
Malam telah berlalu tapi masalah di hati masih menetap. Bahkan mata tidak mampu terpejam dengan tenang karena kegelisahan. Gelisah memikirkan hal buruk yang mungkin terjadi atau berusaha mendamaikan hati dengan hal baik yang mungkin hadir untuk mengobati luka.
Begitulah Razik jika dalam menghadapi masalah, meski ia terlihat tenang tapi mod nya akan terganggu. Bahkan pagi ini selera makannya menguap begitu saja melihat ummi yang masih cuek padanya. Abi bukannya tidak tahu ada permasalahan dibatara ibu dan anak itu, hanya saja terkadang pura-pura tidak tahu itu lebih baik. Begitupun dengan Zia, dia berusaha tetaplah tersenyum agar Abi tidak terlalu menyadari ada permasalahan yang menyelimuti momen pagi ini.
"Zia kenapa piringnya dicuci?"
Ummi masih tetap hangat pada Zia, sepertinya ia hanya marah pada Razik.
"Ngak papa ummi, ummi tadi sudah capek masak jadi sekarang biar Zia yang cuci piringnya"
"zia juga ikut masak tadi"
"Tapi Zia masih muda jadi masih kuat"
"O jadi Zia mau bilang ummi sudah tua dan ngak kuat lagi?"
Zia terdiam dan menatap ummi was-was. Senyum ummi mengembang seketika melihat ekspresi takut Zia.
"Ah ummi......membuat zia takut saja"
Kini tawa mereka memecahkan keheningan.
"Ummi jangan marah lagi dengan masĀ Razik, hum"
ummi tersenyum hangat.
"Ummi taukan mas Razik akan sangat tersiksa jika ummi terus mendiamkan dia"
Ummi menggenggam tangan Zia.
"Ummi merasa bersalah kepada mu nak"
Zia menggeleng
"Ummi hubungan ku dengan mas Razik semakin membaik. Bicaralah dengan mas Razik ya ummi?!"
Ummi mengangguk, meski berat tapi benar yang dikatakan Zia. Bahkan tujuannya menyuruh mereka pulang untuk membicarakan hal ini.
"Ya ummi akan membicarakannya dengan Razik nanti. Hum Zia setelah ini disuruh mami kerumah, sudah dua hari ini dia tidak enak badan. Pergilah jenguk dia nak"
"Mami sakit apa mi?"
"Tidak cuma pilek biasa, tapi ummi belum kasih tahu kalian datang jadi ummi fikir lebih baik kamu mendatanginya supaya bisa menjadi suprise"
Zia tersenyum hangat, mertuanya ini begitu menyayanginya.
"Baiklah ummi setelah ini Zia pergi"
ummi mengangguk.
"zia, ini untuk kamu"
"apa ini ummi?"
Zia membuka paper bag yang diserahkan ummi dan terlihat beberapa helai hijab.
"ummi bangga sama kamu nak. semoga tetap istiqamah"
Zia hanya mengangguk dan memeluk ummi. setelah itu ummi meninggikan Zia untuk menyelesaikan pekjaannya.
Setelah menyelesaikan pekerjaannya Zia meminta izin kepada Razik untuk menemui mami. Tentu saja Razik mengizinkannya, bahkan ia ingin ikut dengan Zia untuk menemui mami, tapi Zia melarangnya karna Razik harus menyelesaikan masalahnya hari ini.
"Benaran kamu ngak papa pergi sendiri?"
"Iya mas. Pokoknya kamu harus mengajak ummi bicara, oke"
Razik mengangguk pasrah.
"Sampaikan salam ku untuk mami, nanti jika suasananya membaik aku akan menyusul"
"Baiklah, yang semangat ya, hubbi"
Razik terpesona mendengar Zia memanggilnya hubbi. Jelas terlihat dari wajahnya yang tersipu malu. Bahkan ia tidak sadar mobil Zia kian menjauh.
"Yah baru juga pergi sudah rindu"
Kata razik melihat kepergian mobil Zia.
**********
Razik melihat ummi tengah membaca buku. Dia tidak menyangka akan ada masanya ummi marah kepadanya seperti ini. Ummi jika sudah diam pertanda dia sangat marah dan menyerah. Seingatnya baru dua kali dia menghadapi ummi yang dingin seperti saat ini.
Razik menghampiri ummi dan duduk di hadapan ummi, dia memijat kaki ummi dengan lembut. Ummi yang terkejut langsung menutup bukunya dan menatap Razik dengan intens.
"Ummi jangan marah lagi ya dengan Razik"
Melihat wajah sedih anaknya tentu membuat hati ummi meluluh. Ummi mengelus rambut razik pertanda amarahnya mulai mereda.
"Ummi kecewa sama kamu dan merasa bersalah pada Zia juga orang tuanya. Ummi kecewa melihat kamu telah meruntuhkan moral mu demi wanita itu. Dulu Razik anak yang baik dan sopan, Razik sangat tau batasan karna itu ummi membela mu di depan Abi saat Razik ingin masuk sekolah umum, karna ummi percaya sama Razik. Tapi melihat kamu dengan ringannya berpelukan di hadapan Zia dan dengan mudahnya melangkahkan kaki ke kamar wanita itu, berduaan. Astaghfirullah, kepercayaan ummi hancur nak. Ummi merasa gagal menjadi seorang ibu"
Hancurnya hati ummi sehancur hati Razik melihat ummi meneteskan air mata karna dia.
__ADS_1
"Razik minta maaf ummi. Razik sadar Razik salah, maafkan Razik ummi"
"Minta maaflah pada Zia, karna dia yang paling kamu sakiti dan bertobatlah kepada Allah karna yang kamu lakukan itu dosa besar nak"
Razik mengangguk patuh. Razik begitu tertampar dengan perkataan ummi, dia seakan baru sadar begitu banyak dosa yang dia lakukan.
"Sekarang ummi akan ikut campur urusan rumah tangga mu, sudah cukup kamu menyakiti Zia"
Razik menegang, dia takut hal yang dia fikirkan yang akan dikatakan ummi.
"Maksud ummi?"
"Kamu lupakan Syifa atau ceraikan Zia?"
Benar saja Ummi menyebutkan perceraian.
"Ummi mau memisahkan aku dengan Zia?"
"Sampai hari ini ummi sangat mempertahankan hubungan mu dengan Zia, tapi ummi tidak ingin mendzalimi Zia. Apa kamu tidak menyadari Zia itu tersakiti oleh mu nak?"
Razik terdiam, dia bukannya tidak sadar hanya saja tidak ingin menyadarinya.
"Razik sadar ummi. Tapi sejak bulan madu itu hubungan kami membaik, bahkan kami sudah menjadi pasangan suami istri yang sesungguhnya"
Mendengar hal itu ummi merasa ada harapan untuk rumah tangga anaknya.
"Aku juga masih sangat mencintai Zia ummi. Aku akan mempertahankannya"
"Lalu Syifa?"
"Berikan razik waktu untuk menyelesaikannya"
"Berapa lama?"
Razik juga tidak tau berapa lama waktu yang dia butuhkan.
"Dan bagaimana cara Razik membuktikannya ke ummi bahwa kamu ingin mempertahan dia?"
Ada rasa kecewa dihati Razik melihat umminya sudah tidak percaya lagi padanya, Razik tersenyum pahit.
"Satu Minggu, beri Razik satu Minggu untuk mengakhiri semuanya dan memulai yang baru dengan Zia"
Dia tahu keputusan ini tidaklah mudah untuk anaknya, tapi jika bukan orang tua yang meluruskan siapa lagi?
"Dan Razik ingin mengadakan resepsi pernikahan dengan Zia bulan depan"
Mata ummi membulat sempurna, hal ini yang selalu dia inginkan dari anaknya.
"Iya Razik yakin ummi. Ummi tau sendiri perasaan Razik"
"Ya ummi tau"
Ummi menuntun Razik berdiri dan memeluk anaknya itu dengan erat, dia sungguh bahagia dengan keputusan yang diambil oleh Razik.
"Ummi Razik jemput Zia dulu"
Ummi mengangguk
"Pergilah"
Razik ingin pergi tapi rupanya masih ada yang ingin ummi sampaikan
"Razik"
Razik berbalik
"Ya ummi?"
"Jangan sakiti Zia lagi. Jika kamu terus begitu suatu saat nanti dia bisa pergi meninggalkan mu karna, siapa yang tahan terus disakiti? Setiap orang selalu butuh cinta. Ummi hanya mengingatkan, ummi ngak mau kamu menyesal nantinya. Hum?!"
Perkataan ummi seperti tamparan untuk Razik, sungguh sakit. Razik tersenyum pahit dan meninggalkan ummi.
***********************
"Assalamualaikum, mami...."
Zia menyelonong masuk karena tidak juga mendapati jawaban dari siapapun di rumah itu.
"Mami anak mami pulang...."
Panggil Zia setengah berteriak
"Non Zia, non Zia kapan pulang?"
"Bru aja bik, mami mana?"
"Oh nyonya di atas non, di balkon"
Zia sedikit merasa terganggu, karna setiap maminya berada di sana pasti ada hal yang mengganggunya.
"Mami kenapa bik? Bertengkar sama papi ya?"
__ADS_1
"Rasanya ngak non mereka akur-akur saja"
"Terus?"
Bibik menaikkan bahunya pertanda dia tidak tahu apapun atau tidak ingin memberitahu.
"Oke, biar aku aja yang nanya sama mami"
Zia berlalu meninggalkan bibik yang masih memikirkan tuannya.
"Mami..."
Zia langsung menghambur kedalam pelukan maminya. Dia suka pelukan maminya karna terasa begitu hangat. Meski tidak terlihat jelas tapi cukup terasa kalo mami Zia sedang ada masalah.
"Anak mami, kapan pulang?"
"Baru aja mi, oh iya"
Zia menempelkan tangannya pada kening mami untuk mengukur suhu tubuh mami.
"Normal"
"Mami sehat kok"
"Ngak salah kok mi kalo seorang dokter itu sakit"
"Kalau dokter sakit siapa yang akan mengobatinya"
"Dokter lain, ni ada Zia"
Mereka tersenyum hangat, terlihat keakraban diantara mereka.
"Zi..?"
Zia mengalihkan pandangannya ke mami yang duduk disampingnya.
"Hum?"
"Kamu bahagia?"
"Aku?, Aku bahagia"
"Dengan Razik, apa kamu bahagia?"
Zia terdiam, seketika bayangan kemesraan Razik dan Syifa terlintas di benaknya. Ingin rasanya dia menangis dalam pelukan ummi tapi dia tahan.
"Mami juga tahu apa yang diketahui oleh ummi"
Darah Zia berdesir dengan hebat, tiba-tiba dia merasa gugup.
"Mami...juga ikut kesana?"
Mami mengangguk
"Ummi dan mami tidak berniat mencampuri urusan kalian tapi kita hanya menjalankan tanggung jawab sebagai orang tua"
Zia langsung duduk bersimpuh di hadapan mami, dia merasa begitu bersalah memberikan beban untuk maminya.
"Maaffin Zia mi, Zia..."
Zia merasa dadanya sesak sehingga tidak mampu lagi untuk berkata-kata, hanya air mata yang jatuh berurai.
Orang tua paling sakit melihat air mata anaknya, mami menuntun Zia untuk duduk kembali di atas sofa. Ummi memeluk Zia dengan hangat, membuat Zia tidak mampu menahan duka dihatinya. Sudah lama Zia menahan itu sendiri, sudah lama Zia tidak menangis seperti anak kecil dan entah Kenapa akhir-akhir ini ia tidak mampu mengendalikan emosinya, terkadang ia begitu emosi, terkadang begitu frustasi dan terkadang sangat ingin menangis seperti saat ini.
"Zia anak mami, maafin mami. Mami yang membuat mu mengalami ini semua. Jika saja mami tidak memaksamu untuk menikah dengan Razik maka kamu tidak akan mengalami semua ini"
Zia menggeleng, dia tidak setuju dengan yang dikatakan maminya.
"Tidak mi, mami taukan jodoh itu takdir dari Allah dan ini jalan yang mungkin harus Zia hadapi. Tidak ada yang salah disini"
Mami memaksakan senyumnya dan menyeka air mata Zia.
"Zia tidak tau kenapa Zia begitu cengeng hari ini"
"Karna kamu sudah lama menyimpan luka, terkadang hati itu lelah jika terus disakiti"
Zia mengangguk. Mungkin benar kata mami, dia lelah menyimpan luka itu.
"Kamu masih kuat nak?"
Zia mengangguk.
"Zia akan bertahan mi, Zia tidak akan menyerah begitu saja"
Mami bahkan tidak paham apa yang diharapkan hatinya saat ini, di satu sisi dia tidak ingin Zia tersakiti lagi tapi di sisi lain dia bukanlah orang yang paham atas hati Zia, jika anaknya pisah dengan Razik tidak ada jaminan Zia akan bahagia setelahnya.
"Memi tenang aja, akhir-akhir ini hubungan kita membaik dan semoga saja itu awal yang baik untuk hubungan ku dengan mas Razik ya mi"
Mami membalas genggaman Zia, dia tersenyum hangat pada anaknya itu.
"Zia jika suatu saat nanti kamu lelah maka kembalilah ke mami. Mami akan selalu mengembangkan tangan untuk memeluk mu nak. Apapun keadaan mu, mami akan bahagia jika kamu bersandar pada mami. Jangan fikirkan mami akan terbebani karna tidak ada anak yang menjadi beban orang tuanya, hum...!"
__ADS_1
Zia mengangguk mengiyakan, saat ini Zia merasakan ada tempat pulang untuknya.