9 Permintaan Cinta

9 Permintaan Cinta
rencana terburuk


__ADS_3

waktu terus berjalan tapi Razik tidak kunjung sanggup menutup matanya lagi. pilihan yang diberikan Abi sungguh menyita fikirannya.


"jika aku menikah dengan Zia, bagaimana dengan Syifa? lalu apa aku bisa bahagia Dan mencintai Zia lagi? bukankah Zia masih membenci ku?"


Razik berdiri dan membuka jendela kamar, menatap langit yang kelam, bahkan tidak ada satu bintang pun yang menghiasinya.


"namun jika tidak, foto itu akan tersebar luas. bagaimana dengan nama baik keluarga kita? bisnis Papi Zia dan nama sekolah Abi akan jatuh bersamaan. Lalu bagaimana dengan nama baik ku dan juga Zia? bukankah itu akan lebih buruk dan Syifa mungkin akan lebih membenci itu. akhhh"


Razik menjambak rambutnya frustasi.


"jalan apa yang harus ku pilih ya Allah?"


tatapnya nanar pada kegelapan yang menghiasi langit. pandangannya teralihkan saat Ummi mengetuk pintu dan mengajak Razik untuk sholat subuh.


"udah waktunya sholat nak"


Razik mengangguk dan mengikuti Ummi keluar dari kamar. Razik memimpin sholat dengan khusuk, karna Abi sholat ke mesjid maka Razik yang menjadi imam subuh ini. Razik bukannya tidak ingin pergi ke mesjid namun mentalnya serasa belum siap untuk bertemu dengan warga setempat. Razik menyalami Ummi tapi saat Razik ingin melepaskan salamannya ummi menahan tangan Razik membuat Razik kembali duduk dihadapan ummi.


"mas untuk kali ini izinkan Ummi meminta sesuatu"


Meski belum disampaikan, Razik bisa menebak apa yang diinginkan Ummi.


"apa ummi?"


"menikahlah dengan Zia"


benar yang difikirkan Razik.


"haruskah aku menikah dengannya?"


batin Razik.


"baru-baru ini Abi membuka program sekolah gratis untuk anak-anak yatim/piatu di pesantren kita dan banyak sponsor yang mendukung itu. dan program ini akan di sahkan saat ajaran baru nanti"


ummi menatap Razik dengan penuh harap.

__ADS_1


"Ummi sungguh takut jika masalah ini tersebar akan mempengaruhi program yang telah dirancang oleh Abi, karena pendonor dana terbesar untuk program ini adalah papinya Zia. mas, ummi bukan hanya memperdulikan Abi tapi juga anak-anak itu"


seakan tamparan besar bagi Razik untuk segera menyadari keputusan yang tepat yang harus dia ambil.


"Ummi meminta inipun bukan sekedar memikirkan Abi tapi juga Ummi fikir ini yang terbaik untuk mas. Zia itu wanita yang baik dan mas sudah kenal Zia dari kecil. bahkan keluarga Zia sudah menganggap Abi sebagai bagian dari keluarga besar mereka, mas tau itukan"


Razik mengangguk.


"mereka yang menerima Abi dengan tangan terbuka dan Abi dibesarkan oleh keluarga mereka karna itu sekarang Ummi mohon kepada mas untuk menerima Zia dengan tangan terbuka juga"


"Ummi jangan, jangan memohon kepada Razik. Razik akan lakukan itu. Razik akan menerima dan menikahi Zia. Tapi jangan pernah memohon kepada Razik, ya Ummi. Ummi cukup berikan perintah, Razik akan jalani itu"


Ummi tidak mampu membendung air matanya, seketika suasana terasa begitu haru untuk anak dan ibu itu.


"besok Razik akan berbicara dengan Zia. Tapi Razik tidak akan bisa apa-apa jika Zia tidak ingin menikah dengan Razik Ummi"


"iya ummi mengerti. berbicaralah dengan Zia."


Razik mengangguk, dia merebahkan dirinya di pangkuan sang Ummi, ingin merasakan kembali lembut dan hangatnya belaian seorang ibu.


seperti yang dikatakan Razik hari ini dia akan menemui Zia dan membicarakan keputusan yang seharusnya mereka ambil. Tapi keduanya masih membisu. Ada rasa bersalah di hati keduanya.


"gue minta maaf"


Razik terdiam dan tidak mengerti kenapa Zia yang minta maaf kepadanya.


"ini terjadi gara-gara gue. gue yang sengaja melepas baju lo Zik, karna gue lihat badan lo panas banget. tapi sungguh gue ngak nyangka bakalan kayak gini jadinya"


Mata Razik membulat sempurna. Sekarang dia membiarkan hatinya menjadikan tindakan Zia untuk membencinya.


"sebagai dokter gue bisa lihat keadaan lo kritis malam itu, badan lo terlalu panas dan baju lo juga ketat bangat makanya gue lepas supaya panas di badan lo bisa sedikit berkurang. dan kemeja gue, gue jadiin sebagai penutup badan lo supaya ngak terlalu terkena terpaan angin. gue cuman berniat buat nolongin lo doang. gue takut kalau dibiarin panasnya bakalan makin tinggi."


"Lo harusnya biarin gue mati aja. lo tau ngak sih Zi, gara-gara ulah lo kita, keluarga kita jadi terperangkap dengan masalah ini"


Zia tertunduk dia tidak menyangka Razik akan marah seperti itu kepadanya.

__ADS_1


"gue minta maaf"


"minta maaf, maaf lo doang ngk bisa menyelesaikan masalah ini"


"terus gue harus gimana?"


"Lo harus nikah sama gue"


Zia sungguh tidak percaya apa yang dia dengar.


"kita harus menikah untuk menyelematkan keluarga kita"


Zia masih membisu, dia tidak tahu harus bagaimana menanggapi usulan Razik.


"karna ini hanya untuk menyelamatkan nama keluarga maka pernikahan kita cukup satu tahun"


"satu tahun?


Zia semakin tidak paham apa yang tengah difikirkan Razik.


"ya satu tahun. setelah setahun kita akan bercerai"


"kenapa?"


"karna gue masih mencintai Syifa dan impian masa depan gue ada bersama dia"


seperti teriris perihnya hati Zia mendengar apa yang baru saja diucapkan oleh Razik. disaat yang bersamaan Zia di angkat setinggi langit lalu dijatuhkan kedasar jurang. rasanya harga dirinya ditelanjangi begitu saja. belum menikah saja, calon suaminya sudah punya niat untuk menceraikannya.


"Lo tenang aja kita akan menikah diam-diam karna gue juga ngak mau pernikahan kita diketahui orang-orang dan gue ngak akan pernah meminta nafkah batin sama lo. status pernikahan kita cukup diatas kertas diluar itu kita urus hidup masing-masing"


Zia tidak sanggup lagi mendengar setiap saran ataupun keputusan dari Razik. karna setiap kata yang keluar dari mulut Razik hanya menyayat hatinya.


"dan kita bisa...."


"cukup ngak, gue ngak mau nikah sama Lo"

__ADS_1


Razik menatap dengan tajam dan Zia bisa rasakan amarah dalam tatapan itu


__ADS_2