
jantung Zia semakin cepat memompa darah, membuat dadanya terasa sesak. semua percakapan mereka pagi ini hanya menggoreskan luka di hatinya.
Zia melampiaskan segala amarahnya kepada nampan yang ada di atas meja. nampan yang berisikan sarapan untuk Zia yang baru saja diantar oleh suster jatuh berserakan di lantai karena Zia sengaja menepisnya.
mendengar keributan itu, Maira yang sudah berdiri di depan pintu ruang rawat Zia langsung masuk dan mendapati ruangan itu berantakan dengan bubur yang berserakan. Maira menatap Zia yang tengah memeluk lututnya dan membenamkan wajahnya disana. Dia dekati sahabatnya itu dengan hati-hati.
"Zi lo kenpaa?"
Zia tidak berkutip sesikitpun hanya terasa getaran ditubuh Zia yang mengisyaratkan dia tengah terisak saat ini. menyadari Zia tidak baik-baik saja maira memeluknya dengan hangat, meski tidak banyak membantu tapi bisa sedikit menenangkan hati Zia. Zia mengangkat kepalanya, terlihat pipinya sudah dibasahi air mata. perlahan Zia menenangkan hatinya, menarik nafasnya dalam-dalam kemudian berusaha menggerakkan bibirnya, dia sungguh ingin berbagi dengan sahabatnya itu.
"Mai Razik meminta gue untuk menikah dengannya"
Maira kaget plus bingung
"bukankah Zia dari dulu mencintai Razik? lalu kenapa dia malah sedih dengan keinginan Razik? apa benar Zia sudah membenci Razik karena insiden si Adit?" batin Maira. ditatapnya Zia dengan kebingungan yang terpancar jelas di wajahnya.
"terus kenapa lo sedih. Lo mencintai orang lain?
Zia menggeleng
"dia cuma pengen ngehancurin gue Mai. katanya kita harus bercerai setelah satu tahun menikah karena dia pengen meniikah dan lanjutin hidupnya dengan Syifa doang bukan gue"
sungguh kaget Maira mendengar ungkapan Zia, bahkan dia yang mendengar saja merasa tersakiti apataklagi Zia yang tengah mengalami itu.
"gue cuman alat bagi dia untuk lepas dari permasalahan ini"
"lalu lo.....terima?"
"pilihan apa yang gue ada Mai? gue juga tahu bagaimana keadaan keluarga kita saat ini dan semua itu karena masalah yang gue timbulkan sendiri"
Zia menahan segala sesak didadanya. bukan pernikahan yang menyakitkan hati Zia, melainkan perceraian yang terencana sebelum pernikahan dilaksanakan.
"Zi lo yakin takdir kan?"
Zia hanya terdiam, tentu saja dia percaya dengan takdir, tapi kenapa takdirnya begitu buruk?!
"lo juga tahukan bahwa tidak ada satu peristiwa pun yang terjadi melainkan itu telah di tetapkan oleh Allah bahkan, gugurnya sehelai daunpun telah ditentukan olehNya. karna itu apapun yang kamu alami saat ini, ini adalah takdir"
"terus menjadi janda juga takdir gue?"
"itu belum terjadi Zi"
"tapi Razik udah merencanakannya Mai!"
"satu tahun Zi, Lo punya waktu satu tahun. satu tahun itu bukanlah waktu yang sebentar, masih banyak hal yang bisa terjadi. bisa aja Allah membolakkan hatinya sehingga dia tergila-gila sama lo"
Zia tertegun mendengar perkataan Maira, Maira ada benarnya tapi bisakah dia kukuhkan hati Razik, entahlah, mendengarnya saja terlalu rumit.
"tapi tidak semudah itu Mai"
"Zi lo percaya sama gue, Lo pasti bisa meluluhkan hati Razik dalam satu tahun ini"
__ADS_1
meski berat, Zia hanya bisa mengangguk mendengarkan suport dari Maira.
"semuanya terasa berat karna lo cuman memikirkan hal buruknya doang. sekarang coba deh lo ubah pola pikir lo, lihat kemungkinan baik yang bakalan lo dapat jika menikah dengan dia. lo udah dapatin diazia tinggal menaklukkan hatinya"
kata-kata yang baru saja keluar dari bibir maira berhasil menghipnotis Zia. seakan ada angin sejuk menepis kegelisahan di hatinya.
"sekarang keputusan terbaik untuk Lo dan Razik memang pernikahan. jadi lebih baik lo terima ajakan Razik dengan niat baik. dan Insya Allah bakalan banyak hal baik yang akan hadir di dalam niat baik ini"
sekarang senyuman sudah mampu hadir di bibir Zia, meskipun tipis.
"makasih Mai, selalu ada buat gue"
"huuuhhhh peluk"
Zia menghambur kedalam pelukan Maira. kedua sahabat itu kini seperti teletabis yang berpelukan.
**************
seperti yang direncanakan oleh Razik, pernikahan mereka sangat sederhana bahkan tidak ada sedikit riasanpun yang melekat di wajah Zia dan pernikahan mereka dilaksanakan di rumah sakit karna Zia belum dibolehkan untuk keluar dari rumah sakit. pernikahan mereka hanya dihadiri oleh orang-orang yang perlu, hanya kedua orang tua, penghulu, saksi dan juga Maira. Hati Zia sebenarnya perih melihat pernikahannya yang begitu seadanya, dia juga ingin menikah seperti pernikahan orang lain.
"bagaimana para saksi, sah?"
"sah"
kata mereka serentak, ada rasa lega namun ada rasa iba begitulah perasaan orang-orang yang menyaksikan pernikahan mereka. sementara Zia merasa dadanya sesak karena teringat dengan ucapan Razik.
"kita akan bercerai setelah satu tahun"
"ya Allah aku serahkan cerita hidup ku kepada Mu dan aku gantungkan semua harapan ku kepada Mu. akan aku jalani peran yang telah Kau berikan kepada ku sepenuh hati dan apapun hasil akhirnya aku iklaskan itu" batin zia
bulir air mata mengalir di pipi Zia, namun segera ia hapus sebelum orang lain melihatnya. Tapi kalah cepat dengan pandangan Razik, melihat air mata yang mengalir di pipi Zia membuatnya merasa bersalah. Dia sadar bahwa kata-kata yang dia lontarkan kepada Zia sangat kejam, namun egonya selalu membantah itu.
"apa gue salah tidak mempertimbangkan perasaan Zia. tapi ini semua juga terjadi karna kesalahannya coba saja jika dia tidak membuka baju gue ngak bakalan kayak gini ceritanya. tapi gue janji Zi, gue ngak bakalan nyentuh lo tanpa ada rasa cinta di hati gue dan gue bakalan jagain lo dengan baik"
batin Razik.
pernikahan mereka dimulai dengan sangat sederhana dan diakhiri dengan sangat sederhana. hingga tidak ada yang tahu bahwa telah terjadi pernikahan disana. sekarang para saksi telah pergi hanya tinggal para orang tua dan juga Maira.
"Alhamdulillah pernikahan sudah selesai. semoga permasalahannya juga selesai"
ucap mami.
"iya semoga ya"
Ummi mengeratkan genggaman Abi.
"Zia jangan sedih ya dengan pernikahan sederhana ini. karna kita akan membuat acara pernikahan yang besar"
Zia dan Razik tertegun mendengar Ucapan Ummi.
"ngak kok Ummi, yang penting itukan akadnya bukan acaranya"
__ADS_1
"iya Ummi kita ngak perlu kok dibuatkan acara pernikahan segala, iyakan sayang?"
tambah razik.
"itukan Kata kamu"
"Zia juga ngak mau kok ummi"
"eh jangan gitu dong sayang, masa anak mami satu-satunya ngak ada acara resepsi"
Zia dan Razik saling pandang. mereka bingung harus menghadapi para ibu ini.
"jangan dipaksa jika mereka belum siap mi"
"iya, Ummi juga jangan nambah beban mereka dong"
seketika ada rasa lega dihati Zia dan Razik saat ada pembelaan dari para ayah, tapi itu hanya sesaat sebelum para ibu selalu merasa benar.
"Belum siap gimana Pi, mereka aja udah nikah pasti udah siap dong"
"iya Abi juga, Ummi nambah masalah apa. justru Ummi mau menghibur mereka, meringankan beban mereka. Zia pasti sedih karena pernikahan nya seperti ini"
pasal satu telah datang, "ibu-ibu tidak pernah salah"
"tapikan mi...."
"bukan gitu mi..."
sebelum bapak-bapak mampu membela diri mereka telah diseret keluar. Maira yang melihat itu ikut keluar memberikan ruang dan waktu untuk Zia dan Razik untuk berbicara. keduanya terdiam, banyak hal yang ingin dibicarakan tapi tidak mampu untuk mengungkapkannya. bahkan mereka tidak menyangka hal ini akan terjadi.
"nanti..."
Zia mengikat kepalanya dan memandang Razik, melihat Zia tiba-tiba jnayung Razik berdebar tidak karuan.
"hum?"
"nanti kalo udah dibolehin dokter keluar dari rumah sakit kita langsung balik ke Jakarta"
Zia hanya mengangguk.
"kita bisa tinggal di apartemen gue. disana ada tiga kamar jadi kita bisa beda kamar tanpa dicurigai orang tua kita"
Zia mengangguk lagi.
"baiklah gue keluar dulu. lo istirahat aja"
kali ini Zia tersenyum dan mengangguk. terlihat kecanggungan diantara mereka. sebelum keluar Razik berbalik lagi, melihat itu Zia menatap Razik bingung.
"gue cuma mau bilang kalau gue dengan Syifa tetap ada hubungan. kita udah janji kita tidak akan mencampuri usafan pribadi masing-masing"
Zia hanya mampu mengangguk. terluka lagi, ya sakit rasanya mendengar hal itu dari suami sendiri.
__ADS_1
mulai hari itu mereka menjalani hari dengan saling menyakiti.