9 Permintaan Cinta

9 Permintaan Cinta
kisah Maira 2


__ADS_3

Sorot lampu itu menghentikannya, saat ia berbalik kebelakang sungguh besar harapannya itu adalah mobil keluarga Zia. Nyatanya takdir selalu menguji manusia, tapi bukan berarti yang tidak di harapkan adalah hal yang buruk.


Maira mendapati seorang wanita paruh baya itu mendekatinya, meski dengan mata wajah yang sembab Maira masih menyambut dengan senyuman.


"Ummi"


Ummi Razik memang meminta teman-temannya memanggilnya Ummi, karna itu akan membuat dia lebih nyaman dan anak-anak lainnya akan merasa lebih dekat.


"Hai sayang, apa ada masalah"


Maira tertunduk dengan hati pasrah dia mempercayakan nasibnya kepada Ummi.


"tolong Maira Ummi, nenek Maira sakit"


"ya Allah, dimana neneknya sekarang Mai?"


Ummi memegang bahu Maira dengan lembut.


"dirumah"


Maira menahan gejolak kesedihan di dalam hatinya.


"ayo kita kerumah"


Ummi langsung membawa Maira kerumah.


di dalam perjalanan Ummi langsung menelpon rumah sakit tempatnya bekerja untuk membawa nenek Maira kerumah sakit. Ummi memang tidak tahu seperti apa kondisi nenek Maira sekarang namun kekhawatiran Maira membuatnya yakin bahwa itu bukanlah sakit sederhana seperti biasanya.


Meskipun sangat ingin menyangkalnya, namun Maira hanya bisa pasrah, karna dia juga sadar neneknya harus dibawa kerumah sakit. sekarang dia hanya perlu memikirkan bagaimana cara mengatasi biayanya nanti.


"Mai kita langsung kerumah sakit aja ya?"


"iya Ummi"


Benar dugaan Ummi ambulan akan tiba lebih cepat dari pada mereka. setelah sampai disana seorang dokter yang dikenal oleh Ummi langsung menghampirinya.


"bagaimana Tejo?"


"akhirnya kamu sampai juga. dia sekarang sedang di tangani oleh dokter lain, tapi"

__ADS_1


langkah mereka terhenti. jantung Maira berdetak dengan kencang, dia bisa merasakan ada hal serius yang terjadi dengan neneknya.


kedua wanita itu kini menatap sang dokter dengan penuh kecemasan. Dokter itu melirik Maira, dari seragamnya dia bisa tahu kalau Maira hanyalah anak SMA dan tidak seharusnya memikul berita yang harus dia sampaikan.


"tidak, dia hanya kelelahan"


tentu saja Maira tidak percaya dengan ucapan sang dokter.


"dek kamu bisa tunggu disini dulu ya, bapak sama ibu dokternya harus masuk dulu untuk mengecek keadaan nenek mu"


"maaf dokter. Saya wali nenek, jadi saya berhak tahu dengan keadaan nenek yang sekarang. dokter tidak perlu sungkan dengan seragam yang saya kenakan, karna bagaimanapun juga hanya saya keluarga nenek satu-satunya"


sang dokter terenyuh mendengar pengakuan Maira, dia melirik Ummi. Ummi hanya mengangguk untuk menyetujui hal yang terlintas dipikirannya.


"Baiklah. siapa namanya?"


"Maira"


Maira mempersiapkan diri untuk mendengarkan berita terburuk sekalipun.


"ibu Rahma di diagnosa mengalami gagal jantung, karenanya kita harus segera melakukan operasi ring pada jantung ibu Rahma dan kami butuh tanda tangan adek sebagai persetujuan atas operasi ini"


dokter Tejo terkejut dengan ekspresi Maira yang begitu tenang namun tidak dengan Ummi, dia begitu salut melihat Maira yang begitu hebat dalam mengontrol emosi di dalam dirinya.


"setelah itu kami harapkan adek bisa...."


"dia hanya perlu menandatangani surat persetujuannya"


potong Ummi. Ummi hanya tidak ingin Maira menderita lebih dari ini.


"Baiklah, kalau begitu mari kita percepat"


...***********...


setelah mengikuti semua prosedurnya, sekarang disinilah Maira, di depan pintu ruangan operasi. Ummi menemaninya, namun Maira tetap merasa sendirian. karna itulah Mata Maira tiba-tiba kering, rasanya air mata bukanlah hal yang bisa ia andalkan sekarang, meski rasa sesak di dadanya kian menyiksa.


Ditengah gempurannya dengan dirinya sendiri, Zia dan kedua orang tuanya datang menghampiri Maira.


"Mai...."

__ADS_1


kehadiran Maira membuat hatinya rapuh, tiba-tiba matanya bak sumur yang mendapati mata air, sesak di dadanya seakan mengikuti aliran nafasnya. Dia tidak mampu lagi berpijak di kakinya sendiri, Pelukan Zia membuat kekuatannya Runtuh, dia merasa pelukan Zia bisa ia jadikan sebagai sanadarannya saat ini. Tidak ada kata yang mampu Maira ucapkan melainkan air mata yang tak mau berhenti mengalir membasahi baju Zia. Bahkan ziapun tidak mampu bertanya kenapa, dia hanya merasakan beban yang tengah ditanggung oleh Maira.


"ada aku Mai...."


sejak itu kata-kata itu seakan menjadi mantera untuk mereka berdua.


"Zi ajak Maira makan. Mami rasa dia belum makan dan suruh dia mengganti bajunya"


Zia menerima tawaran Tote bag yang di berikan Mami.


"Ayo Mai.."


Maira sebenarnya tidak peduli dengan dirinya sendiri tapi benar kata Zia, dia harus kuat supaya bisa menjadi sanadaran neneknya.


Setelah mengganti pakaiannya Maira baru menyadari ternyata dari tadi dia kedinginan dan kelaparan hanya saja kekhawatiran menutupi nya.


Meski makanan dan minuman ini enak namun selera Mira mengatakan makanan ini hambar. dia hanya makan untuk bertahan hidup.


"dia tidak mengangkatnya Zi"


Zia menatap nanar sahabatnya itu


"dia benar-benar tidak memperdulikan ku lagi"


jadi pendengar yang baik, hanya itu yang mampu Zia berikan untuk saat ini.


"tapi bagaimana mungkin seorang anak tidak peduli dengan ibu yang melahirkannya"


"kalo memang tidak bisa ditelepon bagaimana jika di chat aja Mai. paling tidak dia akan membacanya nanti"


"iya ya zi. aku ngak kepikiran tadi"


Maira langsung mengambil handphone nya dan, jemarinya terlihat begitu lihai dalam memakainya.


setelah makan mereka kembali ke ruang operasi tapi ternyata Mami, Papi dan Ummii tidak lagi berada disana. ternyata operasi nenek Maira sudah selesai dan sekarang sudah kembali ke ruang rawat inap.


setelah mendapatkan informasi ruangan tempat neneknya dirawat Maira dan Zia langsung menuju ke sana.


"Saya sungguh minta maaf Bu. kami sudah berusaha semampu kami tapi kondisi pasien yang sudah syok dari awal membuat operasi ini tidak berjalan dengan lancar. saya tidak bisa menjanjikan apa-apa karena pasien sendiri sudah berumur dan sangat berisiko baginya untuk operasi selanjutnya. jadi kami sarankan untuk menunggu kondisi pasien lebih membaik dulu"

__ADS_1


Maira merasa seperti melewati jembatan yang rapuh dan kapanpun bisa runtuh. Dia hanya menunggu waktu kapan jembatan ini akan runtuh dan menjatuhkannya


__ADS_2