
mereka masih sama-sama bungkam, asik dengan fikiran sendiri. berusaha keras memikirkan pertanyaan yang patut menjadi pembicaraan. meski banyak hal yang ingin ditanyakan namun nyatanya pertanyaan itu terasa asing karna waktu memang membuat mereka merasa asing satu sama lain.
"bagaimana kamu..."
"kamu apa kabar?"
mereka bertanya dengan serentak. dan akhirnya terdiam kembali berharap salah satunya melanjutkan pertanyaan yang tadinya terpotong.
Zia menarik nafasnya dalam-dalam dan sedikit tersenyum melihat pria itu bersikap kaku kepadanya.
"aku baik-baik saja"
pria itu hanya tersenyum kaku. mengandung kopinya dan menyeruputnya sekedar untuk menghilangkan kemauan.
"aku tidak menyangka kita sejauh ini sekarang. apa yang membawamu kesini? apa itu Maira?"
Prass mengangkat kepalanya dan tersenyum simpul sambil mengiyakan kesimpulan yang di buat oleh Zia.
"hah, aku fikir Maira benar-benar lolos dari pantauan mu"
"bagaimana mungkin aku bisa meloloskannya begitu saja"
Zia meliriknya penuh selidik
"kenapa? apa karna?"
"bukan, bukan dia yang menyuruhku tapi hati ku sendiri yang menggerakkan ku untuk mencari mu"
Zia hanya menarik nafasnya frustasi.
"lalu? kamu akan melapor kepadanya?"
Prass terdiam, membiarkan Zia sedikit menunggu dengan penuh rasa berdebar.
"tidak"
mata Zia membulat sempurna, dia heran juga tidak menyangka dengan jawaban Prass.
"jika kamu mau memberikan kesepakan dengan ku"
"kesepakatan apa?"
Prass sedikit ragu, tapi ia ingin mencoba memperjuangkan cintanya untuk yang terakhir kalinya.
"berikan aku semua informasi tentang Maira. apapun yang tidak aku ketahui tentangnya"
Zia terharu melihat perjuangan Prass yang sampai saat ini masih memperjuangkan sahabatnya itu. Namun Maira tidak akan menyukai persetujuan ini, memikirkan sahabatnya itu Zia kembali ragu untuk mengambil persetujuan yang ditawarkan oleh Prass.
"tapi sampai kapan mereka berdua akan seperti ini?"
__ADS_1
Zia memperbaiki duduknya dan menatap Prass dengan intens.
"bagaimana aku bisa mempercayai mu? bukankah kamu bisa saja berbohong kepada ku"
Prass terdiam, dia juga tidak bisa memberikan jaminan yang bisa membuat Zia mempercayainya.
"kita hanya bisa mengandalkan rasa percaya satu sama lain."
jelas di wajah Zia ia merasa tidak puas dengan jawaban Prass.
"bagaimana aku bisa percaya dengan mu? b ukankah kamu juga bisa berbohong kepada ku?"
sekarang Zia merasa Prass bisa di percayai karna Prass juga mempercayainya.
"oke, kepercayaan. aku pegang itu"
"oke"
Prass tersenyum puas telah mendapatkan kesepakatan dari Zia.
"apa yang ingin kamu ketahui tentang Maira?"
"aku ingin tahu semua tentang dia yang tidak aku ketahui"
Zia mengerutkan keningnya.
melihat kerutan di kening Zia membuat Prass harus menjelaskan lebih panjang lebar. dan benar dugaan Zia, pertanyaan seperti ini akan menyerangnya. Entah Maira akan marah kepadanya yang jelas untuk saat ini dia ingin menyelamatkan diri terlebih dahulu.
"ayahnya tertangkap melakukan korupsi sehingga harus ditahan. berita memang tidak sempat menyebar karna mereka tidak memperkenankan media untuk mengungkapkan identitas nya"
Prass sangat terkejut mendengar beban yang menimpa wanita yang dicintainya itu tapi itu hanya bagian kecil dari penderitaan hidup Maira.
"terus karna itu Maira memutuskan untuk pindah?"
"bukan?"
jawab Zia dengan lesu. sungguh Zia saja masih merasakan sakit jika harus mengenang kembali moment menyakitkan bagi Maira.
"ibunya pergi meninggalkannya dan tidak ada kabar. Maira hanya tinggal dengan neneknya. Awalnya semuanya baik-baik saja sampai akhirnya nenek sakit parah dan harus mendapakan perawatan. saat itulah keluarga kami ikut andil dalam kehidupannya. Maira tinggal bersama kami, Mami dan Dedi juga bersedia menanggung semua kebutuhan Maira termasuk menanggung biaya perawatan nenek tapi sebagai anak Maira tetap saja merasa timpang tanpa kehadiran orang tuanya. Aku pernah menemaninya untuk menemui ayah Maira di tahanan tapi dia tidak bersedia menemuinya. saat itulah Maira mulai depresi. dia semakin pendiam, sering mengurung diri bahkan kami pernah menemukannya pingsan di kamar mandi dengan basah kuyup"
Zia menyeka Air matanya, suaranya juga semakin berat.
"karna hal itu Ummi Razik menawarkan diri untuk merawat Maira sekaligus memberikan perawatan psikologis untuknya. akhirnya dia tinggal di pesantren dan juga melanjutkan pendidikannya disana"
"lalu Tasik bagaimana bisa dia tidak mengetahui semua itu?"
"dia hanya pura-pura tidak tahu"
ada rasa kecewa menyelinap di hati Prass.
__ADS_1
"dia tahu?"
Zia hanya mengangguk balam.
"sial, kenapa dia tidak pernah memberitahuku?"
"agar tidak menambah bebannya".
"jadi aku beban untuknya"
"bukan, buakn seperti itu. kami hanya ingin fokus memberikan perawatan ututk Maira saat itu. dan kamu fikir dia akan senang jika kamu melihatnya dalam keadaan itu?".
Prass terdiam, dia memang sangat kecewa karena merasa dibodohi oleh sahabatnya sendurj. tapi dia juga sadar apa yang dikatakandikatakan oleh Zia juga benar.
"itu dulu, lalu sekarang kenapa dia juga seakan-akan tidak ingin bertemu dengan ku bahkan dia terlihat sangat membenci ku"
"dia hanya terlalu untuk memperbaiki kesalahannya"
"maksudnya?"
"ayahnya korupsi di perusahaan VPN grup"
sekarang Prass bisa mengerti dengan semua kondisi Maira. Dia bisa mengerti kenapa Maira selalu menghindarinya.
"sekarang kamu bisa paham kenapa Maira bersikap seperti itu?"
Prass hanya terdiam. bahkan dia saat ini begitu terpuruk mendengar nama perusahaan itu, terasa seperti benteng besar yang memisahkan mereka berdua. Dia sendiri ragu harus menghancurkan benteng itu atau membiarkannya memisahkan kehidupan mereka berdua. sanggupkah dia untuk berpaling dari cintanya dan membiarkan cinta yang lain?
"beban itulah yang selama ini ditnaggung oleh Maira Prass. Dia menanggungnya sendirian tanpa ingin melihat kamu ikut terbebani"
Prass mengangkat kepalanya dan fokus kepada pria yang berada d belakang Zia.
"dia datang"
"siapa?"
Zia langsung menoleh kebelakang mengikuti arah pandang Prass.
"sudah selesai?"
Zia mengangguk pertanda dia sudah menganggap percakapannya dengan Prass sudah usai.
"Prass saya harus pergi sekarang"
Prass juga menggangguk menyetujui keinginan Zia
"jika kamu ingin memperjuangkan Maira maka tentulah dia sekarang karna aku yakin Maira butuh seseorang disamping nya saat ini. Nanun jika tidak saya harap kmau jangan pernah lagi menemui Maira dan biarkan dia membuka hatinya untuk orang lain"
setelah meninggalkan pesan itu Zia juga meninggalkan Prass yang tengah berfikir keras. Haruskah dia meninggal kan Maira atauterus memperjuangkannya dengan benteng yang lebih tinggi.
__ADS_1