9 Permintaan Cinta

9 Permintaan Cinta
bulan madu (hari pertama)


__ADS_3

Wanita memang sangat jeli dalam merencanakan sesuatu. Dari mulai melangkah dari rumah sampai mendarat di Bali semua telah direncanakan oleh para ibu-ibu. Hingga akhirnya mereka berakhir di kamar ini, kamar hotel yang memang sengaja disetting untuk pengantin baru, penuh dengan taburan bunga mulai dari pintu masuk hingga ke kamar mandi, juga sepasang angsa yang di bentuk dari handuk tengah bermesraan di atas kasur.


Berkat Dedi Zia yang telah menjadi pengusaha hotel yang sukses mereka tidak bisa merubah kamar hotel bahkan tempat tidurnya, sebagai anak yang baik mau tidak mau mereka hanya bisa mengikuti permainan ini. Raziq dan Zia sudah membayangkan betapa mengembangnya senyuman para ibunda di rumah saat ini, dan pastinya akan terus memantau dari jauh.


Zia hanya menghela nafas pasrah dan merobohkan tubuhnya di kasur yang empuk dan dipenuhi aroma mawar. Tapi tidak dengan razik, dia terlihat kesal dan tidak bisa terima rancangan para ibu.


"Mau ngapain?"


Raziq memperlihatkan nonor yang ia tuju di ponselnya. Nomor menejer hotel yang tadi sempat dia minta. Zia hanya mengangguk.


"Percayalah dia sudah dibawah pengaruh orang tua kita"


Raziq hanya melirik kesal kemudian menuju balkon, dia hanya tidak ingin Zia ikut campur nantinya.


Melihat wajah raziq yang semakin masam Zia hanya tersenyum, dia paham jawaban apa yang di dapatkan oleh raziq.


"Ummi, kenapa ummi pesan kamar ini?"


Zia langsung bangkit dari kasur dan merampas hendphone raziq. Benar saja dia menelpon umminya. Zia melarikannya ke balkon dan tentu raziq tidak tinggal diam, dia berusaha mengejar Zia tapi pintu balkonnya keburu di kunci oleh Zia.


Ummi : Assalamualaikum, maksud kamu?


Zia : Wa'alaikum salam ummi, maksud mas raziq kamarnya bagus banget ummi, wah Zia sampai terharu. Ummi perhatian banget sama kita sampai nyiapin ini semua


Ummi : Alhamdulillah kalo Zia suka, itu juga berkat koneksi mami kamu sayang. Ini permulaan, masih banyak kejuta kita untuk kalian berdua.


Zia : wah ummi sama mami memang luar biasa. Kejutannya apa ni


Ummi : kalo dikasih tau bukan kejutan dong sayang, tunggu aja. Oke!


Zia : oke deh mi, jadi ngak sabar deh zia


Ummi : oke heva fun ya, Assalamualaikum


Zia : sure mi, wa'alaikum salam


Zia menarik nafasnya dalam-dalam, sepertinya mulai hari ini ia akan lebih sulit untuk menjalani hari-hari berikutnya. Zia melemparkan ponsel raziq ke kasur tepat di samping Rasik yang tengah terbaring lemas.


"Kamu gila ya ziq? Pengen ngasih tau kalo kita di rumah memang ngak tidur seranjang hah?"


Raziq masih menutup matanya.


"Terus kita harus gimana?"


Suara raziq terdengar begitu frustasi. Zipun tidak tau apa tepatnya yang harus mereka lakukan, pasti ini sangat canggung untuk mereka berdua.


"Apalagi pilihan yang kita ada selain mengikuti keinginan mereka?!?"


"Ngasih mereka cucu gitu"


Zia memandang raziq dengan tajam. Ada rasa takut di sana. Melihat ekspresi Zia Raziq tersenyum puas. Dalam masa seperti ini menjahili Zia menjadi hiburan tertentu untuknya.


"Kalo jadi orang tu jangan bego amat"


Kini ia duduk menghadap Zia, dia menarik nafasnya frustasi dan menatap Zia penuh tanda tanya.


"Udahlah kita ikuti aja permainan ummi sama mami tapi tetap jaga batasan"


Raziq mengangkat kedua bahunya seakan menyerah dengan keadaan.


"Sepertinya aku memang harus belajar menjadi suami kamu"


Meski lirih tapi masih bisa di dengar oleh Zia.

__ADS_1


"Hah? Apa?"


Raziq mengangkat pandangannya dan menatap Zia lekat-lekat, membuat jantung Zia berdebar.


"Aku mau mandi"


Raziq semakin puas melihat ekspresi Zia. Sebenarnya Raziq ragu, mampukah ia menahan dirinya terlebih lagi dia sadar itu istrinya, seseorang yang halal untuk nya.


**********


"Zi ayo dong ini udah jam delapan tau"


"Iya sebentar"


Raziq mulai resah menunggu Zia berdandan dari tadi, sebenarnya masih 15 menit sih tapi ya inilah yang paling anti dari seorang pria, menunggu para wanita bersolek padahal mereka selalu menginginkan para kaum wanita terlihat cantik.


Tidak sia-sia penantian raziq yang memakan hati, eh memakan waktu maksudnya. Mata raziq seakan puas melihat istrinya yang begitu cantik, selain di hari pernikahan ini kali kedua Zia terlihat sebagai wanita tercantik di hidup raziq.


Gaun pantai yang putih membuat kulit sawo matangnya yang bersih terlihat bersinar, rambutnya yang sering ia kucir tergerai lepas terlihat begitu sempurna dengan wajah proporsionalnya, hum ditambah lagi dandanannya yang terlihat sempurna mampu membuat raziq berdebar malam ini.


Razik sampai tidak ingin lagi membawa Zia keluar.


"Wah cantik"


"Baru sadar aku cantik?"


"Ukhuk..ukhuk...hum tadi aku bilang apa?"


Zia menyungging kan senyumannya.


"Ayo kita sudah terlambat"


Ya tourgetnya memang sudah cukup lama menunggu pasangan ini.


"Apa yang kamu fikirkan?"


"Bukan apa-apa ziq. Terima kasih ya untuk dinner romantisnya


"Bukan aku yang siapkan, tapi ummi sama mami"


Zia hanya mengangguk, ya benar ini semua keinginan ummi.


Mereka terdiam memandangi jalannya ombak. Hanya Tuhan yang tau apa yang mereka fikirkan.


"Mau jalan-jalan?"


kata Razik memecahkan kesunyian


"Boleh"


Mereka menapaki pantai dengan langkah yang santai. Jika siang pasir di pantai ini terlihat putih dan akan ramai orang bermain disini tapi malam ini hanya di penuhi dengan pasangan yang ingin menikmati romantisnya tempat ini. Dan juga beberapa remaja yang ingin menghangatkan persahabatan mereka.


"Apa tidak masalah jika kamu libur lama seperti ini?"


Zia berusaha memulai percakapan


"Tidak, karna aku sudah penuhi jam terbang ku dalam bulan ini"


"Baguslah"


Mereka saling lempar senyum dan untuk sesaat suasana diantara mereka kembali sunyi.


"Kamu, apa kamu tidak apa-apa jika meninggalkan rumah sakit begitu lama?"

__ADS_1


Zia melirik raziq dengan raut wajah yang tidak dapat diartikan. Raziq menaikkan alisnya seakan tengah bertanya pada Zia tapi Zia malah tersenyum sambil menggeleng.


"Kenapa?"


Zia hanya menggeleng dan mencari tempat untuk duduk.


"Ah aku lupa kamu bisa melakukan apa saja karna itu juga rumah sakit mu"


Raziq menghampiri Zia dan duduk di sampingnya. Mereka duduk dengan nyaman yang beralaskan tikar pasir.


Zia hanya tersenyum kemudian melepaskan pandangannya ke laut lepas yang tak berujung.


"Dulu kita begitu dekat, makan bareng, mandi bareng, tidur bareng bahkan baju aja kita harus coupelan, seperti anak kembar. Kita begitu banyak menghabiskan waktu bersama dari mulai bayi, TK, SD, SMP hingga SMA nempel Mulu. Kita kayak surat pos sama perangko"


"Dulu kita memang dekat"


Raziq mengikuti pandangan Zia ke laut lepas. Ada seulas senyuman di bibirnya, kenangan dulu yang dikatan Zia terasa begitu indah untuknya.


"Tapi kenapa sekarang kita seperti orang asing ya zik? Saling menjaga jarak, sibuk masing-masing dan bahkan kita seakan tidak saling mengenal lagi. apa mungkin waktu lelah melihat kita terus bersama?"


"Semuanya bisa berubah Zi"


"Hum ya hati manusia memang sangat mudah berubah"


Keduanya terdiam hanya deru ombak yang terdengar.


"Semuanya salah ku"


Raziq menatap Zia, dia berusaha menetralkan hatinya mendengar ungkapan Zia.


"Tidak ada yang salah Zi karena ini kehendak takdir"


Zia mengangkat kepalanya dan menatap raziq.


"Kamu belum bisa menerima takdir itu ziq"


"Kenapa?"


"Karna kamu belum bisa menerima ku sebagai seorang istri"


Raziq merasa tertampar, ya dia masih sangat sulit untuk menerima itu bahkan dia tidak tau apa alasannya.


"Memangnya kamu bisa menerima ku sebagai seorang suami?"


Zia tersenyum tipis, melihat senyuman Zia hati raziq sedikit terusik.


"Untuk hati yang kosong seperti hati ku akan sangat mudah untuk belajar menerima mu ziq tapi aku juga tidak ingin menyakiti hati ku sendiri"


Raziq menatap Zia seakan tidak paham.


"Aku berusaha memahami mu. Aku tau akhir dari hubungan kita. Jadi untuk apa aku belajar untuk menerima mu jika pada akhirnya kamu harus pergi"


Ada rasa sakit yang memeras kedua hati itu tapi merek tidak tau pasti apa yang membuat hati mereka begitu sakit. Zia bangkit dari duduknya.


"Oh iya Ziq. Rumah sakit tidak akan hancur hanya karna dokter umum seperti ku tidak ada disana. Karna masih banyak dokter-dokter yang bisa mengokohkan rumah sakit. Apalagi jika mereka cantik-cantik"


Zia mengedipkan matanya sebelah sengaja ingin menggoda raziq dan itu berhasil. Raziq tersenyum geli melihat tingkah Zia.


Zia terhenti saat raziq tiba-tiba membalutkan jasnya ke bahu Zia. Rasanya malam itu semakin sempurna.


"Kamu mau belajar menjadi istri ku malam ini? Kamu serius mau menyerahkan hidup mu untuk ku,?"


Zia menatap tidak mengerti kearah raziq. Untuk sesaat pandangan mereka bertemu seakan tengah mencari alasan untuk tetap bertahan

__ADS_1


__ADS_2