9 Permintaan Cinta

9 Permintaan Cinta
mencari Zia


__ADS_3

"mai makan siang yuk.."


Maira yang tengah sibuk dengan pekerjaannya tidak terlalu menggubris perkataan pria itu.


"ayolah Mai. kali ini aja. aku udah sering Lo ngajak kamu makan"


"maaf aku ngak bisa. aku lg ada kerjaan nih"


jari-jari nya masih sibuk menari di atas laptopnya.


"jangan terlalu fokus sama kerjaan nanti jadi perawan tua loh"


Maira mengangkat wajahnya karna mulai terganggu dengan perkataan pria itu. Reihan namanya, seorang perawat yang bekerja di tempat yang sama dengan Maira. dia memang sudah lam menyukai Maira, sejak mereka masih kuliah hingga kini dia terus berusaha mengekori Maira. selain mulutnya yang pedas dan tajam tidak ada kekurangan padanya. Dia pria yang ganteng, putih tinggi dan dari keluarga kaya, tapi itu semua tidak ada artinya karna mulutnya mengacaukan itu semua.


"kalaupun aku jadi perawan tua kenapa kamu yang susah?"


"soalnya kalo kamu jadi perawan tua bisa-bisa aku juga jadi perjak tua dong"


Maira memutar bola matanya malas dan kembali fokus pada pekerjaannya.


"aku bakalan nungguin kamu kok Mai. karna aku tahu ngak bakalan da yang naksir kamu selain aku"


jari Maira terhenti tapi tetap fokus pada layar laptopnya.


"siapa bilang?"


dia melanjutkan ketikannya lagi dan sesekali menggeser mouse.


"buktinya ngak ad yang deketin kamu selain aku. makanya jangan jual mahal dong, ngak laku aja sok ju......"


prakkk...


Reihan terkejut mendengar meja yang tampar oleh Maira. kali ini Maira menatapnya dengan geram.


"dengar ya, aku ngak butuh cowok Blagu kayak kamu. kamu juga Ngan harus tahu aku punya pacar atau ngak"


nyali Reihan sedikit ciut tapi rasa sombongnya masih terus meninggi.


"kan kamu memang ngak punya pacar"


"aku memang ngak punya pacar tapi aku punya calon suami"


"siapa?"


"gue"


keduanya sontak melihat ke sumber suara. Prass melambai dengan santainya ke arah Maira.


"hai sayang"


"haiiiiii..."


Maira tersenyum kaku. Melihat Reihan yang terlihat curiga ia langsung mendekati Prass.


"sa....yang...."


terlihat jelas tawa yang dipaksakan dari wajah Maira.


"sayang kok ada disini? emangnya udah mendarat ya?"


Maira melirik reaksi Reihan, dia masih melirik curiga terhadap mereka berdua.


"o iya kenalin Reihan ini calon suami aku dia pilot lo"


Prass mengulurkan tangannya dan disambut dengan Reihan.


"dan sayang ini Reihan rekan kerja dan rekan berantem aku"

__ADS_1


"OOO dia orang yang sering gangguin kamu itu"


Prass mengeratkan genggamannya sehingga membuat Reihan sedikit kesakitan.


"eehhh Ngan kok, aku. aku cuman becanda"


"udah sayang biarin aja. lebih baik kita cari makan yuk". Prass melepaskan genggamannya.


"sayang aku lapar?"


Maira mengangguk manja


"yaudah yuk kita cari makan"


"yuk"


mereka meninggalkan Reihan yang masih kesakitan.


"Wah mai lengket banget. takut diambil orang"


Maira baru sadar ternyata ia masih saja menggandeng tangan Prass, saat ingin melepasnya Prass malah menahan tangannya.


"calon istri saya memang gitu, manja banget"


Maira hanya ikut tersenyum membalas senyuman mereka.


setelah para rekan kerja Maira pergi ia langsung melepasnya dengan paksa dan berniat untuk meninggalkan Prass begitu saja.


"eehhh Lo mau pergi gitu doang?"


Maira berhenti dan berbalik.


"makasih"


Prass tersenyum setelah mendapatkan yang dia inginkan.


"gue minta bayaran"


"kalo ngak ikhlas mending tadi ngk usah bantuin gue"


"yang pentingkan udah gue bantu"


Maira menghela nafasnya frustasi.


"apa?"


"temani gue makan"


tanpa persetujuan Maira Prass langsung menariknya ke cafe yang ada di sekitar rumah sakit.


mereka sudah menyantap makanan yang dipesannya masing-masing. sekarang saat nya Prass menyampaikan niatnya yang sebenarnya.


"apa? Lo mau apa lagi?"


Maira seakan bisa membaca pikiran Prass, ya dia bisa membaca tatapan Prass yang seakan penuh kegelisahan.


"Razik sakit. dia butuh Zia"


"kalo gitu hubungi Zia, jangan cari gue"


"udah tapi ngak aktif. Lo tau dia dimana?"


"gue ngak tau. gue juga ngak pernah ketemu dia selama dua hari ini"


Prass menatap Maira curiga. baginya tanggapan Maira terlalu santai menanggapi kehilangan Zia. tiba-tiba Maira berhenti menyendok i diseretnya dan menatap Prass dengan tajam. Prass yang ditatapi merasa aneh.


"iya ya udah dua hari gue ngak ketemua Zia. eh ngk udah tiga hari. terus kalo dia ngak ada di rumah, di rumah sakit juga ngak ada, dia ada dimana dong"

__ADS_1


Mata Maira mulai berkaca-kaca.


"tenang dulu"


Prass merasa bersalah sudah mencurigai wanita yang dicintainya ini.


"kenapa Zia sampai kabur dari rumah?"


Prass menggeleng.


"dia ada masalah sama Razik"


Prass masih menggeleng


"pasti ada. bilang sam gue, dia ada masalah apa sama Razik?"


"gue ngak tahu"


"pasti Lo tahu"


"gue beneran ngak tahu"


Prass tidak berniat menywmbunyikannya dari Maira, hanya saja dia tidak ingin Maira akan memperkeruh keadaan.


"gue harus cari Zia"


Maira yang tadinya bersemangat ingin beranjak dari tempat duduknya tiba-tiba melemas seketika.


"duhhh gue lupa, praktek gue gimana"


Prass merasa onkk melihat Maira yang mulai menangis. dia hanya takut nanti para pengunjung cafe yang lain menganggapnya telah menyakiti Maira.


"eehhh lo tenang dulu"


Prass berusaha menenangkan Maira


"biar gue yang nyari Zia"


"yaudah Lo coba cari kerumah orang tuanya deh"


"iya ya"


batin Prass. susah dari tadi Prass berusaha mencari Zia tapi tidak sedikitpun terfikir olehnya untuk mencari Zia kerumh orang tuanya.


"benar juga. oke gue pergi sekarang"


dengan sigap Prass langsung menggas mobilnya ke rumah Zia.


*************


"selamat siang pak"


"siang, ada perlu apa ya mas?"


sambut sang satpam dengan ramah kepada seorang Abang paket.


"ini saya mau ngantar paket untuk ibuk Zia pak"


"wah mas. ibu Zia nya sedang tidak ada"


"o gitu. kira-kira ibu zianya kemana ya mas dan kapan pulangnya?"


"saya juga kurang tau mas. bahkan tuan sama nyonya juga ngak pulang-pulang. katanya ada urusan mendesak di luar kota"


"OOO keluar kota. kemana ya mas"


"saya juga ngak dikasih tahu mas. tapi biar saya aja yang nerima paketnya mas"

__ADS_1


"o iya boleh"


Prass menyerahkan paket itu kepada pak satpam yang bekerja di rumah Zia. ada sedikit kecewa di hatinya karna setelah perjuangannya belum juga membuahkan hasil. dia bahkan tidak tahu terlalu banyak tentang Zia sehingga sulit baginya untuk menemukan Zia. ditambah lagi Razik tiba-tiba menghubunginya dan dia tahu betul niat Razik. Dia pasti akan bertanya tentang Zia. Prass mengacak rambutnya frustasi.


__ADS_2