(Revisi)Sopir Bajaj Elite Yang Aku Sayang

(Revisi)Sopir Bajaj Elite Yang Aku Sayang
Hari pertama di rumah Calvin


__ADS_3

Cahaya matahari pagi sudah menyoroti jendela kamar. Sherin membuka matanya. Ia melihat jam dinding dan ternyata waktu sudah jam 9.00 pagi. Tak terasa ia sudah tidur dengan nyenyak. Setelah merenggangkan seluruh tubuhnya, Sherin keluar kamar dengan gontai.


Di tengah rumah, ia melihat Calvin masih tidur di sofa hanya menggunakan satu bantal, tanpa selimut. Calvin menekuk lututnya untuk mengurangi rasa dingin. Walaupun matahari cerah, tapi di dalam kontrakan Calvin suhunya masih dingin.


Karena tidak tega melihat Calvin kedinginan, Sherin kembali ke kamar untuk mengambil selimutnya, setelah itu ia kembali lagi ke ruang tamu. Dengan perlahan Sherin menyelimuti tubuh Calvin.


Sekilas Sherin memperhatikan wajah Calvin dengan lekat. Setelah dilihat dengan seksama, wajah Calvin dan Ralvin memang sangat mirip. Tidak ada perbedaan sama sekali. Kelopak mata, hidung, kulit wajah, alis, bibir dan rahangnya sangat mirip. Apakah mereka orang yang sama?


Saat sedang memikirkan hal itu, Calvin bergerak sambil menarik selimutnya.


"Jangan lihatin aku kayak gitu" kata Calvin pelan hampir tidak jelas.


Awalnya Sherin akan mundur ke belakang, tapi dilihatnya Calvin kembali tertidur. Mungkin Calvin sedang mengigau. Melihat Calvin kembali tertidur pulas, Sherin memutuskan untuk pergi ke dapur. Tiba-tiba tangan Calvin meraih tangannya.


"Mau ke mana?".


Sekarang Sherin menoleh pada Calvin. Mata Calvin sudah terbuka walaupun belum terlalu lebar. Rambutnya acak-acakan dan mata indahnya menyipit karena silau oleh lampu rumah. Melihat Calvin seperti itu, pria itu samakin tampan. Jika saja Calvin adalah suaminya, Sherin pasti sudah melompat ke dalam pelukan Calvin.


"Mau masak" jawab Sherin singkat.


"Untuk apa masak?" tanya Calvin yang masih menggenggam tangan Sherin.


"Aku kan udah tinggal di rumah kamu, masa aku gak ada balas budinya sih. Ya minimal masakin sarapan buat kamu" jawab Sherin.


Calvin tersenyum. Kali ini senyumnya terlihat sangat manis. Mungkin selama ini Sherin selalu marah-marah kepada Calvin hingga tidak menyadari bahwa wajah dan senyum Calvin sangat menawan.


"Bantu aku bangun, aku juga pengen masak" kata Calvin sambil mengulurkan tangannya yang satu lagi.


"Memangnya kamu bisa masak?" tanya Sherin mengejek.


"Bisa dong. Ayo cepetan" rengek Calvin.


"Kak Jura belum pulang?" tanya Sherin mengalihkan perhatian agar ia tidak perlu menarik tangan Calvin.


"Belum. Cepetan tarik" Calvin merengek.


Terpaksa Sherin menarik tangan Calvin agar pria itu bisa bangun.


Bukannya Sherin yang menarik Calvin, tapi Calvin lah yang menarik tangan Sherin hingga gadis itu jatuh ke dalam pelukannya. Sherin membulatkan matanya. Ia tidak menyangka Calvin akan melakukan hal itu.


"Lepasin!" teriak Sherin.


Calvin melepaskan Sherin, ia tertawa keras melihat wajah Sherin yang memerah karena malu.


"Jangan kurang ajar ya" Sherin marah-marah.


"Nah, kalau udah marah-marah kayak gini baru aku suka. Aku jadi semangat mau masak" kata Calvin tanpa merasa bersalah.


"Dasar aneh" Sherin langsung pergi ke dapur.

__ADS_1


Di dapur, Sherin membuka kulkas untuk mencari sayuran. Di dalam kulkas itu hanya ada mie instan dan beberapa botol minuman seperti jus siap saji dan juga susu.


"Dasar laki-laki, kalau tinggal sendirian gini nih, cuma ada mie. Lagian ngapain mie malah dimasukin dalam kulkas" gerutu Sherin pelan.


"Cari apa?".


Tiba-tiba Calvin sudah ada di belakangnya. Calvin melihat Sherin yang sedari tadi menggerutu tidak jelas.


Sherin menutup kulkas dan berbalik badan.


"Gak ada sayuran ya?" tanya Sherin.


"Memangnya kamu mau makan sayur?" Calvin malah balik bertanya.


"Memangnya kenapa?" tanya Sherin.


"Sangkain kamu gak pernah makan sayur, soalnya badan kamu ringan" ejek Calvin.


"Emangnya tau dari mana kalau aku ini ringan? Dasar sok tau" kata Sherin.


"Pas kamu pingsan di depan rumah kan aku yang bawa kamu, terus pas tadi aku peluk kamu juga kamu makin kurus deh kayaknya".


Sherin membulatkan matanya. Ia malu ketika Calvin lagi-lagi membahas soal kejadian tadi.


Sherin mencari barang yang sekiranya bisa ia lempar pada Calvin. Begitu melihat sandal untuk ke kamar mandi, Sherin segera mengambil sendal itu dan langsung memukuli Calvin.


"Eh ampun, iya iya maaf" Calvin melindungi kepalanya dengan tangan.


Calvin menangkap tangan Sherin yang akan melayangkan sandal, dengan cepat Calvin membalikan tangan Sherin dan tubuh Sherin. Sekarang Sherin membelakangi Calvin dengan tangan yang berada di punggungnya.


"Jangan pukul aku lagi" kata Calvin berbisik di telinga Sherin.


"Ok, ok, lepasin, ini sakit" pinta Sherin.


Calvin melepaskan tangan Sherin dan membiarkan Sherin berbalik badan menghadapnya. Sherin cemberut dan menyilangkan tangan di depan dada. Calvin tersenyum melihat tingkah Sherin.


"Jangan marah gitu dong. Kan kamu duluan yang mukul aku. Nanti aku laporin ke polisi loh" kata Calvin sambil terus tersenyum.


"Memangnya mau ngelapor atas tuduhan apa?" tanya Sherin menantang.


"Atas tuduhan kasus kekerasan dalam rumah tangga. Istri memukuli suaminya dengan sandal jepit" canda Calvin.


Sherin tidak tertawa, ia tetap cemberut dan marah. Calvin mencubit hidung Sherin sekilas.


"Udah jangan marah lagi. Kalau kamu pengen makan sayur, ya udah sekarang kita ke warung dulu. Mau gak?" ajak Calvin.


"Aku bisa sendiri" jawab Sherin ketus.


"Memangnya kamu tau di mana warung yang jualan sayuran lengkap? Kan kamu belum kenal betul tempat ini".

__ADS_1


Sherin berpikir sejenak. Yang dikatakan oleh Calvin memang benar, walaupun waktu itu ia pernah tinggal di kontrakan sebelah kontrakan Calvin, tapi Sherin memang belum tahu seluk beluk tempat itu. Dengan masih kesal, Sherin menangguk.


"Tapi aku pakai baju tidur?" kata Sherin.


"Warungnya deket kok" jawab Calvin.


Sherin cemberut, tadinya ia menginginkan Calvin berkata 'Ya udah biar aku aja yang ke warung'.


"Makin gemes deh kalau kamu cemberut gitu" kata Calvin.


Tanpa mempedulikan ucapan Calvin, Sherin pergi mendahului Calvin.


* * * *


"Bu beli kol 1 kg, wortelnya ½ kg." kata Sherin pada ibu warung.


"Kamu mau ngadain hajatan? Banyak banget, kan yang makan cuma kita berdua" protes Calvin yang berdiri di belakang Sherin.


"Terserah aku dong" jawab Sherin.


Ibu warung itu hanya tersenyum. Sambil menimbang berat sayuran, ibu itu sesekali memandang wajah Calvin dan Sherin.


"Mbaknya sama masnya cocok banget, cantik sama ganteng. Pengantin baru ya?" tanya ibu warung dengan ramah.


Sherin akan menggelengkan kepala, tapi Calvin sudah lebih dulu berbicara.


"Iya Bu, doa kan aja supaya kami cepet dapet momongan" kata Calvin santai.


"Eng...".


Calvin mencubit pelan tangan Sherin ketika Sherin akan membuka suara. Sherin menoleh ke belakang untuk melihat wajah Calvin. Dilihatnya Calvin memberikan kode agar Sherin tetap diam. Walau sangat kesal, Sherin hanya bisa diam.


Setelah sayuran sudah dibungkus dan dibayar, Sherin dan Calvin pulang ke kontrakan. Mereka berjalan kaki karena jarak antara warung dan kontrakan Calvin tidak terlalu jauh. Selama perjalan, Sherin hanya cemberut.


"Jangan cemberut gitu dong, marah-marah lebih bagus" kata Calvin.


"Kenapa kamu jawab iya tadi?" tanya Sherin kesal.


"Memangnya kamu mau nanti dikeroyok massa terus kita dinikahin? Ya kalau aku sih mau-mau aja, tapi kalau kamu?" kata Calvin santai.


Ingin sekali Sherin menampar mulut Calvin yang asal ceplos. Tapi setelah dipikir-pikir, yang dikatakan oleh Calvin memang benar. Jika orang tahu bahwa mereka bukan suami istri, pasti mereka akan dikeroyok massa karena Sherin tinggal satu rumah dengan Calvin yang bukan suaminya.


"Terserahlah" kata Sherin malas.


"Kamu mau masak apa?" tanya Calvin.


"Sop" jawab Sherin singkat.


"Gak pake ayam?" tanya Calvin.

__ADS_1


"Curi aja ayam tetangga, kan banyak" jawab Sherin asal.


Calvin tertawa, ternyata Sherin bisa bercanda ketika dirinya sendiri sedang marah. Jika saja ia bisa memperistri Sherin, pasti hari-harinya akan menyenangkan.


__ADS_2