
Razik POV
"Jangan sakiti Zia lagi. Jika kamu terus begitu suatu saat nanti dia bisa pergi meninggalkan mu. Siapa yang tahan terus disakiti, karna setiap orang itu butuh cinta. Ummi hanya tidak ingin kamu menyesalinya nanti"
Hati ku ngilu mendengar nasehat ummi.
"Jangan sakiti Zia lagi"
Memori seakan Ter play dengan sendirinya di benak ku. Aku menyadari setiap luka yang pernah aku berikan untuk Zia. Mulai dari saat Adit meninggal hingga kini begitu banyak luka yang kugoreskan. Aku merasa menjadi penjahat untuk cinta ku sendiri.
"Jika kamu terus begini, suatu saat nanti dia bisa pergi meninggalkan mu"
kata-kata ummi berdengung jelas ditelinga ku seakan mengingatkan akan kata-kata Zia.
"Jika semuanya semakin rumit, maka aku yang akan mundur"
Bahkan membayangkannya saja aku tidak rela. Rasanya dada ku sesak seakan dihimpit beban yang berat.
"Ummi hanya tidak ingin kamu menyesal"
Perkataan ummi terus menekan rasa takut ku seperti hantu yang memaksa ku untuk sadar atas sikap ku selama ini.
Aku bahkan lupa entah sejak kapan aku menjadi pria pengecut seperti ini dan entah dasar apa yang membuat ku terus ingin melukainya.
"aku bahkan tidak tau kenapa aku begitu membencimu?"
Aku menurunkan kaca mobil, berharap udara di dalam ini akan bertukar. Aku bahkan tidak tau saat ini sedang berada dimana aku tadi hanya ingin menjemput Zia dirumah orang tuanya. Cukup lama ku amati disekeliling hanya ada satu bangunan yang tak asing bagiku, sebuah sekolah di ujung sana terlihat masih sama.
Melihat pagar sekolah itu kaki ku tergerak dengan sendirinya untuk melangkah kesana. Kenangan ya kenangan yang membawa langkah ku kemari.
Setelah mendapat izin dari satpam aku menelusuri sekolah ini, meski ada perubahan tapi kenangan itu masih terasa di tempat ini. Setiap langkah aku bisa merasakan persahabatan kami dulu. Aku bisa melihat kembali canda tawa yang mengikat kami menjadi sahabat.
melihat ruangan ini aku mulai menyadari kenapa aku begitu membencinya
Flash back on
Angin yang berhembus dengan lembut menjadikan pohon ini menjadi tempat ternyaman bagi mereka. Dan karna itu juga lah yang membuat pohon ini tidak kesepian selama beberapa bulan ini.
"Makanan datang"
Mendengarnya saja membuat empat orang itu menjadi semangat.
"Hari ini pesan apa Pras?"
Syifa melirik kantong plastik yang di bawa Pras.
"Ayam penyet"
Ujar Pras dengan girangnya.
"Ini untuk Syifa, ini untuk Razik, ini untuk Zia, Adit, dan ini buat gue"
"Buat gue?"
Protes maira.
"Lo ngak usah, kan badan Lo udah"
Pras mebgembulkan pipinya. Maira memang sedikit lebih gemuk dari pada Zia dan Syifa. Mereka begitu menikmati candaan Pras kecuali maira.
"Kalo gitu minumnya ngak gue kasih. Selamat keselek"
Maira berbalik dan pergi membawa kantong berisi minuman yang sedari tadi ia jinjing.
"Eeeehhhh tunggu. Hah"
Pras kalah lagi kali ini. Setiap mengajak maira debat Pras selalu kalah dibuatnya.
"Sini makan ini nasi lo"
Maira tersenyum puas.
"Lo sih salah strategi"
__ADS_1
Mereka membumbui makan siang itu dengan candaan. kejadian yang menimpa Zia sebulan lalu malah menjadi pupuk dihubungkan mereka dan membuat mereka semakin dekat.
"Nanti kita belajar dimana?"
"Hari ini kita ngak belajar"
"Kenapa dit?"
"Lo lupa ya syif, sore ini kita kan mau menemani Zia terapi sama ummi"
"O iya gue lupa"
"Zi Lo ngak capek ya terapi sama ummi?"
Semuanya menegang mendengar pertanyaan Maira. Mereka semua takut Zia akan tersinggung tapi Zia justru tersenyum dan mengangguk.
"Kadang. Gimana kalo siang ini kita bolos?"
Semua mata memandang Zia ragu.
"Lo yakin?"
Zia melirik Pras yang meminta keyakinannya dan Zia malah mengangguk dengan tegas.
"Eeeehhhh ngak bisa, Lo harus tetap terapi sore ini"
"Tapi kan zik...."
"Ngak pokoknya harus. Kita ngak mau ya nanti dimarahi karna ngikutin kemauan lo"
"Iya Zi dengerin kata razik"
Zia memasang wajah cemberutnya. semuanya ikut mengiba dan hampir luluh.
"ngk mempan, pokoknya Lo harus terapi"
Zia gagal, diantara mereka semua memang raziklah yang paling susah ditaklukkan oleh Zia. kini semuanya hening menikmati sensasi kekenyangan yang membuat kehidupan mereka terasa damai.
"Zi makanan Lo udah turun"
Zia mengelus perutnya yang terasa penuh
"kenapa?"
"ikut gue yuk"
"kemana"
tanpa menjawab Adit menarik tangan Zia untuk meninggalkan gerombolan mereka, yang lainnya hanya saling pandang dan angkat bahu pertanda mereka pun tidak tau apa yang akan dilakukan Adit, diantara mereka hanya razik yang tidak bisa tenang.
"Gue ketoilet dulu"
Razik pergi meninggalkan teman-temannya. Bukannya ketoilet dia justru terhenti di ruang UKS. Dia berniat mendengarkan obrolan Adit dan Zia. Kenapa mereka sampai harus pergi dari sana.
"Gimana perasaan lo sekarang?"
"Gue lega bangat dit, makasih ya"
Adit mengangguk
"Udah santai aja. Gue harap hari ini terapi terakhir lo"
"Tenang aja, karna lo udah ngasih terapi buat gue, gue bisa lebih tenang sekarang. Gue merasa lebih hangat"
"Adit gitu lo"
Zia tersenyum begitu lebar, sementara fikiran razik sudah melanglang buana entah kemana.
"Tapi Zi gue mau nanya"
"Hum ya?"
"Lo beneran ngak ada perasaan sama Razik?"
__ADS_1
Mata Razik membulat sempurna, dia begitu ingin mendengar jawaban Zia.
Melihat Zia yang mengangguk membuat hatiny perih. Ditambah lagi senyuman Adit yang terlihat begitu bahgia membuat nya begitu membenci momen hari ini. Dia merasa seperti orang bodoh selama ini setia berteman dengan dua orang itu. Bahkan perasaannya terasa diinjak-injak secara bersamaan oleh keduanya. atau mungkin dia yang salah mengerti dengan keadaan itu.
Flash back off
Sekarang razik sadar kenapa dia begitu ingin menyakiti Zia. Dia hanya terbawa dendam masa lalunya, hanya karna dia belum dewasa dia terus menyimpan dendam itu dan menciptakan jarak antara dia dan Zia. Bahkan sempat merubah cintanya menjadi benci. Meski Zia dulu mencintai Adit bukan berarti hari ini atau kedepannya dia tidak bisa mencintai Razik. Razik begitu menyesal membibitkan rasa bencinya begitu saja.
Dan entah apa yang membawa Zia datang ketempat itu sehingga membuatnya bertemu dengan Zia disini.
Mereka duduk dibawah pohon rindang itu, kini pohon rindangnya tidak sendirian lagi sudah ada beberapa pohon rindang lainnya dan di bawahnya ada kursi taman sehingga terasa nyaman jika ingin menikmati semilir angin dari dedaunan.
"Mami juga tahu semuanya"
Razik terdiam, bahkan sulit baginya untuk menelan minuman yang baru saja dia teguk.
"Papi?"
Zia menggeleng.
"entahlah"
"Zi kamu mau mempertahankan rumah tangga kita?"
"Kalau tidak aku sudah lama pergi zik"
Razik mengangguk.
"Kamu pulang dengan ku, aku akan ajak keluarga kita untuk makan malam di luar"
"Kenapa?"
"Ini salah satu cara membuat mereka yakin lagi dengan kita"
Zia menggenggam uluran tangan Razik, meski bingung Zia percayakan semuanya pada suaminya itu.
"Pak man pulang duluan saja, Zia biar ikut dengan ku"
Pak Man sopir Zia mengangguk dan meninggalkan Zia dengan Razik.
***********
Seperti janji razik malam ini akan ada makan malam keluarga. Semuanya sudah lengkap, sudah ada Abi dan ummi juga papi dan mami serta Zahra dan juga suaminya.
Semuanya masih menikmati hidangan dengan suasana hati masing-masing dan tentunya ummi dan mami lah yang merasa tidak ***** makan malam ini. Setelah semuanya selesai menjamah jamuan razik memberanikan dirinya untuk menyampaikan niatnya melakukan hal ini.
"Semuanya ada yang ingin aku bicarakan"
Secara otomatis semua perhatian tertuju kepadanya.
"Katakanlah nak"
Kata Abi tidak sabar.
"Aku dan Zia ingin melaksanakan resepsi, bagaimana menurut Abi sama papi?"
Semua mata berbinar mendengarnya. Tidak ada yang lebih bahagia selain Zia saat ini. Akhirnya dia akan mendapatkan impiannya. Menjadi ratu sehari adalah impian setiap wanita, karna di hari itu dia akan menjadi wanita yang spesial untuk pria yang dia cintai.
Mami dan ummi pun bisa tersenyum lega, begitupun papi dan Abi semakin terkikis beban di hati mereka.
"Ya Allah, akhirnya"
Zahra yang duduk disamping Zia langsung memeluk Zia.
"Kapan rencananya zik?"
"Eh tunggu sebelum membehas perencanaannya sekarang giliran Zahra yang memberikan pengumuman"
Sekarang giliran Zahra yang menjadi pusat perhatian. Zahra mengajak Hafiz untuk berdiri.
"Alhamdulillah Zahra hamil"
Semakin lengkap sudah kebahagiaan malam ini, ummi bahkan berlinang air mata haru. Zahra di peluk erat oleh mami dan ummi. Bagi mami Zahra adalah anaknya juga.
__ADS_1
Terlihat rasa cemburu di hati Zia, entah keberanian apa yang membuatnya bisa bermimpi untuk memiliki anak dari Razik.
Razik yang menyadari hal itu menggenggam erat tangan Zia. Zia merasa tenang dan memilih bergelayut mnja di bahu razik.