9 Permintaan Cinta

9 Permintaan Cinta
Tiket


__ADS_3

Zia menatap dirinya di kaca, penampilan yang berbeda, siapkah ia untuk itu? Sebenarnya sudah lama Zia berniat akan hal itu namun keberaniannya masih terlalu kecil.


Perkataan raziq dan jilbab ini seakan mendorongnya untuk melakukan itu. Dia masih ingat dengan percakapan mereka dua hari yang lalu, saat mereka pulang dari panti asuhan piara bunda.


********


Flash Back On


"Kado dari bunda?"


Razik melirik sebuah kotak kado yang ada di pangkuanZia


"Bukan kado dari Adit"


Raziq kembali sibuk dengan kemudi stir nya. Mendengar nama Adit ada rasa yang berdesir di hatinya.


"Kado terakhir dari Adit buat bunda"


"Terus kok ada di kamu?"


"Kata bunda Adit beli kado ini dua dan satunya lagi mau diberikan ke aku, tapi sekarang bunda udah ngak tau kado yang satunya lagi dimana. Jadi bunda ngasih yang ini aja"


Raziq manggut-manggut.


"Isi nya apa?"


Zia mengangkat bahunya pertanda ia juga tidak tahu isinya apa.


"Aku juga ngak tau nih isinya apa"


Zia cukup kaget saat membuka kotak kado itu, isinya sebuah jilbab.


"Jilbab?"


Razik memastikan karna hanya meliriknya sebentar


Zia hanya mengangguk.


"Cantik ngak?"


Zia memamerkan jilbab barunya kepada razik.


Terpesona, ya raziq terpesona melihat Zia yang tengah memakai jilbab. Wajah bulatnya yang dibalut dengan jilbab membuatnya terlihat imut dan cantik.


"Cantik"


Kata itu keluar begitu saja dari mulut raziq, meski lirih tapi masih terdengar oleh Zia.


"Iya aku memang cantik, tapi kalo nyetir liat jalanan dong pak kapten"


"Eh ekhm, ya cantik. Memang kodratnya kan seorang wanita itu cantik saat memakai jilbab"


"Huh ngeles, bilang aja kamu terpesona"


"Terpesona? sama kamu? Hah ngak mungkin"


Zia melirik raziq dengan tajam. Dia membuka jilbabnya kembali dan menyimpannya lagi dalam kotak itu.


"Kok berhenti?"


Tidak ada jawaban dari raziq, dia mengambil kotak kado yang ada di pangkuan Zia, membukanya dan mengenakan jilbab itu kembali di kepala Zia. Zia sungguh terkejut, sikap Razik seringkali tidak terduga.


"Kamu cantik dan tambah cantik kalo pake ini. Ummi selelu ingin melihat menantunya mengenakan ini"


Pipi Zia terasa panas, mungkin karna jantungnya memompa darah dengan cepat.


FLASH BACK OF


********


Zia tersipu malu mengingat kata-kata raziq tempo hari.

__ADS_1


"Ah Zia sadarlah dia cuma berkata jujur bukan merayu mu"


Zia menampar pipinya seakan tengah berusaha menyadarkan dirinya sendiri. Pandangannya beralih pada foto mereka saat SMA. Di dalam foto itu ia menyoroti satu orang, yaitu Syifa.


"Hah dia memandang ku manis sekali. Kira-kira kalo kamu tau aku istrinya raziq pandangan mu masih kayak gitu ngak ya?"


Zia mulai berkhayal tingkat tinggi.


"Atau mungkin bakalan terjadi kayak yang di film-film. Aku bakalan jadi istri yang tersakiti dan suami ku lebih memilih orang lain huu sedihnya"


Khalayannya semakin dalam. Dia mulai membayangkan yang nggak-nggak tanpa sadar seseorang tengah memperhatikannya.


"Ah tidak, aku mohon jangan ambil suami ku. Anak ku tujuh mau ku beri makan apa? Tolong mas jangan tinggalkan aku"


Zia dengan gaya bobrok nya.


"Mas, jangan pergi, aku mohon aaaaa massssss"


Raziq yang berdiri di depan pintu menarik kedua bibirnya dan tersenyum puas melihat ekspresi kaget Zia. Aduh Zia udah kehilangan mukanya, ini yang dikatakan ingin rasanya ku menghilang. Zia masih menutup wajahnya tidak sanggup melihat ekspresi raziq apalagi untuk mendengarkan ejekannya.


"Mami sama ummi nungguin kamu di ruang tamu"


Zia langsung menegang. Untuk seketika dia tepiskan rasa malunya dan langsung turun menemui ummi dan mami.


"Ummi, mami sejak kapan disini?"


Zia dengan ekspresi hangat dan manjanya. Hal inilah yang selalu membuat orang-orang merasa nyaman dengan Zia, dia tipe orang yang hangat.


"Baru aja, kamu tuh suami pulang kok ngak disambut sih"


Zia bahkan tidak tau kalo Razik sudah pulang.


"Zia taunya raziq pulang besok mam, mas ya kok pulang ngak bilang-bilang sih?!"


Zia menghampiri Razik, merangkul pinggangnya dan memberikan sedikit cubitan yang berhasil membuat Razik terperanjat.


"awww sakit"


Zia tersenyum puas. Sementara ummi dan mami yang sedari tadi di hadapan mereka merasa heran, seakan ada yang aneh diantara kedua anak mereka ini. sebenarnya ummi dan mami tengah mencurigai sesuatu, karna itulah mereka kesini untuk mencegah kecurigaa mereka.


"rencananya mau ngasih surprise buat Zia mam"


"o gitu"


kata mereka yang percaya dengan polosnya.


"Iya mam"


Raziq duduk rapat dengan Zia dan merangkul pinggang Zia dengan erat. Berekting seperti biasa supaya mereka terlihat mesra.


"Um pengantin baru, cocok lah berarti ya mbak sama niat kita kesini"


"Iya nih kayaknya"


Ummi dan mami saling lempar senyum.


"Niat, memangnya niat mami sama ummi kesini apa?"


Zia merasa ada yang patut dicurigai.


"Untuk memberikan ini"


Ummi meletakkan sebuah map diatas meja. Raziq mengambil amplopnya dan berusaha menemukan jawaban atas rasa penasarannya.


"Apaan ni mi?"


Zia kaget saat raziq memperlihatkan isi amplop itu.


"Tiket, boking hotel, apa ni mi?"


bukannya tidak paham, hanya saja Zia tidak ingin memahaminya.

__ADS_1


Mami dan ummi melirik raziq seakan meminta raziq untuk menjelaskannya pada Zia.


"Tiket bulan madu sayang"


"Apa? bulan madu?"


Ummi dan mami mengangguk serentak, mengiyakan


"Haha tiket bulan madu"


"hahahaha iya"


Zia memaksakan tawanya begitupun Razik yang berusaha untuk membentuk ekspresi bahagianya.


"Tiket dan hotelnya udah ummi siapin . Kalian tinggal berangkat besok"


Kata ummi dengan tegasnya


"Besok mi?"


"Iya besok"


"Tapi kan mi Zia..."


"Eit no bantahan, pokoknya kalian harus berangkat besok. Ummi sama mami udah kangen cucu nih"


"Cucu?"


Zia semakin pusing dengan perkataan maminya. Bulan madu? Cucu? Hal yang mustahil untuk mereka dapatkan.


"Oke kita berangkat besok. Raziq juga udah lama ngak liburan, hitung-hitung liburan kan"


Ummi sama mami mengangguk senang.


"Apaan sih?"


Kata Zia lirih, raziq hanya tersenyum puas. Baginya tidak masalah karna diapun cukup rindu untuk berlibur.


"Ummi sama mami tenang aja besok kalo Zia ngak mau biar raziq yang seret"


Razik dihadiahi jempol oleh ummi dan mami.


"Oke kalo gitu kita pulang dulu deh, biar kalian bisa packing"


terlihat wajah bahagia di wajah kedua wanita paruh baya itu. Setelah mami dan ummi menghilang raziq berbalik dan mendapati Zia tengah menatapnya dengan tajam. Raziq tersenyum manis memperlihatkan deretan gigi putihnya tapi tetap saja tidak merubah ekspresi seram Zia. Raziq memilih untuk menghindar namun langsung dicegat oleh Zia. Dia mencoba lagi melangkah ke kanan dan masih saja di tahan oleh Zia.


"Oke, kenapa?"


"Aku ngak setuju"


kata Zia dengan tegas.


"Ummi sama mami bilang no pembantahan jadi aku bisa apa"


Zia menghela nafasnya frustasi


"Kamu mau ngambil kesempatan ya?"


"Iya"


Zia membulatkan matanya, fikirannya mulai berkelana entah kemana.


"Mulutnya ditutup. Fikiran kamu jangan aneh-aneh deh. Aku cuman mau liburan. Kan lumayan dapat tiket gratis"


Zia menatap raziq curiga.


"Kalo pun iya aku mau macam-macam kan ngak ada salahnya?"


kata razik dengan santainya tanpa memikirkan Zia yang mulai menegang, dia tau Raziq hanya usil tapi tetap saja fikiran bidohnya membuangnya takut sendiri.


"Siapa tau dengan ini aku ngak bisa direbut dari kamu"

__ADS_1


Zia menunduk menyembunyikan pipi merona nya, dia malu raziq masih saja mengingat tingkahnya yang tadi, ah memalukan sekali.


__ADS_2