(Revisi)Sopir Bajaj Elite Yang Aku Sayang

(Revisi)Sopir Bajaj Elite Yang Aku Sayang
Jura ke Bali


__ADS_3

"Gak mungkin." kata Sherin sambil menggelengkan kepalanya berkali-kali.


Ralvin dan Jura duduk di samping Sherin.


"Mimpi yang kamu dapatkan itu, sebenernya bukan mimpi. Tapi itu adalah ingatan masalalu kamu." kata Jura.


"Orang di bayangan kamu itu, sekarang dia makin deket sama tujuannya. Kami berdua lagi berusaha nemukan siapa orang-orang itu dan kenapa mereka ngincar kamu."kata Ralvin menimpali.


"Udah, sekarang kamu istirahat aja dulu. Jangan banyak pikiran, Ok?" kata Jura.


Sherin tidak menjawab, apa yang diucapkan oleh Ralvin dan Jura sampai saat ini belum bisa Sherin percaya. Jura dan Ralvin meninggalkan Sherin sendiri. Mereka memberi waktu agar Sherin bisa menerima semua kenyataan ini.


* * * *


Ralvin dan Jura duduk di ruang tamu. Mereka sedang membicarakan tentang Bima. Siapa Bima dan apa tujuannya? Apakah dia yang menitipkan Sherin pada Wisnu? Atau orang yang ingin membunuh Sherin? Atau juga orang yang ada di dalam ingatan masa kecil Sherin? Mereka berdua sungguh bingung memecahkan teka-teki itu.


"Menurut kamu gimana Ral? Apa yang pertama-tama kita jalanin?" tanya Jura.


Ralvin menarik nafas. Ia sendiri bingung harus bagaimana. Biasanya ia memiliki ide cemerlang seperti berlian. Tapi entah mengapa kali ini pikirannya buntu.


"Entahlah Ra, aku juga bingung. Mungkin kita harus pakai mata-mata nya Kak Calvin. Mereka pakai mata-mata kita juga harus pakai. Mereka pakai siasat, kita juga. Itu cara satu-satunya melawan mereka." jawab Ralvin.


Jura menganggukkan kepala. Yang dikatakan oleh Ralvin memang benar. Orang yang lari pakai motor harus dikejar pakai motor juga.


"Oh ya, aku belum ngabarin papah sama Kak Calvin. Nanti mereka cemas sama kita. Tunggu ya Ra, aku mau nelepon mereka dulu." kata Ralvin lalu meninggalkan ruang tamu.


Jura menarik nafas panjang. Ia tidak menyangka akan menghadapi drama seperti ini. Tapi bagaimana lagi, demi adiknya, ia harus terjun ke dalam peran drama itu. Dering ponsel Jura berbunyi, ia segera mengangkat telepon.


"Hallo Mah." sapa Jura.


"Hallo Jura. Maafin mamah baru ngabarin kamu sekarang. Kamu udah tau kan apa yang terjadi sama keluarga kita?" tanya Yani dari seberang telepon. Suara Yani seperti sedang menahan tangis.


"Iya Mah, Jura udah tau semuanya." jawab Jura.


Mereka terdiam beberapa saat. Meratapi nasib yang sudah terjadi.


"Maafin mamah dan papah kamu ya." kata Yani yang kali ini suara tangisnya terdengar jelas.


"Udah Mah, gak perlu minta maaf. Jura udah maafin semuanya. Ini udah takdir." kata Jura.


"Bilang juga sama Sherin, mamah minta maaf. Selama ini mamah udah keterlaluan sama dia. Mamah nyesel Ra." kata Yani.

__ADS_1


"Mah, mamah gak perlu minta maaf sama Sherin. Sherin itu anak yang baik banget, dia udah maafin mamah dari dulu. Dia bilang sayang sama mamah." kata Jura sambil mengelap air mata yang hampir jatuh.


"Oh ya Ra. Mamah nelepon kamu ini karena ada sesuatu." kata Yani yang sudah berhenti menangis.


"Apa itu Mah?" tanya Jura.


"Sejak tau kondisi keluarga kita, nenek kamu langsung jatuh sakit. Mamah minta kamu pulang ke Bali. Bantu mamah jagain nenek kamu." kata Yani.


Tanpa pikir panjang Jura langsung menyanggupi nya. Jura sangat menyayangi nenek dari ibunya itu. Neneknya lah yang mengurus dirinya dari bayi sampai usia 9 tahun. Setelah berbicara beberapa menit, Jura dan ibunya mengakhiri pembicaraannya.


Tak lama kemudian, Ralvin kembali lagi ke ruang tamu. Ia duduk di samping Jura.


"Kenapa wajah kamu kusut gitu? Kayak belum disetrika." kata Ralvin.


"Nenekku sakit Ral. Aku diminta bantu mamah jagain nenek." kata Jura.


"Di mana?" tanya Ralvin.


"Di Bali." jawab Jura.


"Ha? Jauh banget. Memangnya ibu kamu orang Bali?" tanya Ralvin.


Jura mengangguk, "Iya, mamahku orang Bali dan papahku orang Bandung. Setelah nikah mamahku masih tinggal di Bali. Tapi setelah ngelahirin aku, mamah pindah ke Bandung pas papah pulang dari Amerika. Aku dititipkan ke nenek dan tinggal di Bali sampai usia 9 tahun." jawab Jura.


"Terus Sherin gimana?" tanya Jura.


"Sherin juga biar aku yang jaga. Kamu tenang aja. Aku bakal jaga dia kayak kamu jagain dia." kata Ralvin sambil menepuk bahu Jura.


"Makasih Ral, kamu udah banyak bantu aku sama Sherin." kata Jura sambil balas menepuk bahu Ralvin.


* * * *


Keesokan harinya, pagi-pagi sekali, Ralvin dan Sherin mengantarkan Jura ke Bandara. Sebenarnya Sherin sangat berat hati ketika Jura mengatakan akan pergi ke Bali. Tapi bagaimana lagi, itu memang yang harus dilakukan oleh seorang anak dan juga cucu ketika ibunya dan neneknya meminta bantuan.


Sesampainya di depan ruang check-in Bandara, Jura memeluk erat tubuh Sherin. Begitu juga sebaliknya.


"Kamu jaga diri baik-baik ya. Ingat, kalau ada apa-apa kasih tau Ralvin. Kakak udah nyerahin tanggung jawab kakak ke Ralvin selama kakak di Bali." kata Jura.


"Iya Kak. Kakak hati-hati ya. Sering-sering kabarin Sherin ya.".


Ralvin tersenyum, baru kali ini ia melihat drama perpisahan seorang adik dan kakak. Dulu saat ia meninggalkan Australia, kakak-kakaknya tidak memeluknya ataupun memberikan ucapan manis seperti Sherin dan Jura. Malah mereka menakut-nakuti Ralvin bahwa di Jakarta banyak preman dan perampok. Ia akan mati jika bertemu preman jalanan. Sungguh kakak yang tidak baik, begitu pikir Ralvin saat itu.

__ADS_1


"Ralvin, tolong tepatin janji kamu. Cuma kamu satu-satunya orang yang aku percaya." kata Jura pada Ralvin.


"Pasti Ra." kata Ralvin.


Setelah itu Jura melambaikan tangan pada Sherin dan Ralvin. Sherin dan Ralvin membalas lambaian tangan itu. Jura berjalan masuk ke ruang check-in.


"Kok malah nangis?" kata Ralvin setelah mengalihkan pandangan pada Sherin.


Sherin mengelap air matanya, "Cuma sedih aja. Baru kali ini aku jauh dari Kak Jura." kata Sherin.


Ralvin menarik tangan Sherin lalu memeluk gadis itu.


"Udah jangan nangis, jelek tau." kata Ralvin sambil mengelus kepala Sherin.


"Memangnya kalau gak nangis cantik?" tanya Sherin yang masih dalam pelukan Ralvin.


"Tetep jelek.".


"Ish, kamu gitu." Sherin cemberut sambil melepas pelukan Ralvin.


Ralvin tertawa terkekeh. Ini yang ia suka dari Sherin. Wajah cemberutnya sangat lucu dan menggemaskan.


"Ya udah ayo pulang. Aku harus ke kantor lagi." kata Ralvin.


"Terus aku? Aku udah lama gak ke kantor. Apa kata orang nanti?" kata Sherin yang kini sudah berjalan mengikuti Ralvin.


"Udahlah, kalau calon istri CEO gak perlu masuk kerja tiap hari." kata Ralvin dengan santai.


"Hmm merasssa." tegas Sherin sambil kembali cemberut.


Mereka hampir sampai mobil, tapi Ralvin memutar badan dan berdiri menghadap Sherin.


"Kamu gak merasa? Hei, kamu itu udah sering tinggal satu atap sama aku, kamu juga udah sering aku peluk. Masa masih gak merasa jadi calon istri aku?" kata Ralvin.


"Ya udah kalau gitu mulai sekarang kamu gak usah nawarin aku tinggal satu atap sama kamu." kata Sherin sambil berkacak pinggang.


Ralvin kembali tertawa, kali ini tawanya lebih keras.


"Kamu lucu banget deh kalau lagi marah gini," kata Ralvin sambil mencubit hidung Sherin, " Aku cuma bercanda. Aku cuma pengen lihat wajah kamu yang kayak gini. Bikin aku gemes tau gak." kata Ralvin sambil kembali mencubit hidung Sherin.


"Iiih, jangan cubit-cubit. Ini hidung cuma satu." kata Sherin sambil menepis tangan Ralvin.

__ADS_1


Sherin meneruskan langkahnya dan masuk ke dalam mobil meninggalkan Ralvin yang masih asik tertawa.


__ADS_2