
Sherin keluar dari dapur menuju ruang tamu karena mendengar keramian. Ia terperangah melihat perabotan yang banyak dan terlihat serba mahal. Sherin berjalan dengan cepat ke arah Ralvin yang baru memasukan ponsel ke saku celana.
"Pak, kenapa perabotannya banyak banget, dan kayaknya mahal-mahal" kata Sherin.
"Ini? Ahahahah ya pasti banyak. Memangnya kamu mau serba kesusahan gara-gara kurang perabotan?" jawab Ralvin.
Jura memilih untuk memperhatikan para pekerja yang masih sibuk menata ini dan itu. Ia tidak mau mengganggu adiknya dan bos nya.
"Terus itu kasur?" Sherin menunjuk kasur yang king size.
Ralvin tersenyum, "Anggap aja persiapan untuk malam pengantin kita".
"Iih, Bapak udah ketularan Calvin nih" Sherin bergidik ngeri lalu pergi kembali ke dapur.
Ralvin tertawa sedangkan Jura hanya tersenyum. Ia tidak mengerti cara apa yang digunakan oleh Ralvin untuk mendekati adiknya.
"Ayo lihat Sherin di dapur" ajak Ralvin pada Jura.
Sepertinya Ralvin masih ingin menggarai Sherin.
* * * *
"Sherin kemana?" tanya Wisnu pada istrinya.
Yani tidak menjawab, ia hanya memasang wajah datar, seolah-olah tidak peduli dengan pertanyaan suaminya.
Sepertinya Wisnu sudah habis kesabaran. Ia menggebrak meja makan dengan keras.
"Jawab!" teriak Wisnu tepat di wajah Yani.
"Aku gak tau! Lagian kenapa kita harus peduliin anak itu?" Yani menantang Wisnu untuk berdebat.
"Kamu gak tau, laki-laki itu datang ke sini lagi jam 10.00 malam untuk ngancam kita biar kita nyembunyiin Sherin rapat-rapat. Kalau sempet dia tau Sherin gak pulang ke rumah, habis riwayat kita" kata Wisnu penuh emosi.
"Suruh siapa kamu mungut anak itu? Sejak dia datang ke rumah ini, perusahaan kamu bangkrut dan hidup kita selalu diawasin dan diancam. Sebenernya apa sih ke istimewaan anak itu, hah? Kita aja gak tau asal-usul nya dari mana" Yani terus berbicara tidak ingin kalah oleh Wisnu.
"Kamu aja yang gak tau. Sherin itu kunci hidup kita, kalau kita gak ngurus Sherin, mungkin kita udah ada di jalanan jadi gembel" kata Wisnu.
"Kamu yang gak pernah cerita. Sherin itu siapa? Anaknya siapa? Asal-usul nya gimana? Dan siapa laki-laki itu yang selalu ngancam kita?. Kenapa ada orang yang ngancem kita untuk sembunyiin identitas Sherin, tapi di lain sisi, ada orang yang terus neror untuk nyerahkan Sherin." Yani sangat kesal pada Wisnu karena suaminya itu tidak pernah menceritakan apapun.
"Kamu tahu nama asliku adalah Ghani Pratama, dan kamu tahu kalau aku pernah membunuh pengusaha muda dua puluh tahun yang lalu. Laki-laki itu adalah orang yang memegang bukti dari kejahatan ku. Aku juga gak tau apa motif dia nyerahin Sherin sama kita. Tapi dia pernah bilang kalau Sherin adalah kunci sebuah anggota pengusaha kaya yang sampai sekarang masih bangkrut." kata Wisnu serius.
"Kalau Sherin ketangkep orang-orang itu, maka mereka akan menguasai perusahaan di beberapa negara dan pengusaha lain bakal bangkrut sampai ke akar" lanjut Wisnu.
__ADS_1
"Kenapa dia gak nitipkan Sherin pada orang kaya yang punya pengaman?" tanya Yani yang mulai reda amarahnya.
"Aku juga gak tau. Mungkin orang yang cari Sherin gak pernah curiga kalau Sherin sekarang di tangan orang miskin" .
"Entahlah, aku pusing mengurus anak itu" Yani langsung pergi ke kamar meninggalkan meja makan.
Wisnu mengacak-acak rambutnya karena begitu kesal.
"Kemana anak itu pergi. Merepotkan saja".
* * * *
Ralvin terus saja menggarai Sherin yang sedang memasak di dapur. Jura hanya tertawa melihat adiknya marah-marah pada Ralvin.
"Pak diam! Saya lagi masak loh".
"Biar saya yang motong bawangnya".
"Enggak, Bapak bukan motong bawang, tapi lagi mutilasi bawang" gerutu Sherin.
Jura mendekati Ralvin lalu merebut pisau di tangannya.
"Udahlah Ral, Sherin lagi sakit, jangan diganggu" kata Jura melerai perdebatan Sherin dan Ralvin.
Ralvin menuruti perintah Jura. Ia baru ingat kalau sekarang Sherin sedang sakit.
Ralvin dan Jura memutuskan diam di meja makan tanpa menggangu Sherin yang sedang sibuk memasak.
Beberapa menit kemudian, masakan oseng tempe dan oseng kangkung sudah matang. Wangi sedap sungguh bisa membuat perut siapa pun menjadi lapar. Sherin meletakan semua masakannya di atas meja makan.
Ralvin dan Jura tidak dapat menahan matanya agar tidak menatap masakan Sherin. Sungguh mereka tergiur untuk segera menyantap dua masakan di atas meja makan.
"Ayo makan" ajak Sherin yang melihat dua pria di sampingnya sudah terlihat tak sabar.
Sherin duduk di kursi meja makan. Ia bersiap untuk mengambil nasi.
"Eh, kamu kan masih sakit. Gak boleh makan yang keras dulu" kata Jura.
"Kak, nasi itu bukan batu, masih empuk kok kalau dikunyah" kata Sherin.
"Sherin gak bisa dilarang Ra, selama di kantor aja dia selalu ngelawan" kata Ralvin yang kini sudah duduk.
Jura hanya bisa menggelengkan kepala. Di dalam hatinya ia sangat senang bisa melihat Sherin yang sekarang. Di rumah ibunya, kedua orang tua mereka tidak pernah senang jika Sherin ikut makan di meja makan. Setiap kali keluargnya makan bersama, Sherin akan memasang wajah sedih. Pasti gadis itu ingin sekali ikut makan bersama di meja makan.
__ADS_1
"Ya udah, makan yang banyak ya. Nanti malam jangan lupa minum obat" kata Jura.
Sherin mengangguk. Melihat dua pria sedang makan bersama di meja makan, entah mengapa Sherin merasa seperti sedang makan bersama keluarga. Baru kali ini Sherin bisa makan bersama Jura dengan tenang di meja makan.
"Kak, Pak, makasih ya, udah buat Sherin merasa punya keluarga" kata Sherin tiba-tiba.
Ralvin dan Jura saling berpandangan. Hati keduanya terharu mendengar kata tulus dari mulut Sherin.
"Rin, di dunia ini gak ada yang namanya penderitaan tak berujung. Pasti di balik penderitaan itu ada kebahagiaan yang menanti kita" kata Ralvin dengan bijak.
Sherin tersenyum. Baru kali ini Sherin memberikan senyum tulus untuk Ralvin. Hati Ralvin bergetar melihat senyum itu. Jika saja ia bisa terus membuat Sherin tersenyum seperti itu, maka Ralvin akan memberikan dunia untuk gadis itu.
"Ral, jangan melamun" kata Jura membuat Ralvin tersadar dari lamunan.
"Oh iya, maaf".
* * * *
Wisnu mondar-mandir di depan teras rumah. Ia terlihat bingung dan takut. Tak lama kemudian matanya melihat mobil biru menuju halaman rumahnya.
Dari mobil biru itu turun seorang pria memakai masker dan kacamata hitam. Untuk orang yang belum mengenal pria itu tentu saja tidak mengenali wajahnya. Tapi untuk Wisnu, sangat jelas terlihat walaupun pria itu menutup wajahnya.
"Gimana kerja kamu ini? Gitu aja gak becus!".
Pria itu baru datang saja sudah marah-marah, membuat Wisnu gemetar takut.
"Maaf Pak, tapi dari semalam aku gak lihat dia" jawab Wisnu.
"Kamu udah bosen hidup? Saya bisa saja melaporkan dan menyerahkan bukti-bukti pembunuhan pria itu. Walaupun sudah dua puluh tahun berlalu, tapi kasus itu belum di tutup. Bahkan Braham sekarang sudah mulai menemukan titik yang cukup untuk menyelidiki ini" ancam pria itu.
"Pak, tolong jangan laporin saya" Wisnu memohon.
"Kamu tau, Sherin itu sangat penting untuk saya. Kalau orang itu sampai tau siapa Sherin dan menangkap nya, maka hidup saya akan hancur. Saya gak mau tau, besok, Sherin harus udah ada di rumah ini lagi".
"Pak, kayaknya ada orang yang tau kalau Sherin itu Claudya. Soalnya orang itu minta saya nyerahin Sherin" kata Wisnu.
"Dasar bodoh! Bisa-bisanya orang itu tau?" semakin lama pria itu semakin marah.
"Bukan saya yang bodoh Pak, tapi orang itu terlalu jenius" sangkal Wisnu.
"Pokoknya temuin Sherin, atau anak kamu Jura gak akan bisa hidup lebih lama".
Selesai mengancam, pria itu berlalu pergi menggunakan mobil birunya.
__ADS_1
Wisnu mengepalkan tangan kuat, "Yannii!!".
Dari seberang jalan, seorang pria bertopi, berkacamata mata, dan memakai masker langsung pergi secara diam-diam dari sana tanpa dicurigai oleh Wisnu.