
"sayang i am come back"
Seluruh urat-urat raziq seakan ditarik melihat kehadiran wanita itu. Tanpa menyadari ketegangan raziq dia langsung menyambar kedalam pelukan pria itu.
"Kamu tau ngak sih aku kangen banget sama kamu"
"Ha ya, iya aku juga"
nafas Raziq seakan tertahan menanggung semua ketakutan yang ia fikirkan.
"Tapi kayaknya ngak deh"
Wanita itu melepaskan pelukannya dan menatap raziq curiga.
"Ka kangen kok. Kangen banget malahan. Tapi kok kamu pulangnya ngak bilang-bilang sih"
"Kenapa kamu takut ketahuan selingkuh?"
Dada raziq semakin sempit. nafasnya semakin berat utk ditarik.
"Eh ngak ko. Syifa aku tu ngak pernah bisa berpaling dari kamu. Percaya deh"
Wanita itu masih menatapnya curiga.
"Minum, kamu mau minum ngak? Aku ambilin ya. Sekarang kamu duduk dulu"
Raziq meninggalkan Zia sendirian di ruang tamu dan menuju ke dapur. Sebenarnya dia hanya takut jika Zia keluar dari kamar mandi. Tamat sudah cerita hidupnya jika itu terjadi. Raziq terus memperhatikan pintu kamar mandi berharap Zia tidak segera keluar. Tapi harapannya tidak sesuai kenyataan. Knop pintunya sudah turun kebawah, pintunya mulai terbuka daaaannnnnn......
Raziq dengan sigap mendorong Zia masuk kembali kedalam dan mengunci pintu kamar mandi. Zia kaget plus bingung dengan tingkah raziq. Kesal tentu saja. Zia berusaha untuk menekan knop pintu lagi tapi kali ini keras, susah untuk di buka. Zia sudah mengepalkan tangannya. Dengan gaya premannya Zia siap memukul pintu itu dengan sekuat-kuatnya.
"Sayang, kamu ngapain?"
"Ti tikus"
Zia mengurungkan niatnya mendengar seseorang tengah berbicara dengan raziq. Zia merasa beruntung tidak menyebabkan masalah lagi.
"Sayang? Siapa itu? Apa..... Haaaa syifa? Astaga bagaimana ini? Aduh bodohnya aku. Untung saja aku belum membuat keributan kalo ngak brabe ni urusannya"
Zia meracau pada dirinya sendiri.
"Kamu takut tikus kan?"
"Beneran tikus?"
Syifa menatap raziq curiga. Dengan penuh kepercayaan Raziq menganggukkan kepalanya.
"Buka, biar aku bunuh tikusnya"
"Ja jangan donk sayang nanti kamu dikejar Lo sama tikusnya"
Syifa makin curiga dia meraih ganggang pintu yang di pegang oleh raziq.
"Buka ngak!"
Raziq menggeleng. Rasanya jantungnya sekarang seperti gendang yang dipukul kuat-kuat.
"Buka....!!!!!"
Raziq frustasi. Entah kenapa Syifa lebih kuat dari pada dia hari ini. Dengan penuh semangat Syifa membuka pentu itu.
Aaaaaaaaaaa...........
Keduanya berlari terbirit-birit menjauh dari kamar mandi.
"Iiiiiiii....kecoaaaa"
Syifa merasa geli seakan-akan kecoa itu tengah menjalari tubuhnya.
"Aku pulang aja deh. Sayang rumah kamu dibersihin donk sampe ada kecoa nya. Geli tau"
Raziq hanya mengangguk.
"Kita ketemu ntar malam aja ya sayang. Daaa aku pulang dulu"
"Iya hati-hati ya. Nanti aku kerumah kamu"
Setelah Syifa menghilang dari pandangannya dia baru bisa bernafas dengan lega. hari ini seekor kecoa berhasil menyelamatkan kisah cintanya.
"Kamu penyelamat ku hari ini"
__ADS_1
Kata raziq sambil mengangkat kecoa itu dengan geli dan membuangnya ke tong sampah.
"Aw..."
suara debug yang berasal dari kamar mandi mengingatkannya bahwa ada seseorang didalam sana. Raziq segera membuka kamar mandi.
"Kamu kenapa?"
"Kaki ku kayaknya keseleo deh"
"kok bisa sih?
"Iya nih, duuuhhh..."
Raziq mendekati Zia.
"Bisa berdiri ngak?"
Zia berusaha berdiri perlahan, kakinya terasa sangat ngilu. Melihat Zia yang kesakitan membuatnya tak tega dan tanpa persetujuan Zia raziq langsung menggendongnya.
Zia kaget melihat Raziq yang tiba-tiba menggendongnya dan entah kenapa ada rasa tidak terima di hatinya. Dia sadar raziq mungkin suaminya tapi sampai hari ini status itu hanya berlaku diatas kertas bahkan Zia merasa telah mengkhianati Syifa sebagai teman.
"Apaan sih, lepasin ngak?"
Raziq mendudukkan Zia di sofa tamu dengan wajah kesalnya.
"Nyari kesempatan ya?"
"Idih kalo aku mau nyari kesempatan bukan gitu"
Zia memutar bola matanya malas. Tiba-tiba raziq mendekatkan wajahnya kerah Zia, sangat dekat sehingga ia bisa merasakan deru nafas raziq, membuat bulu kuduknya meremang. Raziq menarik handuk yang menutupi rambut Zia sehingga rambut basah Zia jatuh terurai. Raziq menepis rambut Zia yang menutupi telinganya dan berbisik.
"Begini caranya kalo aku mau nyari kesempatan"
Zia menegang, entah kenapa ruangan ini terasa begitu menyeramkan.
"Ihhhh dasar mesum"
Zia mendorong raziq sekuat tenaganya.
"Hahahaha kenapa? Takut? Udah ngak usah takut. Aku ngak nafsu kalo ngeliat kamu"
Zia melirik raziq dengan tajam, ada api amarah di matanya. Hal itulah yang selalu membuat raziq ingin terus menggoda Zia. Raziq tersenyum puas.
Zia menyilangkan tangannya di dadanya. Takut kalau-kalau....
"Fikirannya jangan mesum mbak"
Raziq yang telah bersimpuh dihadapan Zia langsung menarik kakinya. Zia masih menegang, fikiran buruknya masih menerawang kemana-mana.
"Aw...."
Entah apa yang dilakukan raziq tapi kakinya terasa sangat sakit saat raziq memutarnya.
"Coba gerakin"
Zia menggerak-gerakkan kakinya perlahan. Benar saja kakinya terasa lebih ringan.
"Mendingan"
Raziq membalas senyuman Zia.
"Kamu tadi ngapain sampai keseleo gini?"
"Gara-gara pacar kamu"
Raziq mengerutkan keningnya.
"Tadi aku dengar dia mau buka pintunya makanya aku spontan naik ke atas toilet. Eh pas diatas aku liat ada kecoa, kecoa itu nyelamatin kita hari ini"
"Iya baru kali ini aku ngerasa seekor kecoa itu berguna. Terus?"
"Pas turunnya aku lompat. Makanya gini"
"Owalah. Untung kamu turunnya ngak salto ya"
"Ih semua ini tu gara-gara kamu tau ngak"
Zia melemparkan bantal kearah raziq dan meninggalkannya begitu saja.
__ADS_1
"Kok gara-gara aku? Kamu harusnya berterimakasih sama aku, bukannya ngelemparin bantal kayak gini. Huh dasar cewek"
********
Keduanya sibuk dengan kerjaannya masing-masing. Raziq sibuk dengan siaran tv nya dan Zia sibuk dengan leptopnya di balkon. Zia memang paling suka mengerjakan tugas-tugas nya di balkon. Rasanya dia bisa bernafas dengan lega meskipun di tekan oleh tugas kuliah yang menumpuk.
Sesekali terlihat keningnya mengerut menandakan otaknya tengah berjalan.
"Pisttt...pissttt...."
Bukan raziq namanya jika membiarkan Zia hidup dengan tenang.
"Hus..huss.."
Konsentrasi Zia buyar seketika. Dia menarik nafasnya frustasi.
"Kamu pikir aku kucing?"
"Sejak kapan manggil kucing kayak gitu?"
"Sejak ada orang jahil terlahir di dunia ini dan sialnya dia selalu ada di sekitar ku"
Raziq tertawa
"Lucu, hahahahhahaa"
"Hehe ketawa aja. Puas-puasin tuh ketawanya"
Raziq memasang senyum imutnya.
"Sini deh"
"Apalagi.....?"
"Sini aja dulu"
Zia menyeret tubuhnya dengan berat kesamping raziq. kedua alisnya terangkat seakan menyakan, apa gerangan yang diinginkan razik.
"Gue tiga hari kedepan kayaknya ngak pulang deh"
"Kenapa kamu punya rumah baru?"
Raziq memasang wajah kesalnya.
"Sekalian aja kamu tinggalin ni rumah dan jadiin ini sebagai harta gono gini"
"Enak aja. Dengerin dulu Napa?"
"Ya deh. Apa sih? Kamu mau ngomong apa? Humm?"
Zia memasang wajah seriusnya.
"Ini"
Raziq memberikan sebuah kotak hendphone, tentunya handphone high classs edisi terbatas. Mulut Zia membulat sempurna seperti matanya saking terkejutnya.
"Buat aku?"
"Bukan buat bapak-bapak yang mau bilang sayang sama kamu"
Zia mengerutkan keningnya.
"Iya buat kamu"
"Dalam rangka apa?"
"Kan kamu dua hari lagi bakalan ulang tahun daaannn berhubung aku ngak disini dalam tiga hari kedepan makanya aku kasih kadonya sekarang"
"Uluh baik banget sih suaminya aku"
"Ih jijik tau ngak sih"
Zia tersenyum, bahagia dong pastinya. Dikasih kado sama suami.
Zia membuka kotak ponselnya dengan hati berbunga-bunga.
Tapi seperti bunga yang dimakan ulat saat ia mengetahui isinya.
"Huaaaaaaa......."
__ADS_1
Zia dengan reflek melemparkan kotaknya keatas. Melambung tinggi.
Raziq yang melihat reaksi Zia langsung menegang, seperti senjata makan tuan begitulah hasilnya saat ini. keduanya tengah menegang menunggu apa yang akan terjadi saat kotak itu jatuh......