(Revisi)Sopir Bajaj Elite Yang Aku Sayang

(Revisi)Sopir Bajaj Elite Yang Aku Sayang
Apartemen untuk Sherin


__ADS_3

Sherin melotot melihat tempat apa yang ada di hadapannya sekarang. Ia tahu bangunan besar di hadapannya adalah gedung apartemen elite. Kalangan artis banyak yang menempati apartemen itu. Sherin menatap Ralvin yang sedang duduk di kursi pengemudi.


"Katanya kamu mau cariin tempat tinggal untuk aku. Tapi kenapa bawa aku ke sini?" tanya Sherin.


Ralvin dan Calvin tersenyum melihat ekspresi Sherin yang duduk di kursi penumpang bersama Jura.


"Ya ini tempat tinggal baru kamu." jawab Ralvin santai.


"Kamu mau bunuh aku ya? Mana bisa aku bayar apartemen semewah ini." protes Sherin.


"Kakak udah beli salah satu ruang apartemen di sini, tapi belum pernah kakak tempatin karena kakak dikasih rumah sama papahku. Jadi mulai sekarang apartemen itu untuk kamu. Kamu kan calon adik ipar." kata Calvin asal ceplos.


Ralvin ingin sekali menjitak kepala kakaknya itu. Jika tidak ingat dosa, mungkin ia sudah melakukan hal itu sekarang.


"Tapi Kak, Sherin ngerasa gak enak. Ralvin udah banyak bantu Sherin dulu. Masa sekarang Sherin juga ngerepotin Kakak." kata Sherin pada Calvin.


Sherin memanggil Calvin Kakak karena usia mereka sangat jauh. Calvin 29 sedangkan dia 24 tahun. Jura saja berusia 27 tahun sama seperti Ralvin. Mana mungkin Sherin memanggil Calvin dengan nama.


"Gak ngerepotin sama sekali. Sekarang kita turun dan bawa koper kamu masuk. Apartemen kamu di lantai tujuh nomor 10." kata Calvin sembari membuka pintu mobil.


Sherin, Jura dan Ralvin turun dari mobil. Mereka mengikuti langkah Calvin yang berjalan di depan mereka. Tak lama kemudian mereka sudah sampai di depan apartemen Sherin. Calvin berbalik pada tiga orang di belakangnya.


"Sekarang ini jadi milik kamu. Ini kuncinya." kata Calvin.


"Makasih Kak Calvin. Kakak udah baik sama adikku." kata Jura.


"Udahlah, berhenti bilang makasih. Sherin, tata aja barang-barang kamu. Kakak sama Ralvin ada urusan di kantor sama papah kami." kata Calvin.


Sherin mengangguk sambil tersenyum. Calvin lebih dulu sedangkan Ralvin masih bertahan di sana.


"Kok kamu masih di sini? Katanya ada urusan." kata Sherin.


"Aku cuma mau bilang, jangan marah dan pergi lagi ya. Aku gak karuan kalau kamu marah serius kayak tadi." kata Ralvin memohon.

__ADS_1


"Bukannya kamu biasanya sengaja buat aku marah?" kata Sherin sambil tersenyum mengejek.


"Ya kan marahnya beda. Tadi kamu marah beneran dan kayaknya benci banget sama aku. Kamu udah maafin aku kan?" kata Ralvin.


Jura menahan tawa melihat sikap Ralvin. Ternyata di balik sikap wibawanya di kantor, pria itu masih seperti remaja belasan tahun yang memohon agar pacarnya tidak marah dan merajuk.


"Iya aku udah maafin kamu kok. Udah sana, nanti dimarahin sama Kak Calvin." kata Sherin sambil mendorong punggung Ralvin agar pria itu cepat pergi.


"Ok, ok. Gak usah dorong-dorong juga kali." kata Ralvin sambil tersenyum lebar.


* * * *


Calvin dan Ralvin sedang duduk di sofa ruangan di lantai dua belas. Mereka duduk berhadapan dengan Braham. Wajah mereka sangat serius. Pembahasan mereka kali ini sangat serius dari pada biasanya.


Ralvin menarik nafas dalam. Rasanya ia sudah lelah terus mendapatkan sebuah kejutan baru. Braham mengabarkan informasi tentang Ghani. Calvin terlihat tidak terkejut walaupun ia sama seriusnya dengan adiknya.


"Gimana kalau Jura tahu yang selama ini kita cari itu ayahnya? Aku takut Jura akan berubah karena ngelindungin ayahnya. Tentu bagi seorang anak, orang tua adalah segalanya." kata Ralvin.


Ralvin mengangguk. Bukan hanya berteman dengan anak Ghani saja, tapi setiap hari ia juga selalu menaikan Sherin ke bajajnya tepat di depan rumah buronan itu. Ralvin sendiri tidak percaya bahwa Ghani pernah datang sendiri ke kantornya saat mencari Sherin.


Ralvin tidak tahu wajah Ghani yang sekarang sudah tua, karena foto yang diberikan oleh ayahnya hanyalah foto dua puluh tahun yang lalu.


"Dia pernah nginjakan kaki ke sini Pah. Tapi aku sama sekali gak tau kalau dia itu Ghani. Yang aku tau dia itu Wisnu ayah angkat Sherin." kata Ralvin.


"Kenapa dia datang ke kantor ini? Apa dia gak tau kalau kamu itu anak papah dan perusahaan ini juga pernah jadi milik mamahmu?" tanya Braham bingung.


"Ralvin rasa dia gak tau Pah. Soalnya dia ke sini cuma mau cari Sherin." jawab Ralvin sambil memijat keningnya.


Ralvin menyandarkan tubuhnya pada sofa. Ia menarik nafas sangat dalam. Mungkin itu akan sedikit menenangkan pikirannya. Ralvin kembali duduk tegak.


"Banyak banget teka-teki setelah aku ngenal Sherin." kata Ralvin.


Calvin menoleh cepat pada adiknya, "Jadi kamu nyesel kenal sama Sherin? Atau kamu mau nyalahin dia atas semuanya?" tanya Calvin tidak percaya adiknya akan menyalahkan Sherin.

__ADS_1


"Bukan itu maksudku Kak. Justru semuanya semakin jelas di depan mata setelah aku kenal sama Sherin."


"Aku sama Jura lagi nyari seorang mata-mata dan peneror. Bulan lalu Daniel diteror sama seseorang. Dia minta Daniel nyerahin Sherin sama mereka karena Daniel pernah deketin Sherin. Terus ada orang yang nitipin Sherin ke Wisnu dan bahkan ngancam supaya Wisnu bener-bener jaga Sherin."


"Terus ada orang yang kayaknya sengaja ngebakar kontrakan Sherin seolah-olah orang itu pengen Sherin mati." kata Ralvin menyampaikan semua kebingungannya.


"Kalau dilihat dari semuanya, kayaknya ada tiga pihak. Satu minta Sherin ada di tangannya, satu lagi menghindarkan Sherin dari orang-orang itu, dan satunya lagi pengen melenyapkan Sherin." kata Calvin menyimpulkan.


Braham mengangguk dan tersenyum. Ia bangga pada anak-anaknya yang sangat cerdas layaknya intelijen negara.


"Ya itulah yang aku pikirin Kak. Memangnya Sherin punya keistimewaan apa sih sampe dia diincar sama orang-orang itu? Aku pusing mikirin itu. Sherin kelihatannya gadis normal kayak yang lainnya." kata Ralvin sambil mengacak-acak rambutnya sendiri.


"Hmm papah juga gak terlalu tau Ral. Soalnya semua berkas tentang Sherin menyebutkan kalau Sherin memang lahir dari rahim ibunya yang kamu bilang ibu angkatnya. Kayaknya ada seseorang yang sengaja mengubur identitas asli Sherin dalam-dalam." kata Braham.


"Iya Pah, memang begitu faktanya. Ralvin sama Jura udah meriksa Sherin ke dokter bedah plastik. Dan memang benar, Sherin sengaja dioperasi plastik untuk mengubur identitas asli nya." kata Ralvin kemudian menceritakan ulang cerita yang di sampaikan oleh Dokter Subro.


"Tapi, sehabis dokter itu cerita, dia langsung meninggalkan di tempat, kayak keracunan gitu. Dokter yang mengautopsi jenazahnya sampe sekarang gak ada ngasih kabar." kata Ralvin di akhir penjelasannya.


Braham dan Calvin cukup kaget mendengar cerita Ralvin. Mereka langsung dapat menebak bahwa setiap gerak-gerik Sherin selalu dalam pengawasan orang itu. Ia khawatir akan terjadi hal yang lebih parah lagi.


"Kenapa kamu gak laporin masalah ini sama forensik? Papah rasa itu pembunuhan disengaja." kata Braham.


"Dari mana Papah bisa menyimpulkan itu pembunuhan?" tanya Ralvin bingung.


"Ralvin, Papah pernah tinggal di Amerika. Di sana banyak mafia dan pengusaha gelap yang gunain berbagai cara untuk jatuhin musuhnya. Gak jarang mereka menanam racun dalam tubuh sasaran. Pada saat yang udah ditentuin, mereka bisa ledakin racun itu dan berakhir seolah sasaran mereka habis makan racun." jawab Braham.


"Maksudnya Papah mungkin orang yang ngincar Sherin itu juga mafia atau pengusaha gelap dari Amerika?" tanya Ralvin menarik kesimpulan.


"Iya, mungkin gitu. Semua kemungkinan harus kita curigai kan?." kata Braham.


"Udahlah, yang pertama kita harus lumpuhkan itu Ghani. Selaku orang yang ngurus Sherin. Pasti dia tahu semua informasi tentang Sherin. Kita bakal ngorek itu dari dia kalau dia udah kita ringkus." kata Calvin yang akhirnya angkat bicara.


"Iya, kamu betul. Kita harus fokus dulu sama Ghani." kata Braham.

__ADS_1


__ADS_2