
Hari ini tidak lagi sama seperti biasanya. yang mengetuk pintu rumahnya bukan lagi Zia melainkan beberapa orang yang tidak dia kenal. salah satu diantara dua pria itu sangat familiar untuknya dan sisanya wajah mereka sangat asing untuk Maira.
"selamat siang Mai"
"iya selamat siang"
"kamu masih ingat paman?"
Maira hanya mengangguk. wajah itu memang seringa lihat menemui neneknya atau nenek yang menemuinya. Namun dia tidak pernah tahu pasti siapa pria ini.
"saya pengacara ibu Rahma, nenek Maira"
sekarang Maira mengangguk paham, apa yang membawa pria itu kesini hari ini.
"silahkan masuk"
mereka mengikuti Maira dan mengambil posisi nyamannya di sofa tamu. Sesekali Maira melihat keluar berharap Zia datang untuk menemaninya karna biasanya Zia selalu datang pada jam segini.
"Baiklah Mai saya akan langsung kepada intinya. Ini surat wasiat dari ibu Rahma"
Maira menerima surat itu dan membacanya penuh seksama. Betapa gemetarnya ia saat melihat di dalam surat itu hanya tertulis nama Ningsih Maya Sari.
"seperti yang tercantum di dalam surat itu bahwa pewaris satu-satunya hanya ibu Ningsih Maya Sari dan ibu Ningsih telah menyerahkannya kepada saya untuk menjual seluruh harta kekayaan dari ibu Rahma. Nanti...."
"termasuk rumah ini?"
tanya Maira dengan sedikit histeris. Bapak pencara dan rekannya terlihat sedikit terkejut dengan ekspresi Maira, dia hanya bisa mengangguk untuk menjawab pertanyaan Maira. Bukannya ia menjadi orang yang serakah, hanya saja saat ini ia hidup bagaikan sebatang kara. bagaimana Maira akan bertahan hidup tanpa bantuan dari neneknya?
__ADS_1
"nanti sepuluh persen dari penjualan akan diberikan kepada adek Maira. Karna itu saya hari ini datang dari bagian properti untuk melihat kondisi rumah serta beberapa lahan tanah nantinya. Saya harap Maira bisa bekerja sama"
Maira masih terlihat kalut dengan berita yang ia dapatkan hari ini. Meskipun demikian Maira bisa sedikit bernafas lega paling tidak ia bisa bertahan hidup untuk beberapa hari kedepan, sebel memikirkan jalan hidupnya nanti.
"baiklah pak"
ucap Maira pasrah
***********
DISISI LAIN
dia begitu berharap hari ini Maira luluh dengan bujukannya. Dengan langkah penuh harap Zia mendekati rumah Maira, dia cukup kaget melihat pintu rumah itu terbuka. Untuk pertama kalinya Maira kembali membuka pintu rumahnya setelah neneknya meninggal. Dengan penuh semangat Zia langsung menghambur kedalam rumah.
"Maaaiiiii......"
Maira yang melihat Zia sedikit merasa lega, perlahan Zia mendekati Maira. suasananya begitu tegang bahkan ketiga pria itu tidak berpengaruh sedikitpun atas kedatangan Zia.
"Baiklah mai. saya dan rekan yang lain pamit dulu mau menyelesaikan masalah propertinya terlebih dahulu"
Maira hanya mengangguk. sementara Zia yang telah duduk disamping Maira terlihat bingung.
"maaf pak. saya mau bertanya"
"ya?"
pak pengacara itu langsung melihat Maira dengan penuh antusias.
__ADS_1
"apa bapak tau siapa ibu kandung saya"
ekspresi pengacara itu menggambarkan ketegangan seakan ia tengah menyimpan beban berat yang tidak mampu ia utarakan. pria itu menarik nafasnya dalam-dalam kemudian tersenyum tipis untuk sekedar menepiskan beban di benaknya.
"ma..maaf, saya, saya tidak pernah terlibat dengan masalah keluarga ini Mai"
Maira terlihat putus asa, namun dia tidak ingin segera menyerah.
"jika bapak tidak memberitahuku bapak bisa saja membunuh semangat hidup anak gadis yang rapuh ini"
dia menatap Maira dengan iba juga rasa tak berdaya, namun juga terpancar ketegasan dari tatapannya.
"bagaimana jika jawaban ku justru membuat mu lebih terpuruk. akan lebih baik jika kamu menjadikan ini sebagai salah satu alasan mu untuk hidup dan mencari jawabannya sendiri"
pria itu meninggalkan Maira begitu juga dengan kedua rekannya. Meskipun dia tidak memberikan jawaban yang pasti kepada Maira namun dari jawabannya Maira bisa merasakan da yang salah dari keluarga mereka.
"Mai...."
Zia memegang tangan Maira menyadarkannya bahwa ada Zia dirumah ini. Maira langsung menghambur kedalam pelukan Zia. Zia sungguh tidak mengerti apa yang terjadi namun dia bisa memahami Maira membutuhkan sandaran saat ini. Maira menangis dengan tersedu di dalam pelukan Zia. dia merasa tidak ada lagi alasannya untuk tetap hidup, seperti tubuh yang sudah kehilangan kaki untuk melangkah dan kehilangan mata untuk melihat, semua tidak lagi bermakna untuknya. hingga akhirnya badannya terasa berat dan dia tidak lagi sanggup menopang tubuhnya sendiri.
***********
Maira merasa terkepung ditengah kegelapan, perlahan ia merasakan genggaman di tangannya mulai terlepas, dia melihat nenek yang sangat ia rindukan melangkah menjauhinya, ingin sekali rasanya dia mengikuti langkah sang nenek , namun tangannya digenggam erat oleh seseorang. Maira menoleh dan dia melihat wanita itu, wanita yang sangat ia benci sekaligus ia rindukan saat ini. Maira terus berusaha melepaskan genggaman ibunya tapi genggaman itu terlalu erat.
"tetaplah disana bersama ibu mu sayang, jangan pernah melepaskan genggaman mu dan jangan pernah membenci nya, karna hanya dia satu-satunya yang akan rela berkorban nyawa untuk mu saat ini"
Ingin rasanya Maira berontak hanya saja suaranya seakan ditahan sehingga tidak mampu mengungkapkan apapun. Maira hanya bisa menyaksikan neneknya di jemput dan di paph oleh seorang wanita muda nan cantik. namun wajah itu sangat familiar baginya.
__ADS_1
"nenek....."