9 Permintaan Cinta

9 Permintaan Cinta
menghadapi masalah


__ADS_3

Terkadang dalam membicarakan sesuatu hal memang diperlukan momen dan waktu yang tepat. Dan Zia selalu menunggu waktu itu, tapi sepertinya kini waktu yang mendesaknya untuk menceritakan semuanya. Zia sedari tadi berusaha untuk membicarakannya namun tidak semudah itu untuk membicarakan sebuah hal yang akan melukai orang lain. Jika ia bicarakan sudah pasti akan menjadi beban fikiran untuk Razik dan jika tidak cepat atau lambat razik akan mengetahuinya juga. Apalagi ummi terdengar marah saat ini dan Zia fikir hal itulah yang membuat ummi marah. Zia asik dengan fikirannya sendiri, sesekali ia melirik razik dan bertanya dalam hatinya.


"Apa aku harus mengatakannya sekarang"


Zia menggeleng sendiri kemudian melemparkan pandangannya keluar jendela.


"Tapi kalo ngak sekarang kapan lagi. Bagaimana nanti jika ummi marah karna hal itu, sudah pasti dia akan tahu juga dari ummi nantinya. Aduh gimana ini???"


Zia bertarung dengan dirinya sendiri.


"Ya harus aku katakan"


Zia melirik razik lagi, dia melihat razik begitu tenang.Rasanya dia sungguh tidak ingin membebani Razik saat ini, dia mengurungkan niatnya lagi. Zia menghempaskan tubuhnya di kursi mobil dan menghela nafas frustasi.


"Bagaimana jika bukan hal itu yang ingin dibicarakan ummi? Aku bisa saja menambah masalahnya"


Razik menghentikan mobilnya dan melirik Zia dengan penuh tanda tanya.


"Ada yang perlu kita bicarakan?"


Zia menggigit bibir bawahnya, pertanda dia gugup.


"Entahlah, aku ragu harus membicarakannya atau ngak"


"Kalau begitu jangan bicarakan"


Mendengar itu Zia melirik Razik


"Kalo sesuatu yang ragu mengganggu hati mu lebih baik jangan lakukan sampai nanti kamu merasa pasti"


"Kenapa begitu"


Razik tersenyum


"Karna bisa saja kamu menyesalinya"


Razik kembali menginjak pedal gas mobilnya. Sudah setengah perjalanan mereka lalui artinya sudah lebih satu jam mereka melewati jalanan dan untuk pertama kalinya Zia tidak tidur di dalam mobil.


Razik memang begitu asik dengan kemudinya tapi bukan berarti dia tidak memperhatikan Zia. Dia dapat merasakan kegelisahan Zia, dia tau istrinya itu menyimpan sebuah rahasia, meski dia ingin mengetahuinya tapi razik tetap berusaha untuk tidak memaksa Zia. Dia yakin, jika nanti Zia sudah sanggup dia pasti akan berterus terang dan Razik akan menunggu Zia untuk berbicara dengan sendirinya.


Selama perjalanan mereka begitu hemat bicara, hanya tadi saat berhenti dan kini mereka sudah sampai di depan pintu rumah ummi. Razik sudah melepaskan safety belt nya bersiap-siap untuk keluar sementara Zia masih memikirkan masalah yang terus mengganggunya.


"Haruskah aku ceritakan?" Batin Zia


"Zi..."


"Hum"


Zia melirik Razik yang memanggilnya.


"Yakin tidak ingin membicarakannya?"


Zia terdiam, kemudian mengangguk ragu. Sebenarnya ada rasa kecewa di hati Razik karna Zia belum terbuka padanya.


"Oke, kalau begitu ayo turun"


Saat ingin turun tangan Zia dengan sigap meraih tangan Razik. Razik yang merasakan itu langsung menatap Zia dengan penuh harap Zia akan menceritakannya.


"Akan ku ceritakan"


Razik tersenyum tipis sehingga tidak begitu teihat. Razik kembali menutup mobilnya dan membenarkan posisinya lagi, sekarang dia siap mendengarkan Zia.


"Ummi tahu kamu masih pacaran dengan Syifa mas"


Razik menegang. Seperti pencuri yang tengah ketahuan.

__ADS_1


"Ummi memantau kita selama bulan madu. Dan waktu kita berpapasan dengan Syifa di lobi hotel, ummi ada disana, dia melihat semuanya"


Razik semakin merasa bersalah, dia bisa bayangkan ummi pasti mengikutinya selama disana dan razik juga yakin ummi pasti tahu dan melihat lebih dari itu.


Razik menghempaskan kepalanya yang terasa berat pada kursi mobil, matanya terpejam membayangkan semua yang mungkin ummi ketahui tentangnya, dia tidak bisa bayangkan betapa kecewanya ummi padanya.


Zia ikut diam melihat keheningan Razik. Dia paham betul watak Razik, Razik tipe orang yang tenang dalam menghadapi masalah, dia memang orang yang hangat dan suka bercanda namun jika ia marah dan dalam keadaan kesusahan dia akan berubah menjadi manusia salju. Bagi razik dalam menghadapi masalah adalah mencari solusinya. Bisa dikatakan inilah yang sama diantara Zia dan razik, mereka sama-sama tenang dalamenghadapi masalah, hanya saja Zia sedikit lebih realistis dan bisa menutupinya, lain dengan razik yang resah dalam keheningannya dan akan terasa jelas perubahan sifatnya.


"Ahh aku menyesal menanyakannya"


"Aku juga menyesal telah membicarakannya"


Mereka membuang nafasnya dengan kasar seakan ingin membuang beban yang tengah menimpa hati mereka.


"Aku rasa ummi ingin membicarakan hal ini mas"


"Ya aku rasa begitu"


Untuk sesaat mereka terdiam, memikirkan cara meredam amarah ummi.


"Ayo kita masuk"


Zia kaget mendengar ajakan razik


"Dia mendapatkan solusinya?"


Batin Zia.


"Kita sudah sampai di Medan perang, paling tidak kita dengarkan apa yang diinginkan musuh saat ini"


"Sepertinya dia tau solusinya"


Batin Zia, dia lega mendengar Razik sudah bisa membuat lolucon. Artinya hatinya sudah mulai membaik.


"Iya. Karna semakin kita hindari amarah ummi akan semakin memuncak. Tenang aja ummi hanya akan marah pada ku karna ini memang kesalahan ku. Apapun itu nanti aku akan terima konsekuensinya"


"Kamu yakin?"


Razik mengangguk


"Bagaimana jika ummi menyuruh mu untuk memutuskan Syifa malam ini juga?"


Razik yang tadi ingin keluar dari mobil terhenti lagi. Dia tidak pungkiri itu bisa saja terjadi.


"Ya paling tidak akan semakin banyak yang berpihak pada mu. Bukankah itu membuat mu senang"


Mungkin saja Zia akan bahagia tapi dia tidak begitu terima dengan kata-kata Razik.


"Kenapa kamu membuat ku seperti orang jahat. Padahal disini kamulah yang salah"


Zia keluar dari mobil dan meninggalkan razik. Kekesalan diwajah Zia terlihat jelas, Razik yang tidak bermaksud menyinggung istrinya itu membuatnya menjadi merasa bersalah.


Razik langsung mengejar Zia.


"Zi bukan begitu maksudku"


Langkah Zia terhenti karena Razik mencegatnya di depan.


"Lalu apa?"


"Maksud ku, keinginan kamu dan ummi sama jadi kalian pasti akan saling mendukung"


"O jadi mas fikir aku dan ummi akan bersekongkol untuk memisahkan mu dengan syifa, begitu?"


"Bukan, hanya saja...."

__ADS_1


"Hanya saja apa?"


Razik terdiam, dan melirik Zia frustasi.


"Kenapa begitu sulit menghadapi wanita yang tengah marah"


Batin razik.


"Apa mas? Segitu takutnya ya kamu pisah dengan Syifa. Tenang aja, kalau kamu masih ingin bersama nya aku bisa saja membantu mu untuk mempertahankan hubungan kalian"


"Bagaimana caranya?"


Kata razik tanpa rasa bersalahnya, sementara dada Zia sudah sesak. Dulu dia begitu terbiasa mendengar Razik dengan Syifa, bahkan mendengar Razik mengatakan bahwa ia mencintai Syifa, tapi sekarang hatinya begitu sesak bahkan jika Razik menyebut nama wanita itu. Dia mulai egois dan ingin memiliki Razik seperti seharusnya seorang istrinya.


"Aku mundur. Aku yang akan mengatakan pada ummi bahwa aku yang seharusnya mundur"


"Kenpa kamu harus melakukan itu?"


"Supaya kita sama-sama bahagia"


"Kamu yakin bahagia dengan melepaskan ku?"


Zia terdiam, karna di dalam hatinya tentu ia tidak akan bahagia.


"Kenapa tertawa?"


Razik tidak sanggup lagi menahan tawanya. Melihat kepolosan Zia, rasanya dia ingin terus menjahili istrinya itu tanpa menyadari Zia begitu tersakiti.


"Kenpa kamu begitu polos?"


Melihat masih tertawa membuatnya merasa seperti orang bodoh. Air mata Zia meleh begitu saja meskipun sudah berusaha dibendung olehnya. Razik terdiam melihat air mata Zia yang jatuh.


"Kamu selalu menganggap ku lelucon kan?"


"Bukan begit...."


Zia melewati razik begitu saja, Razik tidak bisa terima dan langsung menarik Zia kedalam pelukannya. Zia yang kaget tidak mampu berkutik dan menikmati kehangatan pelukan Razik.


"Kenpa harus kamu yang mundur? Kita harus berjuang bersama bukan?"


Zia mengangguk pelan, kehangatan Razik membuat hatinya begitu luluh dan jujur, sehingga air matanya tak mampu ia bendung lagi.


"Ternyata Zia ku cukup cengeng"


Razik menyeka air mata Zia yang berjatuhan.


"Ayo masuk, kita hadapi ummi dan tentang Syifa, bukankah sudah ku katakan antara aku dan Syifa memang harus berakhir"


Perkataan Razik menjadi penawar kegelisahan Zia, terlihat senyuman Zia yang mulai mengembang.


Tanpa mereka sadari ummi telah menjadi penonton melodrama mereka sedari tadi.


"Ummi sejak kapan disana?"


Zia menghampiri ummi dan memeluknya dengan hangat.


"Kangen ummi"


"Ummi juga kangen kamu. Sepertinya ummi tidak perlu marah lagi"


Zia melepaskan pelukannya dan tersenyum lebar kearah ummi sambil mengangguk setuju. Sementara Razik menatap ummi dengan rasa bersalahnya.


"Ayo masuk, kalian harus istirahat"


Zia dan Razik mengikuti titah ummi.

__ADS_1


__ADS_2