9 Permintaan Cinta

9 Permintaan Cinta
pernikahan caca


__ADS_3

Acara yang sangat sakral. Biasanya di dalam acara itu akan dipenuhi dengan kebahagiaan jika ada cinta di dalamnya. Zia begitu iri melihat Caca malam ini, kebahagiaan Caca nyaris sempurna. meskipun ada kesalah pahaman diantara mereka tapi dia tau betul antara hafiz dan Caca saling mencintai dari dulu, hanya saja waktu baru memperkenankan cinta mereka bersatu hari ini. sesungguhnya terciptanya sebuah kebahagiaan dalam ikatan pernikahan di dasari oleh cinta, ya dua hati yang saling mencintai.


Dulu Zia sangat memimpikan pernikahan seperti ini. Acara yang simple tapi bermakna, berbagi dengan orang-orang tersayang dan yang paling penting penuh cinta. Tapi takdir berkata lain, pernikahan nya hanya kehendak takdir dan harus menyakiti beberapa hati. Pernikahannya tidak bermakna sama sekali.


Dada Zia terasa sesak jika mengingat kenangan itu. Tanpa ia sadari air matanya meleleh begitu saja.


"Air mata"


Raziq yang sedari tadi memperhatikan istrinya itu melihat setetes air mata mengalir dari pipinya, Raziq mengusap air mata Zia. Zia menatap raziq penuh makna, seakan ada pesan yang ia sampaikan dari tatapannya.


"Kamu menangis?"


Lamunan Zia buyar, di mengusap pipinya, benar ada air mata disana.


"Ah mata ku kelilipan, aduhh"


Zia mengipas matanya bertindak seakan matanya benar-benar kelilipan. Raziq memegang bahu Zia agar ia diam sehingga mudah bagi raziq untuk meniup matanya. Zia terdiam kaku, ada sedikit rasa kecewa dihatinya kenapa raziq tidak membiarkannya untuk berekting dengan sempurna, dan membuarkannya memang kali ini. Dia menatap kecewa kepada raziq dan berlalu meninggalkannya begitu saja.


Raziq melihat kedua pasangan yang tengah bahagia di bangku pengantin sana. Dia paham apa yang sebenarnya di fikirkan Zia, tanpa Zia tau razik juga merasakan kekecewaan yang sama dengan Zia.


"Maafin aku Zi"


********


"Kak Zi..... benaran mau pulang hari ini?"


Zia mengangguk dengan wajah sedihnya.


"Kok cepat sih"


"Kakak udah cuti seminggu dek, udah lebih dari yang seharusnya"


"Yah..... kapan lagi dong kita ketemunya"


"Kan Caca bakalan ikut hafiz jadi tinggal di Jakarta dong, ya kan?"


Caca menatap Zia dengan tatapan ragu.


"Kenapa?"


"Kita bakalan tinggal disini kak. Soalnya mas hafiz bakalan ditempatin di cabang yang disini"


"Wah enak dong"


"Iya, kakak juga tugas disini aja biar makin enak"


"Kakak sih bisa aja tapi mas raziq nya ngak bisa dek"


"Yaudah biarin mas raziq yang bolak balik aja"


"Mas dengar ya..."


Zia dan Caca menutup mulutnya merasa ketahuan, Zia meletakkan jari telunjuknya di depan bibirnya pertanda mereka harus diam. Raziq keluar dari kamar mandi dengan tatapan yang tidak menyenangkan.


"Adek cantik jangan ngajarin yang macem-macem sama kakak iparnya. Ngak baik"


"Baik kok. Kan supaya kak Zia bisa dekat dengan kita"


"Terus mau bikin aku malarindu"


Zia melirik Razik dengan tatapan mengejeknya. Makatindu, yg benar saja bahkan kata rindu itu tidak pernah ada untuk Zia.


"Rasa rindu itu hanya untuk mereka yang mencintai"


Seakan tertampar. Raziq menelan saliva nya. Zia yang tadinya tengah asik berkemas pun terdiam.


"Udah deh ngak usah pura-pura, Caca tau semuanya kok"

__ADS_1


"Tau apa?"


Raziq grogi, seperti maling yang takut ketahuan.


"Sebenarnya...."


Raziq dan Zia semakin tegang


"Mas... Belum bisa mencintai kak Zia kan?"


"Ke kenapa kamu ngomong gitu?"


"Ya soalnya aku liat mas sama kak Zi tidurnya pisah rancang"


Keduanya seakan mendapat angin segar dan bisa bernafas lega.


"bukan begitu dek, semalam mas razik kesal sama kakak jadiii...ah Ca hal itu biasa terjadi dalam rumah tangga. Kamu kan udah nikah jadi nanti bakalan paham sendiri kok"


Zia berusaha menjelaskan nya pada Caca. Caca yang mendengar hanya manggut-manggut.


"Dasar sotoy"


Raziq mengacak-acak rambut Caca, membuat adik kesayangannya itu mendengus kesal.


"Ih mas kebiasaan deh. Aaa malas ah, mending aku pergi aja"


Zia hanya geleng-geleng melihat tingkah kakak beradik itu.


"Udah siap beres-beres nya?"


"Udah tapi kayaknya mau bongkar lagi deh"


"Lho kenapa?"


Raziq yang sedari tadi siap-siap di depan cermin langsung berbalik melihat Zia.


"Kayaknya benar juga yang di bilang Caca"


"Kamu balik sendiri aja biar aku tetap disini"


"Ngak bisa!!!!"


Nada suara raziq naik satu oktaf.


"Kok ngak bisa?"


Kini Zia menghentikan kesibukannya dan fokus kepada raziq.


"Pokoknya ngak bisa"


"Bukannya itu lebih bagus ya? Kamu bisa lebih leluasa kan bertemu sama pacar kamu yang cantik itu"


Raziq terdiam, dia tidak mengerti apa yang difikirkan Zia tapi dia bisa tau Zia benar-benar marah, dia bukan sekedar jahil.


"Lagian di Jakarta juga ngak ada yang tau kalo kita suami istri. Status itu cuman bermakna di rumah ini tapi tidak untuk diluar"


Raziq mendekati Zia, menggenggam tangan Zia dengan erat. Zia yang mendapat perlakuan seperti itu merasa terkejut dan matanya langsung tertangkap oleh mata raziq.


"Aku tidak tahu apa yang kamu fikirkan tapi tolong ikuti alur mainnya dan jangan membuat masalah untukku lagi"


Raziq berlalu begitu saja setelah mengatakan itu. Zia hanya tersenyum miris.


"Masalah"


Melihat Zia turun membuat raziq sedikit lega. Dia takut kalau Zia benar-benar serius dengan perkataannya. Setalah berpamitan dan melewati beberapa drama akhirnya Zia dan raziq bisa kembali ke Jakarta dengan tenang.


Selama perjalanan tidak ada percakapan diantara mereka, mereka hanya sibuk dengan fikirannya masing-masing. Zia seperti biasa dia akan menikmati perjalanan dengan mimpi indah sementara raziq bak sopir pribadi fokus dengan jalanannya.

__ADS_1


Perjalanan terasa lebih panjang dengan kesunyian itu. Lebih dari 2 jam menempuh perjalnan akhirnya mereka sampai di apartemen mereka dengan selamat. Zia dan raziq memang sengaja tidak membeli rumah karna mereka sendiri tidak tau bagaimana akhir dari hubungan ini.


"Ah sampai juga di rumah"


Kata Zia lega


"Huh....."


Raziq merebahkan dirinya di sofa, membiarkan rasa lelah itu dihisap oleh keempukan sofa yang ia tiduri.


"Mandi dulu ah...."


"Eh tunggu"


Zia melirik raziq dengan sinis


"Bebi bawaan kopernya donk"


"Ow hubbi mau bawain kopernya Keatas? Wah....... makasih banget hubbi. Kamu suami yang baik deh"


"Eh bukan gitu....Zi...Zia....."


Zia mengabaikan raziq dan terus menaiki lantai atas melambaikan tangannya dengan angkuh.


"Makasih banget lo suami ku"


Teriak Zia dengan jenakanya.


Raziq kesal sendiri, senjata makan tuan seperti itulah yang ia rasakan. Setelah lelah rebahan di sofa raziq berniat naik ke atas. Ah koper itu masih saja membuat hatinya kesal dengan terpaksa dia tetap membawanya menaiki anak tangga.


"Raziq tolong telfon tukang pipa donk.  Kran di kamar ku macet"


"Trus kamu mau kemana barang-barang ini?"


Raziq menunjuk perlengkapan mandi yang tengah di pegang Zia.


"Aku mau mandi lah"


"Dimana?"


"Dikamar mandi tamu"


Raziq tersenyum, ah senyuman itu lagi.


"Gimana kalo di kamar mandi aku aja? Nanti kita bisa mandi berdua"


Gaya nakal raziq keluar, tangannya menyusuri bahu Zia tapi langsung ditepis oleh Zia.


"Ih najis"


Zia meninggalkan raziq yang tengah terpenuhi oleh fikiran mesumnya.


"Hati-hati, jangan lupa kunci pintu nanti aku khilaf"


Zia berhenti tepat di pintu kamar mandi, dia melirik raziq dan menjulurkan lidahnya untuk mengejek raziq.


"Ngak papa , kan aku istri mu"


"Oh ya kalau begitu aku ikut"


Melihat raziq yang mulai mendekat Zia langsung masuk ke dalam kamar mandi dan mengunci pintunya.


"Dasar mesum"


Raziq tertawa, mengerjai Zia adalah sebuah hiburan untuk raziq.


Belum puas ia tertawa tiba-tiba seseorang menyelonong masuk kedalam rumahnya.

__ADS_1


"Sayaaaaangggg....i am come back"


Seluruh urat raziq seakan ditarik melihat kehadiran wanita itu.


__ADS_2