9 Permintaan Cinta

9 Permintaan Cinta
pahit si pemanis cerita


__ADS_3

FLASH BACK ON


Mengikuti suami tentu sebuah kewajiban bagi seorang istri karna itulah Zia sekarang bersama Razik di apartemen nya.


Zia terkejut sekaligus merasa lemesh melihat rumahnya yang berantakan. dibalik wajah tampan dan seragam gagahnya ada seorang pria yang berantakan dan jorok seperti ini.


Ruang tamu yang penuh dengan sampah kemasan minuman dan makanan, dapur yang dihiasi dengan piring kotor yang melimpah dan tong sampah yang sudah penuh bahkan melimpah ruah.


Razik hanya menutupi rasa malunya dengan perasaan masa bodoh . sebenarnya Zia sudah kenal Razik dan dia tau betul Razik memang bukanlah pria yang rapi, kerapian hanya tercantum di penampilannya dan bertolak belakang dengan kepribadian yang dimilikinya, hanya saja Zia tidak menyangka separah ini.


"Lo ngak usah khawatir, besok juga bik sum masuk dan bakalan bersihin semuanya"


lirikan tajam Zia membuatnya merasa bersalah telah bersuara.


"besok?"


Razik mengangguk tanpa beban.


"ini kunci kamar lo dan kamar lo disana"


Zia mengikuti arah telunjuk Razik.


"gue kebawah sebentar mau beli makanan"


tanpa ada persetujuan dari Zia razik meninggalkannya sendirian.


Zia masih meratapi setiap sudut rumah yang ia pijaki saat ini, tapi kemanapun pandangannya ia lempar tetap tidak ada sudut yang menenangkan hatinya. dengan putus asa Zia harus mengalah dan membersihkan semuanya.


seperti bumi dan langit, seperti itulah pepatah yang yang tepat untuk Zia dan Razik. Zia tidak akan tenang jika tempatnya tidak bersih, Zia berdiri setelah mengumpulkan semangatnya dengan pelan tapi pasti Zia bersihkan setiap sudut rumah. setelah lantai bawah bersih, Zia naik ke atas dan membuka kamar yang ada di hadapannya saat ini.

__ADS_1


Rasa lelah Zia semakin terasa melihat kamar ini penuh dengan pakaian yang berserakan, tidak ada yang teratur. bahkan saat Zia membuka lemari, bukannya mendapatkan pakaian yang rapi malah isi lemarinya ikut keluar, membuatnya terjatuh dan ditimpa barang yang keluar dari lemari tersebut.


Zia menarik nafasnya berusaha menenangkan hatinya yang tengah berapi-api. setelah tenang Zia bangkit lagi dan kembali memacu semangatnya untuk membersihkan kamar itu.


tidak lama setelah selesai membersihkan rumah Razik kembali dengan tangan yang penuh tentengan.


"Lo bawa apa?"


"ini buat makan malam kita"


"ooowhhh, sini gue panasin"


"oke, gue mandi dulu deh"


Zia hanya mengangguk , membiarkan Razik melakukan rencananya.


saat masuk kemar Razik terkesima melihat kamarnya yang bersih dan rapi, senyumannya menyungging menandakan kepuasan. dugaannya memang benar Zia memang tidak akan tahan dengan rumah yang berantakan. Razik melakukan rutinitas mandi nya dan begitu bersemangat hingga ia lebih cepat dari biasanya karna perutnya juga sudah mulai keroncongan. setelah menutup lemari lagi Razik baru sadar ada yang bilang di dalam lemarinya. sebuah kotak yang selalu ia tatap dengan penuh cinta tapi sekarang kotak itu hilang dari pandangannya dan entah kemana. seketika terlintas di benaknya nama Zia.


pekik Razik dari kamarnya.


Zia yang mendengar Razik memanggilnya dengan emosi sedikit terkejut. dia fikir dia salah dengar tapi Razik masih saja memanggilnya dan panggilannya semakin terdengar emosi. melihat Razik yang turun dari tangga dengan ekspresi yang tegang membuat Zia ikut tegang.


"dimana kotak yang ada di dalam lemari gue?"


"kotak?"


Zia berfikir keras, kotak apa yang dimaksud oleh Razik. kemudian dia ingat ada kotak kecil yang berjatuhan bersamaan dengan isi lemari razik tadi, saat ia sedang membersihkan kamarnya.


"o itu, ada gue simpan dalam lemari juga tapi dibawah, biar lebih...."

__ADS_1


belum sempat Zia selesai menjelaskan razik sudah menghilang dari hadapannya. karna merasa penasaran dengan isi kotak itu Zia mengikutinya.


benar kata Zia, dia menyimpan kotak itu di dalam lemari bagian bawah. disana memang tersusun rapi beberapa kotak yang entah berisi apa. Razik terlihat begitu lega saat menemukannya, dia buka kotak itu penuh hati-hati, Zia yang tengah memperhatikannya pun bisa melihat isi kotak itu. sebuah surat dan kotak cincin beserta isinya. sepertinya cin-cin pernikahan.


setelah memastikan kotak itu aman dan isinya juga lengkap kemarahan Razik malah kian memuncak.


"maksud lo apa mindahin barang gue?"


"kan gue cuman mau bersihin kamar l..."


"gue ngak minta Lo buat bersihin"


"sebagai istri udah...."


"hah...istri? istri di atas kertas maksud Lo?"


kini Zia membalas tatapan emosi Razik.


"dengar ya, bagi gue pernikahan ini hanya di atas kertas dan statusb lo sebagai istri cuman ada di kertas itu doang. so ngak usah sok-sok an berperan jadi istri deh. ngak perlu, ngak perlu terlalu menghayati peran. mulai hari ini Lo jalani kehidupan Lo dan gue jalani kehidupan gue. ngak ada yang boleh ikut campur kecuali yang berhubungan dengan keluarga"


tidak sedikitpun mata Zia berkedip, meski dia sadar dengan semua kisah yang sudah terukir tapi kata-kata razik seakan menamparnya keluar dari hantaman indahnya.


"oke"


hanya itu jawaban Zia dan Razik paham betul Zia yang sudah marah akan hemat bicara.


semenjak hari itulah mereka hidup layaknya orang asing yang hanya saking kenal tapi hidup di bawah atap yang sama.


rumah itu hanya sebagai persinggahan untuk mereka. Zia memutuskan untuk melanjutkan S2 nya supaya dia lebih sibuk dengan dunia studinya, bahkan Zia sering mengambil piket malam, apalagi jika razik sedang tidak mengudara.

__ADS_1


sementara razik selalu memadatkan jadwalnya di awal bulan dan akhir bulan nanti dia akan selalu menjenguk Syifa di luar negri


begitulah perbaikan tanpa cinta yang mereka alami dua tahun terakhir ini


__ADS_2