9 Permintaan Cinta

9 Permintaan Cinta
jangan menghindar


__ADS_3

mata kedua wanita itu tajam seakan tengah menusuk hati dan mental pria yang tengah di tatapnya.


"dok ini wali pasien Naila"


sang suster menunjuk kearah Prass. Zia tersenyum miris, benar dugaannya Razik masih sangat sulit untuk melepaskannya. langit semakin bergemuruh seperti bergemuruh nya hati Zia. begitupun tatapan maira sangat seram lebih seram dari angin badai yang mulai reda.


"sus, Suster maira tau wali pasien Syifa dimana?"


"ini dok"


maira terbawa emosi sehingga dengan refleksnya menunjuk Razik. Dokter Kevin cukup terkejut dan menatap maira was-was, begitupun dengan yang lainnya.


"ah maaf dok, maaf"


maira tersadar tindakannya salah, bagaimanapun juga Razik adalah konsumen rumah sakit yang harus ia layani dengan hormat.


"maksud saya, wali pasien ada disini dok"


Prass mengulum senyumnya, sementara razik masih menegang menghadapi tatapan Zia yang tidak kunjung reda.


"maaf pak bisa ikut saya, saya ingin menjelaskan kondisi istri anda"


urat-urat razik semakin tertarik. dia hanya takut Zia salah paham dan membuat suasana hatinya semakin memburuk.


"maaf, ah ya baiklah. tapi saya, saya bukan suaminya"


"oh begitu, tolong ikut saya sebentar pak"


meski enggan untuk bergerak razik tetap harus menghargai dokter itu. mairapun mengikuti dokter Kevin dan Razik.


sekarang tinggal Prass dan Zia serta tatapan tajamnya yang seakan tengah menatap musuh yang paling dibencinya.


Zia menarik nafasnya dalam-dalam mencoba menenangkan hatinya sebelum menjelaskan keadaan pasien.


"pasien keira bisa dibilang baik-baik saja karena tidak ada luka bahaya taupun cidera yang fatal. tangan kanannya keseleo dan maghnya kambuh, mungkin karena dia sedikit panik saat kecelakaan dan karna itu juga dia demam. tidak terlalu tingi hanya demam biasa. kami sudah memberikan obat jadi kita pantau sekitar 1 jam lagi, setelah itu baru dipindahkan keruang perawatan. saya sarankan untuk dirawat selama dua hari ini"


"terimakasih dok"


"Prass saya tidak tau kalau anda sudah menikah?!"


"belum, gue eh saya belum aaaa...aww..ssssttt duh..."

__ADS_1


Zia menarik tangan Prass dan menaikkan lengan bajunya. terlihat luka sobekan di tangannya, lukanya cukup panjang dan sedikit menganga. Zia memang memperhatikan lengan Pras dan Razik sejak tadi karna keterangan suster diantara mereka ada yang terluka di bagian lengannya. Zia khawatir jika itu razik namun setelah melihat noda darah di lengan baju Prass Zia langsung sadar jika yang terluka itu bukan razik.


"suster maira"


"iya dok"


Zia langsung menjerat maira selagi masih ada umpan.


"tolong masukkan juga orang ini sebagai pasien dan obati lukanya"


"saya dok"


maira menunjuk dirinya.


"siapa lagi? tidak ada suster disini yang sedang kosong, tolong bantu saya"


"baik dok"


salah satu suster yang berada di belakang maira menunjuk dirinya dan bergumam "saya kosong kok"


**************


setelah mendaftar Prass razik berusaha mencari Zia. Zia masih di ruang UGD dan terus memantau pasiennya.


Zia menoleh malas kerah razik.


"maaf saya sedang sibuk"


Zia berlalu meninggalkan razik dan menemui suster.


"sus 15 menit lagi pindahkan pasien ke kamar rawat inap ya"


"baik dok"


Zia masih saja mengabaikan razik.


"hal yang paling aku sesali adalah menghindar Zi karna aku tau kami semakin terluka karna aku terus menghindar"


kata-kata maira terngiang ditelinga Zia membuat kakinya berbalik begitu saja dan menemui razik yang tengah duduk di kursi tunggu. razik memandang Zia dengan wajah lesunya.


"kita bicara dirungan saya"

__ADS_1


razik seakan mendapat pencerahan, senyuman terlukis di wajah tampannya dan mengikuti langkah Zia dengan penuh semangat.


Zia membawa razik keruangannya agar mereka bisa berbincang dengan leluasa.


"duduklah, lebih baik kita berbicara di ruangan ku karna akan ada gosip jika banyak pasang mata yang melihat kita duduk berduaan"


razik hanya mengangguk paham.


Zia mengambil minuman dingin di kulkas kecilnya.


"meskipun disini aku tidak di kenal sebagai pacar siapapun tapi aku tidak suka digosipkan"


razik seakan bisa memaknai kata-kata Zia dan tersenyum miris. Zia mengeluarkan dua minuman kopi kaleng yang dingin dan sebuah kue ulang tahun mini. di kue itu tertulis "happy birthday suami ku" razik tersenyum melihat kue itu. dia sempat sedih karna berfikir Zia melupakannya.


"happy birthday"


setelah meletakkan kue itu dihadapan razik dia masih sibuk mencari sesuatu sementara razik terpesona dengan kue kecil yang imut itu.


"dan ini kado untuk mu"


ah rasa kagum dan terharu razik semakin dalam.


"ya ampun Zi kamu menyiapkan ini semua"


"tentu saja, suami ku ulang tahun tidak mungkin aku diam begitu saja. paling tidak aku harus terlihat sebagai istri yang baik"


Meski sedikit kecewa mendengar kata-kata Zia tapi senyuman razik masih saja merekah.


"kamu memang istri yang baik"


seketika tatapan mereka beradu.


"kamu tadi ingin bicara bukan? katakan!"


razik sedikit kecewa karena Zia langsung mengalihkan pandangannya dan sifat kakunya kambuh lagi. dia lebih memilih membuka minuman dihadapannya itu dan meneguknya.


"akhir-akhir ini rumah tangga ku dingin sedingin minuman ini"


Zia menatap razik dengan sinis.


"Zi ummi tadi menelpon ku lagi, katanya kita harus pulang Minggu ini untuk membahas rencana pernikahan kita. kata ummi lebih cepat lebih baik"

__ADS_1


Zia merasa sesak saat razik membahas pernikahan. dia seperti pria jahat yang melakukan semua hal sesukanya. Zia menghempaskan minuman yang ditangannya hingga sedikit tumpah. razik kaget dengan reaksi Zia, terlebih lagi tatapan tajamnya begitu mematikan.


"zik, mari kita batalkan dan kita akhiri saja semuanya!"


__ADS_2