9 Permintaan Cinta

9 Permintaan Cinta
kisah masa lalu


__ADS_3

Kini mereka terdiam di bawah pohon yang rindang. Meski begitu banyak daun yang menyumbangkan oksigen tetap saja dada mereka masih terasa sesak. Susah bagi mereka berdua untuk mengungkapkan luka karena keduanya memang terluka, mereka terluka karena orang yang sama.


Wanita paruh baya itu mengambil tangan Zia, menggenggam nya dengan erat. Zia menatap mata yang berlinang air mata itu, terlihat banyak luka disana. bibirnya gemetaran, dia seperti ingin bicara tapi tidak sanggup bahkan untuk mengeluarkan satu katapun, hal itu membuat Zia semakin bersalah. tangis Zia pecah begitu saja, dia merasa luka yang dirasakan oleh wanita itu bisa saja karna dirinya. Wanita itu menyeka air mata Zia.


"Tersenyumlah nak, itu yang dia harapkan dari mu. Bunda Insya Allah bisa iklas. Selama dipenjara bunda banyak belajar. Bunda tidak ingin pengorbanannya sia-sia hanya dengan menangisi kepergiannya"


Zia tersenyum berat. Air matanya masih saja mengalir. Semenjak kepergiannya Zia tidak pernah bisa berbagi tentang lukanya. Dia maupun razik menyimpan kekecewaan yang mendalam. Dan entah kepada siapa mereka mau meminta maaf. Entahlah, entah permintaan maaf itu masih dibutuhkan atau tidak yang pasti penyesalan masih terus menyiksa batin mereka.


"Kalau saja waktu itu, Zia dan raziq datang lebih awal bunda mungkin tidak akan sesakit ini"


"Husst kamu tidak boleh bicara begitu. Kamu tau nak bahkan setiap daun yang jatuhpun sudah ditakdirkan. Begitupun cerita malam itu. Itu sudah menjadi skenario tuhan"


Zia mengangguk. Mungkin itu takdir dari yang kuasa.


"Bunda marah dengan Zia?"


"Untuk apa? Zia tidak salah, tidak ada yang salah disini. Bahkan bunda tidak salah setelah membunuh suami bunda. Karna setiap ibu pasti akan melakukan hal yang sama untuk anaknya. walaupun dia bukan anak kandung bunda tapi bunda selalu menyayanginya seperti anak kandung sendiri"


Zia iri dengan ketangguhan wanita paruh baya itu. Mungkin pembicaraan seperti inilah yang paling dibutuhkan mereka untuk menghilangkan setiap penyesalan yang begitu menyakitkan.


Zia memeluk wanita itu dengan hangat, rasa bersalahnya seakan meleleh begitu saja.


"Zia masih mencintai Adit?"


Zia terkejut dia melihat wanita itu dengan penuh tanda tanya.


"Bunda harap cinta itu ikut terkubur bersama Adit"


Zia tidak bisa berkutik. Tidak ada yang paham hati Zia saat ini bahkan dirinya.


"Sudah seharusnya Zia mencintai raziq. Dia suami Zia"


"cinta tidak mungkin hadir diantara kami bunda. Bunda tau sendiri kan apa yang terjadi antara aku dan raziq"


"Ya bunda paham. Tapi apapun alasan sebuah pernikahan tetaplah pernikahan nak. Cobalah untuk mempertahankannya karna Allah sangat benci perpisahan"


"Bunda, jika pernikahan ini berlanjut akan ada hati yang terluka"


"Dan akan lebih banyak hati yang terluka jika kalian berpisah"


Memang benar yang dikatakan wanita yang dipanggil bunda oleh Zia. Akan lebih banyak hati yang terluka jika mereka berpisah.


"Zia sudah dewasa, cobalah untuk mengizinkan cinta untuk hadir di hati. Maka semuanya akan lebih berbeda."


Zia tersenyum berat.


"bunda kesana dulu sepertinya Bu Dari nunggu bunda"


Wanita itu meninggalkan Zia sendirian. Zia hanya menatap punggung wanita itu berat.


"Kenpa ngak coba buat mencintai ku aja?"


Zia kaget dengan kehadiran raziq yang entah sejak kapan dia berada di sana.


"Kamu? Sejak kapan kamu disana?"


"Sejak kalian menangis ngak jelas"


"Hummm...jika kamu tau alasan kami menangis mungkin kamu juga bakalan ikut nangis"


Zia berbicara dengan lirih hampir tidak terdengar.


"Maksudnya"


"Kamu tau itu siapa?"


Raziq memperhatikan wanita paruh baya itu. Memang terlihat tak asing tapi dia tidak mengenalinya. Raziq menggeleng pelan pertanda ia tidak tau itu siapa.


"Itu Bu Asih bunda Adit"


Raziq terdiam, seakan ada yang ngilu di hatinya mendengar nama itu.

__ADS_1


Masih jelas diingatan raziq kisah yang sangat menyakitkan di hatinya.


*******


FLASH BACK ON


Persahaban orang tua membuat mereka dibesarkan dilingkungan yang sama. Adit dikenalkan kepada mereka sejak Adit sah menjadi anak dari Bu asih dan pak Roni, ya adit anak angkat dari pasangan suami istri itu. Zia, Adit dan raziq mereka dikenal sebagai tiga serangkai. Sejak TK, SD, SMP, hingga SMA mereka selalu bersama sampai akhirnya sebuah kejadian memisahkan mereka. Kejadian 12 tahun yang lalu, meninggalkan luka yang dalam buat mereka.


"Gue pulang duluan ya. Kalian berdua datangnya jangan telat Lo"


"Oke dit"


Raziq hanya mengangguk malas. Jika membahas tentang belajar raziq adalah musuhnya, padahal diantara mereka bertiga dialah yang paling pintar. bahkan saat malas saja dia pintar apalagi rajin.


"Zi gue malas banget nih belajar hari ini"


"Jangan gitu donk. Bentar lagi kita bakalan ujian kelulusan Lo"


Raziq memutar bola matanya malas.


"Gini deh, gue ada tiket nonton. Gimana kalo kita nonton dulu baru nanti ke rumah Adit. Telat dikit ngak papa donk"


Zia berfikir sejenak kemudian menggeleng perlahan.


"Aduh zi ayo donk. Otak gue udah full banget tau. Ngefresin dikit ngak papa kan"


Zia masih saja menggeleng.


"Yaudah kalo Lo ngak mau gue ajak Syifa aja. Tapi jangan harap gue bakalan datang belajar sore ini"


Ada rasa tidak terima di hati Zia. Dengan cepat dia menahan raziq.


"genrenya apa?"


"komedi donk, gue tau selera Lo"


Zia berfikir sejenak


"Kenapa? Lo berubah fikiran?"


"Yes"


Raziq mengepalkan tangannya.


"Tapi ingat jangan lama-lama"


Raziq memberikan jempolnya.


Setelah lelah menonton bioskop mereka mengisi stamina terlebih dahulu agar nanti bisa belajar dengan fokus.


"Wah Kita udah telat loh ini. Adit bakalan marah nanti"


Zia melihat jam tangannya dengan syok.


"Udahlah santai aja nanti kalo Adit ngambek biar gue yang bujukin"


Zia menatap raziq ragu.


"Ayo makan"


Zia hanya mengikuti perintah raziq. Makan adalah hobbi Zia. ponsel razik berdering, dia perhatikan nama yang tertera disana adalah Adit. Raziq menghela nafasnya berat.


"Adit nelfon ya?"


Razik mengangguk


"Kok ngak diangkat?"


"Udah nanti aja kita ladeni amukannya Adit"


Zia hanya tersenyum dan melanjutkan makannya. Raziq terus mengabaikan telfon dari Adit. Tidak berselang lama gantian telfon Zia yang berdering, belum sempat Zia melihat handphone nya raziq langsung menariknya.

__ADS_1


"Kok diambil hp gue"


"Matiin aja, nanti Lo keselek lagi gara-gara digangguin Adit"


"Kenap ngak diangkat aja sih"


"Udah ngak usah nanti kita juga bakalan ketemu dia kok"


Raziq tetap menahan handphone Zia.


"Tapi ziq kok gue ngak tenang ya"


"Kenapa"


"Perasaan gue ngak enak gitu. Ngak biasanya lo Adit menghubungi kita sampai segitunya"


"Cewek mah gitu suka pake perasaan"


"Sini deh handphone gue biar yang ngomong"


"Ngak, Lo habisi aja tuh makanannya biar kita langsung cabut kerumah Adit"


Zia mulai kesal dengan sifat diktatornya Raziq.


"Gue udah ngak nafsu. Kita kerumah Adit ja yuk"


Raziq masih saja menikmati makanannya. Melihat itu membuat Zia sangat kesal.


"Kalo ngak mau ngak papa gue bisa pergi sendiri"


Entah kenapa raziq merasa cemburu kepada Adit hari ini. Zia sudah berdiri dari bangkunya dan meninggalkan raziq. Dengan kesal raziq meninggalkan makanannya dan langsung mengejar Zia.


Zia langsung terdiam saat raziq menahannya. Dia terkejut saat raziq memegang tangannya begitu erat. Mata raziq terasa begitu tajam.


"Lo cinta sama Adit?"


"Apaan sih. lo sakit ya?"


Tatapan raziq semakin tajam.


"Lo cinta kan sama Adit?"


Zia merasa sakit dengan prasangka raziq. Kini Zia membalas tatapan raziq.


"Kalo Lo memang ngak cinta sama Adit gue mohon jangan pergi. Temenin gue hari ini"


Zia terdiam. Dia tidak mengerti niat raziq tapi apapun itu hatinya berkata Adit sedang tidak baik-baik saja. Dia biarkan raziq salah paham untuk kali ini, dengan keras Zia menepis genggaman raziq.


Hati raziq begitu sakit melihat Zia lebih memilih Adit. Memang tidak bisa dipungkiri dia juga memikirkan Adit saat ini.


Zia dan raziq sama sampai dirumah Adit. Masih terlihat kekesalan diwajah Zia.


"Zia gue minta maaf untuk yang tadi. Gue, gue cuman..."


Baaaaarrrrrrrr......


"Aaaaaaaaaaa"


Raziq dan Zia saling pandang, wajah mereka menegang.


"Adit"


Keduanya langsung mengambil langkah dan membuka pintu rumah Adit. Tidak ada orang, Susananya begitu tegang.


"Adit..."


Tidak ada jawaban.


Razik ingin menaiki tangga tapi terhenti saat mendengar Zia berteriak. Dia menuju dapur tempat Zia saat ini. Raziq begitu heran saat melihat Zia yang terduduk lesu.


"Aaditt...."

__ADS_1


Melihat Zia yang histeris raziq langsung berlari menghampiri Zia.


Dia menemukan Adit yang terbaring berlumuran darah, begitupun dengan ayah Adit dan juga bundanya yang terlihat babak belur. Sementara ruangan itu begitu kacau banyak barang yang hancur dan pecah. Bahkan tulang raziq terasa gemetar melihat keadaan ini. kaki Raziq terasa begitu lemas dan membuatnya tidak sanggup untuk berdiri.


__ADS_2