
Di salah satu ruangan di lantai dua belas, Ralvin, Daniel, Viola, Sifa, dan David sedang duduk di sofa mewah. Kedatangan David yang secara tiba-tiba membuat persiapan penyambutan David hanya sekedarnya saja. David adalah pria yang tidak gila hormat sehingga kekurangan dalam penyambutannya tidak ia permasalahkan.
"Saya sengaja datang secara mendadak karena memang tidak ingin kalian menyiapkan sesuatu dengan repot-repot" kata David yang sudah berusia 50 tahun.
David tidak bisa memakai bahasa Indonesia sehari-hari karena ia bukanlah penutur asli bahasa Indonesia. Ia bisa berbahasa Indonesia karena ia menikah dengan wanita Indonesia.
"Kapan Anda tiba di Indonesia? Bukankah perusahaan Anda di Amerika sedang sibuk Pak?" kata Ralvin dengan penuh hormat.
"Baru kemarin saya tiba di Indonesia. Ibu mertua saya sakit, jadi istri saya ingin merawatnya. Setelah ibu mertua saya sehat, saya akan kembali lagi ke Amerika" jawab David.
"Ayahmu tidak sedang di Indonesia ya?" tanya David pada Ralvin.
"Tidak Pak, Ayah saya sedang sibuk dengan urusan perusahaannya di Australia" jawab Ralvin.
David mengangguk sambil tersenyum. Ia tahu rekan bisnisnya itu sedang sibuk karena ayahnya Ralvin akan membuat cabang baru di Australia. David merogoh saku jasnya dan mengeluarkan ponsel ketika ponsel bergetar. Karena ia adalah orang yang sibuk, maka ia harus sering mengecek ponselnya. David mengerutkan keningnya ketika membaca sesuatu di ponselnya.
"Ralvin, apakah kamu ada seorang penerjemah bahasa Prancis?" tanya David.
"Ada Pak. Apakah ada yang bisa saya bantu?" kata Ralvin.
"Rekan saya mengirim email menggunakan bahasa Prancis. Jika saya menggunakan translator yang tersedia di ponsel, saya khawatir terjemahannya tidak akurat" kata David.
Ralvin memerintahkan Daniel untuk menghubungi Filly yang bekerja sebagai penerjemah bahasa Prancis. Daniel pun langsung melaksanakan perintah Ralvin.
Beberapa menit kemudian, Filly sudah tiba di ruang santai di lantai dua belas. Ia mengetuk pintu lalu masuk ke dalam. Filly sangat gugup karena sekarang ia berada di antara para petinggi perusahaan Citra Jaya. Ia berdiri dengan sopan.
"Maaf Pak, Bapak panggil saya?" tanya Filly basa-basi.
"Iya, Pak David mendapat email bahasa Prancis, tolong terjemahin ya" jawab Ralvin.
Filly mengangguk lalu meminta izin pada David untuk melihat emailnya. Filly bekerja dengan baik dan cepat. Tentu saja, karena semua karyawan di Citra Jaya selalu di tuntut oleh Ralvin untuk bekerja dengan sempurna dan serba cepat.
Tidak butuh waktu lama, Filly sudah selesai menerjemahkan. Setelah selesai, Filly undur diri untuk kembali ke ruang kerja.
__ADS_1
"Gadis itu mengingatkan saya pada putri saya" kata David setelah Filly pergi.
"Anda punya seorang anak?" tanya Ralvin terkejut.
Yang Ralvin tahu selama ini Pak David tidak memiliki anak satu pun. Ia terkejut ketika David mengatakan hal tersebut.
Wajah David berubah menjadi sedih. Sepertinya ada hal yang tidak menyenangkan ketika mengingat putrinya.
"Saya tidak tahu apakah sekarang dia masih hidup atau tidak. Saya kehilangan dia delapan belas tahun yang lalu." kata David. Tak sadar air matanya menetes.
"Kehilangan seperti apa Pak?" tanya Ralvin bingung.
"Saya juga bingung bagaimana menceritakannya. Hanya satu yang saya dan istri saya harapkan sedari delapan belas tahun yang lalu, yaitu semoga putri kami masih hidup dan hidup bahagia dan layak" kata David sambil menyeka air matanya.
Dalam beberapa detik ruangan itu menjadi hening. Mereka semua menghargai kesedihan yang dirasakan oleh David.
"Hahah kenapa jadi membahas masalah pribadi saya. Ayo kita lanjutkan membahas perpanjangan kontrak kerja sama" kata Davin berusaha mengembalikan suasana yang sempat kaku.
"Oh..iya tentu saja" kata Ralvin.
"Bagaimana Ralvin? Apakah setuju?" tanya David setelah pembahasan selesai.
"Tentu saja saya sangat setuju Pak. Tapi saya juga sangat gugup sekali, saya baru satu tahun memegang Citra Jaya, jadi baru kali ini saya membahas kerja sama yang sangat besar" jawab Ralvin dengan jujur.
"Santai saja Ralvin, saya paham karena kamu masih belum lama memegang dan mengendalikan perusahaan besar seperti Citra Jaya ini. Jika pun ada kesalahan, mungkin saya bisa menutupi kerugiannya jika memang tidak terlalu besar"kata David.
"Terima kasih atas pengertiannya Pak" kata Ralvin penuh hormat.
* * * *
Filly memegangi jantungnya yang akan copot sejak dipanggil ke ruangan di lantai dua belas. Ia tidak menyangka akan berada di ruangan para bos itu. Tangan Filly masih dingin dan gemetar.
Sherin melihat kedatangan Filly tidak merespon apa pun karena ia pikir Filly dalam kondisi baik-baik saja. Filly memang sosok yang ceria, tapi ia juga mudah gugup.
__ADS_1
"Kamu kenapa Ly?" tanya Dita yang tahu Filly sedang gugup dan gemetaran.
Filly berjalan ke bangku kerjanya. Ia masih mengatur nafas dan mengingat apa yang ia alami tadi.
"Pasti dia gugup lah, apalagi?" kata Hendry yang menyerobot jawaban.
Sherin diam saja tanpa merespon teman-temannya yang mulai bergosip lagi. Semenjak hal memalukan yang ia katakan di kantin kantor tadi, Sherin sudah tidak terlalu banyak bicara.
"Rin, tadi aku ketemu sama Kak Jura. Katanya dia mau pulang bareng sama kamu" kata Filly yang sudah bisa menguasai dirinya.
"Oh, ok. Makasih udah ngasih tau" kata Sherin sambil tersenyum sekilas.
* * * *
Jam pulang kantor sudah tiba, David yang sedari siang berada di kantor Citra Jaya pamit untuk pulang. Ralvin mengantarkan tamunya itu sampai ke lobby. Tidak sengaja Ralvin bertemu dengan Sherin yang akan pulang bersama Jura. Mata mereka saling bertemu, tapi itu tidak bertahan lama setelah Sherin langsung tertunduk.
"Apa yang Anda perhatikan Ralvin?".
Pertanyaan David menyadarkan Ralvin yang sudah menatap Sherin cukup lama. Ralvin mengalihkan matanya pada David dan tersenyum ramah.
"Saya hanya melihat karyawan baru saya saja Pak" jawab Ralvin dengan jujur.
"Yang mana?" tanya David yang tiba-tiba penasaran.
Ralvin menujuk pada Sherin yang sedang menscan ID Card di tempat scanner. Cukup lama David memperhatikan Sherin. Ia merasa ada sesuatu di dalam Sherin. Terutama ketika Sherin sedang tersenyum pada Jura yang berdiri di sampingnya.
"Kenap Pak?" tanya Ralvin.
Ia bingung melihat David menatap Sherin lama. Ia pikir apakah orang tua ini masih menyukai wanita muda? Jika benar, maka Ralvin akan hilang rasa hormat padanya. Ia tidak suka pada pria yang berumur setengah abad masih saja jelalatan ketika melihat seorang gadis.
"Tidak, dia cantik ternyata. Pantas saja Anda memperhatikannya. Seandainya putri saya masih hidup, mungkinkah dia akan secantik gadis itu?" kata David sambil tersenyum nanar.
Ralvin mengambil nafas dalam, ternyata pria tua itu teringat putrinya, bukan karena menyukai gadis muda.
__ADS_1
"Saya tidak memperhatikannya, hanya saja ingin melihatnya" kata Ralvin sambil tertawa kecil.
"Itu hampir sama" kata David yang ikut tertawa.