
Tatapan Syifa begitu penuh harap. Tentu dia sangat ingin tahu kenapa dan bagaimana mereka bisa menikah. jika itu memang karna cinta kenapa harus diam-diam namun jika bukan bagaimana itu bisa terjadi karena pernikahan mereka telah menyakitinya.
"Mai aku tentu ingin tahu kenapa itu semua bisa terjadi. paling tidak aku bisa mencari alasan untuk menguatkan hati ku untuk mengiklaskannya. siapa tau itu semua karna dorongan keluarga dan jika memang karna hal itu, aku bisa apa"
Syifa tertunduk lesu, seakan bisa pasrah jika alasan mereka memang untuk keluarga. melihat itu hati Maira jadi terusik, dia yakin Syifa lebih bisa menerima kenyataan jika ia tahu alasan dari pernikahan Zia dan Razik.
"ya itu semua memang karna keluarga"
Syifa mengangkat kepalanya saat Maira mulai terbuka, matanya berbinar karna harapannya terpenuhi.
"oke aku akan cerita"
Syifa tersenyum lebar, dia memperbaiki duduknya dan menghadap Maira dengan antusiasnya
FLASH BACK ON
sebuah tempat akan terasa indah bila penuh cinta di dalamnya, seperti hotel ini. Hari ini hotel ini menjadi saksi bersatunya cinta mereka, setelah hujan badai, pendakian dan penurunan yang mereka lewati akhirnya Hafiz berhasil melaksanakan akad atas Caca.
Zia ikut bahagia melihat Caca begitu berseri seakan kebahagiaan membuncah di hatinya. namun senyuman Zia padam begitu saja saat melihat wajah pria yang dihadapannya saat ini
setelah delapan tahun berlalu akhirnya waktu kembali mempertemukan mereka. masih ada rasa sesak di hati Zia saat melihat Razik, entah itu rasa benci atau rasa rindu yang begitu berkobar.
Razik pun mengawasi Zia dari jauh, begitu banyak perubahan dari Zia seakan ia baru mengenali Zia untuk pertama kalinya. namun satu yang paling ingin dia tahu dari Zia.
"apakah dia masih membenci ku?"
dan pertanyaan itu tidak akan pernah mampu dia lontarkan.
selama ini Razik dan Zia bukan lagi sahabat, keluarga atau bahkan sekedar teman melainkan seperti orang asing yang saling mengenal. Tapi melihat Zia yang terus menghindar dan mengabaikannya membuat hati Razik panas, apalagi saat pria bergiliran mendekati Zia.
"Hai kamu masih kenal aku kan?"
Zia melirik pria itu, berusaha mengingat siapa dia.
"aku Dimas, dulu kita tetanggaan tapi cuman sebentar, kita juga sempat satu SMA"
jelasnya, karena tidak sabar menunggu Zia untuk mengingatnya. sementara di sisi kanan Zia razik membuka telinga selebar-lebarnya.
"OOO yaaa Dimas. apa kabar Dimas?"
Zia berusaha untuk akrab karna sebenarnya Zia tidak mengingatnya sama sekali. tapi ia ingin sok akrab karna dia tahu Razik tengah mengawasinya.
"Alhamdulillah saya baik. kamu apa kabar sekarang? katanya udah jadi dokter ya"
"ya Alhamdulillah"
"mas, iiihhh kamu kok genit banget sih"
seorang wanita menghampiri mereka dan menarik Dimas meninggalkan Zia. melihat Razik yang tersenyum puas membuat Zia merasa malu. tapi dia tepiskan itu dan mengabaikan Razik.
"makanya suami orang jangan diladeni, kan istrinya jadi marah. Untung ngak ada aksi jambak-jambakan"
razik tertawa kecil dan merasa puas karena bisa membuli Zia.
"kalopun ada Lo yang bakalan jadi tameng gue"
meski terlihat santai tetap saja rasa kesalnya sulit untuk ia sembunyikan.
"enak aja, mendingan gue jadi penontonnya aja"
"Lo tu ya...."
kesabaran Zia rasanya semakin menipis menghadapi razik, melihat Zia yang ingin mengamuk membuat Razik semakin puas, karna inilah yang dia rindukan saat bersama Zia. mengusiknya.
"Razik bisa bantuin Abi sebentar"
Razik melemparkan senyuman kepada Zia yang sudah merah padam, lalu pergi sambilelambaikn tangannya.
melihat kepergian Razik dia sadar kemistri diantara mereka tidak pernah berubah. Razik selalu menjadi pria usil yang selalu mengganggunya dan dia wanita yang selalu menunggu hal itu dari Razik.
"Zi razik terkena air panas, tolong bantu Abi mengobatinya"
Zia ikutan panik melihat wajah panik Abi.
"dimana bi?
"di dapur nak"
__ADS_1
Abi menunjuk arah dapur, Zia hanya mengangguk dan mengikuti arah telunjuk Abi.
Dia menelusuri dapur dan mendapati razik tengah mencuci lukanya di westafel pencucian piring, dengan cepat Zia menghampiri Razik.
"sini ikut gue"
Razik mengikuti Zia keluar dari dapur.
"Lo tunggu disini ya"
Razik hanya manggut dan duduk di bangku yang da dihadapannya. tidak lama Zia pergi, dia kembali dengan membawa kotak P3K.
"sini"
Razik mendekatkan lengannya kerah Zia.
"kenapa bisa gini sih?"
"tadi gue ngak sengaja nyenggol pelayan yang lagi bawa air panas kesiram deh ke lengan gue"
"makanya kalo jadi orang itu jangan usil. kena batunya kan sekarang"
tatapan Razik begitu tajam, rasa kesal mulai menjalar di hatinya.
"kenapa natap gue kayak gitu?"
Razik hanya melirik Zia dengan kesal. tapi sekarang Zia bisa tersenyum lebar karena rasa kesalnya sudah dibayar lunas. meskipun begitu Zia tetap merasa sakit melihat luka bakar yang ada di lengan Razik. dengan perlahan dan penuh hati-hati Zia menaruh salep diatasnya. saat Razik meringis kesakitan maka ziapun akan ikut meringis. Melihat hal itu Razik tersenyum. jika saat begini Razik akan melihat Zia yang penyayang dan Zia yang selalu memperhatikannya.
"jangan natap gue kayak gitu!"
Zia menyadari tatapan Razik yang tak kunjung lepas darinya.
"lah kenapa?"
"ntar jatuh cinta lagi"
"udah kok"
Zia langsung menatap mata Razik dengan tajam sekan ada kemarahan di dalamnya. untuk sesaat mata mereka beradu. Hingga Zia memutuskan pandangannya dan memilih untuk lebih tertarik dengan dentingan di handphone nya, pertanda sebuah pesan baru masuk ke handphone nya.
"Masya Allah ya Allah Alhamdulillah"
"kenapa ini kok bahagia banget kayaknya?"
Zia masih tersenyum lebar, Razik yang dipandangi oleh Abi dan papi hanya bisa geleng-geleng kepala karna di juga belum tahu hal baik apa yang diterima oleh Zia.
"papi dokter Aisyah menyetujui kunjungan ke rumah sakit bi"
akhirnya Zia angkat bicara
"oh ya?"
Abi juga ikut berbinar mendengar penjelasan Zia.
"iya, Zia baru saja menerima email-nya. ya Allah bi akhirnya Zia bisa juga konsultasi langsung dengan dokter Aisyah"
"Alhamdulillah"
Abi dan Razik ikut bahagia melihat ayah dan anak itu tengah berseri-seri saat ini meskipun, sebenarnya mereka jug tidak paham apa yang tengah terjadi.
"tapi Zia harus berangkat malam ini juga ke Jakarta pi"
"sayang tapi ini udah larut, cuacanya juga ngak bagus. apa ngak bisa besok pagi aja?!"
"ngak bisa Pi. Zia janji, Zia akan hati-hati"
papi terdiam, jelas terlihat rasa keberatan diwajahnya untuk melepaskan Zia pulang sendirian malam-malam begini, terlebih lagi cuacanya memang tidak bagus saat ini.
"udah ngak usah khawatir, kan ada Razik buat nemenin Zia. kan Razik?"
Zia dan Razik saling pandang saat Abi mengutarakan pendapat sekaligus perintahnya untuk Razik.
"i iiya. .tenang aja pi Razik bakalan jagain Zia.
meski Ragu tapi Razik merasa harus menerimanya. mendengar hal itu wajah papi lebih cerah dan tersenyum dengan penuh kepercayaan kepada Razik.
"papi Zia bisa sendiri kok, lagian kan tangan Razik lagi luka"
__ADS_1
hanya gelengan dari papi yang Zia dapatkan.
"ngak papa kok Pi, lukanya kan di lengan bukan di telapak tangan. sebelah kiri lagi, jadi aman kok"
Papi tersenyum, dia mendekati Razik dan memegang bahunya dengan erat.
"Razik tolong ya antarin Zia. papi akan tenang kalo Zia di dampingi sama kamu"
"siap Pi"
kata Razik tegas, seperti prajurit yang tengah menerim tugas dari komandannya.
"dan Zia papi ngak bakalan izinin kamu pergi kalo ngak ditemani sama Razik. jadi terserah mau pergi atau ngak."
"iya Pi"
Zia hanya tertunduk lesu, jika kata-kata papi nya sudah tegas begitu Zia bisa apa.
"tapi Pi, mami..?"
"mami izinin, yang penting kamu ditemenin sama Razik"
mami dan ummi berdiri dibelakang Zia sejak tadi, hanya saja Zia tidak menyadarinya. Zia memandang ummi seakan meminta pendapat, ummi yang menyadari itu hanya mengangguk pertanda ia setuju dengan pendapat para orang tua. pada akhirnya tidak ada yang berpihak pada Zia, dia hanya bisa mengikuti keinginan orang tua mereka dengan tersenyum berat sementara Razik seakan senang dan merasa menang dengan keputusan ini.
"oke, Zia dan Razik pamit ya"
izin Zia dengan sopannya, setelah menyalami mereka Zia dan Razik memasuki mobil dan melaju menelusuri jalanan yang masih ramai.
"anginnya kok makin kencang ya"
Zia melihat kiri dan kanan, jalanan semakin sepi hingga tidak ada lagi kendaraan yang lewat.
"hari ini memang di prediksikan akan ada hujan badai makanya, papi ngak bolehin lo pergi sendiri"
Zia mengangguk paham
"tapi kok Lo mau aja nemenin gue?"
"ya karna permintaan papi"
Zia menatap curiga kerah Razik
"Lo pikir kenapa? karna Ada same think?"
"bisa jadi sih"
Sura Zia terucap lirih tapi masih bisa di dengar oleh Razik dengan samar.
"hah apa, gimana?"
"ngak ko. iya gue tahu lo mau karna permintaan papi"
Razik tersenyum dan melirik Zia yang tengah sibuk dengan handphone nya.
"dokter Aisyah itu siapa Zi"
mendengar pertanyaan Razik Zia meletakkan ponselnya dan siap untuk menjelaskan tentang dr. Aisyah.
"Dia itu wanita yang hebat. sebenarnya dr. Aisyah ini spesialis kandungan tapi dia juga seorang motivator muda terutamanya untuk kaum hawa seperti kita. Dia sering membagikan tips-tips menarik bagi wanita, bukan hanya tentang kesehatan tapi juga tentang menjaga hubungan dengan suami"
Razik manggut-manggut, namun belum paham kenapa Zia begitu senang saat dia datang.
"apa hebatnya dari dia?"
"hebatnya dia mendedikasikan dirinya untuk masyarakat. Dia berasal dari Desa terpencil di Maluku, dan sekarang dia sudah berhasil mendirikan klinik di desa kecilnya. Dr. Aisyah memberikan pelayanan gratis untuk masyarakat disana"
sekarang Razik bisa paham kenapa Zia begitu kagum saat mendengar namanya.
"dan dia salah satu Nara sumber di tesis gue, makanya gue senang banget"
"pantasan lo girang banget pas dengar dia mau datang"
"betul banget. lo tau ngak sih Zik gimana susahnya gue menghubungi dokter Aisyah? gue bahkan pernah ke Maluku buat nyamperin dia tapi sayangnya tetap ngak bisa ketemu karna dia orangnya sibuk banget. dan sekarang dia yang datang dengan sendirinya ke rumah sakit gue. ya Allah Alhamdulillah, gue bersyukur banget"
Razik tersenyum lebar mendengar celotehan Zia. Rasanya Zia kembali kewujudnya yang dulu, yang selalu cerewet dan omongan nya ngak bisa di rem.
"eh zik Lo dengar suara itu"
__ADS_1
razik berusaha fokus mendengarkan dan mencoba untuk melihat dengan jeli kedepan tapi sayang jarak pandang mereka begitu dekat karena hujan yang lebat. semakin di dengarkan mereka bisa mendengar suara ranting yang patah namun terdengar begitu samar karena angin yang begitu kencang. Saat Razik dan Zia sadar ada sesuatu yang tidak baik, pohon itu sudah roboh di hadapan mereka.
"Razik awas....."