9 Permintaan Cinta

9 Permintaan Cinta
luka karena cinta


__ADS_3

orang ketiga, tidak tepat rasanya jika ia diberi panggilan itu. Dia tidak tahu apapun tentang hubungan mereka, dia juga tidak mengerti kenapa razik mampu berpaling dan menyakiti hatinya begitu dalam. tapi akhirnya dia menyadari bahwa cinta razik tidak pernah menjadi miliknya.


"Syifa..."


Maira memegang lembut bahu Syifa, menyadarkannya bahwa masih ada yang peduli padanya. akhirnya Syifa jatuh kedalam pelukan maira, ia sungguh membutuhkan sandaran saat ini. Maira memeluknya erat, ikut merasa sedih dengan luka yang tengah membalut hati sahabatnya itu.


"Syifa ayo kita pulang"


Maira menuntun Syifa untuk pulang ke rumahnya, rumah akan membuatnya lebih nyaman dan tenang saat ini.


selama di dalam mobil Syifa hanya diam dan air matanya terus bercucuran menggambarkan betapa terlukanya ia saat ini. dan sampai dirumahpun Syifa langsung menjatuhkan dirinya diranjang. tubuh dan batinnya sangat lelah saat ini.


***********


saat Razik ingin membawa Zia kerumah sakit dia perlahan sadar dari pingsannya, kepalanya terasa berat dan badannya begitu lemas.


"aduhh"


erang Zia sambil memegang kepalanya. Razik merasa lega melihat Zia yang mulai sadar, dia menepikan mobilnya agar bisa memberikan perhatian penuh kepada Zia.


"sayang kamu ngak papa?"


sayang? panggilan itu membuat segala rasa sakitnya semakin ringan. Zia mulai mengingat kejadian yang baru saja terjadi, dia lega karena jawaban yang selalu dia impikan akhirnya dia dapatkan namun tetap saja hatinya juga ikut terluka melihat begitu terluka nya Syifa.


"kenapa? ada yang sakit?"


razik terlihat panik melihat Zia yang masih terdiam. Zia mengangguk pelan dengan wajah lesunya.


"dimana? kepala? tangan? kaki?"


Zia senang bisa memiliki kekhawatiran razik seutuhnya sekarang.


Zia menggeleng dan memegang perutnya.


"perut"


katanya manja.


"oke, kmau tahan ya kita harus kerumah sakit sekarang"


dengan paniknya Razik memasang sabuk pengamannya tapi segera di hentikan oleh Zia.


"aku ngak mau kerumah sakit mas"


"terus, kita kemana? apa ke klinik terdekat aja atau dokternya yang kupanggil kesini?"


Razik semakin panik melihat Zia sesekali meringis kesakitan.


"aku ngak mau ketemu sama dokter?"


"kenapa?"

__ADS_1


suara Razik meninggi, tidak paham dengan keinginan Zia.


"Zia kamu jangan bandel ya, kali ini kita harus ke dokter. kita harus berobat"


"mas aku ini dokter dan aku ngak mau ketemu sama dokter. aku baik-baik aja kok"


"baik-baik gimana, lihat muka kamu pucat kayak gini, sayang. ngak pokoknya kita harus ke dokter"


"mas......"


"iya... aku tau kamu dokter tapi dokter itu juga manisia biasa Zi, dokter bisa sakit dan kalau dokter sakit dia butuh dokter lain untuk mengobatinya"


"tapi aku ngak butuh dokter untuk mengobati ku mas"


mereka mulai bersetegang lagi. Razik menatap Zia pasrah.


"terus kamu butuh siapa?"


"chef"


"chef? siapa itu chef?"


Fikiran Razik berkelana, dadanya sesak saat ia mengira Zia mempunyai pria lain.


"ya chef"


"iya, tapi dia siapa? apa jangan-jangan kamu ada pria lain selama ini hum?"


"koki Lo mas, koki"


Zia berusaha menjelaskan


"koki? siap...."


saraf-saraf dikepala Razik mulai tersambung dan menatap Zia seakan meminta klarifikasi bahwa yang ia fikirkan sekarang adalah benar.


"iya, koki, tukang masak"


Razik mengulum senyumnya. sanubarinya sekarang begitu digelitiki tapi ia tahan karena melihat ekspresi Zia yang mulai kesal dengannya.


"oooo kamu lapar?"


Zia mengangguk mengiyakan.


"ya ampun, kalo lapar bilang aja lapar. kan fikiran ku jadinya ngak kemana-mana"


senyuman mulai terlihat di bibir Zia begitupun Razik yang menyadari kebodohan yang baru saja melandanya.


mobil mereka melaju menyibak keramaian jalan raya. Razik memacu mobilnya dengan kecepatan yang cukup tinggi, karna dia tau Zia tidur dengan perut kosong saat ini. Razik sudah pesan bibi untuk membeli makanan supaya nanti saat sampai dirumah Zia bisa langsung makan.


Razik cukup lega akhirnya bisa memberitahu Syifa tentang hubungannya dengan Zia. tapi bukan berarti hubungan mereka telah berakhir, sebagai pria dia ingin mengakhirinya dengan jelas dan jantle.

__ADS_1


**********


Maira memutar otaknya, memikirkan hal yang bisa dia lakukan untuk menghibur Syifa. saat dia sibuk dengan fikirannya bel rumah Syifa berbunyi, menandakan ada seseorang di balik pintu. Maira melirik jam, sudah jam 22.30, Maira merasa ragu untuk membukakan pintu karna malam sudah larut. namun bel rumah Syifa terus berbunyi, seakan ingin meruntuhkan pintu rumah itu.


Maira akhirnya membuka pintu dengan ragu-ragu, saat bisa melihat seseorang yang berada di balik pintu Maira merasa lega.


"Prass?"


"hai"


Prass melambaikan tangannya dengan tegang.


"aku menghubungi mu tapi tidak dijawab, aku jadi khawatir, amakanya aku kesini"


Maira menatap Prass penuh selidik.


"aku khawatir dengan, dengan Syifa maksudnya"


sebenarnya dia lebih berharap jika Prass mengkhawatirkannya. Maira hanya menganggukkan kepalanya. seketika hanya ada keheningan diantara keduanya, saat kedua hati itu saling bertanya apa makna diri mereka di dalam hati masing-masing.


tiba-tiba suara pecahan kaca dari kamar Syifa membuat keduanya tersentak dan langsung menghampiri Syifa. benar sebuah kaca telah pecah, Syifa memecahkan bingkai foto yang menghiasi foto-foto nya dengan Razik.


kaca bingkai itu hancur hingga menjadi kepingan-kepingan kecil, seperti itu pulalah hati Syifa saat ini.


Prass membersihkan pecahan kaca, sementara Maira mendekati Syifa yang terlihat sangat kacau. dengan perlahan Maira duduk disamping Syifa yang tengah duduk di tepi ranjang. Syifa menatap sayu kearah Maira, sebuah senyuman hangat Maira lemparkan untuk Syifa dan mengembangkan tangannya, seakan siap menyambut Syifa ke Dalma pelukannya. dengan hati yang hancur Syifa menghambur kedalam pelukan Maira.


segala kesedihan, kehancuran dan kerapuhannya, dia curahkan dengan tangisan. Maira hanya mengusap lembut kepala Syifa, ia bahkan tidak sanggup membendung air matanya merasakan tangisan Syifa yang kian deras membasahi bajunya. Maira juga merasakan hal yang sama, hanya saja saat itu Zia yang menguatkannya dan sekarang dia ada untuk menguatkan Syifa.


Prass juga memahami rasa sakit yang tengah dialami Syifa karna dia juga pernah terluka karena cinta.


"hebatnya cinta, luka yang ia ciptakan membuat seluruh organ tubuh ikut terluka"


batin Prass, lalu pergi meninggalkan kedua sejoli itu di dalam kamar, membiarkan mereka saling mengobati dan saling menguatkan.


"menangis lah hingga kamu lelah. tapi berjanjilah pada ku, besok saat mentari terbit, aku ingin kamu yang menjadi pelanginya"


tangis Syifa kian pecah dalam pelukan Maira, cukup lama Maira bertahan sebagia sandaran Syifa, hingga akhirnya Syifa mengangkat kepalanya.


"Mai terimakasih selalu ada untuk ku"


Maira hanya tersenyum hangat dan menggenggam erat tangan Syifa.


"tapi bisakah aku meminta sesuatu?"


Maira mengangguk.


"apa?"


"ceritakan pada ku bagaimana mereka bisa menikah"


Maira menegang mendengar keinginan Syifa. dia tidak tahu apakah dia berhak mengatakan semuanya kepada Syifa. Meskipun dia menjadi saksi kejadian itu tapi bukan berarti dia punya hak seutuhnya untuk mengungkap cerita yang sangat ingin dilupakan oleh mereka.

__ADS_1


__ADS_2