
"Zi lo ngak pulang?"
maira mengagetkan Zia dengan masuk tanpa permisi.
"belum tapi kayaknya ngak deh"
"kenapa? bukannya malam ini, lo ngak ada jadwal piket ya?"
"Lo juga kan?"
"huh, gue mah wajib ngak pulang malam ini, lo tau sendiri kan azkia masih sakit. jadi mau ngak mau kita harus rantam buat gantiin dia"
Zia hanya mengangguk pelan seakan paham.
"gue juga kayaknya bakalan ngak pulang malam ini"
maira menggeryitkan keningnya tak paham.
"Lina tadi minta tolong buat gantiin dia malam ini, soalnya dia mau ngerayain ulang tahun suaminya"
maira terdiam, bingung menghadapi sahabatnya yang satu ini.
"terus Lo?"
"hum? gue? kenapa gue?"
Zia pura-pura tidak paham
"Lo ngak ngerayain ulang tahun suami lo gitu?"
"ah Mai... lo tau sendiri kan tau hubungan gue sama Razik gimana dan dia pasti ngak butuh itu dari gue"
maira memandangi Zia penuh makna, dia berusaha mempelajari pemikiran Zia yang sungguh tidak ia pahami.
"udah deh lo mending kerja gih, gue mau siap-siap"
__ADS_1
"Lo mau kemana?"
"makan malam sama para dokter, menyambut pak wadio yang kembali bertugas disini"
"oh ya? pak wadio kesini lagi"
"iya, cukup pertanyaannya ya mbak"
"satu lagi"
Zia menghela nafasnya pasrah
"Lo mau makan dimana?"
Zia tidak tahan lagi dengan sikap maira, dia membukakan pintu dan mengayunkan tangannya keluar sekan menunjukkan jalan keluar untuk maira. Maira hanya mengikut perintah, namun pintu masih ia tahan.
"di resteron istana rasa"
kata Zia dengan sedikit kesal
Zia mengangguk sambil menepuk tangan Zia yang masih tertahan di daun pintu sampai akhirnya maira melepaskannya.
**********
sudah setengah jam berlalu, razik masih di parkiran rumah sakit. setelah mengantar Zia dia bahkan tidak tau harus menuju kemana. hingga akhirnya Prass yang menunjukkan tujuan yang harus ia tuju.
Prass: rumah makan istana rasa jam 20:00, ruang VIP no 2. buruan ngak pake lama kita masih ngejar tayang nanti jam 23:00"
senyuman razik sedikit mengembang melihat pesan dari Prass. dia merasa bersahabat dengan cuaca malam ini. cuaca yang sedikit berangin membuat penerbangan harus di dile. tidak butuh waktu lama razik sudah menadarat ditempat tujuannya dan firasatnya memang benar, mereka semua, para teman-teman nya ditempat kerja memberikan kejutan untuknya.
"suprise"
kata mereka serentak saat razik memasuki ruangan itu. ada delapan orang yang menyambutnya dengan hangat dan mereka semua teman satu almamater dengan Razik. 5 diantaranya adalah perempuan dan tentunya salah satu diantara mereka itu adalah Syifa.
Syifa memegang kue dan menghampiri Razik dengan senyuman mengembang, terlihat kebahagiaan di wajah Syifa begitupun razik. dia tersenyum lebar, bukan karna Syifa tapi karna kehadiran mereka membuatnya semakin berarti. di dalam fikirkannya mengatakan "ternyata masih ada orang yang menganggap gue hidup" batin razik mengiba.
__ADS_1
"kamu langsung potong kue aja ya, soalnya aku ngak taroh lilin. aku tau kamu ngak suka pake lilin. ini pisaunya"
razik mengambil pisau yang diulurkan Syifa. disaat seperti ini dia merasa terkadang Syifa memang lebih memahaminya dari pada zia.
seketika razik melupakan kesedihan bersama Zia dan menikmati masa menyenangkannya bersama Syifa juga teman-temannya yang lain
"zik kayaknya kita harus pergi nih"
"tapi anginnya masih kencang prass"
mereka sudah berada di teras restoran. terlihat hujan masih deras dan pohon masih meliuk mengikuti arah angin.
"iya tapi kita tadi janji sama pak kepala jam 23:00 sudah da dibandara"
"ya terserah Lo sih Prass. tapi Lo bawa mobil ngak?"
Prass menyengir kuda dan menggeleng
"antarin"
Prass memasang wajah imutnya sementara razik hanya bisa memutar bola matanya malas.
"ngak mungkinkan gue mintak tolong lagi sama Dion buat ngantar kita, kan kasihan harus putar balik"
""zik antarin kita dong...ya"
Syifa menggelayut manja di lengan razik.
"iya deh, yok. yang kebandara cuman kalian bertiga kan?"
ketiganya mengangguk dengan penuh semangat.
"yaudah makasih ya semuanya. hati-hati dijalan kita cabut duluan"
mereka berlima hanya mengacungkan jempolnya. razik membuka jaketnya menutupkannya kepalanya dan Syifa agar hujan tidak membasahi kepala mereka saat mereka berlari diantara hujan. diikuti oleh Prass dengan Keyla seorang pramugari yang akan ikut penerbangan dengannya hari ini. tanpa mereka sadari kedua wanita itu telah baper dengan sikap care yang telah mereka tunjukkan dan merekapun tidak tahu ada hati yang tengah terluka disana.
__ADS_1