
penyesalan tidak selalu diakhir, justru ia bisa di awal. awal dari sebuah luka. awal dari sebuah rasa sakit. awal dari kehilangan. awal dari rindu yang meradang. dan awal dari sebuah derita yang akan menghukum mu sepanjang masa. itu yang dirasakan Zia saat ini.
dia mulai takut jika penyesalan akan mengghantui dan membunuhnya secara perlahan. ia sungguh berharap rasa penyesalan ini masih bisa ia tebus.
"Prass, Razik....."
Prass terdiam, namun kekalutan terlihat jelas di wajahnya. Dia juga belum tau bagaimana keadaan razik saat ini, karena mereka belum mendapatkan jawaban dari bandara Haneda di Tokyo.
melihat raut kebingungan Prass Maira paham Prass tidak mampu memberikan jawaban untuk Zia. Maira merangkul Zia, dia ingin Zia lebih kuat dan untuk waktu yang sama tanpa ada yang menyadarinya seseorang di ujung sana juga butuh sandaran.
Syifa terduduk lesu saat melihat ekspresi Prass. fikirkannya mulai menyakiti dirinya sendiri. kekhawatiran dan ketakutannya dengan Zia sama besarnya.
Prass menghela nafasnya yang berat berusaha menenangkan dirinya terlebih dahulu kemudian berusaha untuk menenangkan Zia.
"Zia Lo tenang ya, Lo harus yakin Razik akan baik-baik saja, oke"
Zia memeluk erat Maira, mencari kehangatan, namun tidak ia dapatkan karna bukan kehangat ini yang dia harapkan.
"kapten ada kabar"
Dengan sigap Prass masuk kedalam ruang informasi dan meninggalkan Zia yang tengah penasaran setengah mati. tidak lama, Prass kembali lagi menemui Zia dan Maira, kali ini dengan wajah yang menenangkan.
"Alhamdulillah Zia tidak ada yang terluka begitu pun Razik, dia tidak apa-apa"
seperti ada angin segar yang menelusuri hati mereka. Rasa syukur begitu bertubi-tubi terucap dari bibir Zia dan Syifa. Air matanya kali ini bukan lagi kesedihan dan kecemasan, melainkan rasa lega dan kerinduan yang begitu memuncak.
__ADS_1
"Lo tenang ya Zi. jika tidak ada masalah dalam 1 jam kedepan maka mereka akan landing lagi dan Razik akan sampai nanti malam"
Zia hanya mengangguk. dia sungguh berharap Razik akan segera sampai. Zia dan maira diarahkan untuk menunggu di ruang tunggu dan sekarang mereka menunggu seperti anggota keluarga lainnya.
hari ini bandara sangat padat, dipenuhi oleh anggota keluarga penumpang. Bukan hanya Zia, mereka juga ingin menunggu anggota keluarganya. dan pihak bandara juga tidak mampu untuk menyuruh mereka pulang karna itu pihak bandara menyiapkan ruang tunggu untuk mereka.
"Zi kita cari makan ya, kamu pasti laper"
Zia hanya menggeleng. tidak bisa memaksa Zia, dia sendiripun sebenarnya tidak nafsu untuk menelan air sedikitpun. karna bukan hanya Razik yang dia khawatirkan tapi juga Zia.
"zia...yakin ya bahwa razik itu baik-baik saja"
Zia menatap Maira, air matanya menetes begitu saja dan langsung menghambur kedalam pelukannya.
maira mengeratkan pelukannya, dia tau batin Zia tertekan saat ini. sebelum dia melihat razik, selagi itu Zia tidak akan tenang sedikitpun.
********
penungguan selama 9 jam akhirnya berbuah juga, pesawat mendarat dengan baik dan tidak ada satupun yang terluka selain mental mereka. bagaimanapun ketakutan masih menyelubungi hati mereka dan membekas sampai saat ini.
para keluarga mencari anggota keluarganya dan begitu banyak drama yang mengharukan hari ini.
Zia masih berusaha mencari Razik diantara keramaian bahkan dia salah memanggil orang beberapa kali namun Razik tak kunjung dia temui.
"Zia ikut aku"
__ADS_1
Prass menarik tangan Zia, dia ingin membawa Zia untuk menemui Razik, melihat itu Maira mengikutinya. akhirnya Zia bisa wajah pria yang sangat dia rindui tapi sayang dengan pemandangan yang menyakitkan. Syifa memang selalu selangkah lebih maju darinya. Syifa telah berdiri dihadapan razik lebih dulu darinya. namun suasana di sini terasa begitu menegangkan.
"katakan mas bahwa kamu belum menikah?"
Zia menegang, dia terkejut dengan pertanyaan yang baru saja Syifa lontarkan. mendengar itu dia menyadari jika Syifa mungkin mendengar perkataannya tadi. tapi dibalik itu lebih menegangkan menunggu jawaban dari Razik, sementara maira dan Prass saling pandang, bingung harus berbuat apa sekarang. rasanya mereka tidak bisa ikut campur dalam hal ini, karna itulah mereka memilih untuk diam.
razik memandang Zia yang berada di hadapannya dan syifapun mengikuti pandangan razik dan mendapatkan Zia di ujung pemandangan razik, membuat hatinya semakin panas.
"katakan mas bahwa dia bukan istri mu"
Syifa sungguh ingin kepastian dari kebenaran yang dikatakan oleh Zia tadi. bahkan sebenarnya dia tidak tahu sanggupkah ia menerima kenyataan yang mungkin akan menyakitinya.
"mas....."
Syifa menarik baju razik, berharap segera mendapatkan jawabannya.
kali ini keadaan memaksa Razik untuk mengambil keputusan, dia ingin memilih wanita yang sudah lama ia cintai atau wanita yang sudah lama menemaninya. namun ini bukanlah hal yang sulit baginya, karna saat ini melihat air mata wanita itu saja membuat hatinya bergetar. membuat kakinya melangkah begitu saja menghampirinya dan memeluknya dengan erat.
Zia menumpahkan segala tangisnya, dia tidak mampu lagi membendung segala kegelisahan, kekhawatiran dan ketakutannya. kehangatan Razik membuat hatinya melemah, bahkan tubuhnya juga mulai menyadari betap lemahnya ia saat ini. dia tidak makan seharian dan batinnya begitu tertekan membuat tubuhnya tidak mampu lagi untuk terjaga lebih lama dan pada akhirnya Zia jatuh lunglai di dalam pelukan razik.
"Zia? hei sayang?"
razik yang melihat Zia pingsan langsung panik dan mengangkatnya, mengabaikan Syifa yang terduduk lesu di lantai.
melihat razik menghampiri Zia membuatnya paham jawaban yang ia dapatkan. rasanya sandarannya kini telah hancur, dan harapannya telah musnah. melihat Syifa yang begitu terpukul, membuat maira memilih untuk tinggal bersama Syifa. karna dia yakin Syifa lebih membutuhkannya saat ini dan Razik pasti akan menjaga Zia dengan sangat baik.
__ADS_1