
"kamu boleh merancang tapi tetap Allah yang tentukan" pernah dengar kalimat ini? kalimat ini selalu berlaku dalam setiap keinginan mu tanpa kamu sadari. dan kali ini ketentuan yang Maha Kuasa tengah berpihak kepada Zia dan Razik.
mereka tengah merajut cinta yang mulai tumbuh. sekarang jarumnya sudah ada tinggal melepas benang kusut nya sehingga cinta bisa mereka rajut sebaik mungkin.
Zia tidak ingin lama-lama dirumah sakit. bahkan dia berdebat dengan Razik supaya bisa keluar malam itu juga tapi tetap Razik menahannya.
"pagi ini dokter akan masuk mas kalau dokter bilang baik-baik saja aku akan segera minta pulang"
Razik hanya tersenyum melihat bibir manyun Zia.
"iya deh, kalo memang dokter bilang sayang baik-baik saja kita langsung pulang tapi kalo ngak...."
"aku baik-baik saja kok......"
"eh emang dokter udah periksa?"
"bukan tapi kan aku juga dokter aku bisa kok....."
"husstttt..."
Razik meletakkan telunjuknya di depan bibir Zia, mengisyaratkan Zia untuk diam.
"kalo lagi jadi pasien ngak boleh jadi dokter"
Zia langsung terdiam dengan bibir manyunnya.
"yaudah kalo gitu aku keluar sebentar membeli sarapan"
"oke"
Razik mencium kening Zia lalu menghilang dari balik daun pintu.
***********
Infus Zia sudah dilepas, artinya sudah boleh pulang, meskipun ada sedikit bujukan dari Zia tapi akhirnya dokter mengizinkannya untuk meninggalkan rumah sakit hari ini juga. Razik cukup kaget melihat istrinya sudah melepaskan baju pasien dan kamar juga sudah dirapikan.
"hei sayang"
Zia berbalik dan menatap suaminya dengan senyum mengembang. ada berita bahagia yang ingin dia sampaikan namun masih janggal bila itu disampaikan saat ini. akhirnya Zia menahan kebahagiaan itu sendiri.
"mas, aku udah boleh pulang loh"
__ADS_1
"dokternya udah datang?"
"iya, tadi pas kamu keluar ngak lama setelah itu dokternya datang"
Razik menatap Zia kecewa, dia kecewa dengan dirinya sendiri yang tidak sabaran dan malah meninggalkan istrinya sendirian.
"maaf ya sayang"
Zia paham makna maaf yang terucap tapi dia ingin maknanya di perjelas, begitulah wanita.
"untuk apa?"
Razik menatap Zia yang tersenyum jahil kepadanya. melihat senyum Zia membuat hatinya luluh, Razik langsung menarik Zia kedalam pelukannya dan berbisik.
"maaf karna aku sering meninggalkan mu di saat yang tidak tepat"
zia mengeratkan pelukannya.
"menurut ku itu saat yang tepat mas"
batin Zia.
razik dan zia langsung melepaskan pelukannya dan melemparkan senyuman kepada sang jomblo yang berada di depan pintu.
"masuk Mai"
maira masuk dan menyerahkan resep obat kepada Zia dan juga amplop surat yang berisi rekam medis Zia.
"ini obatnya dan ini...."
"o iya mas tadi administrasinya belum diselesaikan lo"
"oke, aku urus administrasi nya dulu"
"iya"
Razik pergi meninggalkan mereka berdua di dalam ruangan itu. sementara Maira menatap Zia penuh curiga.
"apa yang Lo sembunyiin?"
"ngak papa"
__ADS_1
tatapan maira masih liar seakan mencari hal yang bisa di gali.
"gue ngak mau aja mas Razik tau gue maksa dokter buat ngizinin gue keluar dari sini"
"ooohhh terus kenapa surat nya harus disembunyikan?"
"kan disurat ya gue harunya istirahat total, auto ngak dibolehin kerja dong gue".
"ya bagus dong, tapi kenapa harus istirahat total? kan Lo cuman maghnya doang yang kambuh"
"ihhh banyak banget pertanyaannya, kayak wartawan aja lo. udah sana Lo kerja deh. ntar kena katain lagi"
Maira nyengir kuda.
"hehehehe, iya. yaudah bay gue kerja dulu"
"iya"
"tapi ingat urusan kita belum selesai"
hanya anggukan yang diberikan Zia. Maira dan Razik masih sempat berpapasan di pintu kamar inap, mereka hanya saling lempar senyum.
"kita pulang?"
Zia dengan semangatnya langsung menyetujui ajakan Razik dengan senyuman yang mengembang.
sebenarnya Zia sangat ingin bertanya tentang Syifa kepada Maira tapi tidak ada kesempatan. Zia urungkan niatnya dan terus mengikuti Razik menuju tempat parkir.
selama diperjalanan Zia hanya sibuk dengan fikirannya. jarak rumah sakit dengan apartemen mereka memang tidaklah jauh, tapi Razik cukup merasa kesepian karena Zia tiba-tiba menjadi pendiam dan mengabaikannya.
setelah sampai dirumah Zia begitu semangat membuka pintu, tapi bukan rasa rindu yang terobati malah rasa lelah yang timbul hanya dengan melihat rumah yang begitu berantakan. keadaan rumah ini mengingatkannya saat pertama kalinya Zia menjajaki rumah ini. mengingat hal itu Zia tertawa kecil dan tentu saja Razik merasa aneh, karena dari tadi razik menunggu amukan Zia tapi justru senyuman yang terukir di wajah Zia. Razik ikut duduk di sofa bersama Zia.
"aku fikir kamu bakalan marah, KK malah ketawa sih"
Zia mengalihkan pandangannya kepada Razik yang sudah duduk disampingnya .
"rumah yang berantakan ini membuat ku teringat saat pertama kali kamu membawa ku kesini mas"
Razik terdiam, kalimat yang baru diucapkan Zia mengingatkannya dengan mereka yang dulu. mereka yang selalu berantem, selalu menjahili satu sama lain tapi terkadang mereka juga menjadi akrab saling melindungi seperti teman karna disaat Razik sakit Zia akan selalu menjaga nya dan disaat Zia terluka Razik yang melindunginya.
bagi Zia dan Razik moment itu menyenangkan sebuah proses yang sangat menguras tenaga dan emosi dan karna moment itulah moment saat ini terasa berharga
__ADS_1