(Revisi)Sopir Bajaj Elite Yang Aku Sayang

(Revisi)Sopir Bajaj Elite Yang Aku Sayang
Australia


__ADS_3

Bangunan gedung tinggi menjulang, jalanan tertib terlihat, para pejalan kaki berkulit putih dan berambut pirang berlalu-lalang. Di sebuah rumah besar yang mewah, dua orang pria sedang duduk berhadapan di ruang tamu. Satu pria yang masih muda dengan seorang pria yang sudah paruh baya, terlihat sudah sangat akrab.


"Terima kasih mau membantu papah di sini" kata Braham.


"Iya Pah, udah jadi kewajiban anak untuk membantu orang tuanya" kata Ralvin.


"Semua berkas udah papah siapkan, kamu tinggal bantu hitung jumlah saham yang bakal kita kasih, terus pertimbangin kemungkinan untung dan ruginya" kata Braham menjelaskan.


"Iya Pah" kata Ralvin.


Seorang asisten rumah tangga datang ke ruang tamu membawa sebuah tempayan berisi kopi dan makanan ringan. Setelah asisten rumah tangga itu kembali ke dapur, Braham meneruskan percakapan mereka.


"Papah juga dapat kabar, sepertinya musuh dalam selimut yang selama ini kita cari sedang berada di Indonesia" kata Braham dengan serius.


"Ralvin udah menjalani misi kita di Indonesia, hasilnya nihil Pah. Ralvin gak menemukan orang itu, mungkin aja orang itu bukan dari kalangan miskin" kata Ralvin.


"Tapi kamu tetep harus jalankan misi itu" kata Braham.


"Iya Pah, Ralvin pasti akan terus cari orang itu dan Ralvin gak akan nyerah" kata Ralvin dengan semangat.


"Jessika juga udah ke Indonesia dua minggu yang lalu" kata Braham sambil menatap wajah Ralvin.


"Udahlah Pah, gak usah bahas dia. Ralvin juga udah pernah ketemu dia di Jakarta" kata Ralvin.


"Janji harus ditepatin Nak" kata Braham.


Ia tahu anaknya itu sangat benci ketika membahas sesuatu tentang Jessika. Jessika adalah teman kuliah Ralvin. Dulu Ralvin sangat mencintai Jessika, namun Jessika memilih pria lain yang berkarier sebagai model. Setelah lulus kuliah Ralvin dan Jessika kembali bertemu dan mereka menjalin hubungan. Sampai pada suatu hari, Jessika terkena penyakit tumor otak. Karena pada saat itu Ralvin sangat mencintai Jessika, ia pun berjanji pada Jessika dan orang tua Jessika bahwa ia akan menikahi Jessika apapun yang terjadi. Dari itulah Ralvin dan Jessika ditunangkan.


Dua tahun kemudian Jessika sembuh dari penyakitnya, ia pergi ke Amerika untuk menjadi seorang model. Sungguh Ralvin tidak suka dengan Jessika yang dengan senang hati memamerkan tubuhnya pada jutaan orang. Saat itulah rasa cinta Ralvin mulai luntur. Tapi karena ia sudah terlanjur janji pada kedua orang tua Jessika yang merupakan teman dekat ibunya, Ralvin pun tidak bisa berbuat apa-apa.


"Pah, Ralvin mau video call sama Daniel dulu ya. Mau nanya soal kerjaan di sana".


Ralvin izin pergi ke kamarnya. Rumah kedua orang tua Ralvin di Australia memang sangat besar dan mewah dibandingkan dengan rumah dirinya di Jakarta. Di Jakarta ia tinggal sendirian karena kakaknya, Viola, tinggal di Semarang mengurus sebuah usaha kue yang sangat sukses. Dan kakak laki-lakinya, Calvin tinggal di Jakarta tapi tidak tinggal serumah dengannya.


"Hai Dan, gimana perusahaan?" tanya Ralvin ketika sambungan video call sudah tersambung.


"Lancar semua kok Ral. Kalau kamu di sana gimana?" Daniel balik bertanya.


"Baru aja selesai rapat. Besok baru ngurus-ngurus yang lain" jawab Ralvin santai.


"Eh kamu tau gak? Aku diteror sama seseorang" kata Daniel.


"Ya mana aku tau kan gak kamu kasih tau".

__ADS_1


"Aku serius" kata Daniel dengan sangat serius.


"Sama siapa?" tanya Ralvin yang ikut serius.


"Ya mana aku tau. Kalau aku tau, namanya bukan teror dong" jawab Daniel sedikit kesal karena Ralvin malah bertanya konyol.


"Aku diteror sama laki-laki bersuara besar. Katanya aku harus nyerahin Sherin ke dia. Aku tanya sama Jura, tapi dia bilang Sherin gak pernah punya musuh karena masa kecilnya dia gak pernah main sama temennya. Dia kehilangan masa kecil karna ibunya ngelarang dia untuk main. Jadi kami bingung" kata Daniel panjang lebar.


"Minta Sherin? Kok bisa? Memangnya Sherin barang berharga?" Ralvin malah memberikan rentetan pertanyaan.


Ralvin sebenarnya sangat terkejut ketika Daneil mengatakan ia diteror oleh seseorang yang meminta Sherin.


"Kapan orang itu neror kamu?" tanya Ralvin.


"Kemarin, sebelum kamu berangkat ke Australia".


"Kok kamu gak ngasih tau aku dari kemarin?" tanya Ralvin kesal.


"Loh kok kamu malah marah sama aku sih. Kan aku yang diteror, bukan aku yang neror" Daniel kesal karena Ralvin bertanya dengan nada tinggi.


"Soalnya aku juga lagi pusing. Aku masih nyelidikin orang yang jadi pelaku pembunuhan dua puluh tahun yang lalu." kata Ralvin kesal.


"Terus kamu balik ke Indonesia kapan?" tanya Daniel.


"Hari Jum'at aku udah di Indonesia" jawab Ralvin.


"Males, repot bawanya".


"Bawain perempuan bule dong" Daniel pura-pura merengek.


"Entar aku bawain rambutnya aja" kata Ralvin bercanda.


"Untuk apa?".


"Untuk dipelet, hahaha".


Ralvin dan Daniel selalu bercanda ketika berada di luar kantor. Sifat Ralvin yang selalu marah-marah tidak pernah Ralvin tunjukkan ketika bersama temannya itu. Tak terasa sudah satu jam mereka melakukan video call.


"Dan, udah dulu ya, kuotaku nanti abis nih" kata Ralvin.


"Orang kaya kok mikir kuota. Ya udah, lagian aku juga mau mandi. Di sini udah gelap" kata Daneil.


Mereka mengakhiri panggilan video call. Ralvin membanting diri pada ranjang yang empuk. Pikirannya melayang entah ke mana. Sudah lima tahun ia melakukan misi yang diberikan ayahnya, tapi hasilnya tidak ada. Sulit sekali menemukan orang yang sudah menghancurkan perusahaan ayahnya dulu. Jika orang itu tidak segera ditemukan, maka orang itu akan semakin menjadi. Sampai saat ini orang-orang itu masih meneror keluarganya.

__ADS_1


"Kalau sampe aku berhasil nemuin kalian, aku jamin kalian gak akan bisa hidup tenang" kata Ralvin lalu tanpa sadar ia memejamkan mata.


* * * *


"Kak, akhir-akhir ini Sherin sering mimpi buruk loh".


Sherin dan Jura sedang duduk di bangku taman depan rumah. Di taman itu hanya diterangi lampu berwatt kecil. Sherin menceritakan semua mimpi buruknya yang seolah-olah saling bersangkutan dan berkelanjutan. Sherin juga mengatakan bahwa mimpi itu tidak datang saat ia sudah tertidur lelap, tapi dengan hanya memejamkan mata sebentar, mimpi itu sudah muncul.


"Mungkin kamu terlalu banyak pikiran dan kecapean. Kata si Filly kamu kan sering marah-marah ke Pak Ralvin" kata Jura.


"Mungkin ia juga Kak" kata Sherin sambil tersenyum.


Yani berjalan ke taman ketika melihat Sherin dan Jura sedang berbicara serius di depan rumah. Yani langsung duduk di samping Jura yang membuat kedua anaknya terkejut.


"Kenapa? Kayak lihat nenek lampir aja" kata Yani dengan galak.


"Enggak kok Mah, cuma Mamah datangnya bikin kaget" kata Sherin dengan lembut.


"Gak ada yang ngomong sama kamu. Mamah ngomong sama Jura" kata Yani ketus.


Jura hanya terdiam ketika ibunya sudah mulai menyudutkan Sherin. Sebenarnya Jura ingin sekali membela adiknya, tapi ia tahu bahwa bantuan darinya hanya akan menyulitkan Sherin.


"Besok Sherin jangan kerja dulu".


Mendengar ucapan Yani, Sherin menoleh cepat pada ibunya.


"Kenapa Mah? Kan Sherin kerja buat ringanin biaya hidup Sherin biar gak ngerepotin Mamah" kata Sherin dengan bingung.


"Kalau Mamah bilang jangan kerja ya kamu harus nurut dong" Yani berbicara dengan nada tinggi.


"Kamu harusnya bisa kayak Jura, bisa buat mamah bangga" kata Yani lagi.


"Mah, kurangnya Sherin apa? Dari kecil Sherin selalu nurut apa kata Mamah. Sherin sekolah selalu dapat beasiswa, uang jajan gak minta ke Mamah. Tapi kenapa Mamah selalu bilang Sherin ngerepotin dan selalu nyusahin?" kali ini Sherin mengeluarkan unek-unek di hatinya.


"Karena kehadiran kamu buat keluarga kita hancur! Perusahaan papah kamu jadi bangkrut dan gak bersisa. Mamah jadi harus ngambil Jura dari Bali yang mamah titipin di neneknya. Kurang puas kamu buat keluarga kita hancur?" Yani berbicara penuh amarah.


"Cukup Mah, jangan bilang gitu lagi" kata Jura.


"Kamu gak tau apa-apa Jura! Karena dia, nyawa kamu pernah dalam bahaya".


Jura memang tidak tahu masa kecil Sherin. Sejak bayi Jura sudah dititipkan pada nenek kakeknya yang berada di Bali. Ia tidak melihat kelahiran adiknya, tidak melihat masa balita Sherin yang lucu. Ketika ia berusia 9 tahun, tiba-tiba ibunya menjemputnya dari Bali dan mengatakan bahwa nyawanya dalam bahaya ketika itu.


"Mah, Kak, maafin Sherin kalau kelahiran Sherin udah buat Mamah dan Kak Jura susah" Sherin meneteskan air mata.

__ADS_1


Sherin sudah tidak asing dengan jawaban ibunya itu. Ibunya selalu menyangkut pautkan kebangkrutan perusahaan ayahnya dengan kelahiran dirinya. Sungguh itu adalah perkataan yang sangat menyakitkan bagi seorang anak ketika ibunya sendiri menyesali kelahiran anaknya.


Tanpa berkata-kata lagi, Sherin langsung masuk ke dalam rumah dengan isak tangis. Isak tangis itu yang selalu menjadi temannya setiap kali ia duduk berbicara bersama ibunya.


__ADS_2