
pintu itu masih tertutup rapat. dan setiap kaki yang menapaki di depan pintu kamar itu berharap dapat melihat wajah sang penghuni kamar, namun tidak satupun diantara mereka yang bisa melihatnya.
"mam bagaimana dengan Maira?"
Mami terdiam, ia tengah memikirkan sesuatu.
"biarkan saja, biarkan dia memikirkannya dengan matang. itu bukanlah hal yang mudah baginya"
mama Sem hanya mengangguk dan menghela nafasnya dengan berat. benar kata Dedi Zia, itu bukanlah hal yang mudah untuknya.
"ayo kita sarapan"
ajakan papa Sem disambut dengan anggukan, dan mereka memulai rutinitas sarapan paginya.
"Sem?"
"Sem bertugas tadi malam ma"
Zia menjawab pertanyaan yang belum sempat dilontarkan oleh mamanya.
mama hanya bisa mengangguk dan melanjutkan sarapannya.
setelah selesai sarapan satu persatu meninggalkan Zia. mereka melanjutkan pekerjaannya masing-masing.
"zi mami pergi dulu ya"
"iya mi"
"mama juga ya zi"
"iya ma, hati-hati di jalan"
"o iya nanti kabari mama tentang Maira ya"
"iya Ma"
"kamu juga jangan lupa hari ini harus kerumah sakit"
tambah mama Sem mengingatkan. Zia tersenyum simpul mendapatkan perhatian dari ibu Sem
"iya maaa..".
"nanti ditemanin Sem ya"
"iya, iya mami, iya mama. sekarang berangkat ya. nanti telat lo"
mami Zia melirik jam tangannya.
"wah iya mbak udah jam berapa ini"
Mami Zia langsung menarik tangan mama Sem dan meninggalkan Zia. tidak berselang lama mami kembali dengan langkah tergesa ya.
"mami lupa hp"
Zia hanya menggeleng dan tersenyum simpul melihat mal-mal rempong itu di pagi hari.
"ingat nanti kering sakitnya ditemani Sem atau ngak Maira"
"iya mami ku sayang"
Mami mencubit pipi Zia yang terlihat semakin gembul. bagi setiap ibu anaknya masih saja terlihat kecil. mendaoatkan perlakuan hangat dari maminya di pagi hari mengingatkannya pada luka Maira. dia semakin paham betapa berat luka yang selama ini Maira tanggung.
Zia melirik pintu itu dan masih saja tertutup rapat.
"Maira keluar dong"
__ADS_1
batin Zia penuh harap saat menatap pintu kamar Maira.
"assalamualaikum"
Zia sedikit terperanjat saat melihat kehadiran Sem entah sejak kapan"
"wa'alaikum salam. kaget tau ngak. sejak kapan berdiri disana"
"sejak kamu menatap pintu itu dengan khidmat"
Zia menghela nafasnya lesu.
"dari semalam Maira ngak keluar kamar"
"kenapa? kalian berantem?"
"bukan"
"terus?"
"kita bujuk dia buat nemuin keluarganya"
"kalo dia ngak mau jangan dipaksa zi"
"kamu ngak paham perasaan dia Sem"
"iya mungkin kamu memang lebih paham perasaan dia. tapi kalo orangnya ngak mau buat apa dipaksa. lihatkan dia marah jadinya"
Zia memutar bola matanya malas. dia lebih memilih untuk menonton tv dari pada berdebat dengan Sem.
"lho kok kamu jadi marah sama aku?"
"kamu nyebelin banget sih. sok tau deh"
"kok sok tahu sih?"
"terus?"
"terus terus... ah malas ah, ngomong sama kamu bikin tambah bete tau ngak"
"ih apa sih?"
bagi Zia Sem memang bukanlah orang yang tepat untuk diajak bicara karena berbicara dengannya itu sangat susah. dia hanya akan menganggap benar ala yang menurutnya benar.
saat Zia melewati pintu kamar Maira seakan ada rem di kakinya. dia sangat ingin berhenti dan menatap pintu itu lekat-lekat. ingin rasanya ia mengetuk pintu kamar itu dengan kuat dan menyuruh Maira keluar.
namun sebelum niatnya itu ia lakukan Maira lebih dahulu membuka pintu kamarnya.
Zia begitu kaget bercampur senang.
"baik Mai"
Maira tersenyum berat kepada sahabatnya itu.
"gue bakalan menemui mereka hari ini"
entah itu berita bahagia tapi Zia sangat senang mendengarnya. dipeluknya sahabatnya itu dengan erat.
"keputusan yang bagus Mai"
Maira hanya mengguk, bahkan ia tidak yakin apa itu memang keputusan yang baik atau tidak tapi dia yakin orang tuanya juga berhak berbicara.
Sem yang memperhatikan mereka dari bawah hanya menggeleng.
"mereka sudah berbaikan, dasar wanita"
__ADS_1
...***********...
"maaf ya zo hari ini gue ngak bisa nemenin Lo kerumah sakit"
"ngak papa, kan ada dokter Sem"
Maira melirik Sem yang berdiri di samping Zia. dia mengangguk sekedar membuat Maira yakin kepadanya.
"oke, gue harap hari ini hasil nya lebih baik"
"Insya Allah"
ucap mereka hampir serentak.
"zi bilangin ke semuanya ya gue pergi nemuin orang tua gue"
Zia menggenggam erat tangan Maira.
"iya, udah gue sampein kok. pokoknya gue harap ini langkah yang terbaik"
Maira tersenyum berat. dia juga sangat berharap ini adalah langkah yang terbaik.
"udah sana berangkat"
"iiihhhh ngusir deh"
Maira melirik Zia dengan kesal. sesungguhnya kaki Maira amat berat untuk meneruskan niatnya. dia tidak begitu yakin mampu menghadapi orang tuanya, Maira justru takut jika niatnya ini akan memperburuk keadaaan mereka.
melihat Miara yang masih terdiam membuat Zia geram, dengan kesalnya ia menarik tangan Maira dan mengantarkannya ke depan pintu mobilnya.
"ayo cepat pergi. kalau cuman difikirkan bakalan makin berat tau Mai"
Maira hanya mampu pasrah.
"iya deh iya. gue pergi"
Maira membuka pintu mobil dan menyempatkan diri untuk melambai kepada Sem. Sem membalasnya dengan senyuman. dia sebenarnya tidak paham situasi yang tengah dihadapi Maira karna dia tidak pernah tahu cerita hidup Maira tapi Sem yakin Zia sekarang tengah gelisah memikirkan sahabatnya itu.
"zi kita harus segera kerumah sakit"
Zia hanya mengangguk dan masuk kedalam rumah. baru saja Zia menutup pintu rumah bel rumah pun berbunyi pertanda ada seseorang yang ingin bertamu.
Sem dan Zia saling pandang. mungkin mereka tengah memikirkan hal yang sama.
"apa itu Maira"
benar saja, Sem juga memikirkan hal yang sama dengan Zia. Zia mengangkat kedua bahunya.
"mbok aja yang bukakan mas?!"
Sem mengangguk
"eh ngak usah mbok biar Zia aja, siapa tahu itu Maira"
"baik non"
si mbok hanya manggut dan meninggalkan mereka untuk melanjutkan pekerjaannya yang lain.
Zia membukakan pintu rumahnya dan alangkah terkejutnya ia saat melihat pria yang berdiri di hadapannya saat ini.
"assalamualaikum"
Zia masih saja terdiam kaku. Sem yang tadinya ingin ke lantai atas jadi mengurungkan niatnya dan menghampiri Zia.
"siapa zi"
__ADS_1
sekarang bukan hanya Zia saja yang terkejut tapi juga pria itu. dia juga sama terkejutnya dengan Zia, melihat Sem membuatnya menyimpulkan banyak hal ...........