9 Permintaan Cinta

9 Permintaan Cinta
petaka yang tersembunyi


__ADS_3

pengalamannya menjadi pilot tidak sia-sia, dengan gesit razik menghindari pohon yang tumbang tersebut, tapi tetap saja dia tidak bisa menghindari pohon yang berdiri disana.


"Lo ngak papa Zi?"


"hum ya"


Zia masih berusaha mengatur detak jantungnya yang tidak karuan.


"kita dimana ya sekarang?"


Razik berusaha mengenali tempat tapi gagal. yang bisa dia pahami tempat ini adalah jalanan sepi karena memang tidak ada rumah masyarakat disekitar sini.


"sebentar ya Zi"


Razik keluar dari mobil tanpa persetujuan Zia. saat melihat keluar Razik sadar bahwa ranting pohon menghantam mobil mereka dan menguncinya, tidak ada jalan keluar bahkan jika bisa keluar mobilnya pasti tidak sulit untuk dikendarai. Razik berusaha memperhatikan sekitar untuk mencari rumah atau bangunan yang bisa mereka tempati untuk berteduh, tapi Razik hanya mendapati sebuah gubuk di ujung sana.


"Zi bisa keluar, tidak aman jika kita terus disini"


Zia hanya mengangguk dan keluar melalui pintu pengendara karena pintu mobil bagian Zia tertutup oleh ranting pohon.


"kita mau kemana dik?"


"Disana ada gubuk, akan lebih baik kita menunggu disana"


meski ragu Zia hanya bisa mengikuti Razik.


rintik hujan semakin deras, angin pun mulai riuh. bahkan gubuk kecil ini seakan tidak kuat lagi menahan terpaan badai yang semakin mengamuk. baju yang basah malah membuat hawa dingin semakin menusuk. Zia hanya bisa meringkuk di sudut gubuk, menahan setiap sentuhan angin yang menusuk-nusuk tubuhnya, bahkan rintik hujan pun mulai mengejarnya hingga perlahan bajunya semakin basah.


di dalam gubuk pun tak lagi menjadi jaminan untuknya agar terlindungi dari derasnya badai. Zia semakin mengeratkan pelukannya pada kedua kakinya, berharap rasa sakit itu segera berakhir.


"Zia apa kamu baik-baik saja"


Razik masih berusaha mencari orang lewat di jalan berharap akan ada yang menolong mereka, namun disela itu ia menunggu jawaban dari Zia yang tak kunjung ia dapatkan.


"Zia?"


Razik berbalik dan mendapati Zia tengah meringkuk kesakitan


"ada apa dengannya?" batin Razi k


Razik mendekatinya dengan perasaan khawatir.


"Zia? Apa kamu sakit?"


masih tidak ada jawaban


"Zia ada apa, apa kamu sakit?"


Razik memegang kedua bahu Zia.

__ADS_1


"darah?"


Razik melihat cairan merah di tangannya.


"astaga Zia tangan kamu berdarah?"


kali ini Zia mengangkat kepalanya dan melihat Razik dengan lesu sebelum ia jatuh lunglai dalam pelukan Razik.


"Saya harus bagaimana? Ah tidak ada jalan lain"


Tanpa fikir panjang Razik merobek lengan baju Zia. Dia sungguh terkejut dengan luka yang terbuka di lengan Zia, bahkan dengan melihatnya saja dia sudah kesakitan.


"Zia kuatlah"


Razik merobek bajunya dan membalut lengan Zia yang luka berharap bisa menghentikan pendarahannya.


"Zia kamu itu dokter, jadi kamu harus kuat, hmm"


Hanya dibalas dengan ringisan Zia. Dia terlihat semakin pucat, Razik sangat khawatir kepada Zia saat ini. Dia bahkan berfikir untuk menggendong Zia dan segera mencari dokter, tapi badai ini terlalu kuat untuk di taklukkan. Dia hanya menatap Zia dengan frustasi.


"Maaf ya zi"


Pria itu menarik Zia kedalam pelukannya, berharap Zia bisa lebih hangat dalam pelukannya tanpa dia sadari bahkan dia sendiripun tengah kedinginan saat ini.


Tak selang lama tiba-tiba


melihat kehadiran tiga orang itu Razik merasa lega.


"Zi akhirny kita selamat"


ucap Razik lirih. Setelah itu ia tidak ingat apa-apa lagi.


***********


Razik seakan bangun dari tidur pulasnya, kepalanya yang berat membuatnya susah untuk membuka mata, namun suara yang tidak asing itu terus memanggil namanya. mendengar suara itu membuatnya ingin segera membuka mata. perlahan Razik akhirnya bisa melihat sumber suara itu. Ummi, terlihat wajah ummi yang begitu khawatir tengah menggenggam tangannya.


"nak kamu sudah bangun?"


"ummi? ummi kok bisa disini? dan Zia, Zia dimana ummi?"


mengingat kejadian yang baru saja mereka alami rasa khawatir terhadap Zia langsung memenuhi hatinya.


"sudah istirahat saja dulu, nanti ummi ceritakan"


"tapi ummi ini dimana?"


Razik juga merasa tidak mengenali ruangan ini. ruangan yang terlihat sederhana tapi rapi dan enak di pandang.


"kita dirumah kepala desa kampung sini?"

__ADS_1


"kepala desa? oo apa mereka yang menemukan kami itu warga disini dan membawa kami ke rumah kepala desa? begitu ummi?"


"iya nak"


namun wajah ummi terlihat begitu berat, apa karna rasa khawatirnya terhadap Razik? hanya ummi yang tahu.


"kamu harus makan karna harus minum obat. sebentar ya ummi ambilkan makanan"


"iya ummi"


Razik merasa ada yang janggal melihat wajah ummi yang terlihat begitu sedih. tidak mungkin jika itu hanya karena rasa khawatirnya terhadap anaknya. Razik merasa ada yang tidak beres. karena tidak puas Razik keluar dan ingin menemui ummi tapi ia tahan karena melihat mami Zia.


"mbak?"


"dia sudah sadar"


"Alhamdulillah"


"bagaimana dengan Zia?"


"Zia masih belum sadar mbak, untungnya stok golongan darahnya ada dirumah sakit jadi segera dilakuka. transfusi darah. kondisinya masih lemah tapi Alhamdulillah sudah tidak kritis lagi"


ummi Razik mengganggap tangan Mami Zia, meski perlakuan kecil tapi mereka merasa makin kokoh karena mereka tau mereka harus kuat.


"terus kenap kamu masih disini"


"tadi Maira meyakinkan ku untuk menitipkan Zia kepadanya dan menyuruhku untuk mendampingi mas Bram. lagian bagaiman aku bisa tenang disana mbak saat suami ku disini tengah diadili oleh masyarakat"


"percayalah mereka akan memusyawarahkannya dengan baik dan kepala dingin dan suami kita akan baik-baik saja"


"mungkin fisik mereka baik-baik saja mbak tapi bagaimana dengan kehormatan mereka. bukankah saat ini mereka pasti merasa terinjak-injak"


Mami Zia tidak kuasa menahan tangisnya. bukan berarti ummi Razik tidak merasakan apa-apa hanya saja, sebagai yang tertua dia merasa harus lebih kuat agar bisa menjadi penyandaran bagi mani Zia.


"Ra kamu tahu dan percaya bukan anak-anak kita melakukan itu atas keadaan, sungguh tidak ada niat buruk di dalamnya"


Mami Zia mengangkat kepalanya dan menatap ummi Razik


"iya mbak"


"kalau begitu jangan merasa tersakiti dengan perkataan mereka. jika bukan kita yang tetap bangga dengan anak-anak kita siap lagi?"


"tapi kenapa mereka membesarkan masalah ini mbak? bahkan yang perbuatan Razik itu yang menyelamatkan Zia"


"memangnya apa yang sudah Razik lakukan mi? dan pengadilan tas apa ini?"


Razik yang mendengarkan percakapan ummi dan Mami Zia secara diam-diam tidak tahan lagi membendung rasa penasarannya.


Ummi dan mami Zia terkejut dengan kehadiran Razik, mereka terlihat bingung harus bagaimana menjelaskannya kepada Razik.

__ADS_1


__ADS_2