
"eh Zi aku tehnya dibikin jahe ya soalnya perut ku kayaknya gembung nih"
Zia menegang, semua orang kini memandang mereka dengan penuh tanda tanya.
Mati gue
Rutuk raziq pada dirinya sendiri.
"Kok Zi sih mas, ngak ada manis-manis nya"
Raziq mati kutu melihat semua mata tengah tertuju kepadanya.
"Salah dengar kali aku bilang tadi bi bukan zi"
"Bi?"
"Iya Bebi"
"Owww....."
Semuanya serentak ber o ria
"Bi tehnya jangan lupa pake jahe ya"
"Oke...."
Semuanya melihat Zia seakan penasaran dia akan memanggil raziq seperti apa.
"Habbi"
Mereka tersenyum seakan puas dengan yang mereka dengar.
"Ah panggilan sayaang ku untuk mas hafiz dicuri kak Zia"
Caca didului oleh Zia.
"Cari yang lain aja"
"Aaaa aku harus panggil apa donk"
semuanya tersenyum lega melihat pasangan itu bahagia.
*******
Zia bukanlah wanita manja yang tidak tau apa-apa, dia sangat handal dalam hal makanan ataupun minuman karna sebenarnya hobbi Zia adalah memasak. Dan hal yang paling dirindukan raziq saat dia jauh dari Zia adalah masakannya.
Zia sudah selesai membuat tehnya dan sudah tersusun rapi dalam nampan.
"Baaaaa...."
Zia terkejut membuat nampan yang ada di tangannya jatuh dan semuanya berantakan. Zia berbalik dan ya tentu saja itu ulah raziq. Siapa lagi yang akan menjahilinya kalau bukan raziq, tapi bercandaannya kali ini keterlaluan. Raziqpun sadar akan itu. Wajah Zia merah padam menahan amarah.
"Zi aku...."
"Ngak lucu"
"Aku fikir tadi...."
"Kamu nyebelin tau ngak"
Zia ingin berbalik hanya saja langsung ditarik oleh raziq dan kini Zia tepat dalam pelukan raziq. Tentu saja Zia terkejut, dia merasakan nafasnya sesak, jantungnya berdebar kencang. Zia berusaha melepaskan pelukan raziq tapi raziq terlalu erat memeluknya.
__ADS_1
"Lepasin..."
"Baik tapi kamu harus ikuti langkah ku"
Zia tidak mengerti. Saat raziq mundur Zia maju mengikuti langkah raziq.
Raziq melepaskan Zia, benar dugaan raziq Zia akan mundur.
"Ada kaca"
"Zia melirik kebelakang, ternyata memang ada kaca dibelakangnya, jika saja raziq tidak menahannya kaca itu pasti sudah menusuk kakinua. Sekarang Zia paham kenapa raziq melakukan hal itu. Tapi tetap saja rasa kesalnya belum terbayarkan.
"Kamu harus tanggung jawab"
Zia meninggalkan raziq dengan semua kekacauan yang dia lakukan.
"Bodoh banget sih gue"
Raziq menarik nafasnya yang terasa berat. Perlahan ia kumpulkan kaca yang berserakan.
"Raziq ada apa?"
"Awww...."
Darah langsung bercucuran dari tangannya. Dia terkejut dengan keberadaan ummi sehingga memegang pecahan kaca itu dengan kuat.
"Berdarah"
"Ngak papa mi"
"Udah ummi aja yang beresin, kamu liat Zia aja"
Raziq mengangguk
"Iya sana"
**********
Zia tidak tau kenapa raziq begitu suka menjahilinya. Bahkan tanpa raziq sadari terkadang tingkahnya malah menyakiti Zia.
"Zi aku masuk ya"
Raziq yang tidak mendapat jawaban langsung membuka pintu dan mendapatkan Zia yang tengah duduk di ranjang sambil memainkan handphone nya.
"Zi aku minta maaf. Iya aku salah, aku terlaluan. Tadinya aku fikir kamu lagi ngak megang nampan nya. Maafin aku ya Zi"
"Humm"
Hanya itu. Terlihat jelas permintaan maaf raziq tidak diterima.
"Ziii..."
Raziq mengambil handphone Zia dari tangannya dan itu berhasil membuat perhatian Zia beralih ke dia.
"Sorry"
"Huh iya"
Raziq tetap belum puas dengan jawaban Zia.
"Bebi... Maafin hubbi ya. Hubbi janji ngak bakalan ngulangin lagi"
__ADS_1
Raziq berusaha mengoptimalkan suara dan ekspresinya seimut mungkin, sambil memegang kedua telinganya.
"Ih najis.."
Zia tersenyum, dia tidak tahan melihat raziq yang sok keren melakukan hal itu kepadanya.
"Akhirnya Bebi maafin hubbi juga"
"Ih jijik ah jangan panggil itu lagi"
"Lho kenapa? Itukan panggilan sayang kita"
"Panggilan sayang muka Lo"
"Eh ngak boleh gitu sama suami"
Zia hanya menyengir
"Berpura-pura itu ternyata susah ya zi"
Zia menatap raziq.
"Awalnya manggil Lo gue dipaksain jadi aku kamu dan sekarang Bebi habbi"
Zia membalas senyuman raziq.
"Ya mau bagaimana lagi. Paling ngak kita lakuin itu di hadapan mereka. Pura-pura jadi pasangan yang sesungguhnya"
"Iyakan kalo di rumah ini kita harus jadi pasangan yang sesungguhnya"
Zia mengangguk. Raziq tersenyum. Ah senyuman itu.
Raziq memegang bahu Zia memaksa Zia menghadap kearahnya. Wajah raziq semakin lama semakin dekat. Zia menegang, dia mulai bisa membaca apa yang akan dilakukan raziq.
PLAK....
"Awwww.... Kok ditampar sih"
"Itu karna otak kamu mesum"
"Katanya mau jadi pasangan yang sesungguhnya"
"PURA-PURA"
Zia menekan kan kata-kata nya.
Raziq menatap Zia kesal dan tentu saja Zia membalasnya dengan tatapan kesal. Terlihat perlawanan diantara mereka. Dering ponsel raziq menghentikan perlawanan keduanya. Raziq sempat berfikir sebelum mengangkat panggilan itu.
"Halo..."
...............
Aku lagi...
"Hubbi... katanya mau jadi pasangan yang sesungguhnya. Ayo dong di lanjutin"
Zia sengaja mengeluarkan suaranya, dia ingin membalas kejahilan raziq. Raziq langsung menutup bagian speaker handphonenya agar suara Zia tidak terdengar lagi.
"Apa-apaan sih"
"Rasain Wek"
__ADS_1
Zia meledek raziq yang sudah kesal sampai ke ubun-ubun. Kemudian pergi meninggalkan raziq dengan rasa puas