
Sudah jam 7.00 malam, Sherin dan Ralvin baru tiba di hotel. Pukul 5.00 sore tadi mereka berdua tiba di Surabaya. Ralvin langsung membawa Sherin ke hotel untuk istirahat. Ia memesan kamar yang berhadapan dengan kamar Sherin.
Sherin menggeret koper birunya menuju lift. Ralvin berjalan lebih dulu lalu masuk ke dalam lift.
"Bye-bye." kata Ralvin sambil tersenyum pada Sherin yang masih berjalan.
Sherin melihat pintu lift akan tertutup.
"Iih..tunggu Pak!" Sherin memanggil sambil berlari.
Beruntung Sherin dapat masuk lift tepat waktu. Ia menatap tajam pada Ralvin sambil cemberut. Ralvin hanya tertawa terbahak-bahak. Ia senang berhasil menggarai Sherin lagi.
Tidak lama kemudian lift berhenti di lantai sepuluh. Ralvin dan Sherin keluar dari lift lalu berjalan santai menyusuri koridor. Mata Ralvin dan Sherin mencari nomor kamar mereka masing-masing. Kemudian keduanya berhenti di depan kamar nomor 114 dan kamar nomor 107.
"Nanti kalau ada apa-apa kamu bisa panggil saya." kata Ralvin.
"Iya Pak. Ya udah saya masuk dulu ya Pak.".
Sherin langsung membuka kunci pintu kamarnya dan masuk tanpa berkata apa-apa lagi pada Ralvin.Ia meletakkan koper di sudut kamar lalu duduk di sisi tempat tidur. Hotel bintang lima memang tidak perlu dipertanyakan bagaimana kemewahannya. Sherin berdecak kagum, baru kali ini ia menginap di hotel berbintang lima.
"Aku yakin pasti yang punya udah kaya tujuh turunan." kata Sherin sambil terus memandangi sekeliling kamar.
Ponsel Sherin berdering, tangan Sherin refleks merogoh tasnya. Kemudian ia menempelkan ponsel ke telinga.
"Halo Kak." sapa Sherin ceria.
"Halo Rin, kamu udah sampe belum?" tanya Jura.
"Udah Kak, tadi jam 5.00 sore udah sampe di Surabaya. Ini Sherin baru aja sampe di kamar hotel." jawab Sherin.
"Syukurlah kalau kamu udah nyampe, kakak lega. Hmm Ralvin mana?" tanya Jura.
"Pak Ralvin ya di kamarnya lah Kak." kata Sherin.
Sherin dan Jura berbincang-bincang sampai tidak sadar sudah jam 10.00 malam. Jura memerintahkan Sherin untuk langsung tidur. Setelah itu mereka sama-sama menutup telepon.
"Oh ya, aku belum ngasih tau Calvin.".
Sherin mengetik sebuah pesan. Ia mengatakan bahwa ia sudah tiba di Surabaya dengan selamat. Setelah mengirim pesan, Sherin berganti pakaian dan bersiap untuk tidur.
__ADS_1
Di kamar nomor 114, Ralvin sedang duduk bersila di atas ranjang. Ia sedang sangat sibuk di depan laptop. Sepertinya ia sangat serius dan mungkin tidak memikirkan hal lain selain urusannya itu.
"Kenapa papah malah ngaitkan kasus Sherin sama mafia yang ngincar anak kecil 18 tahun lalu? Makin bingung aku." kata Ralvin pada dirinya sendiri.
"Aku harus nelepon papah." kata Ralvin langsung menyambar ponselnya di nakas.
Tak butuh waktu lama Ralvin sudah terhubung dengan Ayahnya. Ralvin langsung to the point, ia menjelaskan ketidak mengertian nya.
"Kamu kan udah bilang kalau Sherin itu dulu namanya Claudya. Nah, papah cari nama Claudya yang lahir bareng sama tahun lahir Sherin, tapi semuanya gak cocok. Mungkin aja orang yang nitipkan Sherin ke orang tua angkatnya itu udah menghapus semua data Claudya. Yang papah ingat cuma satu, dulu ada berita anak kecil yang diincar karena dia tau sebuah dokumen yang bisa membangkitkan pengusaha mafia gelap yang tersebar di beberapa negara." jelas Braham panjang lebar.
"Papah jelasin panjang lebar, Ralvin gak paham." kata Ralvin.
Terdengar dari seberang telepon Braham mendengus keras. Ia pasti geram dengan anak yang satu itu.
"Mulut papah sampe udah berbusa kamu gak ngerti juga? Udah deh, bagus kamu lahir di tahun yang sama kayak papah. Biar bisa ngerti." kata Braham.
"Kalau gitu Ralvin gak jadi anak papah dong?" kata Ralvin sambil tertawa.
"Gini aja deh, beberapa hari lagi papah bakal ke Indonesia. Sekalian lihat perkembangan perusahaan Citra Jaya." kata Braham.
"Ok Pah, lagian ini juga udah malem." kata Ralvin.
Tak lama kemudian Ralvin dan Braham mengakhiri perbincangan mereka dan menutup telepon.
* * * *
Pagi-pagi sekali Sherin sudah bangun dan langsung mandi. Hari ini ia akan menemani Ralvin ke lokasi proyek yang sedang Ralvin kerjaan bersama beberapa rekan bisnisnya.
Sherin memakai kemeja lengan pendek berwarna cream, dan memakai rok span selutut berwarna senada dengan kemejanya. Setelah selesai berpakaian dan merias wajah dengan sedikit polesan makeup, Sherin memeriksa semua berkas yang akan dibawa ke lokasi proyek.
Sherin memeriksa satu-persatu dengan sangat teliti. Kemudian ia menemukan sebuah dokumen yang belum ditandatangani oleh Ralvin. Sherin berpikir jika ditunda lagi, pasti ia akan lupa. Akhirnya Sherin memutuskan menemui Ralvin di kamar 114.
Sherin berdiri di depan kamar hotel Ralvin dengan beberapa lembar dokumen di tangannya. Sherin berpikir sejenak.
"Pak Ralvin udah siap-siap belum ya?".
Setelah berpikir, ia mengetuk pintu pelan. Beberapa kali ketukan Ralvin tidak menjawab. Sherin yakin Ralvin pasti sudah bangun karena kemarin Ralvin mengatakan akan bangun pagi-pagi sekali.
Sherin menekan gagang pintu dan ternyata pintunya tidak dikunci. Pertama Sherin memasukkan kepalanya untuk melihat suasana di dalam. Setelah dilihatnya kamar itu kosong, Sherin pun melangkah masuk.
__ADS_1
"Kemana Pak Ralvin sepagi ini? Apa dia udah sarapan dan gak ngajak aku turun ke restoran? Kalau iya, tega banget dia." kata Sherin menggerutu sendiri ketika mencoba menebak.
Ketika sedang asik menggerutu, pintu kamar mandi terbuka dan muncul sosok Ralvin dengan handuk yang melilit di pinggangnya. Butiran air masih menempel pada tubuh kekarnya, sudah pasti Ralvin baru selesai mandi. Ada tanda lahir di bagian dadanya yang bidang.
Sherin langsung menutup matanya dan berteriak, "Pak!!".
Ralvin sontak saja kaget melihat Sherin yang tiba-tiba ada di kamarnya. Ia berbalik badan dan mencoba mencari sesuatu untuk menutupi tubuh bagian atasnya.
"Kamu kok main masuk aja ke kamar saya? Kalau mau masuk ketuk pintu dulu." gerutu Ralvin sambil mengambil kaos hitam yang tadi malam ia pakai. Setelah memakainya ia kembali menghadap Sherin.
"Udah, kamu bisa buka mata kamu." kata Ralvin.
"Udah pakai baju belum?" tanya Sherin ragu-ragu.
"Ya udah lah." jawab Ralvin marah-marah.
Sherin membuka matanya dan bernafas lega setelah melihat Ralvin sudah memakai baju.
"Bapak sih, keluar kamar mandi kok gak bilang-bilang." gerutu Sherin.
"Heh kamu tuh yang aneh. Saya mana tau ada orang di kamar saya. Jadi setiap dari kamar mandi harus bilang dulu gitu. Kayak orang gila dong." kata Ralvin tak kalah dengan Sherin.
"Kamu ngapain ke sini?" tanya Ralvin tegas.
"Ada dokumen yang belum ditandatangani. Jadi saya pikir harus cepet ditandatangani dari pada lupa." jawab Sherin.
"Kan nanti juga bisa. Jangan-jangan kamu mau ngintip ya?" kata Ralvin sambil menunjuk Sherin dengan jari telunjuknya.
"Ish apaan sih Pak? Lagian saya gak selera." kata Sherin dengan ketus.
"Yakin gak selera?" kata Ralvin. Ada niatan jahil dari nada bicaranya.
"Enggak" jawab Sherin sambil menjulurkan lidah.
Ralvin memegang ujung handuknya dan menarik simpul lipatannya seolah-olah akan membukanya.
"Aaa!! Iya enggak, saya gak macem-macem!" kata Sherin menutup matanya dan langsung kabur dari kamar Ralvin.
Ralvin tertawa sambil menggelengkan kepala.
__ADS_1
"Dasar Sherin. Siapa juga yang berani? Kamu memang gadis yang berbeda." kata Ralvin sambil terus tertawa.
Pagi-pagi saja ia sudah berhasil mengerjai Sherin walaupun tadi ia yang hampir gagal jantung melihat Sherin ada di kamarnya. Ralvin tersenyum mengingat ekspresi Sherin terakhir kali.