(Revisi)Sopir Bajaj Elite Yang Aku Sayang

(Revisi)Sopir Bajaj Elite Yang Aku Sayang
Mata-mata


__ADS_3

Matahari menyinari ruang tamu dari celah gorden jendela. Sherin bangun karena merasa silau. Ia menguap sebentar sebelum membuka mata lebar. Ia merasa asing dengan tempatnya. Ia tidur di atas sofa dengan selimut dan bantal. Begitu bergulir ke sebelah kakan, Sherin melihat Calvin yang masih tertidur pulas.


Beberapa detik barulah Sherin menyadari kejadian semalam. Ia bangkit dari sofa dan berniat untuk pulang ke kontrakannya.


"Mau ke mana?" tanya Calvin yang kini sudah membuka matanya.


"Udah bangun?" Sherin malah balik bertanya.


"Ya udahlah, kalau belum bangun mana mungkin aku nanya kamu" Calvin mengulangi gaya bicara Sherin tadi malam.


"Aku mau pulang, makasih ya" kata Sherin hendak melanjutkan langkahnya.


"Aku mau nanya".


Sherin berbalik pada Calvin yang kembali berbicara padanya.


"Kata Ralvin, kemarin kamu nyebut nama dia pas kamau lagi tidur. Kenapa kamu ngigau nyebut nama Ralvin?" tanya Calvin.


Sherin terkejut, apakah mimpinya kemarin tanpa sadar ia sebutkan. Sherin bingung harus jawab apa. Tapi begitu melihat mata Calvin yang sepertinya ingin sekali mendapatkan jawaban. Akhirnya ia memutuskan untuk bercerita.


"Kemarin aku mimpi kejebak di tempat yang banyak jalan menuju tempat yang beda. Terus datang tiga laki-laki pakai topeng hitam. Mereka semua rebutin aku untuk ngikut sama mereka. Tiba-tiba datang laki-laki pakai topeng putih. Dia menghajar semua laki-laki bertopeng hitam itu. Setelah semua laki-laki itu kabur, laki-laki pakai topeng putih itu ngebuka topengnya"


"Dia Ralvin? Kamu yakin? Kenapa kamu gak nebak itu aku, kan wajah kami sama".


"Diem dulu kenapa, tadi disuruh jawab" gerutu Sherin.


"Lanjut" kata Calvin.


"Begitu dia buka topeng, ternyata itu wajah kalian. Aku bingung, itu Ralvin atau Calvin? Terus laki-laki itu ngeluarin jas entah dari mana karena tiba-tiba muncul di tangannya. Dari situ aku yakin dia Ralvin. Ralvin langsung balik badan dan mau pergi. Makanya aku panggil nama dia dan nanya mau ke mana".


Mendengar cerita mimpi Sherin, Calvin langsung tersenyum.


"Kenapa senyum?" tanya Sherin penasaran.


"Ya masa aku harus cemberut. Mimpi kamu bagus, berarti kamu berhasil lepas dari incaran laki-laki bertopeng hitam karena bantuan Ralvin" jawab Calvin.


"Cuma mimpi aja kok. Aku mau pulang dulu" kata Sherin langsung keluar dari kontrakan Calvin.


* * * *


Hari ini Sherin di antar oleh Calvin ke kantor sebelum Calvin menarik penumpang. Setelah sampai di depan gedung kantor Citra Jaya, Sherin turun dari bajaj. Tidak lupa ia mengucapkan terima kasih.

__ADS_1


Sherin masuk ke dalam gedung kantor. Calvin tersenyum dan berniat menancap gas lagi. Tapi matanya menangkap sosok pria bertopi hitam, kaca mata hitam dan masker hitam, sungguh bukan setelan pakaian standar orang-orang pada umumnya. Pria itu berdiri di seberang jalan.


Walaupun Calvin curiga, tapi ia tidak langsung menujukan pandangannya pada pria itu. Cukup memperhatikan pria itu dari sudut matanya saja. Tak lama kemudian pria tak dikenali itu pergi meninggalkan tempat ia berdiri. Calvin penasaran dan tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk mengikuti pria itu.


Calvin keluar dari bajajnya dan menyetop taksi. Calvin terus memperhatikan pria yang sekarang sudah masuk ke dalam mobil putih.


"Pak, tolong ikutin mobil putih yang itu ya" kata Calvin sambil menunjuk mobil putih.


"Tapi jangan terlalu deket dan jangan buat dia curiga" lanjut Calvin.


"Ok mas" jawab sopir taksi.


Taksi yang ditumpangi Calvin mulai melaju ketika mobil putih di depannya mulai melaju juga.


* * * *


Sudah sepuluh menit lebih, Calvin mengikuti mobil putih di depannya. Ia juga tidak lupa mengingat nama jalan yang sudah ia lewati. Calvin juga mencatat nomer polisi mobil pria itu. Dalam hati Calvin meyakini bahwa pria itu adalah mata-mata atau orang yang meneror Daniel.


Tiba-tiba mobil taksi yang ditumpangi oleh Calvin berhenti mendadak.


"Ada apa Pak?" tanya Calvin yang terkejut dan heran.


"Terus kenapa mobil itu santai aja lewat sana?" tanya Calvin.


"Mungkin dia ada hubungannya sama orang-orang itu. Lagian kenapa Mas pengen buntutin mobil tadi?" tanya sang sopir.


"Si Bapak kepo" Calvin tidak ingin menjawab.


"Maaf ya Mas, mending kita putar balik aja ya" kata sopir itu menyarankan.


Calvin sangat menyesali tidak dapat membuntuti pria itu sampai pada tempat tujuan. Jika saja ia sendirian, mungkin Calvin sudah nekat untuk melewati jalan di depan. Tapi sekarang ia juga harus memikirkan keselamatan sang sopir taksi. Akhirnya Calvin setuju untuk putar arah.


"Ya udah deh Pak, kita putar balik lagi aja" kata Calvin kecewa.


Tak jauh dari sana, mobil putih sedang bersembunyi di bawah pohon rindang.


"Kalian pikir aku bodoh? Aku tau kalau kalian buntutin aku" kata pria yang memakai masker hitam.


"Lagian siapa juga yang mau lewat jalan ini. Kalau aku lewat jalan ini, aku bakal jadi santapan lezat para pembegal" lanjut pria itu yang sekarang sedang memutar balik arah untuk keluar dari area jalan sepi itu.


* * * *

__ADS_1


"Sherin.... akhirnya kamu masuk kantor juga" Filly berhambur memeluk Sherin.


"Jangan lebay deh Ly, baru dua hari aku gak masuk aja udah sok kangen" kata Sherin.


"Beneran loh Rin, kalau kamu gak ada, gak ada tuh yang berantem sama Pak Ralvin, gak ada yang suka kepo dan pokonya gak seru lah kalau gak ada kamu" kata Dita.


Sherin tersenyum lebar. Ia sangat senang teman-temannya begitu menyayangi dirinya. Ia melihat ke sekeliling, mencari seseorang.


"Hendry mana?" tanya Sherin.


"Dia hari ini berangkat ke Riau, diajak Bu Shifa untuk bantu-bantu rapat di sana" jawab Dita.


"Memangnya Citra Jaya punya cabang perusahaan di Riau?" tanya Sherin.


"Enggak. Tapi pulau Sumatera kan terkenal penghasil minyak kelapa sawit. Nah jadi Citra Jaya ada nanam saham di salah satu PT di Riau." jawab Filly.


"Ya kalau kamu kangen sama Hendry kan bisa lihat kalung di leher kamu" Dita mulai menggarai Sherin.


"Apaan sih" Sherin tertawa malu.


"Iya beneran Rin. Kayaknya Hendry suka sama kamu deh" kata Filly.


"Tapi kalau aku sih nebaknya Sherin sama Pak Ralvin Ly" kata Dita pada Filly.


Filly dan Sherin sama-sama membulatkan mata.


"Soalnya selama Sherin gak ke kantor, Pak Ralvin juga gak ada datang ke kantor kan?" lanjut Dita.


"Apa? Gak ke kantor?".


Sherin bingung bukan main. Bukankah setiap kali Ralvin pergi ia bilang ada urusan kantor? Tapi kenapa Ralvin tidak datang ke kantor? Apakah Ralvin berbohong? Jika benar, untuk apa ia membohongi Sherin?. Pertanyaan terus berkelebat di benak Sherin.


Pintu ruang kerja delapan karyawan penerjemah di buka secara mendadak. Ternyata orang yang membuka secara tidak sopan adalah OB.


"Siapa yang namanya Sherin Fajriana?" tanya OB itu.


"Saya" jawab Sherin singkat.


"Mbak, ada bapak-bapak bernama Wisnu lagi marah-marah di lobby nyariin Mbak" kata OB itu.


"Apa?" Sherin terkejut.

__ADS_1


__ADS_2