9 Permintaan Cinta

9 Permintaan Cinta
pilihan


__ADS_3

kedua wanita itu masih bingung menghadapi Razik, memang tidak mungkin untuk terus menutupinya dari Razik tapi siapa sangka waktu yang tepat datang begitu cepat.


Ummi menghampiri Razik, memandang wajah anak nya itu dengan wajah berat.


"mas duduk dulu ya"


mas adalah panggilan sayang Ummi untuk Razik. mendengar ummi memanggil dengan sebutan itu membuat hati Razik tidak tenang, meskipun begitu Razik hnaya bisa mengikuti titah ummi.


sekarang Razik duduk berhadapan dengan ummi dan Mami. Ummi mengeluarkan handphone nya dan memperlihatkan sebuah foto yang tersimpan di dalamnya.


Razik sungguh terkejut melihat foto itu. Razik masih ingat dengan jelas, dia memang memeluk Zia agar Zia tidak kedinginan dan memang Razik membuka kemejanya untuk membalut tangan Zia tapi Razik masih mengenakan kaos dalaman. Tapi kenapa di dalam foto itu terlihat Razik tidak mengenakan sehelai bajupun dan Zia, dia hanya mengenakan tantop nya lalu kemana perginya baju Zia dan siapa yang melepasnya?. Razik sungguh tidak bisa menemukan jawabannya.


Lama ia memandangi foto itu dan mencoba memutar kembali ingatannya tapi ingatan Razik tetap sama.


"karna foto ini warga jadi mencamkan hal yang tidak baik terhadap kalian berdua. dan memaksa kita untuk....."


tatapan tajam Razik membuat lidah Ummi kelu untuk melanjutkan perkataannya.


"untuk menikahkan kalian berdua"


Razik tidak begitu terkejut, hanya dengan melihat foto ini saja Razik sudah bisa menyimpulkan kekacauan apa yang sedang terjadi.


"Ummi, Mami, di luar apa yang telah terjadi Razik tetap ingin membela diri. Razik tau Ummi dan mami pasti percaya dengan anak-anak nya tapi izinkan Razik untuk menceritakan apa yang telah terjadi versi Razik"


Mami yang tadinya tertunduk lesu kini mengangkat kepalanya dan mengangguk, begitupun Ummi menatap Razik dengan wajah penasarannya.


Razik menceritakan kejadian malam itu dari mulai mereka berangkat hingga Razik melihat ada orang yang datang mendapati mereka.


".........setelah mereka datang Razik tidak ingat apa-apa lagi. Bahkan Razik kurang pasti mereka ada berapa, karna mendengar suara mereka membuat Razik yakin kita berdua akan selamat. Dan sekarang Razik bingung, kenapa fotonya bisa seperti itu?. Ummi, Mami sungguh Razik tidak akan berbuat seperti itu, apa lagi kepada Zia mami?!"


Mami Zia tersenyum berat dan mengangguk.


"Mami percaya"


begitupun Ummi mengangguk dan menggenggam tangan Razik, memberikan keyakinan kepadanya bahwa mereka percaya kepada anak-anak nya.


"lalu sekarang Abi...?"


"Abi dan Papi tengah berdiskusi di kantor desa"


"Zia?"


Pandangan Razik beralih ke Mami.


"Zia, Alhamdulillah dia sudah sadar dan sekarang masih dirawat di rumah sakit umum"


Razik tertunduk lesu, begitupun dengan Ummi dan Mami. untuk sesaat mereka sibuk dengan fikiran mereka masing-masing. hingga kedua kepala keluarga itu datang dengan wajah kusutnya.


"Abi?"


Ummi langsung berdiri dan menghampiri suaminya itu, sementara Papi menghampiri Mami.


"Zia sudah sadar Pi"

__ADS_1


terlihat jelas rasa syukur di wajah Papi dan memeluk Mami dengan erat, karna dia yakin istrinya itu lebih takut dari pada dirinya saat melihat putri mereka tidak sadarkan diri.


Razik berdiri dan mendekati Abi, dia ingin menjelaskan yang sebenarnya terjadi kepada Abi.


"Abi percaya kamu tidak akan melakukan itu"


Razik mengurungkan niatnya dan mengalihkan pandangannya kepada Papi dan mami Zia yang tengah berusaha saling menguatkan. Melihat pandangan Razik papi melepaskan pelukannya dan menatap Razik.


"iya, papi juga percaya sama kamu. kalau tidak bagaimana mungkin papi akan menitipkan anak kesayangan papi sama kamu"


Razik tersenyum berat begitupun dengan para orang tua.


"lalu apa keputusannya Pi?"


terlihat ketegangan di wajah Papi dan Abi seakan mereka takut untuk membahas persoalan itu saat ini. sedangkan Ummi dan Razik yang penasaran telah siap memasang telinga.


"aaa umm...Mami kita jenguk Zia ya, kasihan dia waktu sadar dia malah ngak lihat kita di sisinya. Papi juga udah kangen sama Zia"


alih Papi Zia, berharap mereka tidak membahas permasalahan itu saat ini.


"iya, Abi juga khawatir bangat sama Zia"


"ya, kita harus jenguk Zia sekarang. dia pasti udah nungguin kita semua"


Mami mendukung saran suaminya, karna diapun sangat mengkhawatirkan Zia saat ini. Ummi pun hanya manggut dan menyetujui saran mereka. untuk saat ini Ummi, Mami dan Razik hanya bisa menelan rasa penasarannya dan menganggap hal baik tengah terjadi.


**********


Mami mencoba membangunkan Zia karena dia penasaran apakah Zia benar sudah sadar atau belum. semuanya juga menunggu Zia membuka matanya.


"Mami?!"


"iya sayang ini Mami"


hati mereka begitu lega saat melihat Zia sudah sadarkan diri.


"papi?!"


"iya nak Papi disini"


Zia bahagia bisa melihat kedua orang tuanya. namun saat melihat Razik di samping Papi membuat perasaan Zia campur aduk, dengan cepat Zia mengalihkan pandangannya.


"mami Zia sangat merindukan Mami, Mami kemana aja? Zia takut mi"


Zia menggenggam erat tangan Maminya dan dia berusaha untuk menghindari tatapan Razik. semuanya terlihat panik melihat Zia menangis. Maira yang memahami kondisi zia, diam-diam menarik Razik keluar.


"zik ikut gue sebentar"


meski berat meninggalkan Zia tapi Razik tetap mengikuti maira keluar.


"kenapa?"


"Zia sepertinya masih trauma dengan kejadian semalam, jadi lebih baik lo jangan ketemu dia dulu ya"

__ADS_1


Razik mengangguk paham dengan maksud Maira, jangankan Zia bahkan dia sendiri juga trauma dengan kejadian itu.


"gue pergi dulu"


Razik memandang kepergian Maira dengan fikiran kosong. hingga Abi datang mengagetkannya dari belakang.


"Razik, bisa bicara dengan Abi sebentar?"


Razik mengangguk dan mengikuti Abi. Mereka menikmati secangkir kopi di kedai samping rumah sakit. malam sudah larut hingga tidak banyak pengunjung di kedai itu, hanya ada mereka berdua dan dua orang lainnya. Abi duduk di hadapan Razik, dia menatap anaknya itu penuh cinta dan kebanggaan dan kali ini dia berharap Razik tetap akan membuatnya bangga.


"Razik, bagaimana menurut mu tentang Zia?"


Razik terdiam dan berfikir keras niat tersembunyi dari pertanyaan Abi.


"Zia? seperti yang Abi tau dia wanita yang baik kan. Abi sendiri kenal Zia seperti apa"


"apa menurut mu Zia itu cantik?"


Razik menggangguk


"ya dia cantik"


"lalu bagaimana dengan agamanya?"


"dia didik dengan baik oleh mami, ya mungkin sekarang Zia memang belum pakai hijab tapi Razik yakin Zia sebenarnya sudah punya niat itu hanya perlu dibimbing sedikit la....."


"apa kamu mau membimbing Zia?"


Razik terdiam, dia mengangkat kepalanya dan menatap Abi penuh tanda tanya.


"kamu sudah tahu kan permasalahan apa yang kita hadapi?"


Razik mengangguk.


"kita para orang tua sangat percaya kepada kalian karna kita mengenal kalian dengan baik. tapi warga tidak, makanya mereka hanya menafsirkan apa yang mereka lihat. setelah mengadakan rapat tadi kita mendapatkan dua pilihan. kamu menikahi Zia atau abaikan itu dan kita tinggalkan desa ini malam ini juga. dua-duanya punya konsekuensi. jika kamu mau menikahi Zia maka kamu harus belajar hidup bersama Zia. jika tidak maka kita akan menanggung malu karena warga mengancam akan menyebarkan foto itu ke sosial media. dengan foto itu akan mudah bagi orang-orang yang membenci kita untuk mengadakan segala fitnah yang lainnya dan yang paling Abi takutkan Zia kan lebih kaku dan traa lagi"


Razik tertunduk lesu, dia tentu sangat paham dengan konsekuensi dari kedua pilihan itu.


"pilihan ini menyangkut tentang hidup dan masa depan mu jadi, Abi serahkan pilihan itu kepada mu dan Abi percaya kamu akan membuat pilihan yang baik"


"kalo Razik menikahi Zia foto itu akan dihapus??"


"perjanjian nya begitu, bagi mereka yang masih menyebarkan foto itu akan di proses secara hukum dan kepala desa yang menjamin itu"


"lalu apa Zia sudah tahu ini?"


"belum. kamu harus mengambil keputusan dulu sehingga kita bisa menceritakan kejadian ini dengan baik"


Razik terdiam begitupun dengan Abi. Razik lebih tertarik memandang gelas yang berisi kopi di hadapannya dan Abi menatap langit yang entah sejak kapan telah gelap gulita.


"beri Razik waktu untuk memikirkannya bi"


"ya tentu"

__ADS_1


__ADS_2