
Kotak hadiah yang diberikan raziq membawa bencana. Dia hanya berniat untuk mengerjai Zia, tapi ternyata Tuhan mengerjai mereka berdua.
"Tolong dibersihkan sebersih-bersih nya ya pak. Pastikan tidak ada satupun cacing yang tersisa"
"Baik pak"
Terpaksa raziq memanggil jasa claining service. Dia tidak menyangka Zia akan melemparkan kotaknya keatas sehingga membuat cacing-cacing itu berhamburan, untungnya raziq segera menutup kepala mereka dengan selimut sehingga tidak mengenai tubuh mereka.
"Tapi pak bagaimana cacing-cacing itu bisa ada dirumah bapak?"
Raziq bingung harus menjawab apa, dia menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Zia sebenarnya juga penasaran raziq mendapatkan cacing itu dari mana.
"Emm tadi jatuh dari atap pak"
Raziq asal jawab. Zia mengulum senyumnya menahan tawa melihat kebingungan sang bapak.
"Pokoknya tolong dibersihin ya pak sampai kinclong. kami permisi"
Raziq menarik Zia meninggalkan sang bapak yang tengah kebingungan.
"Kamu mau narik aku kemana?"
"Nyari makan lapar"
"Tunggu dulu deh, kamu dapat cacing itu dari mana?"
Raziq masih terdiam.
"Dari selokan?"
"Enak aja, kamu fikir aku kurang kerjaan?"
"Ya terus dimana? Disini tu ngak ada tempat tinggal cacing selain di got"
"Di kampung"
Zia terkejut mendengar pengakuan raziq. Pantas saja tadi pagi dia menghilang entah kemana.
"Tadi pagi?"
Razik menggangguk menggiyakan.
"Kok cacing sih ziq"
"Kan kamu paling takut sama cacing. Kecoa aja tadi kamu tangkap"
"Kamu memang usil ya"
"Udah ah. Makan dulu yok, lapar ini. Nanya-nanya nya lanjutin nanti aja"
Zia mengekori raziq dari belakang. Tidak perlu berjalan jauh mereka sudah sampai di sebuah kafe yang terlihat sederhana tapi menjadi tempat favorit para penghuni apartemen di lingkungan itu. Selain tempatnya yang bertema klasik makanannya juga enak. Itulah kenapa tempat ini menjadi tempat favorit Zia dan raziq.
"Kamu pesan apa buat aku?"
"Nasi goreng lada hijau kan?"
"Yup, ternyata suami yang baik"
Raziq tersenyum puas, karna dia masih mengingat makanan kesukaan Zia, Zia sebenarnya bukan orang yang pelik perihal makanan asal pedas.
Tidak perlu menunggu lama makanan sudah tersaji di meja mereka.
"Ziq sampai kapan ya kita kayak gini?"
Raziq melihat Zia yang mengunyah makanannya dengan nikmat.
"Kira-kira nanti kalo Syifa tau hubungan kita dia marah ngak ya?"
"Dia pasti bisa ngerti"
Raziq masih menyuap makanannya meski sudah terasa hambar.
"Kamu yakin?"
"Iya, dia orangnya pengertian kok"
"Terkadang karna cinta seseorang bisa berubah dengan cepat ziq"
__ADS_1
Raziq memandang Zia dengan berat. Nafsu makannya seakan menguap.
"Syifa bisalah ya kamu atasi tapi keluarga kita. Gimana ya kita harus menghadapi mereka. Kamu pernah kebayang ngak sih ziq bagaimana hubungan keluarga kita setelah kita bercerai nanti?"
Raziq menarik nafasnya dalam-dalam. Omongan Zia menjadi tamparan untuknya, selama ini dia hanya berfikir ini bukanlah masalah hanya tentang hati yang ingin memilih. Tapi pemikiran orang tua sangat jauh berbeda dengan mereka.
Raziq semakin kesal melihat Zia yang masih saja mengunyah makanannya dengan nikmat. Raziq menjatuhkan sendok dan garpunya hingga berdenting saat beradu dengan piring. Dengan wajah lugunya Zia bertanya.
"Kamu udah kenyang?"
Raziq semakin geram.
"Kamu perempuan jenis apa sih?"
Lambung Zia tengah sibuk mencerna makanan sehingga otaknya tidak bisa mengerti perkataan raziq.
"Masih bisa nya ya kamu makan dengan lahap saat mengungkit masalah"
Zia terlihat puas saat ia telah melahap semua makanannya.
"Masalah ngak bisa bikin perut aku kenyang zik. Justru aku butuh makan untuk menyelesaikan masalah ku"
Raziq tersenyum kecil, terbesit rasa sakit di hatinya melihat wanita yang dihadapannya ini. Semakin lama raziq merasa semakin banyak hal baru yang ia ketahui tentang Zia.
"Nih masih ada makanan penutupnya"
"Ngak ah aku udah kenyang. Buat kamu aja"
kata Zia menampar perutnya yang memang sudah terasa berat.
"Ini buat kamu, khusus"
Zia menatap raziq curiga
"Gitu bangat natap nya"
"Kamu pengen racunin aku ya?"
"Hahhahaha kalo aku mau meracuni kamu buat apa repot-repot kesini. Mending dirumah aja, lebih aman"
"Iya ya"
"Umm pak kapten bisa aeee...."
"Itu hadiah ulang tahun kamu yang pertama"
"Yang pertama? Berarti ada yang kedua?"
Raziq mengangguk pelan
"Aku bakalan ngikutin maunya kamu hari ini. Anggap sebagai perayaannya"
"Beneran?"
"Iya"
Zia masih berfikir.
"kamu mau kemana? sebutin aja. ke mall, ke salon atau mau pedicure menicure? bilang aja"
Zia tersenyum puas, mungkin ini saatnya ia membawa razik lagi ketempat itu setelah sekian lama razik mungkin sudah melupakannya.
"Aku pengen ke panti"
"Panti asuhan?"
Zia mengangguk dengan senangnya.
"Kamu mau beramal"
"Iya sekalian mengenang masa lalu"
"Masa lalu?"
razik tidak mengerti
"Iya, panti asuhan yang mengandung banyak kenangan masa lalu"
__ADS_1
dengan ragu razik mengangguk dan menyetujuinya.
"Oke, aku bakalan ngikutin kamu tapi kayaknya kamu melupakan sesuatu deh"
"Apa?"
"Kayak anak kecil aja, harus diajarin. Biasanya kan kalo seseorang dapat sesuatu dia bakalan bilang..."
"Oooo iya aku lupa. Makasih ya S U A M, ekhmmm..khmmm"
Zia merasa tersedak melihat Syifa yang mendekat kearah mereka. Ingin rasanya dia menghilang tapi Syifa sudah melambaikan tangannya ke arah Zia.
"Zia, o may God gue ngak nyangka bisa ketemu lo di sini. Gue kangen banget"
"Ha iya gue juga kangen banget sama Lo syif. Wah dunia ini sempit banget ya"
Syifa datang dari belakang raziq sehingga razik tidak menyadari pria yang bersama Zia. Saat melihat Zia dia hanya ingin segera memeluk Zia. Dia rindu dengan sahabatnya yang satu ini.
"Lo bareng siapa kesini?"
razik berdiri dan berusaha sesantai mungkin
"bareng aku sayang, kamu pagi-pagi kok udah disini?"
Syifa awalnya merasa aneh tapi ia tepis kan karna dia juga tahu betul hubungan keluarga mereka.
"ya aku pengen nemenin pacar aku sarapan tapi ternyata udah ditemenin sama orang lain"
Syifa menggelayut manja di lengan razik.
"tapi kok kalian bisa?"
"Oh iya itu ummi nitip sesuatu untuk raziq. Udah berjalan jauh gue lapar makanya diajak sama raziq kesini"
Syifa hanya ber oh ria, meski masih ada rasa cemburu dihatinya ia berusaha untuk tetap percaya.
"Kamu mau makan sayang"
"Iya deh, aku lapar banget"
melihat keadaan Zia sadar saat ini dirinyalah yang harus mengalah dan pergi untuk menjauh.
"Yaudah aku eh gue balik dulu deh. Gue udah telat nih kerumah sakit"
Mereka hanya mengangguk.
"Zi"
Zia berbalik dan menaikkan alisnya seakan bertanya pada Syifa kenapa memanggilnya lagi.
"Lo...pake baju ini kerumah sakit"
Zia baru sadar dia hanya pakai celana training dan baju kaos, santuy banget gayanya pagi ini.
"Ha i iya. Aku lagi malas ribet-ribet"
"Owww gitu yaudah hati-hati ya"
Zia hanya mengangguk lalu meninggalkan mereka berdua.
"Gaya Zia kok aneh ya?"
Syifa masih kepikiran dengan penampilan Zia
"Udahlah biarin aja, diakan emang gitu. palingan juga nanti diganti dirumah sakit"
razik yang asik mengaduk mie nya tersadar dengan tatapan Syifa yang tajam.
"kamu kok kayaknya tau banget tentang dia"
seketik razik mati kutu. bingung harus menjawab apa.
"ya...ya kan ngak mungkin juga dia pakai baju itu untuk menemui pasiennya kan?. aku cuman nebak kok"
"iya juga sih. tapi kalo dia kayak gitu kapan lakunya"
"ngak usah dipikirin. jodoh ngak bakalan ketukar kok"
__ADS_1
Syifa tersenyum dan mengangguk pertanda ia setuju.