik, ia tidak ingin mendengar sesuatu berita buruk apapun tentang adiknya.


"Sherin kenapa?" tanyanya panik.


"Sherin dihukum sama Pak Ralvin gara-gara udah ngejek Pak Ralvin. Dan mungkin sekarang dia lagi ada di ruangan Pak Ralvin." jawab Hendry.


"Ngejek? Apa Pak Ralvin marah besar?" tanya Jura ingin memastikan.


Jura tahu kalau Ralvin bukanlah pria yang kejam. Tidak mungkin ia menghukum Sherin dengan berat.


"Kayaknya sih marah besar Kak, soalnya tadi Pak Ralvin natap kami tajam. Kami berhasil kabur tapi Sherin berhasil ditangkep" kata Dita.


"Ok, Kakak akan ke sana sekarang" kata Jura langsung berjalan keluar lagi.


* * * *


Daniel mengangkat sebelah alisnya ketika mendengar perintah Ralvin untuk membawakan pesanan makanan dengan lima porsi. Apakah Ralvin lapar setelah menghukum Sherin? Atau dia ingin menghukum Sherin dengan memakan makanan lima porsi? Jika benar, tega sekali Ralvin. Perut Sherin bisa-bisa pecah.Tanpa pikir panjang lagi Daniel pergi meninggalkan ruangan Ralvin tanpa menutup pintu.


"Selamat ulang tahun".


Bisikan lembut Ralvin menghilangkan jutaan pertanyaan di kepala Sherin. Bahkan pikirannya pun sempat terhenti.


"Selamat ulang tahun yang ke-24 tahun Sherin" kata Ralvin lagi.


Kini Ralvin tersenyum lembut. Ralvin mengambil sebuah kotak yang cukup besar di atas mejanya. Kemudian ia memberikan itu pada Sherin.


"Ini hadiah untuk kamu, bukalah" kata Ralvin.


Sherin tidak mengeluarkan ekspresi apapun karena masih terkejut. Apa mungkin Ralvin juga mencari tahu tanggal lahirnya dan mengingat hari ulang tahunnya? Sungguh ia tidak dapat percaya ini.


Dengan perlahan Sherin membuka bungkusan kotak itu. Mata Sherin berbinar begitu melihat boneka beruang berwarna pink yang sangat imut dan lucu. Karena sangat bahagia dengan hadiah boneka yang lucu, tanpa sadar Sherin loncat pada tubuh Ralvin untuk memeluk pria itu.


Karena tubuh Sherin lebih pendek darinya, Ralvin harus menyanggah tubuh Sherin yang memeluknya dengan erat. Kaki Sherin menggantung dari lantai tempat Ralvin berpijak. Senyum lebar dan bahagia mengembang di wajah tampan Ralvin.


Kejadian itu berlangsung hanya dalam beberapa detik sebelum Sherin tersadar. Sherin cepat-cepat turun dari pelukan Ralvin. Wajahnya bersemu merah karena malu. Baru kali ini ia memeluk pria selain Jura.


"Berterima kasihlah dengan benar" pinta Ralvin.


"Terima kasih Pak, dan ma-maaf, saya gak sadar" kata Sherin sambil menunduk.

__ADS_1


Ralvin maju selangkah, tangannya meraih punggung Sherin. Begitu Sherin menengadah untuk melihat wajah Ralvin, Ralvin menundukan kepala untuk mencium Sherin. Sherin membulatkan matanya ketika Ralvin mencium bibirnya.


Dari pintu yang tidak ditutup oleh Daniel, Jura berdiri mematung melihat kelakuan CEO Citra Jaya. Ia sendiri terkejut bahkan sampai lupa mengedipkan mata. Adiknya dicium oleh bos besar? Sungguh Jura tidak menyangka.


"Ekhem".


Jura sengaja berdeham keras agar Ralvin menghentikan semua itu.


Ralvin terkejut bukan main ketika melihat sosok Jura, Kakaknya Sherin berdiri di ambang pintu. Ralvin langsung melepaskan Sherin. Wajahnya malu dan takut. Ia tidak siap jika Jura akan menampar wajahnya.


"Maaf Jura, a-a aku, aku tidak bermaksud untuk...".


"Sudahlah, tidak apa, lagi pula sudah terjadi. Lain kali Bapak harus menghormati adik saya" kata Jura tegas.


Entah mengapa sekarang Jura lah yang seperti atasan Ralvin. Ralvin tertunduk di hadapan Jura seperti karyawan yang takut dimarahi.


"Dan kamu Sherin...".


"Itu bukan salahnya, itu salahku" potong Ralvin.


Sepertinya Ralvin tidak ingin Sherin terkena marah oleh Jura akibat perbuatannya.


"Tenang, saya gak akan marahin Sherin. Saya cuma mau kasih boneka ini".


Jura mengulurkan sebuah boneka beruang berwarna pink yang hampir mirip dengan boneka beruang yang telah Ralvin berikan. Sherin sangat bahagia melihat boneka pemberian kakaknya. Sherin memang sangat suka boneka beruang. Sherin berlari memeluk kakaknya dengan erat. Posisinya sama seperti saat Sherin memeluk Ralvin. Ralvin menunduk mengingat Sherin tadi memeluknya seperti itu.


"Sherin, kamu balik ke ruang kerja sana. Kakak mau ngobrol dulu sama Pak Ralvin" kata Jura berkata lembut.


"Ok Kak".


Sherin malu ketika Jura menyebutkan nama Ralvin. Ia teringat kembali dengan kejadian beberapa menit lalu.


Setelah Sherin pergi, Jura masuk ke dalam ruangan Ralvin. Suasana di sana menjadi sangat sunyi karena keduanya tidak berkata apapun. Jura mendekati Ralvin yang masih berdiri di tempatnya. Tanpa diduga, Jura melayangkan sebuah tinjuan di perut Ralvin.


"Maaf Pak, tapi saya harus melakukan itu" kata Jura lalu menepuk bahu Ralvin.


Ralvin tidak membalas, ia hanya memegangi perutnya yang terasa sakit. Ia paham Jura pasti akan sangat marah atas sikap kurang ajarnya pada Sherin.


"Aku yang minta maaf" kata Ralvin masih menunduk.


"Saya udah memaafkan Anda Pak, tadi saya hanya emosi aja. Saya takut Bapak sampai kelewat batas" kata Jura.


"Terima kasih udah ingatkan, aku hanya..."


"Menyukai Sherin?" Jura memotong.


Kali ini Ralvin mengangkat wajahnya untuk menatap wajah Jura.

__ADS_1


"A-a-aku..."


__ADS_2